
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
Terkadang seseorang ingin seperti senja, di tatap lama oleh orang yang mencintai kehadirannya.
●_●
Menatap senja melalui kaca tidak beda jauh saat keluar menatapnya langsung, aku tidak tahu kenapa Allah begitu memberikan keindahan seperti ini kepada senja, mungkin salah satunya agar membuatku iri. Padahal dia sangat indah tapi dapat mematahkan banyak hati seseorang di saat dia pergi meninggalkan penikmatnya, tidak sopan bukan? Tapi aku juga sebagai penikmat dapat mengambil kesimpulan dari sini, bahwa yang indah tidak akan datang dua kali, dan terkadang yang dikagumi begitu tidak tahu malunya, kenapa seperti itu? Dia datang dengan cahaya indah membuat pasang mata mengagumi akan keindahannya dan setelah semua itu, tiba-tiba dia pergi. Menyebalkan.
Tidak perlu ada yang di sesali, jalani semuanya in shaa Allah akan ada jalan yang sempurna di sana. Aku bisa belajar dari kisah nabi Ayyub a.s yang di uji ketakwaannya oleh Allah, dia tetap sabar walau harus kehilangan segalanya termasuk keluarganya bahkan saat itu penyakit menimpanya, dan dia begitu teguhnya kepada Allah, dan harusnya aku belajar dari sana, aku manusia biasa tapi aku ingin berusaha untuk sesabar itu.
Bukankah pada akhirnya kebahagiaan dunia juga di dapat oleh nabi Ayyub? Atas izin Allah aku pun mungkin seperti itu. Tidak ada yang lebih baik kecuali doa? Betul.
Kalau boleh jujur, aku belum terlalu yakin atas keputusanku untuk menceraikan Adibah tapi itu harus kulakukan karena aku takut kalau dia tidak bisa masuk ke surga, bagaimana bisa kalau bau surga saja haram untuk wanita yang minta di talak ke suaminya, Shahi dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, " wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya maka haram baginya bau surga." HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan.
Salah satu cara agar aku bisa melalui ini, mungkin mengajak teman lamaku untuk kembali bernonstalgia, dia Abdul teman pesantrenku dulu, kita kembali di pertemukan melalui pernikahan Jihan, teman Adibah, entah kenapa setiap kali mengingatnya selalu saja seperti ini, maksudnya ada rasa kecewa.
"Terkadang seseorang ingin seperti senja, di tatap lama oleh orang yang mencintai kehadirannya," kata Abdul yang akhirnya membuka suara. Aku tersenyum merespons, aku masih ingin menikmati keindahan senja itu.
"Tapi terkadang senja itu menyakitkan, dia tahu kalau kita sangat menginginkan kehadirannya lama-lama tapi dia dengan tidak bersalahnya pergi begitu saja," kataku dengan mata yang masih fokus menatap senja.
"Punya masalah apa lagi kamu? " Aku menatapnya langsung, apa dia masih bisa menebak suasana hatiku? "Kamu itu orangnya sangat gampang di tebak, Rayhan. " Abdul memang selalu memanggilku dengan sebutan Rayhan atau Zan.
"Aku mentalak Adibah, " kataku dengan tangan yang sudah memegang kening, yang tiba-tiba terasa sakit.
Aku melihat Abdul terkejut mendengar perkataan aku barusan, bukan cuma Abdul yang merasakan ini, aku yakin Adibah pun juga. Aku dilema saat ini.
"Ma shaa Allah, Rayhan, lo sadar dengan apa yang lo ucapkan barusan? Pernikahan itu sakral yang cuma bisa dilukan sekali seumur hidup, kenapa lo seperti ini Pernikahan juga taaruf seumur hidup, Zan."
"Aku sama kecewanya denganmu Abdul, aku juga kecewa dengan diriku sendiri, bahkan sangat kecewa. Aku berjanji tidak akan meninggalkan dia, tapi dengan jahatnya aku mengingkari janjiku itu, " ucapku.
"Terus kenapa kamu harus menceraikan dia? " tanya Abdul.
"Private," ucapku. Aku tidak mungkin menceritakan masalah pribadiku sedetail mungkin kepadanya bukan?
"Gua tahu lo Zan, lo orangnya itu terlalu cepat mengambil keputusan, gua tahu keputusan lo kali ini pasti gak baik, apalagi saat gua lihat Adibah tipe cewek bagaimana dan istri gua juga bilang kalau Adibah itu gadis yang baik. " Kamu sangat benar Abdul, sangat benar, hanya saja dia tidak beruntung karena memiliki aku. Apa aku bisa menertawakan diriku sendiri saat ini? Lucu! "Coba deh, lo balik terus ceritakan baik-baik masalah lo, jangan langsung break seperti ini. Lo gak akan bisa tenang kalau lo seperti ini Zan. "
"Nanti aku pertimbangkan ini Abdul. Aku masih belum bisa untuk berbicara dengannya. Selama bersamaku dia jarang sekali bahagia, "
"Lo salah, di lihat dari wajahnya kalau dia sangat cinta sama lo Zan. Lo harusnya bisa tanggung jawab, lo buat dia cinta, seharusnya juga bisa buat jaga dia hingga akhir hayatmu," ceramah Abdul.
"Aku tidak seperti kamu, bisa meneliti wajah seseorang dengan baik. Lah aku baru lihat wajah orang sebentar orang sudah salah tingkah, kan gak baik, " keluhku.
"Makanya, jadi manusia gak usah rakus. Udah punya lesung pipi malah punya wajah tampan juga kan lo punya paket komplet namanya itu, curang. "
Abdul ikut tertawa. "Cacat yang di minati banyak orang. "
"Iya betul sampai-sampai ada yang operasi hanya untuk memiliki lesung pipi, syukurlah aku, umi, dan Aqilah alami. "
"Ngomong-ngomong cinta pertama gua bagaimana? " Yang Abdul maksud cinta pertama adalah adikku, Aqilah, dia sangat menyukai adikku semenjak umi dan abi datang ke panti asuhan, dan kembali ke pasal pertama, jodoh ada di tangan Allah, buktinya Abdul tidak bisa menikah dengan Aqilah padahal perjuangannya sangat besar untuk memiliki Aqilah. "Katanya udah lahiran ya? "
"Alhamdulillah. Tapi kuharap gak ada CLBK yah, " ucapku kemudian tertawa.
Boleh jujur? Aku seorang yang sangat jahat, aku membuat Adibah merasa sangat terpukul dan di sini dengan santainya aku bisa tertawa lepas seakan tidak memiliki masalah, munafik bukan? Ingin menertawakan diri sendiri rasanya.
"Gaklah, gua udah sayang banget sama yang gua punya, gua lebih baik mensyukuri apa yang gua punya ketimbang memaksakan takdir untuk memiliki dia yang jelas-jelas sudah milik orang lain, dan gua juga sangat bahagia karena memiliki Jihan di hidup gua, " katanya dengan senyuman indah terpancar di bibirnya.
"Syukurlah kalau begitu, kamu bisa mensyukuri apa yang kamu punya."
"Hanya saja wanita yang gua nikahi sangat polos, Zan," bisiknya pas di telingaku.
Aku tersenyum, mengingat betapa polosnya juga Adibah dulu. Aku baru tahu kenapa wanita itu sangat polos, dilihat dari temannya saja sudah bisa di jelaskan.
Ponsel milik Abdul kini berbunyi menghentikan pembicaraan kita sementara. Aku menatap wajah Abdul sambil bertanya dia siapa?
"Mine," katanya. Romantis sekali, semoga seperti ini terus, apalagi aku tahu Abdul pria bagaimana, dia akan sangat menjaga apa pun yang berstatus miliknya dan menerimanya, contohnya saja bekas cakaran di wajahnya saja masih ada, itu tanda sewaktu pertengkaran kita.
"Di suruh pulang ya? " tanyaku. Abdul memajukan jari telunjuknya di bibirnya, pertanda dia menyuruhku untuk diam.
Aku bisa mendengar kata-kata Abdul dengan Jihan serasa kalau pernikahan mereka lebih dulu daripada aku.
"Kenapa begitu? Kamu dimana? " tanya Abdul kepada seseorang di seberang sana.
"..."
"Adibah? "
Mendengar nama Adibah disebut, sumpah jantungku tidak bisa kukontrol kembali. Aku segera bangkit dari dudukku. "Adibah kenapa? " tanyaku ke Abdul.
"Aku sama Farzan ini. "
"..."
"Iya aku segera ke sana, " ucap Abdul ke seseorang di sana. Dia tidak mempedulikan pertanyaannya dariku. "Zan, Adibah!" katanya dengan Fanik.
"Jangan membuatku panik Abdul! " kesalku. "Adibah kenapa? "
"Tadi Jihan mendapatkan telepon dari Adibah dan setelah sampai dia menemukan Adibah yang sudah tidak sadarkan diri, dia pingsan. Dan janin dalam kandungannya juga melemah, " katanya. Tunggu apa aku tidak salah dengar? Kandungan? Janin? Adibah hamil maksudnya?
"Maksudmu Adibah hamil? " tanyaku memastikan.
"Kata Jihan seperti itu, dia terdengar sangat panik Zan. Gu-" belum sempat Abdul menyelesaikan perkataanya, aku sudah terlebih dahulu pergi.
Kenapa aku seperti ini? Ingatanku kembali kepada perkataan Adibah. Dia belum menyelesaikan perkataanya tapi aku sudah mengatakan kalimat bodoh itu! Aku menbuatnya frustrasi, bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku telah membahayakan dua nyawa sekarang, anakku dan istriku. Ya Allah, kenapa aku seceroboh ini!
Kalau Adibah dan anakku sampai kenapa-napa aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri, sungguh ini semua karena ke bodohanku. Kenapa aku seperti itu?
●_●