
Aisha menatap Naufal kesal, "Ish, mas jangan bercanda gitulah,"
"Ih emang kenapa coba?"
"Aku tu panik ya!" sebal Aisha
Bukannya diam Naufal malah makin-makin membuat Aisha kesal
"Ohh jadi kamu itu panik? panik kenapa tuh?"
"Ihh dahlah!"
"Kalo mas nggak diam, aku pergi nih," ancam Aisha
Bukannya takut, Naufal malah tersenyum miring "Coba aja." tantang Naufal
Aisha tersenyum lebih tepatnya tersenyum meremehkan, Naufal ini masih bermain main dengannya
"Yaudah, aku beneran pergi." kaki Aisha melangkah menjauh dari sana
Naufal tak berniat menghentikannya malah semakin penasaran dengan Aisha, ia tak percaya Aisha bisa jauh darinya
Tapi rupanya laki laki itu salah, Aisha melangkah keluar dari ruangan itu membuat Naufal panik
Ia berlari mengejar Aisha keluar namun saat keluar Naufal tak mendapati Aisha di sana
"Cepat banget hilangnya,"
Naufal mencari cari Aisha namun ia berniat kembali ke dalam, dia di kejutkan dengan Aisha yang sudah berada di sana
Aisha kembali tersenyum tipis, "Lupa?"
"Apa?" dahi Naufal bertautan
"Lupa lagi nantangin siapa?" tanya Aisha
"Nggak tuh,"
"Sok sokan nantangin aku, pas dah pergi di cari kan?" Aisha terkekeh
"Iya sayang, nggak mungkin kan aku nggak nyariin kamu," Naufal mengacak hijab Aisha
"Udah ya aku mau balik kerja lagi." kata Naufal
"Yaudah sana yang fokus, jangan mikirin aku terus."
"Idih, siapa juga yang mikirin kamu,"
"Yaudah sana."
"Jangan kemana-mana sampai aku balik lagi ke sini." pesan Naufal
"Iya iya bawel amat."
Naufal geleng-geleng kepala dengan sikap Aisha yang sekarang, Sudahlah ia tak ingin mempermasalahkan itu
***
Sore ini tepatnya di dapur rumah seorang Aisha tengah memasak dengan sangat fokus
Tiba-tiba ia di kagetkan dengan kehadiran Naufal yang memeluknya dari belakang
"Ya ampun Mass!" geram Aisha, ia mengusap dada karena itu
"Kenapa hm?" tanya Naufal
Laki laki itu menggosokkan hidungnya pada leher Aisha yang kebetulan sedang tidak memakai hijab
"Mas ihh geli tau," Aisha menjauhkan lehernya dari kepala Naufal
Namun bukan Naufal namanya jika tidak mengganggu Aisha, ia semakin gencar mengendus-enduskan hidungnya
Wangi Vanilla dan Naufal suka itu.
"Mas jauhin kepalanya." kata Aisha
"Liat tuh nanti masakannya gosong ihh," sebal Aisha karena Naufal tak kunjung menjauh
"Nggak aku kasih jatah nanti!" ancam Aisha
Sontak Naufal menjauhkan kepalanya, ia mendengus sebal
"Kamu mah ngancamnya pakai jatah, ya nggak bisalah," protes Naufal
Aisha terkekeh, "Makanya jangan gangguin aku."
"Nggak seru ah," kata Naufal lalu pergi dari sana
Aisha menatap kepergian Naufal, kini ia leluasa di dapur dan mulai menyelesaikan pekerjaannya
***
"Sha, menurut kamu anak kita bakal seganteng aku nggak?" tanya Naufal yang tengah tiduran di paha Aisha
Ia tengah menatap perut buncit di hadapannya sambil sesekali mengelus dan menciumnya
"Hmm, kayaknya nggak deh,"
Jawaban Aisha membuat Naufal kesal setengah mati hal itu malah mengundang tawa perempuan di hadapannya
Tangan Aisha menyusuri setiap jengkal rambut Naufal, "Ya pasti bakal seganteng kamulah, kan mereka anak kamu."
"Kecuali kalo mereka bukan anak kamu."
Naufal melotot tajam mendengar pernyataan yang di lontarkan Aisha
"Mereka anak aku."
"Anakku juga mas."
"Nggak."
"Dih."
Tiba tiba ponsel Aisha berdering, ia menyuruh Naufal untuk mengambilnya di atas meja
"Halo mah? Kenapa?" sapa Aisha
"Assalamualaikum." ralat Naufal
"Assalamualaikum mah,"
"Waalaikumsalam Sha,"
"Kenapa Mah?"
"Mamah nanti mau ke rumah kalian,"
"Sekali mau jengukin cucu mama,"
"Belum lahir juga Mah,"
"Iya nggak papalah, udah ya mama tutup dulu."
Panggilan itu di putus, Aisha meletakkan ponselnya di sebelah dan mendapati Naufal yang tengah menatapnya
Kening Aisha mengkerut "Kenapa liatin aku kayak gitu?"
"Kalo di liat-liat kamu itu-"
"Cantik?"
"Jelek."
Seketika raut wajah Aisha berubah, menyebalkan sekali
"Mas kamu!"
Naufal tertawa puas berhasil menjaili istrinya, senang sekali rasanya bisa melihat wajah kesal Aisha
"Mas," panggil Aisha
"Hm?"
"Aku mau kasih tau sesuatu, tapi kamu jangan langsung bertindak ya?" kata Aisha
"Iya."
"Tadi aku hampir minum wine."
Seketika Naufal langsung terduduk membuat kepalanya dan kepala Aisha hampir saja terbentur
"Ihh mas,"
"Kenapa nggak ngomong?! Siapa yang ngasih kamu wine hah?!" tanya Naufal tersirat amarah di matanya
"Tapi aku udah nggak papa, jadi jangan bertindak ya,"
"Nggak bisa gitu! Kamu hampir aja minum wine kalau sampai kenapa-napa gimana?!"
"Sekarang kasih tau aku!"
"Nggak."
"Jangan bikin aku lebih marah Sha, cukup kamu kasih tau siapa orangnya!"
Mata Aisha mengerjap pelan, baru kali ia melihat Naufal marah demi anaknya
"Nggak akan."
"Sha," Naufal berusaha sabar menghadapi Aisha
"Nggak akan. Aku nggak mau mas ngelakuin hal nekad ya,"
"Sha, jangan bikin aku marah."
"Udah, aku udah nggak kenapa-napa ya, jadi nggak usah khawatir gitu." kata Aisha
Naufal menghela napas panjang ia merangkul Aisha, "Aku nggak mau terjadi hal buruk ke kamu sama anak kita,"
Aisha mengambil napas panjang, Naufal sudah tenang itu artinya ia akan menceritakan hal itu pada Naufal
"Sebenarnya mas, aku juga nggak tau siapa yang ngasih itu, cuma aku ngelihat dia pakai baju pegawai kafe tapi aku ngerasa yakin dia bukan karyawan kafe sana."
"Kenapa kamu bisa yakin gitu?" tanya Naufal dengan kening mengkerut
"Karena setiap aku mampir ke sana aku nggak pernah tuh liat dia," kata Aisha
Naufal manggut-manggut, dia meraih ponselnya dan menelpon seseorang
"Halo Zee, gue mau Lo selidiki siapa yang udah berani bermain-main dengan nyawa anak dan istri gue,"
"Lo dengerin gue nggak?!" kesal Naufal karena Zee tak kunjung meresponnya
"Iya-iya. Bisa bisanya gue dapet atasan orang bawel." gerutunya pelan
Naufal melotot tajam ketika mendengarkan jawaban orang di seberang
"Lo mau gue bunuh?"
"Eh nggak, oke gue cari secepatnya."
"Secepatnya, kalo nggak awas lo gue potong burung lo."
"Merinding gue."
Aisha menganga mendengarnya, astaga Naufal bisa-bisanya ya dia
Setelah sambungan terputus Aisha memukul pelan lengan Naufal, "Mas ihh kamu, nggak baik tau."
"Biarin aja, biar dia kerjanya cepat." jawab Naufal santai
"Ya tapi tetap aja kasihan mas, emang mas nggak kasihan?" tanya Aisha
"Nggak, lagian dia kalau di naikin ngelunjak jadi harus di tegasin," kata Naufal lagi
"Tapi dia teman kamu loh, sekretaris kamu malah," kata Aisha lagi
"Sekalipun dia teman dan sekretaris aku, kalau kerjanya lambat gak bakal berguna juga," ujar Naufal
Aisha terkekeh pelan, Naufal itu memang bukan orang yang humoris tapi sesekali ia bisa bersikap humoris yang membuat Aisha tertawa
"Kamu dan anak aku itu istimewa buat aku, jadi nggak ada satu orang pun yang bisa nyelekain kalian,"
"Kalau nggak mereka bisa celaka." desis Naufal pelan