
Apa seorang sahabat bisa mengatakan cinta? Apa persahabatanmu berlebihan seperti ini? Jangan mentang-mentang saya selalu diam jadi kamu seenaknya saja sama saya! Jangan mentang-mentang saya selalu memaafkan kalau kamu buat salah! Saya juga punya kesabaran dan tentunya memiliki batas! Saya rasa kamu sudah tidak menghargai saya, kamu seenaknya saja sama saya. Kamu tahu saya selalu memaafkan kamu. Jadi saat kamu buat salah pasti kamu tahu kalau saya akan maafkan kamu, jadi kamu bisa seenaknya saja untuk melakukan kesalahan terus!
●●●●●_●
Hari ini, rasanya aku sedang bermimpi, bisa jalan bersama Fauzi lagi. Rasanya aku ingin memeluknya erat, dan ingin bersamanya terus, terus dan seterusnya tanpa ada yang memisahkan kita berdua. Andai waktu bisa berhenti sekarang, aku akan bersama Fauzi terus diatas motor miliknya, semuanya terasa sangat Indah jika bersamanya.
Seperti pertama. Fauzi menyuruhku untuk memeluknya erat tapi yang kulakukan cuma memeluknya biasa saja, maksudnya tidak sampai memeluk erat seperti permintaannya.
"Dibah," panggil Fauzi.
"Kenapa? Mau dijitak lagi? Oke. " Aku hendak menjitak kepala Fauzi, dan.
"Aduhhh, Dibah! " kesal Fauzi. "Bukan mau dijitak!"
"Terus mau apa? "
"Tidak jadi! "
"Fauzi! "
"Tidak jadi! "
"Fauzi!! " teriakku.
"Lupakan Adibah. " Aku diam. Ini jurus andalanku untuk meluluhkan hati Fauzi. Semoga saja berhasil. Aamiin. "Adibah, " panggil Fauzi tapi aku masih diam.
"Adibah! "
"Adibah! "
"Adibah! "
Dia terus memanggil namaku, sampai akhirnya dia menyebutkan kata yang sendari tadi kutunggu. "Yaudah, sebenarnya tadi saya cuma mau bilang."
Aku menatapnya. "Apa? "
"Kamu tahu. "
"Tidak," ucapku langsung memotong perkataannya.
"Astagfirullah. Adibah, kalau orang bicara jangan di potong pembicaraa nya." Dia memegang pelipis nya.
"Lah, salah Dibah mana? Kan Fauzi bilang kalau orang bicara jangan di potong. Dibah kan sekarang bicara sama kera," aku terkekeh, Fauzi pun ikut terkekeh.
"Adibah, aku serius. "
"Maaf, maaf. " ucapku di selah tawa.
"Kamu tahu." Nada bicaranya terdengar sendu. Apa dia sedang sedih sekarang? Aku menatap manik wajahnya. "Kamu adalah ketidakpastian yang saya perjuangkan."
Lagi-lagi dia gombal lagi. Apa sekarang sifat Abdi berpindah ke Fauzi? Abdi, satu-satunya temanku yang sangat pandai gombal, tapi sekarang mungkin berpindah ke Fauzi. Dasar aneh.
"Adibah, " panggilnya kembali.
"Apa lagi, Fauzi? Mau gombal lagi." Entah apa yang aku ucapkan ini zoudson atau fakta. Tapi sekarang dia lebih sering gombal jadi apa salahnya aku berpendapat.
"Enggaklah! "
"Terus? "
"Kita sekarang berjauhan yah.
"Begitulah. "
"Tapi tak apalah, setidaknya kita masih bisa mendengar suara adzan yang sama," ucapnya sambil memperkencang laju motornya.
Aku tertawa. "Jelas lah, kita kan masih sekota. " kami berdua tertawa.
Berbicara dengannya rasanya aku tidak memiliki rasa bosan untuk hal ini. Lihat saja, kita sudah sampai di apartemen tapi aku masih belum turun. Aku tidak sadar soalnya. Memalukan.
"Mungkin terlalu bahagianya sama saya ya, sampe-sampe tidak mau turun." Fauzi terkekeh. Sungguh ini memalukan.
"Enggak lah, tas Dibah tadi kesangkut," ucapku berbohong sambil melangkah beberapa senti dari tempatku tadi. "Dibah masuk dulu ya. Terima kasih sudah mau ngantar, Dibah. "
"Iya. Assalamualaikum, Adibah," katanya. "saya mencintaimu. " dia berlalu meninggalkan aku yang diam terpaku mendengar ucapannya. Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Fauzi mencintaiku? Ahh, apa ini nyata?
Aku tersenyum berbalik untuk masuk ke apartemen. Aku baru saja hendak berbali tapi, kak Farzan sudah ada disana, beberapa meter dari tempatku berdiri. Kapan dia sana? Ah entah.
Aku kembali tersenyum, tapi kenapa kak Farzan pergi? Apa kebiasaannya kembali lagi? Dasar tidak pernah peka! Lihat saja aku marah sekarang sama kak Farzan! Aku kesal sama kak Farzan!
Senyum yang tadinya terukir di wajahku kini menghilang karena rasa kesalku ke kak Farzan! Ah, sunggu aku marah!
Sesampainya ke dalam apartemen, aku tidak melihat keberadaan kak Farzan. Kemana dia? Aku masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek ke hadirannya. Tapi hasilnya nihil, dia tidak ada disana. Kemana dia? Sesaat kemudian aku menyadari seseorang keluar dari kamarku. Dia kak Farzan, dia sedang apa disana?
Aku hendak berbicara dengannya tapi dia sudah mendahuluiku. "Siapa dia, " ucapnya ketus.
Aku berpikir sesaat. "Dia Fauzi, saha-"
"Sahabat sampai pelukan? "bentaknya.
Dadaku serasa sesak. Baru tadi aku ceritakan ke Jihan kalau kak Farzan tidak pernah marah ke aku, tapi sekarang? Dia kenapa? Siapa pun tolong jelaskan dia kenapa?
"Dia cuma sahabat, Dibah. "
"Apa persahabatan jaman sekarang itu sampai bisa pelukan, berlama-lama dengannya? Bahkan dia bukan mahrammu, Dibah! Tunggu, apa kamu pernah seperti ini ke saya? Apa kamu pernah sedikit pun berperilaku seperti itu ke saya? saya tahu, saya hanya orang asing yang tiba-tiba datang di kehidupanmu, tiba-tiba saya melamarmu dan tiba-tiba saya menjadi suamimu!
"Apa seorang sahabat bisa mengatakan cinta ke sahabatnya? Apa persahabatanmu berlebihan seperti ini? Jangan mentang-mentang saya selalu diam saat kamu buat salah, jadi kamu bisa seenaknya saja sama saya! Jangan mentang-mentang saya selalu memaafkan kamu jika ada salah! Saya juga punya kesabaran dan tentunya memiliki batas! Saya rasa kamu sudah tidak menghargai saya. Jadi saat kamu buat salah pasti kamu tahu kalau saya akan maafkan kamu, jadi kamu bisa seenaknya saja!
"Untuk melakukan kesalahan terus! Sumpah saya sangat kecewa sama kamu, Dibah. Kamu menganggap kehadiranku ini tidak penting! Kamu. Argghh! " kak Farzan menangis. Apa aku sekejam ini? Apa yang aku lakukan barusan sanggatlah bodoh sehingga kak Farzan bisa semarah ini ke aku? Ya Allah, ada apa ini? "Mungkin kesalahan terbesarku karena telah mendekati orang yang hatinya entah ke siapa. Dan bodohnya saya selalu mengira kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama ke saya. Aku menyadari, segala yang aku lakukan untukmu tidaklah pernah berarti. Mungkin lain kali, seharusnya aku tidak dengan mudah menjatuhkan hati." Ucapnya sambil tertawa sinis dengan air mata yang masih mengalir si pipinya. Ayah saja aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ini.
Air mataku mengalir begitu saja dengan derasnya. "Apa Dibah menikahi kak Farzan karena cinta? Tidak bukan! Dibah tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun untuk kak Farzan, apa Dibah salah sekarang? Dibah tahu apa yang Dibah lakukan. Tapi menurut Dibah apa yang barusan Dibah lakukan itu benar, Dibah mencintainya melebihi diri Dibah sendiri, ya Dibah mencintai Fauzi. Biarkan Dibah mencari apa yang Dibah inginkan. " Aku memajukan kedua tanganku, memohon. Masih seperti tadi, dalam keadaan terisak.
"Bisakah kamu memberiku setitik ruang dihatimu? Bisakah ada rasa cinta untukku dihatimu? Kalau tidak bisa, cukup hargai kehadiranku di kehidupanmu, hargai aku sebagai pasangamu. " kak Farzan mengusap air matanya kasar. "kalau itu masih sulit, cukup ingat bahwa aku itu ada. "
"Dibah, udah berusaha tapi sekali lagi ini sangat sulit. Mencintai orang baru itu tidak mudah. Dia Fauzi, dia sudah lama ada di kehidupan Dibah, bahkan jauh sebelum kak Farzan datang."
Kak Farzan tertawa sinis. "Huh. Fauzi lagi? Apa dia bisa seperti saya? Adibah, aku ini suamimu. Kamu tahu, saya mencintaimu tapi kamu tidak tahu itu. Kamu tidak mengerti hal ini."
"Berikan Dibah waktu agar bisa menerima Pak Dokter seluruhnya. " Aku kembali memohon.
Sama seperti tadi, kak Farzan masih tertawa dengan air mata yang masih mengalir. "Bodoh! Saya bodoh! Argghhhh! Saya sangat bodoh, Adibah. Saya selalu bermimpi untuk bisa memilikimu seutuhnya tapi sama seperti awal itu cuma mimpi, mimpi yang akan selalu menjadi mimpi." teriaknya geram sambil membanting pot bunga yang ada di samping kanannya, aku tersentak kaget.
Dada kak Farzan naik turun, saat nafas panjang bercampur dengan amarahnya. Aku menilik wajah kak Farzan yang sama juga menatapku, bedanya dia menatapku penuh amarah sedangkan aku? Aku menatapnya dengan ketakutan.
"Saya sangat kecewa sama kamu, Dibah. " Suaranya terdengar parau namun tajam. "kamu tahu apa yang paling menyakitkan selain di khianati? Adalah jatuh cinta sendiri. Itu yang saya rasakan sekarang, Adibah! "
Aku diam. Dia membuatku bergidik melihatnya.
Sesaat kemudian dia keluar meninggalkanku di apartemen itu. Aku jatuh melorot, rasanya aku telah melakukan kesalahan yang amat sangat fatal sekarang. Ada apa dengan aku? Kenapa aku jadi pembangkang sekarang? Ya Allah, dosa apa yang aku lakukan sekarang? Dia suamiku, dia imamku, tapi kenapa aku seperti ini ke dia? Argggh! Dasar kau Adibah!! Tapi jujur, belum ada rasa cinta di hatiku untuk Pak Dokter.
Ya Allah, saat ini aku kecewa, aku sedih dengan keadaan seperti ini. Jujur aku lelah dengan semuanya. Aku lelah selalu bersabar, aku lelah selalu diam, aku lelah selalu pura-pura 'aku baik-baik saja tuhan'. Jika memang ini sudah menjadi alur hidupku, aku mohon kuatkanlah hati ini untuk menjalaninya, aku percaya semuanya akan indah pada waktunya.
Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpahkan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat cemburui hati yang berharap selain dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya. (Imam Syafi'i)
Aku melangkah menuju ke kamarku. Kumerebahkan badanku di atas kasur sambil menggerutuki diriku sendiri. Sendari tadi air mataku terus saja mengalir tanpa henti. Kuharap besok aku masih memiliki air mata.
"Assalamualaikum, Dibah." Suara Jihan begitu kecil.
"Waalaikumsalam, Ji. Ada apa? " tanyaku dengan suara ingus yang juga ikut terdengar, mungkin dia mendengarnya.
"Dibah, kamu nangis? Atau sakit? Kenapa? " tanya Jihan yang membuat tangisku menjadi pecah.
"Jihan, " panggilku dengan suara lirih.
"Kamu kenapa, Dibah? Kamu sakit? Apa sekarang kamu sedang sendiri? Ya Allah, Dibah, jawab dong jangan diam begitu saja. Apa keadaanmu baik-baik saja?" tanya Jihan dengan panik.
"Kak Farzan. "
"Kenapa dia? Apa dia menyakitimu? Apa dia membuatmu kecewa? Katakan, Adibah? Ada apa?"
"Bukan kak Farzan yang melakukannya, tapi Dibah, Ji. Dibah yang lakukan semua itu. Dibah yang menyakiti hatinya, Dibah yang membuatnya kecewa. " lagi-lagi aku kembali terisak. Ah tidak, daritadi aku sudah terisak.
"Maksudnya? Coba deh ceritakan secara detail. Sumpah, Dibah, saya tidak mengerti apa yang kamu katakan? Apa kamu membuat kak Farzan marah? "
"Lebih dari itu. Tadi Dibah pulangnya bareng Fauz-"
"APA?? " Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku tapi Jihan sudah memotongnya dengan cepat. "Adibah, tadi saya sudah bilang Kamu sekarang itu tanggung jawab kak Farzan. Bisa tidak lupakan perasaanmu kepada Fauzi? Yang harus kamu cintai itu kak Farzan bukan Fauzi! Cinta atau tidak kamu harus bisa berusaha menempatkan dia dihatimu, Dibah! " Jihat terdengar ikut prustasi dengan masalahku.
"Tapi Dibah tidak memiliki perasaan ke dia, Jihan. "
"Saat kamu pertama kali melihat Fauzi apa kamu langsung jatuh cinta? Tidak kan. Begitu pun dengan kak Farzan, kamu harus membiasakan dirimu dengan kehadiran dia. " ucapnya lantang. Padahal awalnya dia berbicara denganku berbisik-bisik. "Ingat, Adibah. Penyesalan selalu ada diakhir. Kamu baru akan menyesal kalau dia sudah benar-benar hilang dari hidupmu. Dan sekarang kuyakin kamu pasti menyesal karena telah melakukan ini. "
"Tidak, sekarang Dibah cuma merasa bersalah saja. Dia -"
"please, Adibah, jangan egois! Saya tahu bagaimana kamu, kamu menyesal pasti sekarang. Kamu tidak bisa menyembunyikan masalah kamu ke saya. Adibah, saya yakin kak Farzan itu mencintaimu tapi kamu cuma tidak merasakan itu. "
"Dibah merasakan itu, Ji. Bahkan tadi waktu kita bertengkar dia sempat nangis. Tapi, dia juga membentakku, Ji. Dia bilang kalau dia menyesal menikahi orang yang hatinya entah kemana. " ucapku terisak.
"Dia pantas melakukan itu, Dibah. Kamu pernah tidak menyayangi dia sepenuh hatimu maksudnya seperti mencintai Fauzi? Tidak kan. Hatimu sekarang ke siapa? Ke Fauzi kan bukan ke kak Farzan. Kamu pernah bilang dia baik ke kamu, dia pasti selalu membuatmu tersenyum kan? Adibah, kamu sekarang berjalan ditempat yang salah saat ini. Ubahlah jalanmu sekarang, Dibah. "
Hatiku rasanya tersayat mendengar penjelasan Jihan.
"Dia tidak baik, dia bicara kasar ke Dibah. "
"Itu salah kamu sendiri, Adibah. Adakah seorang suami yang bisa melihat istrinya diantar pulang oleh lelaki lain dan lebih parahnya lagi istrinya tersebut mencintai lelaki itu. Bayangkan saja, saat kamu berada di posisi kak Farzan. Saat orang yang kamu cintai mencintai orang lain, bagaimana perasaanmu? Kuyakin kamu akan seperti Kak Farzan."
"Tapi Dibah tidak pernah sayang ke kak Farzan. Hubungan ini ada karena wasiat dari ayah, Ji. Ayah yang minta ini ke Pak Dokter. Bukan Adibah. Bahkan Adibah gak kenal sama kak Farzan dulu."
"Adibah, kamu bodoh atau pura-pura bodoh sekarang? Ya Allah. Sudah ya, saya emosi kalau kamu begini terus. Kamu egois tahu gak, kamu gak tahu bagaimana perasaan kak Farzan ke kamu." Jihan mematikan teleponnya sepihak. Dia pasti sangat marah ke aku.
Aku menghapus kasar air mata yang mengalir di pipuku. Rasanya kepalaku pusing sekarang.
Tiba-tiba memori ingatanku, mengingat kebersamaan bersama kak Farzan, tanpa sengaja senyum terukir di wajahku dengan sempurna disertai air mata yang meluncur bebas. 'Apa aku merasakan penyesalan sekarang?'
●●●●●_●
Sudah sehari semenjak pertengkaran kami, kak Farzan tak kunjung datang juga. Aku tidak tahu kemana kak Farzan, dia belum pernah juga menghubungiku, bahkan aku sudah berusaha untuk menghubungi dia tapi tidak ada jawaban, dia tidak menerima teleponku atau pun membalas pesan yang kukirim.
Aku menjatuhkan bokongku di sofa sambil menatap sekeliling terlihat begitu sepi. Kenapa aku mendadak rindu kak Farzan? Kenapa aku baru menyesali ini. Aku menyesali ini karena tak lagi melihat senyum kak Farzan, menyesali karena tidak lagi melihat wajah canggung kak Farzan, aku menyesali semuanya, Ya Allah. Mungkin aku sudah mencintainya sekarang.
Ya Allah, aku benci dengan keadaan ini, dimana aku sedang bertengkar dengan orang yang selalu membuatku tersenyum.
Aku selalu menunggu pintu yang ada di samping kananku terketuk dan menampilkan keberadaan kak Farzan disana, berharap dia datang dan semuanya kembali normal, kak Farzan tak lagi pergi dan aku kan selalu ada untuknya. Dan kami bahagia selamanya.
Tanpa bisa kutahan, aku bangkit dari dudukku dan melangkahkan kaki menuju kamar kak Farzan berada. Air mataku kembali terjatuh. Aku mencium bauh khas kak Farzan disini. Kenapa rasanya aku sangat merindukan dia. Ya Allah, tolong sadarkan aku kalau semua ini hanya mimpi, sehingga kalau aku bangun nanti semuanya kembali normal.
Bulu tanganku mendadak merinding mengingat saat pertengkaran kami terjadi. Mengingat betapa durhakanya aku kepada suamiku. Mengingat bagaimana marahnya kak Farzan ke aku. Mengingat betapa bodohnya aku saat itu. Kenapa aku baru menyesali ini, ya Allah?
Pintu kamar kak Farzan mendadak terbuka, aku mendongak untuk melihatnya. Dan
Plakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat dipipi kananku. "Aqilah? "
"Kamu jahat sekali ya, Dibah! " bentak Aqilah. "Kamu tahu, aku baru kali ini melihat akah menangis hanya karena wanita seperti kamu. Kalau memang kamu tidak memiliki perasaan sedikit pun ke Akah kenapa kamu nikahi dia? Kenapa kamu terima pernikahan waktu itu? Kan aku sudah bilang, apa kamu setuju menikah sama akah atau tidak? Tapi apa, kamu bilang aku setuju, sangat licik kau, Adibah! Kamu puas sekarang buat akah menangis seperti sekarang? Kamu hebat. Kamu begitu cerdiknya menjelma menjadi gadis
"Polos yang seakan sangat suci. Tapi betul, jangan pernah menilai orang dari cover-nya." Aqilah mencengkeram tanganku. Tanganku terasa sangat perih di pegangnya, , bahkan tanganku yang sempat luka kemarin menjadi sangat sakit, tapi ku tahan.
Nafas Aqilah memburuh. Menatapku tajam. Mereka yang menurutku sangat baik kini menjelma menjadi monster yang sangat menyeramkan. Ini semua salahku, aku yang salah disini.
Air mataku kembali mengalir. "Maaf, Aqilah. "
"Apa? Maaf? Aku sudah pernah bilang ke kamu kalau akah itu marahnya tidak biasa! Kamu tahu, aku belum pernah melihat akah menangis sebelumnya. Tapi kenapa hanya karena seorang wanita seperti kamu." Aqilah menunjukku. "Kakak harus menangis! Dan kamu tahu, aku tidak tahu kemana akah sekarang! "
Kakiku rasanya mati rasa. Aku terjatuh melorot. Kamu jahat Adibah! Kamu jahat! Apa aku manusia yang paling durhaka sekarang? Berapa dosa yang harus ditanggung kak Farzan atas kesalahanku? Betapa bodohnya aku dulu!
Mulutku bergetar. "Kak Farzan kemana?"
"Apa pedulimu! Inikan yang kamu inginkan Dibah? Kamu ingin kalau akah pergi karena kamu tidak mencintainya bukan. Kamu sukses sekarang, Dibah! Kamu hebat. Kamu aktor terhebat yang pernah aku kenal di dunia nyata ini. Kamu sangat pintar dalam menipu," Ucap Aqilah yang ikut terisak.
"Dibah menyesal, Qilah. Dibah gak bermaksud seperti ini. Fauzi hanya ingin mengantar Dibah ke pasar. Itu saja, tidak lebih." ucapku masih menahan sakit tanganku.
"Dan sampai mengatakan dia mencintaimu? Hebat! " Aqilah melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku. Alhamdulillah.
"Dari mana Qilah tahu? "
"Kamu tahu, kemarin aku melihat langsung adegan romantis itu, aku ada didekat akah tapi aku pergi begitu saja saat mendengar perkataan kotor itu dari mulut pria berengsek itu. "
"Stop! Ini bukan salah Fauzi, ini salah Dibah. Dibah yang mengiyakan perkataan Fauzi."
Aqilah tertawa begitu nyaring. "Lihatlah betapa marahnya sekarang. "
Tiba-tiba kak Farzan datang. Sejak kapan dia kesana. "Kamu kenapa kesini, Aqilah? " tanya Kak Farzan, nada bicaranya begitu lembut berbeda saat berbicara denganku.
Aku menyentuh dadaku, merasakan debaran jantung yang begitu cepatnya, dia melakukan kebiasaannya kembali.
Kak Farzan menatapku, tatapan masih seperti kemarin.
"Akah kemana saja? Aku cari ke rumah ibu, akah juga tidak ada, aku ke rumah mas Esa, akah juga gak ada." Kak Farzan memeluk tubuh mungil adiknya sambil mengusap-usap nya lembut. Aku melihat ada cinta di sana. Andai aku yang berada di posisi Aqilah saat ini.
"Kak Far-" belum sempat ucapanku selesai kak Farzan sudah pergi membawa Aqilah meninggalkanku. Aku kembali sendiri.
Sebenci itukah dia ke aku? Menatapku saja masih dengan tatapan nanarnya. Apa aku bisa katakan sekarang kalau aku sedang merasakan penyesalan yang teramat.
Aku akan berusaha untuk melupakan Fauzi, bukan melupakan sih tapi semacam menghilangkan rasa antara aku dan dia. Dan berusaha agar bisa mencintai kak Farzan seutuhnya. Aku tersiksa berada diposisi ini. Aku baru merasa menyesal saat semuanya telah terlambat.
Kata Aqibah, kak Farzan baru akan luluh saat dia melihat rasa penyesalan yang teramat di diri kita. Akan kulakukan itu. Tapi tunggu, bukannya sekarang aku sudah menyesal bahkan teramat menyesal? Mungkin hukuman yang aku terima belum sesuai atas dosa yang aku lakukan.
Untuk kak Farzan. Dibah, akan berusaha mencintai kak Farzan. Dibah harap kak Farzan tidak lagi marah ke Dibah. Dibah menyesal kak Farzan. Sungguh, Dibah akan usahakan untuk mencintai kak Farzan.
Ada masanya dimana manusia merasa dunianya telah berhenti berputar, masanya telah berhenti bergerak dan jantungnya telah berhenti berdetak bukan karena tuhan mengambil nyawanya tapi karena tuhan mengambil alasannya untuk bernafas.
Kak Farzan, Dibah yakin suatu saat nanti akan ada cinta diantara kita. Akan ada waktu di mana kak Farzan mendengar ucapan cinta dari mulut Dibah. Mungkin bukan sekarang tapi nanti setelah semuanya kembali normal.
Untuk kak Farzan. Bantu Dibah, untuk melakukan ini, maksudnya agar memiliki perasaan cinta untuk kak Farzan, seperti yang kak Farzan inginkan.
●●●●●_●
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan selain di khianati? Adalah jatuh cinta sendiri. "