Dear Imamku

Dear Imamku
Siapa dia?



●_●


"Sahabat bukan tentang siapa telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tak pernah tinggalkan kamu. Semoga persahabatan kita dijatuhkan dari rasa bosan dan mulai malas main bareng."


●●●●●_●


    Sudah seminggu sejak perayaan ulang tahunku dirayakan dan hari ini aku harus ujian nasional yang pertama kalinya di bangku SMA. Sebentar lagi aku akan pisah dengan beberapa teman sekaligus sahabatku, ini bukan perpisahan melainkan persatuan yang tertunda.


     Aku menatap wajah kak Farzan yang tersenyum setelah duduk kemudian menyetir mobil, setelah ini, dia akan ke Jakarta lagi untuk mengurus sesuatu, entah aku malas bertanya kalau bukan dia yang memberi tahu, dia kembali pergi lagi selama tiga hari, menyebalkan.


     Hening kembali datang. Kak Farzan sibuk dengan ponselnya. Kalian tahu, aku tidak suka kak Farzan seperti ini. Apa kak Farzan punya selingkuhan? Ya Allah, kenapa aku memikirkan hal ini? Naudzubillahimindzalik. Semoga itu tidak terjadi di kehidupanku dan kak Farzan.


     Dan Zahra? Apa sekarang kak Farzan sedang komunikasi dengan Zahra? Ah ya Allah kenapa aku terlaluan seperti ini? Aku cenderung zoudzon  dengannya selama seminggu ini. Ah, pemikiranku ini bukan zoudzon!


     Aku menyalahkan radio dan mencari musik yang menurutku baik untuk mengusir kegalauanku saat ini, hingga lagu seventen dengan judul kemarin yang mungkin bisa menggambarkan suasana hatiku sekarang.


     Kemarin, engkau masih ada di sini.


     Bersamaku menikmati rasa ini,


     berharap semua tak kan pernah berakhir


     bersamamu.


     Bersamamu,


     kemarin dunia terlihat sangat indah,


     dan denganmu merasakan ini semua,


     melewati hitam putih hidup ini....


    


     “Aku juga suka dengan lagu itu, kena banget dengan lagunya,” ucap kak Farzan.


     “Teringat dengan Zahra? “ tanyaku. Entah kenapa aku harus mempertanyakan hal ini, saat aku sudah mengetahui semuanya, bukanya aku mengizinkan kak Farzan untuk menikahi Zahra asal tidak meninggalkan aku, tapi saat ini aku harus jujur, aku sungguh tidak menginginkan hal itu bahkan sangat tidak menginginkannya.


     “Adibah, kamu kenapa si? “tanya kak Farzan yang masih sibuk menyetir. Lihat saja, dia tidak memperhatikan aku!


    “Tidak, Adibah tidak apa-apa. Kak Farzan yang kenapa? Seminggu ini lebih sering sibuk dengan ponsel kak Farzan ketimbang Adibah. “


     “Aku sibuk karena pekerjaanku, sayang. Mengurusimu saja perlu perjuangan yang besar buat apa mencari yang lain.” Dia pasti bercanda!


    “Kejujuran biasanya berada di akhir. Mana mau kak Farzan jujur sama aku sekarang,” ketusku.


     “Mau bukti bagaimana? Kamu mau ikut juga ke Jakarta? Kamu kan ujian.”


     “Ini yang kak Farzan suka. Pergi sendiri saja. “


    “Aku janji setelah pulang nanti, aku akan bawakan dua boneka beruang besar dan beberapa boneka beruang yang kecil biar Adibah tidak kesepian lagi. “


     “Tidak perlu. Kak Farzan setiap minggu selalu keluar kota dan aku sendiri lagi, kak Farzan tidak takut kalau aku nantinya diculik orang jahat? Kak Farzan m-“


     “Ini sebabnya kamu marah? Kamu tidak tahu di depan pintu ada CCTV bahkan saat temanmu berusaha membuka pintu apartemen juga terekam di sana. Dan siapa pun pelakunya pasti akan di temukan,“ ucap kak Farzan, sesekali menatapku.


     “Bagaimana kalau dia tidak tahu kalau di sana ada CCTV?”  tanyaku, dengan pandangan yang tidak pernah menatapnya.


     "Kan bisa ditindak lanjutkan, setelah itu, Adibah, kamu harus dengar ini. Apa pun yang sudah menjadi milikku, mustahil untuk kulepaskan, " kata kak Farzan.


     Aku diam dan kemudian kembali berbicara, "Terus bagaimana Zahra bisa lepas? Kak Farzan bohong kan?"


     "Kamu terlalu sensitif ke aku Adibah. Dia itu masa laluku, untuk apa menyangkut pautkan semua ini? Aku sudah pernah bilang, kalau aku lebih sayang ke kamu sekarang bukan ke Zahra!"


     "Walau Zahra mengurus anakmu? " Skat kan sekarang! Dia diam. Eh tunggu kenapa wajah kak Farzan berubah seperti itu? Apa dia marah? "Kak Farzan, sama Adibah? maaf kak," ucapku lirih.


     "Tidak apa-apa. Aku juga masih memikirkan bagaimana bisa hal ini terjadi. Aku belum pernah sekali pun melihat anak itu, astagfirullah maksudnya anakku."


     "Anak kak Farzan? "


     Dia hendak menjelaskan tapi aku sudah membuka pintu mobil itu dan keluar. Sebenarnya aku ingin mendengar penjelasan dia tapi sekarang bukan saat yang tepat karena sebentar lagi ujian akan dimulai dan mungkin saat ini aku harus bermain-main dengan kak Farzan.


     Dia membunyikan klakson mobilnya, aku berbalik menatapnya dengan wajah datar ala Adibah, bukannya balik marah dia malah terkekeh melihatku. Dia kenapa? Dia membalikkan mobilnya dan pergi. Menyebalkan, tidak ada kata maaf! Apa dia tidak pernah peka!!


     Saat di kelas, aku melihat beberapa temanku yang masih belajar, dia rajin menurutku. Aku sih semalam sudah belajar, di bantu kak Farzan ralat bukan membantu, sudahlah menurutku tidak perlu di ceritakan saat kak Farzan mulai mengganggu konsentrasiku saat belajar, sekali lagi menyebalkan!


     Tanpa sengaja pandanganku menangkap sosok Fauzi yang tengah bermain game yang sedang naik daun di Indonesia saat ini, dia memang tipikal pria tersantai yang pernah aku kenal. Selama sekolah di MAN 1, aku belum pernah sekali pun melihat dia belajar untuk ujian, dan anehnya dia selalu bisa naik kelas, dia pandai menyontek. Ah sudahlah percuma mengurusi hidup orang lain.


     Tunggu! Kenapa Fauzi menatapku? Bukannya aku pernah bilang ke dia untuk menjauhiku sementara. Oh, Adibah pura-puralah tidak melihatnya dan kembali ke tempatmu di mana Jihan dan Dani duduk, cepatlah.


     Setelah sampai di tempatku Nurpika tersenyum ke arahku, kenapa dia duduk di sana? Maksudku duduk di tempatku.


     “Kenapa duduk di tempatku? “ tanyaku terdengar kesal, mereka sudah terbiasa dengan nada seperti ini.


     Nurpika menggelengkan kepalanya. “Ujian akan segera di mulai. Cepatlah belajar. “


     “Terus saya duduk di mana? “ tanyaku sambil melihat ke sekitarku yang sudah bisa di bilang tidak ada tempat kosong.


    Sebenarnya tempat ujian kita itu bukan di sini, tapi di Laf komputer hanya saja jam ujian belum dimulai jadi kita harus belajarnya di kelas dulu, saat waktu ujian baru bisa ke laf.


     “Duduk di sini. “ Seseorang lelaki dari arah belakang sedang berbicara-dia Fauzi, kenapa dia? Aku berbalik menatapnya. “Ayo, duduk di sini. Kita belajar sama-sama.” Apa aku bisa jujur sekarang? Seorang Fauzi mau belajar? Ini sungguh keajaiban dunia.


     Aku berbalik tersenyum menanggapi perkataan Fauzi tanpa sepatah-kata pun dan kembali ke posisi semula. Aku berusaha melupakan dia sekarang, eh salah, bukan melupakan tapi menghilangkan rasa ah ralat sekarang sudah tidak ada perasaan aku terhadap Fauzi.


     Allah memang maha mebolak-balikkan hati hambanya. Seseorang yang awalnya tidak aku cintai sekarang malah aku cintai dan seseorang yang awalnya aku cintai sekarang malah tidak ada perasaan lagi ke dia, maksudnya aku tidak lagi mencintainya.


●●●●●_●


     Apartemen tampak sangat sepih, ralat setiap hari memang selalu sepi. Ini masih jam kerja kak Farzan, dia tidak akan menelepon sekarang, biasanya dia menelepon pukul 15 : 00 dan sekarang sudah pukul 14 : 50 berarti lima menit lagi dia akan menelepon.


     Aku mencoba memasak untuk mengobati rasa bosanku, kalian tahu, sudah ada sedikit kemajuan di diriku sekarang, aku sudah pintar memasak nasi dan beberapa laut semisal telur mata sapi, tempe goreng dan masih banyak lagi yang tidak bisa kujelaskan semua. Dan sekarang aku harus memasak mi instan saja, makanan yang tidak memerlukan banyak waktu untuk memasaknya.


     Jam sudah menunjukkan pukul 15:02 tapi kak Farzan belum juga meneleponku, apa dia terlalu sibuk sekarang? Kak Farzan Dibah rindu! Ayolah menelepon sekarang.


     Atau sekarang harus aku yang memulai? Ya itu tidaklah buruk untuk kucoba, apalagi dia juga sudah menjadi suamiku sekarang dan selamanya, amin. Tapi saat kumenelepon” nanti, apa yang akan kutanyakan? Apa aku bilang kalau aku rindu? Ah dia bisa mengejekku nantinya! Sebelum dia pergi, aku sempat marah ke dia, jadi biar dia dulu yang memulai. Ah tidak, aku yang harus memulai sekarang!


     Hampir saja aku menghubungi kak Farzan, dia sudah menghubungi aku terlebih dulu. Ikatan batin yang sangat baik.


     “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa? “ tanyaku, pura-pura tidak memedulikan dia.


     “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana keadaanmu? “ dia berbalik bertanya! Dasar dokter tua!


     “Kapan kak Farzan pulang? “


     “Kalau di tanya ya dijawab bukan bertanya balik. “ Apa? Kalau ditanya jangan bertanya kembali? Hey! Tadi dia kenapa? Jungkir balik? Jelas-jelas dia juga tadi tidak menjawab pertanyaanku dan malah bertanya kembali! Usianya masih kepala dua tapi dia sudah pikun! “Kamu sudah makan? “ dia kembali bertanya.


     “Adibah, aku SERIUS, “ ucapnya, sengaja menekan kata SERIUS.


     “Belum, Dibah belum lapar.”


     “Apa persediaan mi sudah habis? Mau aku suruh Mahesa untuk membawakan kamu martabak? Atau nasi goreng alah mas kumis tebal kiri itu?” tanyanya yang membuatku terkekeh mendengarnya. Ternyata dia masih ingat curahan aku saat di mobilnya.


     “Dibah tadi bohong. Dibah sudah masak mi, nanti mau makan.” Aku menjatuhkan bokongku di lantai untuk duduk, saat ini aku keseringan cape.


     “Ya sudah, kamu makan dulu, nanti lanjut telepon lagi. “ Kak Farzan hendak mematikan teleponnya.


     “Nanti dulu, Dibah masih mau bicara sama kak Farzan sambil makan, hari ini saja-ah salah, maksudnya saat kak Farzan keluar kota, biar Dibah tidak sendiri.”


     “Oke, mi kamu belum masak ya?”


     “Udah hampir masak, jangan dimatikan teleponnya, ya.” Aku bangkit dari dudukku dan menaruh ponsel itu di atas meja makan kemudian mengurusi mi yang ada di dapur itu.


     Setelah selesai, aku kembali ke meja makan untuk berbicara dengan kak Farzan-lelaki yang saat ini dan seterusnya menjadi suamiku. “Assalamualaikum,” ucapku saat ponsel itu sudah menempel di pipi kiriku. Beberapa menit menunggu, aku baru bisa mendengar suara kak Farzan. “Dari mana saja? “


     “Maaf, tadi ada pasien,” ucapnya. Terdengar sekeliling begitu rame. Apa sekarang dia membawa ponselnya? Biasanya saat sampai di rumah sakit, dia selalu menaruh ponselnya di ruangannya tidak sampai membawanya seperti sekarang.


     “Kak Farzan sekarang benar di rumah sakit? “ tanyaku memastikan. Rasanya aku menemukan kejanggalan dengan kak Farzan.


     “Iya saya di rumah sakit. Lagi mau pesan makanan ini, kebetulan aku malas makan makanan ala rumah sakit. Tiba-tiba aku rindu masakan kamu Adibah. “


     Aku tersenyum mendengarnya. “Makanya jangan keseringan keluar kota, biar bisa makan masakan Adibah. “


    “Kamu sekarang sudah makan? “


     “Lagi mau makan ini, kak Farzan tahu, ini pertama kalinya aku memasak mi tidak sampai terkena air panasnya lagi,” ucapku, mungkin dia tertawa sekarang-aku bisa mendengar suara tawanya melalui ponselku.


     "Hebat. " satu kata yang bisa membuatku tersenyum mendengarnya. "Lain kali masakin aku mi juga ya, biar bisa makan bersama. "


    Setengah jam terasa cepat ketika sangat banyak pembicaraan antara aku dan kak Farzan hari ini, yang begitu sangat berarti. Rasanya aku tidak ingin kehilangan dia, maksudnya memutuskan telepon dan ingin menghubungi dia terus.


     Astagfirullah, aku hampir saja lupa untuk salat asar hari ini. Niatnya tadi setelah makan langsung salat tapi harus tertunda karena kak Farzan ralat ini karena aku sendiri yang meminta kak Farzan terus berbicara dengan dia, sampai pukul setengah empat.


     Baru sehari dia pergi aku sudah sangat merindukan dia. Semoga saja, saat pulang nanti boneka beruang juga ikut agar jumlah boneka aku semakin banyak, kan sekarang sudah ada sepuluh boneka besar dan lima boneka kecil yang mengemaskan, biar nanti makin banyak.


    Teringat saat kak Farzan kesal dengan boneka yang dia belinya sendiri, itu semua karena aku selalu menaruh boneka beruang itu di tengah kami bukan di tempatnya maksudnya di atas kami. Teringat juga saat dia harus tidur di sofa hanya karena tidak kebagian tempat tidur.


    Pertama kalinya, kak Farzan keluar kota, Aqilah tidak datang menjenggutku, ah bukannya dia hampir keguguran karena Zahra datang kembali! Aku membenci wanita itu -Zahra, mantan istri kak Farzan, aku muak mendengar atau pun menyebut namanya!


    Apa cinta bisa kembali tumbuh dengan adanya uang? Aku heran dengan mereka yang rela menikah dengan orang yang tidak dia cintai hanya karena uang. Selama aku hidup, aku tidak pernah memimpikan menikah dengan orang kaya, aku hanya bermimpi bisa menikah dengan orang yang aku cinta dulu-Fauzi pria yang sempat aku cintai, bukan mencintai sih tapi sebatas perasaan tabu yang kuanggap cinta, sangat konyol.


     Ya Allah, aku berterima kasih dengan takdir yang telah Engkau tuliskan untukku, takdir yang bisa kukatakan sangat sempurna ini, bertemu dengan seorang pria yang bisa mencintai aku dengan segala kekurangan yang aku miliki. Pria yang selalu sabar menerima sifat kekanak-kanakan yang aku miliki, entah, seberapa sabarnya dia menghadapi wanita seperti aku.


●●●●●_●


     Jihan memegang tanganku erat. Sepulang sekolah tadi, dia menceritakan tentang acara pernikahannya yang akan dirayakan setelah pelulusan, Jihan baru mengenal dia-Abdul Wahib, seorang pria yang mengabdikan diri menjadi letnan jendral.


     Siapa wanita yang tidak menginginkan menikah dengan tentara? Tapi bagi Jihan, saat ini sangat berbeda dia menikah karena perjodohan dan tanpa rasa cinta sedikit pun.


     “In shaa Allah dia terbaik untuk kamu Ji. Aku juga awalnya seperti itu sama kak Farzan, tidak memiliki perasaan sedikit pun tapi apa? Lihatlah sekarang, aku sudah sangat mencintai dia kenapa aku bisa mencintai dia? Karena aku selalu berdoa agar Allah memberikan rasa cinta di antara kita. Yang terbaik tidak selamanya dibawal, in shaa Allah juga di akhir.”


     Jihan menundukkan kepalanya sambil mengusap bekas air mata di kedua pipinya. Untunglah saat pulang sekolah musolah sangat sepi, kalau tidak, mungkin sudah banyak yang melihat kita.


     “Saya tidak tahu, apakah saya bisa suka ke dia nantinya, Dibah. Saya tidak pernah bermimpi bisa menikah setelah tamat nanti, ini kemauan bapak saya Dibah, dia meminta saya untuk menikahi dia. katanya aku sudah cukup dewasa,” ucap Jihan, dia terlihat sangat sedih dengan kejadian ini. Sebagai sahabat aku pun bisa merasakan hal ini apalagi aku sudah pernah berada di posisi Jihan.


 


     “Bapakmu benar Jihan. Kamu sudah dewasa, kamu selalu memberiku solusi saat aku hampir menyerah, kamu itu penyemangatku, Dengan tinggi 149 cm ini kamu sudah memiliki sifat dewasa, percayalah. Ayah pernah bilang, kedewasaan seorang wanita bisa dilihat saat dia mengalami masalah, dan aku selalu melihat kedewasaan kamu saat itu, Ji. “ Aku mengusap panggung Jihan yang mulai memelukku. “Percayalah, Allah mempunyai alur yang indah untuk hambanya yang sabar,” lanjutku.


     Di keluarga Jihan, seorang wanita yang tamat SMA memang wajib untuk dinikahkan segera, kalau tidak dia akan sangat sulit untuk menikah ke depannya entah di mana mereka menyimpulkan hal demikian, tapi menurutku hal itu tidaklah benar.


     “Saat ketemu kemarin. Dia tampan Dibah,” ucapnya, sambil melepas pelukannya dariku. “Rahang yang sempurna, dan satu lagi, dia punya gingsul,  saya suka lihat saat dia tertawa, giginya kelihatan sekali. Kak Farzan punya lesung dan Abdu punya gingsul. Kekurangan yang diincar banyak orang,” katanya, sambil tertawa.


      “Dan sekarang katakan selamat tinggal untuk mimpimu yang ingin menikahi Aliando Syarif, karena sebentar lagi hal itu permanen menjadi mimpi,” ucapku dengan nada sok sedih.


     Jihan terkekeh mendengar perkataan aku. “Ucapkan selamat tinggal juga untuk Reza Rahardian. Karena sekarang mimpimu tidak bakalan bisa terwujudkan lagi.”


     “Oh. No! Kamu tahu judul film My stupid bos?  Yang Kirani itu kamu tahu? “ tanyaku kembali dibalas anggukan oleh Jihan, “Sebenarnya pemeran utamanya itu aku, bukan siapa namanya? Nama asli Kirani aku lupa. “


     “Eriska Rein? “ jawabnya.


     Aku diam, apa benar nama asli Kinani, Eriska Rein? Ah entah, aku sungguh tidak tahu, besok saat kak Farzan pulang akan kutanya, diakan sekarang di Jakarta pasti pernah ketemu dengan artis terkenal.


     “Mungkin, tapi aku tidak yakin juga. Nanti deh, kalau kak Farzan sudah pulang, akan aku tanya siapa nama Kirani asli. “


     “Tapi ngomong-ngomong, ada apa dengan Kirani? “ tanya Jihan, membuatku sadar bahwa hal ini tidaklah begitu penting sekarang. Sebodoh-bodohnya Jihan, dia tetap tidak akan percaya kalau tadi aku sedang serius.


     “Iya juga ya, "


     Di akhir pembicaraan kita, aku dan Jihan tertawa. bagaimana saat kita semua berpisah, mungkin aku tidak bisa mendapatkan seperti sahabat-sahabatku sekarang nantinya.


     Sahabat bukan tentang siapa telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tak pernah tinggalkan kamu. Semoga persahabatan kita dijatuhkan dari rasa bosan dan mulai malas main bareng.


●●●●●_●


     Kemarin, engkau masih ada di sini.


     Bersamaku menikmati rasa ini,


     berharap semua takkan pernah berakhir


     bersamamu.


     Bersamamu,


     kemarin dunia terlihat sangat indah,


     dan denganmu merasakan ini semua,


     melewati hitam putih hidup ini....


Dhuha yuk. 


Orang yang istiqomah mengerjakan solat dhuha kelak akan masuk surga lewat pintu khusus, yaitu pintu dhuha ^_^


Peringatan!!


Dunia adalah perhiasan, dan Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah.


      Hr. Muslim