
Di mobil Aisha hanya diam, pikirannya tak bisa berhenti mencari tahu siapa yang memberikannya kertas itu
Tiba tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan atau panggilan masuk namun Aisha hanya diam tanpa niat mengangkatnya
Naufal yang melihat Aisha hanya dam tanpa mengangkat panggilan mengerinyitkan dahi
"Sha," panggil Naufal namun tak ada sahutan
"Sha," panggil Naufal yang kedua kalinya dengan suara yang agak di tinggikan sedikit
Aisha tersentak lalu menoleh pada Naufal, "Hah? Eh iya kak kenapa?" tanya Aisha
"Kamu kenapa? Sakit? Ada yang di pikirin?" tanya Naufal beruntun namun matanya masih fokus menyetir
"Nggak papa kak, aku baik-baik aja," kata Aisha
"Tapi itu kenapa panggilan masuk nggak di angkat?" tanya Naufal membuat Aisha kembali menoleh
"Telepon? Iya gitu?" Aisha merogoh tasnya dan mencari ponselnya lalu melihat beberapa tiga panggilan tak terjawab dari Bundanya
"Astaghfirullah," lirih Aisha
Ia segera menelpon balik Bundanya, ada apa Bundanya tiba-tiba menelponnya
"Halo, Assalamualaikum Bunda," ucap Aisha ketika panggilan itu sudah tersambung
"Waalaikumsalam Aisha," jawab Layla
"Kenapa kamu nggak angkat telepon Bunda?" tanya Layla
"Maaf Bunda, aku tadi nggak denger ada telpon," kata Aisha
"Yaudah nggak papa," kata Layla "Oh ya kamu lagi di luar ya?" tanya Layla
"Iya Bun, aku habis dari rumah sakit," kata Aisha
"Rumah sakit? Kenapa? Kamu sakit? Kamu sama kandungan kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Aisha
"Ahaha, nggak kok Bun Aisha tadi dari Medical Qurtuby ketemu sama Kak Azma," kata Aisha
"Oalah, Bunda kira kamu sakit." terdengar Layla terkekeh dari seberang
"Yaudah, Bunda tadi cuma khawatir aja makanya Bunda nelpon," kata Layla
"Tapi kamu nggak kenapa Napa kan?" tanya Layla
"Nggak kok Bun, aku baik-baik aja." jawab Aisha dengan tersenyum tipis
"Yaudah Bunda tutup ya, Assalamualaikum." Aisha mengiyakan dan menjawab salam
Setelah sambungannya terputus ia kembali memasukkan ponselnya ke tas, Naufal menoleh pada Aisha
"Kenapa?" tana Naufal
"Nggak, itu Bunda katanya khawatir sama aku, Bunda kira aku kenapa-napa." jelas Aisha membuat Naufal mengangguk paham
"Oh iya, tadi Kak Naufal kemana?" tanya Aisha penasaran
"Kan aku udah kasih tau ada urusan mendadak, jadi aku harus pergi." jawab Naufal
"Iya maksud aku pergi kemana? kok tiba-tiba gitu?" tanya Aisha merasa tak puas dengan jawaban yang di berikan Naufal
"Ohh, jadi tadi itu aku dapat telpon dari teman lama aku, kamu masih ingat Rafi kan?" tanya Naufal
"Iya masih."
"Nah dia itu lagi ada di Indonesia, makanya dia mau ketemu sama aku." kata Naufal "Soalnya dia di sini cuma beberapa hari aja." sambung Naufal
"Lah kenapa nggak ngajak Aish, padahalkan Aku juga mau ketemu kak Rafi," kata Aisha cemberut
Naufal tersenyum lalu mengusap kepala Aisha "Nggak papa kalau ada waktu nanti kita ketemu sama dia ya,"
"Eumm iya deh," kata Aisha
"Eh, kak tiba-tiba aku kok pengen rujak ya?" tanya Aisha, Naufal mengangkat sebelah alisnya
"Beli rujak yok kak," ajak Aisha
"Nggak boleh, kamu itu lagi hamil jangan makan yang asem-asem apalagi rujak itu juga pedas." larang Naufal membuat Aisha kembali cemberut
"Gimana kalau martabak? Bukannya tadi mau martabak ya?" tanya Naufal
"Eh iya ya, kalau gitu ayo beli martabak!" kata Aisha semangat
Naufal tertawa pelan melihat kelakuan Aisha, menggemaskan. Pemuda itu melajukan mobilnya sepanjang jalan hingga menemukan sebuah gerobak martabak
Ia menghentikannya dan segera membelinya untuk Aisha, Naufal tak membiarkan Aisha turun dari mobil jadikan cowok itu yang memesannya
"Mas, martabak coklat kejunya satu ya," pesan Naufal
"Oh iya baik Mas," kata penjual tersebut
Dua puluh menit kemudian pesanan Naufal siap, cukup ramai juga orang yang berada di sekitaran pedagang itu karena memang berniat membeli
Naufal kembali ke mobil dengan menenteng kantong yang berisi sekotak martabak
Naufal tertawa melihat tingkat Aisha, melihat suaminya tertawa manis membuat Aisha memiliki ide jail yang tak akan ia lewatkan kesempatan ini begitu saja
Ia mengabadikan momen itu dengan merekamnya di ponselnya, Naufal yang sadar langsung menatap Aisha
"Kenapa di rekam?" tanya Naufal
"Jarang-jarang kakak ketawa, yaudah aku rekam aja," kata Aisha sembari tertawa kecil
"Ada-ada aja kamu," kata Naufal membuat Aisha cekikikan
"Gimana kak Naufal ganteng ya," tutur Aisha saat melihat beberapa foto yang sempat ia ambil barusan
"Oiya dong, aku kan emang ganteng dari lahir," kata Naufal dengan percaya diri membuat Aisha menoleh sambil memutar mata malas
"Jangan kepedean deh kak," kata Aisha malas
"Eh siapa juga yang PD, buktinya kan aku emang banyak yang suka," kata Naufal
"Terus kalau banyak yang suka kenapa?" tanya Aisha
"Kalau banyak yang suka berarti aku ganteng lah," jawab Naufal sambil terkekeh
"Idihh, tetep aja yang milikin kak Naufal cuma aku seorang kan?" tanya Aisha membuat Naufal terdiam
"Kenapa diam?" tanya Aisha
Naufal menoleh lalu tersenyum jail, "Iya dong, kan yang bisa milikin aku cuma istri ku seorang," kata Naufal sambil menjawil hidung Aisha
"Istriku yang paling cantik dan imut sedunia," kata Naufal
"Tapi bohong, ya kan?" tanya Aisha sembari memicingkan mata
"Ya nggaklah, ngapain juga aku bohong kamu itu emang istri aku yang paling cantik," kata Naufal
"Kan istri aku cuma kamu, nggak ada yang lain ya berarti istri aku yang paling cantik cuma kamu lah," jelas Naufal sambil tertawa
Sedangkan Aisha dia cemberut karena Naufal, menyebalkan sekali tadi aja di buat baper eh taunya malah ada ujungnya
Lagi-lagi Naufal di buat tertawa dengan Aisha, ia meraih tangan Aisha lalu mengelusnya
"Nggak kok aku beneran, kamu emang istri aku yang paling cantik kok." kata Naufal sambil menatap mata Aisha lalu mengecup tangan istrinya itu dengan lembut
"Ya ampun aku baper," kata Aisha mendramatisir membuat Naufal kesal begitu saja
"Serius juga," kata Naufal
Kali ini yang tertawa adalah Aisha senang sekali membuat suaminya itu kesal
"Satu sama." kata Aisha dengan sisa tawanya
"Awas aja ya," kata Naufal
"Udah ah, pulang yuk aku pengen bocan, alias bobo cantik." Aisha tertawa saat dirinya bersikap sok alay
Sedangkan suaminya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Aisha, entah memang bawaan Aisha semenjak hamil atau memang tingkahnya yang begitu sejak kecil
Naufal segera menjalankan mobilnya pulang ke rumah, di jalan Aisha hanya sibuk menikmati martabaknya
Sesampainya di rumah Aisha segera membersihkan dirinya begitupun dengan Naufal
Mereka lelah setelah seharian berkendara terlebih Aisha yang sedang mengandung ototmatis tenaganya akan terkuras lebih cepat
Aisha tengah selonjoran di atas kasur sambil mengelus-ngelus perut nya yang mulai membesar itu
Naufal baru saja selesai mandi, pemuda itu terlihat lebih tampan saat selesai mandi. Aisha memalingkan wajahnya pada perutnya lagi
"Hai anak bunda," panggil Aisha pelan
"Sehat-sehat terus ya, bunda pasti nungguin kamu lahir," kata Aisha lagi ia tersenyum tipis
"Bunda udah nggak sabar pengen liat kamu lahir sambil nangis-nangis," calon ibu muda itu terkekeh mendengar perkataannya sendiri
Naufal tersenyum tipis ia mendekat pada Aisha lalu berjongkok di samping ranjang, lalu ikut mengelus perut Aisha
"Hai anak ayah," sapa Naufal
"Anak ayah lagi apa?" tanya Naufal "nggak sabar ya pengen liat Ayah sama Bunda?"
"Wah dedek bayi nya nendang-nendang," kata Aisha saat merasakan pergerakan di perutnya
"Pengen ayah usapin ya?" Naufal mengusap-ngusap perut Aisha dengan lembut sembari melantunkan shalawat dengan merdu
Aisha tersenyum melihat Naufal yang sekarang, betapa banyak perubahan yang terjadi pada suaminya itu
Dari mulai Naufal yang dingin kini menjadi Naufal yang super hangat dan sangat menyayangi Aisha dan calon Anaknya
"Udah tenang ya?" Naufal tersenyum tipis
"Jangan nakal-nakal ya, kasian bundanya nanti kalau kesakitan," ia tertawa kecil lalu mencium perut itu
"Anak ayah yang baik, sehat-sehat terus ya." kata Naufal berbisik