
Hari ini tim SAR sedang mencari beberapa korban yang jatuh ke dalam jurang. Naufal ada di sana begitu juga dengan Azma.
Penyelidikan penyebab kecelakaan sudah mulai di lakukan. Saksi mata di interogasi.
Malam itu, Layla meraung-raung ingin Aisha kembali. Radit pun sama, seorang ayah itu baru saja merasakan pelukan hangat sang anak sebelum ke rumah sakit tempo hari
Saking tertekannya Layla sampai harus di bawa ke ruang UGD malam itu. Penyakit leukimia nya masih menggerogoti tubuhnya.
Sama halnya mertua Aisha ikut merasakan kesedihan itu. Terlebih Rifa yang dekat dengan Aisha. Apalagi Gita yang sangat-sangat merindukan sang kakak ipar.
Azmi yang mendengar hal itu hatinya di penuhi amarah dan dendam. Ia sedih. Namun emosi sudah menguasainya, ia tahu Aisha tidak akan pernah pergi seperti itu jika tidak ada masalah. Dan Azmi tahu penyebabnya tanpa harus di selidiki.
Naufal dan Azma ikut turun ke jurang bersama anggota tim SAR. Mereka masih mengharapkan adanya keajaiban yang datang. Sekalipun sudah di beri tahu bahwasanya kemungkinan besar tubuh Aisha sudah hangus terbakar saat mobil itu terbakar
Mereka mengelak fakta itu. Pencarian terus berlanjut hingga hari kelima atas paksaan Naufal dan Azma tentunya
***
Sudah seminggu kecelakaan itu berlalu pencarian tubuh korban yang jatuh ke jurang saat itu sudah tidak ada hasilnya lagi
Beberapa mobil sempat terlempar ke jurang yang dalam, kemungkinan mobil itu hancur dan mungkin saja tubuh korban yang tidak di temukan ikut terbakar bersamaan dengan meledaknya mobil di bawah sana
Naufal masih menyangkal tentang bahwa Aisha telah tiada. Ia benci kalimat itu. Aisha nya masih hidup. Dan ia percaya itu.
Layla yang mendengar faktanya kembali drop. Ia harus kehilangan putrinya sebelum dirinya pergi. Azmi semakin terpuruk melihat kondisi Bundanya yang semakin drop
Seluruh keluarga berduka atas kepergian Aisha. Mereka benar-benar menganggap Aisha sudah tiada. Meski hati tak rela, takdir kematian tidak bisa di hindari, sekalipun kita berusaha
Naufal saat ini berada di apartemennya. Menatap ketiga anaknya sendu—ia menyewa art rumah untuk mengurus rumah dan juga ketiga anaknya—kepergian Aisha membuat mereka menjadi piatu dan semua ini salahnya
Lagi-lagi Naufal kembali menitikkan air mata. Hatinya sakit. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Aishanya sudah tiada
Naufal sungguh menyesal atas kejadian malam itu. Kondisi keluarganya sedang kacau. Layla dan Rifa sama-sama drop
Terlebih Rifa yang belum juga mendapat kabar soal Fauzan, anak sulungnya itu. Naufal semakin merasa bersalah. Semua masalah yang timbul itu karenanya. Fauzan menghilang itu karenanya. Aisha kecelakaan itu juga karenanya
Suara deringan membuyarkan lamunanan Naufal. Panggilan itu tersambung
"Halo?"
"Saya sudah mendapatkan penyebab kecelakaan nyonya Aisha."
"Apa penyebabnya?"
"Di duga, nyonya Aisha mengendarai mobil berlawanan arah hingga menyebabkan kecelakaan beruntun."
Naufal menghela napas. Sesak kembali melanda hatinya
"Terimakasih Zee, tapi Aisha tidak akan kembali lagi." ujar Naufal lagi membuat Zee terdiam
Memang saat kecelakaan itu Naufal tidak meminta orang kepercayaan menyelidiki kecelakaan itu, namun Zee yang merasa prihatin dengan Naufal membantu temannya itu untuk menyelidiki kasus kecelakaan Aisha
"Fal, gue turut berduka atas kecelakaan yang menimpa istri Lo." ucap Zee. Ia turut merasakan betapa berkabungnya keluarga besar Qurtuby Alfarizi itu
"Sekali lagi terimakasih Zee." ucap Naufal lagi. Suaranya parau
Sambungan itu terputus bersamaan dengan berbagai perasaan menyesal dan bersalah menguasai relung hatinya
"Aisha tak akan mengendarai mobil seperti itu. Dia seperti itu karena rasa sakit hatinya dan itu semua karena gue."
Naufal terus di hantui rasa bersalah atas kematian Aisha yang bahkan Naufal sendiri tak mengakui bahwa Aisha sudah tiada setelah tragedi itu
Teringat Naufal tentang buku dan cincin itu. Ia menghela napas sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membuka buku itu
Buku kecil berwarna coklat tua itu sudah rusak, sebagian terbakar karena api menyambarnya dengan cepat. Tapi anehnya buku ini masih selamat. Apa Aisha sengaja melemparnya keluar sebelum mobil itu meledak? Naufal tidak ingin memikirkan teori untuk saat ini
Naufal membukanya dengan menahan sesak.
Hai :)
Hanya kalimat sederhana. Namun hatinya mampu meruntuhkan pertahannya untuk tidak menangis saat membacanya. Aisha yang tersenyum manis dan ceria mengucapkan kata itu.
Katakanlah Naufal cengeng. Bodoh. Karena nyatanya memang begitu. Naufal menyesal atas kepergian Aisha. Ia sangat-sangat merasa bersalah untuk hal itu
Apa kabar?
Dua kata yang membuat Naufal semakin takut untuk membaca buku itu. Tapi ia harus membacanya
“Aku rindu kamu yang dulu. Kamu yang hangat dan selalu mencium dahiku setiap hari.”
“Kamu merindukannya kan? Aku juga. Hanya saja kamu mengharapkan dia sebagai pendamping kamu. Sedangkan aku mengharapkan dia segera mendapatkan pendamping.”
“Mas, kalau kamu sudah baca buku ini tolong buka kotak di lemari. Aku harap nggak terlambat.”
Tulisan itu tidak terlalu jelas karena kertas itu hampir terbakar tapi Naufal masih bisa membacanya
Naufal menemukannya. Ia membukanya ada beberapa benda dan juga ada surat
Assalamu’alaikum.
Dear Imamku...
Hai mas, kangen ya sama aku? Hhe jangan kangen mas :)
Mas, eh enggak aku manggilnya kakak aja deh
Kak Naufal, aku nulis surat ini sudah jauh-jauh hari. Saat aku membaca satu buku milikmu yang berwarna pastel. Maaf aku lancang membukanya, tapi aku penasaran
Awalnya aku hanya membiarkan perasaan kamu pergi dengan sendirinya seiring waktu, tapi semakin aku biarkan kamu semakin melunjak kak.
Aku semakin tahu saat membaca buku berwarna birumu. Maaf juga untuk itu karena lancang membukanya. Kamu tahu sesakit apa aku membaca buku itu kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku namun juga mencintai Azizah
Kak, aku juga manusia terlebih aku perempuan. Perasaan aku nggak seteguh itu jika dihadapkan dengan pengkhianatan
Saat itu aku membaca halaman terakhir yang mengatakan 'masih kosong' awalnya aku pikir itu hanya sekedar kata namun akhirnya aku paham bahwa kata itu menunjukkan betapa kamu masih mengharapkan dirinya kembali lagi ke kehidupanmu kak
Kamu tahu? Betapa sesak dan sakitnya hati aku saat itu, bahkan aku sudah muak melihat wajahmu kak. Kamu tahu? Aku bertahan hanya karena aku tahu betapa kamu menginginkan menjadi seorang ayah. Maka aku akan mewujudkan keinginan kamu itu dengan harapan suatu saat kamu bisa berdamai dengan masa lalu kamu, kak. Dan mencintaiku seutuhnya
Nyatanya aku salah lagi. Sampai kapan pun kamu tak akan pernah bisa mencintaiku karena masa lalu itu terus menghampirimu
Aku tak tahu apakah surat ini akan aku kasih padamu atau tidak. Aku sih berharapnya tidak tapi kematian tak ada yang tahu kak
Aku merasa kematian sedang mengejarku kak, jika seandainya benar terjadi aku ingin menitipkan anak-anak pada mu, rawat mereka dengan seluruh kasih sayang mu
Oh ya, selamat menjadi seorang ayah ya kak, aku turut bahagia
Wassalamu‘alaikum.
Tertanda
Makmum mu
Surat itu adalah tulisan tangan Aisha. Dia yang menulisnya sebelum kecelakan. Perasaan sedih dan sesak menyeruak masuk ke dalam hatinya.
Ia lanjut membaca surat kedua yang Aisha tulis.
Hai kak :)
Aku to the point aja ya.
Aku punya firasat yang nggak baik tentang kematianku kak. Sebelum itu terjadi, sebelum anak-anak menjadi piatu tolong. Tolong menikahlah dengan Azizah. Aku tahu kamu mencintainya kak. Sangat.
Pernikahan Azizah masih tiga Minggu lagi dari undangan yang di berikan tempo hari. Aku sangat berharap kamu bisa melakukannya, kak
Jangan biarkan anak-anak menjadi seorang anak yang piatu. Yang tidak ada ibu. Tolong kak, ini permintaan terakhir aku jika memang benar aku akan segera menghadap-Nya
Oh ya satu hal lagi, tolong berikan cincin pernikahanku padanya kak. Cincin itu akan sangat berharga jika bersama Azizah
Semoga dugaanku benar, kamu tidak terlambat membaca surat ini
Salam
Aisha ♡
Mata Naufal berkaca-kaca setelah membaca surat itu. Hatinya semakin sesak ia tak tahan untuk tidak menangis padahal ia sudah berjanji untuk tidak menangis saat membaca surat ini. Nyatanya dia hanyalah manusia biasa sama halnya dengan Aisha
Naufal menatap cincin pernikahan Aisha di tangannya dan undangan pernikahan Azizah di dalam kotak itu
"Aisha maafin mas," lirih Naufal pelan
Semua ini terasa mimpi bagi Naufal, suara ponsel berdering menariknya kembali pada kenyataan
Naufal melihat nama Reza di sana. Ia tak ingin berdebat dengan papahnya itu di saat sedang bersedih seperti ink
Namun semakin di biarkan ponsel itu semakin berisik. Berat hati Naufal mengangkat panggilannya
"Ada apa Pah?" tanya Naufal to the point dengan suara seraknya
"Naufal segeralah ke rumah sakit." ucap Reza
"Kenapa pah?" tanya Naufal
"Ibu mertuamu kritis. Mamahmu kembali drop." ucap Reza membuat Naufal segera memutus sambungan bergegas menuju rumah sakit
"Bi, saya titip anak-anak di kamar." ucap Naufal setelah itu ia segera bergegas ke rumah sakit
"Ya Allah cobaan apalagi ini?" gumamnya dengan frustasi