
-
"Kita bukanlah pasangan yang sempurna, suatu saat pasti kita akan merasakan puncak di mana emosi kita meluap, merasa tak di hargai, tak diperhatikan, bahkan tak di pedulikan , dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tapi ingatlah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu begitu saja tanpa pamit, aku tak akan pernah berhenti mencintai kamu, tidak peduli walau hatiku telah tersakiti berkali-kali. Jika pun diharuskan mencintai dari awal lagi, aku tetap memilih kamu."
💕
●●●●●_●
Rasanya badanku tidak bisa lagi bergerak. Aku baru saja bisa mengistirahatkan badanku setelah hampir dua puluh empat jam bekerja. Tinggal sendiri di sini bukanlah hal yang mudah, bekerja dengan gaji tiga puluh ribu setiap hari tidaklah cukup untuk membiayakan diriku sendiri, in shaa Allah setelah uang terkumpul banyak, aku akan membayar semua sewa untuk tinggal di tempat ini. Sudahlah, aku malas memikirkan hal seperti ini lagi!
Dear Allah, jika bukan dia yang Engkau takdirkan untukku bolehlah Engkau hapuskan segala rasaku, jika bukan aku yang dia harapkan hapuslah pula harapanku kepada dia, jika bukan aku separuh hidupnya maka hapuslah dia pula di separuh hidupku. Dan pada akhirnya, semua yang telah susah payah aku pertahankan harus mampu aku relakan.
Dear hati, semoga dengan luka ini kamu mengerti, tidak ada cinta yang sempurna kecuali cintanya Allah kepada hambanya. Agar engkau tidak lagi tersakiti dengan alasan yang sama. Bersabarlah, Allah tahu kapan titik kebahagiaan terbaik untuk kamu rasakan. Dan terkadang kita harus benar-benar sadar, Allah buat sedemikian rupa jalan hidup kita, agar kita mengambil pelajaran.
Dear imanku, engkau tahu, I just want to be your priority dan tidak lebih dari itu. I dont need a perfect one. I just need someone who can make me feel that im the only one. Tapi kurasa itu mustahil, sekarang kau pergi entah ke mana. Biarlah, akan ada masa di mana, semuanya akan indah.
Adibah bangkitlah! Kamu harus kuat, jangan tunjukkan kelemahan dirimu di depan umum. Senyumlah, tinggalkan sedihmu. Bahagialah, lupakan takutmu. Sakit yang kau rasa, tak setara dengan bahagia yang akan kau dapat.
Bunyi ponselku hampir membuatku jantungan. Kutatap layar teleponku untuk memastikan siapa penelpon, ternyata Fauzi. “Assalamualaikum, Adibah kamu di mana? “
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, aku di rumah. Sekarang kan sudah jam dua belas malam, waktuku untuk istirahat sekarang. “Aku memperbaiki dudukku di atas tempat tidurku, sambil menyenderkan tubuh. “Memangnya ada apa? “ tanyaku.
“Ehh. Enggak, cuma mau memastikan kalau kamu sudah pulang atau belum,” ucapnya dengan agak terbata-bata, “Aku boleh bertanya? “ sambungnya.
“Ada apa? Jangan bilang kamu mau bertanya tentang boneka beruangku apa sudah makan apa belum! “ kesalku. Memang hampir setiap hari dia selalu mempertanyakan dengan pertanyaan setianya ini, dan masih ada pertanyaan lain semisal, bungan matahariku sudah tumbuh kuwaci apa belum, seumur hidupku aku belum mendapatkan bunga itu tumbuh kuwaci.
“Astagfirullah, jangan zoudzonlah. Aku mau tanya, apa suamimu sudah pulang apa belum? “soal pernikahanku dengan kak Farzan, Fauzi memang sudah mengetahuinya, awalnya dia terlihat kecewa tapi lama-kelamaan sudah tidak. Tunggu! Kenapa dia membahas tentang dia!
“Ada apa dengan dia? “
“Hemmm. Tadi aku lihat dia sedang mengemudi, ke arah rumahmu, memangnya belum ada? “ ucapnya, terdengar ada nada ketakutan dari diri Fauzi.
Ada apa ini? Aku tidak bisa mendefinisikan soal perasaanku sekarang, rasanya aku ingin menangis sekarang. Ingatanku kembali teringat dengan sepuluh bulan yang lalu, saat dia pergi dengan alasan bekerja dan setelah itu dia hilang kabar dan akhirnya ada kabar kalau dia datang!
Andai dia tahu, betapa kerasnya aku menahan air mata setiap hari, menahan rinduku kepadanya, menahan untuk tetap mempercayai dia, sampai akhirnya aku sampai di titik rasa kecewa yang teramat sangat.
“Adibah, apa kamu masih mendengarku? “ panggil Fauzi, aku kembali sadar dan air mata berhasil meluncur.
“Huh? Maaf, tadi bonekaku jatuh jadi aku pungut dulu. “
“Terus kenapa suaramu serak seperti orang menagis seperti itu? Apa kamu baru saja bertengkar dengan boneka beruangmu? “ ucapnya yang membuatku tersenyum mendengarnya.
“Begitulah, aku hampir saja bertengkar dengan dia.” Aku tertawa, yang pastinya dengan suara buatan. “Sudah dulu ya, aku hampir saja lupa untuk makan malam. “
“Kamu terlalu mementingkan egomu Adibah. Kamu bekerja hampir dua puluh empat jam, hanya untuk membayar apartemen yang mungkin bisa dikatakan itu rumahmu sendiri. Kalau boleh jujur, kamu tidak usah bekerja aku siap membayar sewa apartemen itu.”
Aku mendengus. “Sudah kubilang, aku tidak suka di kasihani! “ tegasku.
“Tap-“
“Sudah dulu ya, Assalamualaikum! “ aku mematikan telepon itu sepihak. Dia terlalu berlebihan!
Apa selama ini kak Farzan ada di Parepare tapi aku yang tidak tahu semua ini? Arghhhh! Aku benci dengan keadaan seperti. Aku ingin sekali membencinya, bahkan dengan sangat membenci dia. Namun andai dia tahu aku tak pernah mampu untuk hal itu. Aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku terhadap dia dan nyatanya itu sangat sulit! Aku sangat membenci dalam keadaan seperti ini.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur milik kak Farzan, memang selama dia pergi, aku selalu tidur di sini, sulit kujelaskan kenapa. Warna ungu kamar ini terlihat sangat indah, teringat saat dia terpaksa mengganti warna kamarnya hanya karena paksaan dariku.
Perlahan aku menutup mataku, berusaha untuk mengistirahatkan badanku dari hidup ini. Dan deary yang ada di sampingku selalu saja setia menemani tidurku setiap malamnya, sampai akhirnya, aku tidak tahu lagi bagaimana selanjutnya, aku tertidur sekarang.
Dear Allah, buatlah aku mensyukuri hidupku hari ini dan tabah menjalani kehidupan esok hari.
Dear imamku, Tentangmu, aku dipaksa untuk mengakhiri sebuah kisah, di saat aku belum memulai apapun.
Barangsiapa yang naik ke atas ranjangnya den ia telah berniat untuk bangun melakukan salat di malam hari, namun ia tertidur hingga waktu subuh maka ditulis baginya pahala apa yang ia niatkan dan tidurnya itu adalah sedekah dari Rabb-nya. -HR. An-Nasa'i no. 1786.
●●●●●_●
Setelah membuka pintu apartemen dengan kunci cadangan, Farzan langsung menuju ke kamarnya dan melihat kehadiran istrinya di sana. Mengelus-elus rambut Adibah lembut, dan kembali setetes air mata kembali membasahi pipinya.
Sebelum memutuskan untuk kembali, Farzan sudah menyiapkan segalanya, termasuk kecewanya orang di cintainya. “Aku mencintaimu Adibah! Maafkan sifat egoisku ini, “ gumannya.
Tiba-tiba pandangannya beralih ke buku berwarna ungu di samping kanannya, di sana tertulis Deary. Farzan meraih benda itu kemudian membacanya.
28 Mei
Hari ini, kak Farzan belum pulang! Padahal orang itu selalu datang dan entah apa yang dia inginkan dariku. Apa dia mau dagingku? Mana bisa! Aku kan kurus! Atau mau di ‘Konro ‘¹ daging manusia? Semoga saja tidak.
Dan satu lagi, kak Farzan belum juga datang padahal saat ini aku sedang demam, dan bintik-bintik ini juga masih ada. Bisa jadi kalau kak Farzan melihat badanku saat ini, bisa jadi dia mulai menjauhi aku, ralat dia sudah menjauh sekarang! Rasanya aku ingin membencinya sekarang!
“Maafkan aku sayang, “ gumamnya. Kembali dia membuka lembaran selanjutnya hingga akhirnya dia berhenti di halaman yang membuatnya penasaran.
1 November.
Biarlah semua berjalan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya. Aku sudah terlalu capek menantang takdir bahwa dia akan kembali, aku sudah berhenti untuk berharap suatu hal ke dia lagi, karena sedih pun bisa dinikmati dengan caranya masing-masing.
Jika bukan karena Allah yang menguatkan, niscaya jiwa tak akan sanggup untuk istiqomah menapaki jalan ketaatan.
18 Desember
Biarlah, lebih baik menunggu daripada mengganggu.
Farzan menutup buku itu, tidak kuat lagi untuk membacanya, dia sadar bahwa sifat egoisnya terlalu berlebihan dan mungkin tidak ada lagi yang lebih egois darinya. Di saat seseorang menantinya, dia malah menjauh hanya karena egonya.
Wajah Adibah terlihat begitu pucat dengan jilbab instant yang masih dikenakan, badannya terlihat begitu kurus dan kantong mata yang bertambah besar, dia terlalu banyak membuang dirinya hanya karena Farzan.
Boneka beruang yang sempat di belinya, ia taruh di atas meja bersegi empat. Dan kemudian membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Hanya Allah yang tahu bagaimana takdir mereka berikutnya.
●●●●●_●
Jam menunjukkan setengah jam lagi waktu salat subuh, alhamdulillah aku bangun lebih cepat lagi dari waktu salat. Aku bangkit dari tidurku kemudian membaca doa.
Aku menatap sekeliling, tempat tidur di sampingku ada yang aneh, seakan ada yang pernah menidurinya. Mataku kembali menatap hal aneh, air di kamar mandi terasa menyala. Bismillah, ‘Sesungguhnya tidak lain adalah setan dan kawan-kawannya hanya menakut-nakuti mu, karena itu janganlah takut kepada-nya tapi takutlah kepada-Ku. -QS. Ali Imbran. 175
Dengan berusaha, aku melangkah menuju ke kamar mandi. Tak lupa selalu mengucapkan doa di dalam hati. Dan apa yang kutemui, dia-kak Farzan sedang berwudu, sejak kapan dia ke sini? Badanku tiba-tiba menjadi melemah hingga akhirnya aku terjatuh ke bawah.
Dia balik menatapku kemudian berkata, “Adibah kamu kenapa. “ Kak Farzan mulai mendekatiku. Aku terus menatap wajahnya tanpa henti, memastikan apa ini benar nyata atau cuma mimpi. “Kamu kenapa?" Dia kembali bertanya.
Mulutku rasanya kaku untuk berbicara dengannya. Tiba-tiba aku menangis, argghh kenapa harus di depan dia?! I'm hopeless now, entah apa alasannya kembali!
Kak Farzan menyentuh tanganku, namun segera kutepis. Aku menatap manik matanya, “Kenapa kamu pulang? Huh!“ Sebuah pertanyaan bodoh berhasil kulontarkan.
Dia mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu? Aku suamimu, aku berhak ke sini.”
“Dan berhak meninggalkan aku? Aku tahu perasaanmu kepadaku hanyalah pura-pura, nyatanya kau masih mengharapkan dia yang memberimu segudang luka, dan Aku tidak punya harapan kepadamu sekarang.”
“Adibah, kamu salah paham. Aku ke rumah Zahra hanya mengurus tentang surat DNA dan,” ucapnya, entah kenapa dia tidak melanjutkan ucapannya kembali.
“Mungkin kamu betah tinggal bersama dia, “ gumamku. “Kamu tahu, kita bukanlah pasangan yang sempurna, suatu saat pasti kita akan merasakan puncak di mana emosi kita meluap, merasa tak di hargai, tak diperhatikan, bahkan tak di pedulikan , dan akhirnya menimbulkan kekacauan. Tapi ingatlah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu begitu saja tanpa pamit, aku tak akan pernah berhenti mencintai kamu, tidak peduli walau hatiku telah tersakiti berkali-kali. Jika pun diharuskan mencintai dari awal lagi, aku tetap memilih kamu. Dan kurasa kamu tidak seperti aku.”
Kak Farzan diam sambil menundukkan kepalanya, menatap tangaku yang mulai gemetar.
Siapa pun yang ingin datang, aku sambut. Siapa pun yang ingin pergi aku biarkan. Karena hidupku adalah rumahku dan aku sang pemiliknya, sisahnya adalah tamu yang tidak akan bisa kupaksa untuk tinggal,” ucapku, kemudian berusaha untuk bangkit, baru saja kak Farzan hendak membantu aku, tapi segera kutolak.
“Maafkan aku, Adibah, “ ucapnya yang sudah berada di belakangku.
Aku tidak pernah berbalik menatapnya. “Jangan berlaku seenaknya hanya karena kamu tahu bahwa aku akan selalu memaafkan kamu. Cinta bukan hanya harus memiliki tapi juga harus bertanggung jawab,” ucapku, kemudian melanjutkan langkahku kembali.
Kalau kalian bilang aku wanita egois, silakan, aku tidak akan marah, sifat egois akan dibalas dengan sifat egois pula. Aku tidak bisa menebak bagaimana hubungan kami berdua selanjutnya, yang pastinya aku tidak bisa mengharap lebih tentang hal ini. Sepuluh bulan tanpa kepastian bukanlah waktu yang sebentar.
“Adibah kamu harus mendengar aku dulu! “ tegasnya.
Kepalaku berputar beberapa derajat. “Merasa sangat dicintai membuat kamu bertingkah laku seenaknya," ucapku. "Harus ada yang berakhir, hubunganmu dengannya atau hubungan kita.”
“Surat DNA itu membuktikan kalau anak itu adalah anakku, dan sumpah, aku tidak tahu harus apa lagi sehingga aku memutuskan untuk menjauh beberapa saat. Kamu tidak tahu betapa prustasinya aku saat itu, ” teriak kak Farzan, saat aku sudah meninggalkan kamar itu.
“Kamu egois, kamu tidak tahu bagaimana keadaanku kamu cuma tahu bagaimana keadaanmu!” gumamku, aku tidak sanggup lagi untuk berbicara dengan dia. "Mungkin kuhanya dijadikan pelampiasan saat kau kesepian, dan mungkin juga kusalah mengartikan perhatian yang kau berikan."
"Kumohon, Adibah dengarkan aku dulu. Aku ke sana hanya mengurus surat DNA itu dan... " Apapun yang di ucapkan dia rasanya sulit untuk kupercayai. Sekali lagi, sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Dear Allah.
Ada apa ini? Kenapa semua ini terjadi kepada aku? Aku tidak suka berada di posisi sekarang! Ingin meninggalkan tapi sudah terlanjur cinta dan ingin menetap itu sudah tidak mungkin.
Dia memang suamiku, imamku, dan takdirku tapi kenapa dia harus pergi waktu itu? Dan sekarang dia kembali lagi, entah drama apa lagi yang terjadi saat ini! Andai saja ada pilihan lain untuk pergi bersama ayah, mungkin aku akan memilih pergi bersama ayah sekarang dan juga dengan ibu.
Dear Allah, tegurlah aku, jika cintaku ke hambamu melebihi rasa cintaku kepada-Mu
Bismillah. Inilah hidupku, Allah yang mentakditkan untukku, semua ini rencana-Nya, jadi apa pun yang terjadi aku harus terus melanjutkan perjalanan hidup ini, karena ini semua ketetapan-Nya dan aku harus menerima semua ini dengan segala keikhlasan, karena setiap hal, pasti mempunyai hikmah. Terima kasih ya Allah, atas teguran-Mu ini. Jika bukan Allah yang menguatkan, entah seberapa lemahnya aku saat ini.
●●●●●_●
- "Jangan berlaku seenaknya hanya karena kamu tahu bahwa aku akan selalu memaafkan kamu. Cinta bukan hanya harus memiliki tapi juga harus bertanggung jawab"√
💕
- Jika kamu bukan anak raja dan anak dari ulama besar nan manhsyur, maka jadilah penulis. -Al Ghazali-
- Ikatlah ilmu dengan menulis -Ali Bin Abi Thalib RA-
Min 13 Januari.
¹ konro ( sup khas suku Bugis-Makassar, yang di buat dari tulang rusuk daging sapi atau kerbau)