
..."Lupakan saja. Jangan bahas hal ga penting terutama kamu."...
***
"Boleh nggak kalau Kakak belajar untuk mencintai Aish lagi?" tanya Aisha sambil menatap Naufal
Entah keberanian dari mana Aisha mampu menanyakan hal semacam itu pada sosok Naufal yang memiliki sifat dingin
Naufal bungkam dengan pertanyaan mulutnya serasa terkunci dan ia diam seribu bahasa
"Lo paham dengan situasi gue sekarang, dan Lo mengerti kenapa gue bersikap demikian sama Lo." ujar Naufal "Gue juga udah pernah bilang kalau perasaan gue ke Lo itu udah nggak ada!"
Aisha tertunduk sembari menahan air matanya yang hendak jatuh, "Aku nggak maksa kamu buat mencintai aku besok hanya saja aku cuma minta tolong belajar buat mencintai aku lagi." lirih Aisha pelan
"Kalau pun kamu nggak bisa belajar mencintai aku setidaknya tolong hargai aku sebagai istri kamu sekarang."
Naufal menghela napas, "Kenapa? Bukannya salah satu keinginan Lo menjadi istri gue?" tanya Naufal sinis
"Udah gue wujudin buat jadi istri gue, sekarang apa lagi." lanjutnya sinis
Naufal tak salah keinginan Aisha untuk menjadi istri seorang Naufal sejak masa kuliah, tapi sekarang ia berfikir mencintai seorang Naufal adalah suatu kesalahan terbesar di hidupnya
"Aku nggak pernah minta kamu buat nikahin aku, bahkan saat di jodohkan pun aku bilang kalau nggak mau jangan di lanjutkan! Tapi apa buktinya kamu yang mau itu!" kesal Aisha yang tak tahan dengan Naufal
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu mau nikahin aku di saat ada Azizah buat kamu?!" tanya Aisha
"Demi Mamah." jawab Naufal dingin "Apapun akan gue lakukan demi Mamah gue termasuk nikahin orang yang nggak gue cintai," jelasnya
"Tapi apa kamu sadar kalau perbuatan kamu bisa menyakiti hati aku termasuk semua orang bahkan mamah kamu, kalau sampai mereka tau!" air matanya tak dapat lagi di bendung, Aisha tengah menangis sekarang
"Itu sebabnya gue selalu nyuruh lo bersikap seperti apa yang udah pernah gue bilang." aura di dalam ruangan itu benar-benar terasa dingin di tambah pertengkaran kecil yang terjadi
"Tapi nggak gitu juga caranya!" Aisha terisak bahkan Naufal sama sekali tak berniat untuk menangkan perempuan yang resmi menjadi istrinya itu
"Udah. Nggak usah di bahas! Nggak penting!" ucap Naufal membuat Aisha benar benar habis pikir
Apa katanya? Nggak penting?!
"Terserah kamu, aku capek mau tidur!" kata Aisha hendak keluar namun Naufal menahannya
"Lo tidur di kamar, biar gue yang di kamar lain." Naufal mengambil buku dan laptopnya lalu keluar menuju kamar lain
Sedikit ada rasa bersalah di hati Naufal saat melihat Aisha menangis bukan tanpa alasan gadis itu pernah menjadi alasan dia berada di London dan pernah mengisi hatinya sebelum akhirnya menghilang
Tapi egonya lebih tinggi dari pada rasa bersalahnya, "Nggak usah di pikirin." monolognya lalu pergi ke kamar bawah
Aisha menatap pintu kamar sesaat setelah Naufal keluar dari kamar ini, ia beranjak ke kasur dan berusaha memejamkan matanya
"Aku tau hati kamu lembut tapi karena ego kamu rela menyakiti hati orang lain."
***
Pagi ini tepatnya jam 06.30 Naufal sudah rapi dengan setelan kemejanya, tak lupa ia membawa flashdisk yang berisikan data-data pasien
Dan kini ia tengah berada di meja makan bersama Aisha, sebelumnya istrinya itu sudah bertanya ia hendak sarapan apa dan ia menjawab sarapan roti selai saja
Sederhana hanya sebatas roti selai saja, tapi itu yang diminta yasudah Aisha turuti saja
"Kak, ini roti selainya," kata Aisha menyodorkan piring yang berisikan roti itu pada Naufal
Aisha memperhatikan Naufal yang sedang makan tapi mata cowok itu hanya memperhatikan ponsel yang ada di tangannya
"Kak, nanti aku ke rumah Mamah di jemput sama Kak Fauzan ya, kebetulan dia se-shift sama aku," ujar Aisha ragu takut jika tak di izinkan pergi dengan Fauzan
"Hm," hanya itu yang keluar dari mulut Naufal
Tak ada lagi suara yang terdengar di meja makan itu selain keheningan, entahlah ia juga bingung ingin membicarakan apa
Tak lama kemudian suara deru mesin mobil di halaman depan membuat Aisha menatap pintu rumah itu dan terdengarlah ketukan pintu lantas Aisha bergegas membukanya
"Assalamualaikum," ucap Fauzan ketika Aisha membuka pintu
"Waalaikumsalam," jawab Aisha menyambut ramah Fauzan
"Loh kok Kak Fauzan datang pagi-pagi gini?" tanya Aisha heran
"Bukannya kamu main ke rumah Mamah?" Fauzan berbalik nanya
"Iya, tapi nggak sepagi ini juga kan bisa agak siangan dikit," kata Aisha membuat Fauzan terkekeh
Keakraban keduanya mengundang perhatian Naufal ia hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada sarapannya
"Jadi kakak boleh masuk nggak nih?" tanya Fauzan membuat Aisha menepuk jidatnya sendiri karena lupa bahwa mereka masih berdiri di depan pintu
"Lupa." cicit Aisha malu
"Yaudah kak ayo masuk aku buatin teh anget, pagi-pagi gini enaknya minum yang anget," ujar Aisha di sambut anggukan kecil dari Fauzan
Kedua insan itu masuk ke rumah dan Fauzan melihat ada Naufal di meja makan, kebetulan ruang makan menyatu dengan ruang tamu jadi ia bisa tahu bahwa Naufal ada di sana
Aisha ke dapur untuk membuat minuman, Naufal menghampiri Fauzan lalu duduk di sofa yang berhadapan
"Apa kabar?" tanya Fauzan tersenyum
"Ck. Lo kira gue baik-baik aja?" sinis Naufal namun hanya di balas senyuman kecil dari Fauzan
"Iya gue tau Lo lagi nggak baik baik aja makanya gue dateng ke sini buat liat Lo, kata Mamah Lo langsung pindah ke apartemen," tutur Fauzan
"Bukannya Lo ke sini mau jemput istri gue?" tanya Naufal lagi dengan nada dingin
"Iya. Sekalian."
Aisha datang dengan membawa satu cangkir teh hangat untuk Fauzan, "Eh Kak Naufal mau di bikinin juga?" tawar Aisha
"Nggak usah."
Naufal melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 06.45 ia harus bergegas ke rumah sakit
"Aku izin ke rumah Mamah ya sama Kak Fauzan," kata Aisha lagi
"Ck. Lo nanya lagi udah ke 3 kalinya Lo ngomong sama gue kayak gitu," kata Naufal lalu berbalik hendak melangkah namun lagi lagi Aisha menghentikan langkahnya
"Oiya nanti siang jangan lupa makan siang ya kak," pesan Aisha hanya di balas deheman singkat oleh sang empu
Pagi ini terasa begitu singkat bagi Aisha ketika bersama Naufal, "Jadi pergi nggak?" tanya Fauzan membuyarkan lamunannya
"Eh iya, jadi dong," ucap Aisha antusias untungnya pagi pagi sekali ia sudah membereskan apartemen ini jadi ia bisa langsung pergi
"Bentar ya aku ambil tas dulu," kata Aisha lalu pergi naik ke atas tidak lama ia kembali lagi menemui Fauzan
Lalu keduanya berjalan menuju mobil Fauzan dan mereka segera melaju menuju rumah Rifa
***
Naufal menatap jalanan yang ramai tempat lalu lalang kendaraan besar maupun kecil
Saat di lampu merah pikirannya mendadak melangbuana tiba-tiba saja ia memikirkan Aisha apa gadis itu sudah pergi? Atau masih di rumah
Ada perasaan mengganjal di hatinya saat melihat Aisha tersenyum. Tidak. Bukan karena dirinya melainkan karena Fauzan saudaranya tepatnya Kakaknya
Terkadang Aisha juga tersenyum bersamanya tapi entah kenapa ia merasa senyuman itu semuanya palsu, bahkan ia sangat melihat keceriaan di mata Aisha saat bertemu Fauzan
"Ah, peduli apa gue?! Ngapain coba mikirin dia?! Gak guna!" ceplosnya begitu saja
Lalu ia segera menjalankan mobilnya ketika lampu sudah berwarna hijau menuju rumah sakit
***
"Ih Kak Fauzan apaan sih?!" kesal Aisha saat Fauzan berhasil menggodanya tentang malam pengantinnya bersama Naufal
"Tapi benarkan?" Fauzan semakin gencar menggoda adik iparnya itu
"Nggak! Siapa juga yang ciuman?!" Aisha mendengus sebal
"Kamulah sama Naufal." kekeh Fauzan membuat Aisha menatapnya tajam
"Ih kakak buru-burulah cari pasangan!" ucap Aisha sebal
"Loh kok gitu?" tanya Fauzan
"Biar aku bisa godain kakak puas-puas!" jawabnya ketus, bukannya takut Fauzan malah tertawa saat melihat betapa imutnya wajah Aisha ketika marah
"Ihh kok malah ketawa sih?!" Aisha memberengut sebal
"Kamu itu lucu banget sih," ucap Fauzan sambil tertawa
Perjalanan ke rumah Rifa bersama Fauzan terasa berwarna banyak perbincangan dan perdebatan kecil yang membuat mereka tertawa beda halnya ketika bersama Naufal yang ada hanya keheningan
***
"Assalamualaikum Mah," ucap Aisha dan Fauzan beraamaan saat mereka masuk
"Waalaikumsalam, eh ada anak-anak Mamah yang cantik dan ganteng," kata Rifa saat melihat Aisha dan Fauzan masuk
"Mah, Fauzan ke atas dulu ya mau liat Gita," kata Fauzan, Rifa pun mengangguk
"Aisha kamu udah sarapan sayang?" tanya Rifa dengan tersenyum
"Belum Bun, tadi Kak Fauzan jemputnya pagi-pagi pas Kak Naufal mau berangkat jadinya aku belum sempat sarapan," jujur Aisha
"Ih Fauzan tega banget ngebiarin anak cantik mamah nggak sarapan sebelum ke sini," gerutu Rifa
"Tapi nggak papa kita sarapan bareng bareng aja di sini ya,"
Aisha mengangguk menyahuti ajakan Rifa itu, mereka berdua pun masuk dan pergi ke meja makan rupanya Reza juga sedang makan
"Ada Aisha juga?" tanya Reza
"Hehe iya Pah," kata Aisha
"Gimana keadaan kalian berdua? Naufal nggak nyakitin kamu kan?" tanya Reza
Beberapa saat ia terdiam namun setelah itu ia menatap Reza dengan tersenyum, "Kak Naufal baik banget pah, malah Kakak Naufal pernah mau beliin makanan di luar buat aku," cerita Aisha
Kedua orang tua itu fokus mendengarkan cerita Aisha, "Kamu bahagia dengan Naufal?" tanya Rifa seketika Aisha kembali terdiam
Haruskah ia berbohong lagi pada mereka rasanya Aisha tak tega membohongi keduanya namun ia bisa apa demi kebaikan
"Bahagia. Sangat bahagia." jawab Aisha dengan senyuman penuh arti
"Mamah! Liat tuh kebo baru bangun!" cibir Fauzan pada Gita yang baru saja turun ke bawah
"Eh bilang apa tadi?! Sekali lagi aku gak denger tuh!" kesal Gita karena ia di samakan dengan hewan
"Kebo!" cibir Fauzan membuat Gita menatap kakaknya garang
"Udah, kita sarapan dulu ya habis itu baru kalau kalian mau berantem sampai tumpah darah pun silahkan," jelas Rifa membuat Gita melongo
"Mamah tega ngebiarin aku kehabisan darah gara-gara cuma berantem sama Kak Fauzan?" tanya Gita tak percaya
"Ya habis kalian berantem nggak tau tempat," kesal Rifa
"Iya deh kita salah, maaf ya mah," kata Fauzan mengakuinya Gita mendelik
"Ih yang salah tuh kak Fauzan doang aku nggak salah kenapa jadi aku ke bawa-bawa sih?!" kesal Gita
"Tapi kan emang kenyataannya kamu itu kebo, soalnya susah banget dibangunin," sahut Fauzan, Rifa menatap jengah keduanya
"Tuh mulai kan." tegur Rifa membuat keduanya langsung diam
"Maaf." ucap keduanya lalu duduk di kursi masing-masing untuk sarapan bersama
"Yaudah ayo kita sarapan dulu bareng-bareng," kata Rifa lalu semuanya mengangguk dan mereka pun makan dengan tenang