Dear Imamku

Dear Imamku
Jihan Akan Menikah



"Tidak ada yang lebih melelahkan dari berpura-pura tabah padahal merasa sesak, berpura-pura bahagia padahal sakit tak terkira, berpura-pura tak acuh padahal begitu rindu dan berpura-pura baik-baik saja padahal terluka.”


●●●●●_●


     Sesampainya di dalam kelas. Aku melihat Jihan yang sudah tersenyum ke arahku, dia sangat baik kuyakin dia pasti ingin menceritakan suatu hal lagi di hidupnya. Untunglah semua orang belum datang, cuma ada aku dan Jihan saja.


     “Ada apa? “ tanyaku ke Jihan to the point.


     Aku sudah sangat paham dengan Jihan, gadis yang tidak bisa menyembunyikan masalah dari aku.


     “Duduk disini dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya.


     Sesuai permintaan aku berjalan menuju tempat yang disuruh Jihan tadi.


     Jihan mendekatkan kursinya beberapa senti dari tempatku. “Dibah, ayah dan ibu mau menjodohkan saya, “ katanya datar. Kan sudah kukatakan dia pasti punya masalah.


     Saat men dengarnya entah apa yang kurasakan aku pun pernah berada diposisi Jihan, bedanya dia akan menikah dihadapan ayah dan ibunya sedangkan aku? Tanpa kuceritakan kalian pasti sudah tahu bagaimana proses pernikahan aku.


     “Rasanya saat ini saya ingin menangis Dibah.” Jihan menundukkan kepalanya.


     Kupeluk erat tubuh Jihan. “Dibah tahu apa yang kau rasakan saat ini. Dibah juga pernah rasakan apa yang Jihan rasakan, Dibah tahu bagaimana rasanya menikahi orang yang tidak kita cintai,” kataku hampir terisak.


     Jihan menjauhkan badannya dariku. “Apa maksudmu? “ Lihatlah aku sampai keceplosan tadi.


     Ah biarlah, lagian Jihan juga tidak pernah menyembunyikan masalahnya dari saya jadi buat apa aku sembunyikan dari dia. Bahkan aku sudah berteman hampir dua belas tahun dengan dia, tidak ada yang perlu disembunyikan sekarang.


     “Ji, sebenarnya saya sudah nikah, “ kataku sambil berbisik.


     Jangan tanya bagaimana mimik wajah Jihan saat ini, dia sangat kaget mendengar ucapanku bahkan matanya hampir jatuh dari tempatnya. Sangat sulit menggambarkan keadaan dirinya sekarang.


     “Kamu bohong kan Dibah? “ tanya Jihan tidak percaya. Jangkan dia, aku pun terkadang tidak percaya akan statusku sekarang. “Kamu bohong kan? “ tanyanya kembali.


     Aku diam. Aku tahu dia bakalan kecewa ini pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu dari dia padahal dia selalu menceritakan masalahnya ke aku.


     “Dibah serius, ini semua karena Ayah, Ji. Ayah yang menyuruh pak dokter itu buat nikahi Dibah. Sebelum ayam meninggal, ayah sudah kasih wasiat ke pak dokter untuk menikah dengan Adibah. Kita sama sekarang Jihan, kita akan menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Dibah ngerti bagaimana perasaanmu sekarang. Allah punya alur yang baik buat kita.” Aku menghela nafas panjang kemudian menghembuskan kembali.


     “Kenapa tidak ceritakan ke saya dulu? Kenapa malah merahasiakan ini? Kamu tidak percaya sama saya? “


     “Kamu tahu kan, kalau saya paling tidak suka membagi kesedihan. Lihatlah sekarang, saya sudah nikah dengan pak dokter itu. Dia juga baik ke saya, dia tidak pernah marah ke saya,” kataku dengan sendu. “Dibah harap akan ada cinta diantara kita, Dibah dan pak dokter.”


     Jihan memelukku mengusap punggungku lembut. “Saya mengerti apa yang kamu rasakan Dibah. Allah tahu kita bisa melewati masalah ini. Kamu tahu Dibah,” dia melepaskan pelukannya dari tubuhku.” Tidak ada yang lebih melelahkan dari berpura-pura tabah padahal merasa sesak, berpura-pura bahagia padahal sakit tak terkira, berpura-pura tak acuh padahal begitu rindu dan berpura-pura baik-baik saja padahal terluka.”


     Dialah sahabatku. Baru kusesali menyembunyikan hal ini dari dia, dia selalu merasakan apa yang aku rasakan, seakan kami berdua tercipta untuk saling merasakan, seakan kami berdua sudah memiliki ikatan batin yang sangat dekat.


     “Dibah gak tahu kalau dia sayang Dibah atau tidak, Dibah gak tahu apa dia memiliki perasaan ke Dibah atau tidak. Kita sudah menikah, bahkan pembicaraan kita pun terasa sangat dekat. Dibah tahu dia menikahi Dibah hanya karena kasihan ke Dibah. “


     “Jangan berpikir seperti itu dulu. Kamu harus yakin dia mencintaimu,” katanya. “Tunggu, apa kamu sudah memiliki perasaan ke dia? Maksudnya ke pak dokter itu. Berusahalah untuk mencintanya.  Bagaimana bisa ada cinta kalau keduanya saling tidak memiliki perasaan itu. Cintai dia, jangan ingat orang yang melukai hatimu, jika dia dengan bodohnya meninggalkan kamu, kamu juga harus dengan cerdasnya melupakannya. Berharaplah kalian akan dipersatukan bukan cuma di dunia ini tapi juga diakhirat nanti. “


     “Saya selalu berusaha untuk itu Ji, tapi sungguh ini sangat sulit, semuanya tidak semudah yang Dibah khayal kan. Ada kalahnya kita sangat dekat dan ada kalahnya pula semuanya terasa sangat canggung. “


     Jihan menatapku sendu. Hingga ia terfokus ke tangan kiriku kemudian meraihnya, “Ini kenapa? “


     “Kamu tahu kan kalau saya tidak pintar masak. Kemarin saya mau masak air malah tidak sengaja tumpah di sini. “ Aku menunjuk tanganku yang tadi.


     “Selalu saja, kamu se-cerobo ini Dibah. Lihat tanganmu sampai lebam seperti ini. Kalau tidak bisa tidak usah dilakukan, malah sok tahu. Kalau masak gak usah banyak gerak tunggu saja masakan itu sampai jadi gak usah sok berpengalaman seperti itu. “


     “Jihan sayang, kalau Dibah gak masak bagaimana Dibah makan? “


     “Kan bisa hubungi saya untuk ke rumah kamu. Terus dokter itu kemana? Dia tidak bantu kamu?” tanya Jihan. Terlihat dari mimik wajahnya kalau dia khawatir.


     “Dia sedang ke Jakarta.”


     “Buat apa dia kesana? Lihat tanganmu sampai begini. “ Dia mengambil sesuatu dari tasnya. Ah Jihan, dia tidak pernah lupa akan P3K itu. Dia memang dari dulu bercita-cita ingin jadi dokter.


     “Namanya saja dokter, pasti sibuk. Pekerjaan seorang dokter itu tidak semudah yang kita bayangkan, dia juga sibuk. Dibah ngerti itu semua.”


     “Yaudah tahan sakitnya.” Dia mengoleskan krim ke kulitku yang lebam itu.


     Aawwh!


      “Sabar napa. Sakitnya cuma bentar kok.” Serasa aku seperti anak kecil yang hendak di suntik. “Tapi tunggu, nama.“ Jihan mendekatkan bibirnya ke telinga kananku, “Suami kamu siapa? “ lanjutnya menahan tawa.


     Sesaat kemudian aku mendekatkan bibirku ke telinga kiri Jihan. “Kak Farzan. “


     Jihan mengangah, ini kebiasaan dia. “Kak Farzan yang pernah datang kesini?  Yang ganteng itu? Yang jadi trendi topik waktu itu? Masha Allah sungguh beruntung kamu Dibah. “


     aku mengangkat bahuku tidak tahu. “Saat itu aku kan tidur karena kecapean jadi aku tidak tahu siapa yang datang waktu itu, bagaimana orangnya, siapa dia, dan lainnya lagi.“


     “Fotonya ada ditelepon kamu tidak? “ tanyanya yang kubalas anggukan. “Mana? “


     Aku mengambil telepon yang ada di saku bajuku kemudian mencari foto pengantin aku dan kak Farzan, untung saat mengambil foto pernikahan, Aqilah memakai teleponku. Kebetulan saat itu kak Farzan belum menyewa fotografer katanya nanti kalau sudah resepsinya. “Ini,” kataku setelah menemukan foto yang kucari tadi.


     Dan kembal Jihan melakukan kebiasaannya, mengangah. Andai bola pimpong terlempar ke arah bibirnya mungkin muat untuk masuk ke dalam sana. “Ya Allah Dibah, benar. Ini kakak ganteng itu Dibah. Ya Allah kamu beruntung sekali ya, tidak nyangka orang yang malah tidak mengharapkan bisa menikah dengan kak Farzan malah bisa menikah dengan dia. Andai saja waktu itu aku tahu, aku tidak akan bermimpi untuk menikah dengan kak Farzan biar bisa menikah dengannya diakhir nanti seperti kamu sekarang,” katanya diakhiri dengan gelak tawa.


      Aku tertawa bersama Jihan. Dia memang seperti ini, memiliki selera humor yang tinggi.


     Saat kita sibuk berbicara tiba-tiba Ahmad Fauzi datang menghampiri kita berdua. Kenapa dia kesini? Dasar manusia menjengkelkan! Aku ingin marah ke dia, semoga saja bisa.


     “Halo. “ sapanya ke aku dan Jihan.


     Kami berdua diam. Tunggu, kenapa Jihan juga ikut diam? Aduh Dibah, kamu kan tahu Jihan bagaimana, dia seperti saudara kembarmu yang mengerti semua masalahmu.


     “Adibah, halo. “ Fauzi mengibaskan kedua tangannya di depan wajahku.


     Aku tersenyum. Sumpah kenapa aku sangat sulit untuk menjauhi dia? Kenapa aku seperti ini?


    “Bagaimana keadaanmu? “ tanya Fauzi.


     “Fauzi bisa saya bertanya? bagaimana keadaan Ainun? Apa dia baik-baik saja? Apa sekarang hubungan kalian memburuk sehingga datang kesini lagi? Apa kau kira kita berdua mama dede yang bisa menyelesaikan masalah?” Terdengar nada kesal dari perkataan dari Jihan.


     Apa yang aku lakukan sekarang? Aku diam, aku tidak bisa marah ke Fauzi! Ah sial kenapa ini semua terjadi kepadaku! Seharusnya kamu berusaha menghindari dia, Adibah!


     “Saya tidak pacaran dengan Ainun. “ katanya yang sungguh membuatku sangat senang pastinya. Murahan sekali diriku ini. “Saya dan dia itu cuma teman saja, tidak lebih. Saya tidak ada perasaan khusus buat Ainun. Sungguh Dibah.” Katanya sambil meraih kedua tanganku.


     Jihan yang melihatku langsung menjauhkan tangan Fauzi dari tanganku. “Jaga jarak bisa kan? Tidak usah pegang tangan seperti ini!”


     Fauzi menatap Jihan kesal. “Yaudah Adibah. Entar pulang bareng saya ya. Nanti saya jemput,” katanya kemudian berlari pergi keluar kelas. Pasti mau bolos lagi!


     “Heyy! Saya tidak bisa Fauzi,” teriakku saat badan Fauzi sudah menghilang dari pandanganku, bodoh! Kenapa aku jadi kaku saat bersama dia.


    Badanku tiba-tiba menghadap ke arah Jihan berdiri. “Dibah. Kamu sekarang itu tanggung jawab kak Farzan. Bisa tidak lupakan perasaanmu kepada Fauzi? Yang harus kamu cintai itu kak Farzan bukan Fauzi! Cinta atau tidak kamu harus bisa berusaha menempatkan dia dihatimu!”


     “Saya sudah berusaha Ji, tapi tetap saja tidak bisa. Saya tidak memiliki perasaan sedikit pun ke Kak Farzan. Perasaan juga tidak bisa dipaksakan bukan? “


     Jihan menarik napas panjang. “Kamu salah Dibah. Terkadang dengan paksaanlah yang banyak mengubah.”


      Aku tersenyum. “Yasudah akan Dibah usahakan buat cinta ke pak dokter," kataku akhirnya menyerah. Perkataanku sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Bukannya aku tidak mau  berusaha tapi memang inilah kenyataannya, aku tidak bisa mencintai kak Farzan sekarang.


     “Na, ini baru sahabatku, “ ucapnya sambil memelukku. “Saya iri sama kamu Dibah. “ katanya sambil melonggarkan pelukannya.


     “Buat apa?”


     “Karna kamu nikah sama pak dokter itu.” Lihat dia tertawa lagi. Dasar anak satu ini.


     Saat yang paling bahagia adalah, ketika memiliki seorang sahabat yang sangat mengerti suka dan duka kita, dia yang mau mendengar keluh kesah kita, dia yang mampu membuat kita melupakan masalah yang ada, dan tentunya bisa mendekatkan kita ke dengan-Nya.


     Dear Allah, tentukanlah aku jalan yang engkau ridhai. Dan semoga saja aku bisa mencintai pak dokter itu, dengan rasa cinta yang sesungguhnya, tanpa melebihi rasa cintaku kepada diri-Mu.


●●●●●_●


     “Sabar napa, kita sekolah tinggal sebentar lagi, nanti bakalan kangen sama saya lo.” Kata Dibah yang tetap melangkahkan kakinya. “Kita akan ke bank dulu buat tarik uang, entar Dibah traktir deh. “


     Jihan tersenyum. “Alhamdulillah, dapat traktiran lagi,” kata Jihan sambil tertawa.


     Mereka berdua melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


     Tiba-tiba Adibah memikirkan perkataan Fauzi tadi. Setahunya, Fauzi selalu menepati apa dia katakan. Sedangkan Adibah sendiri, dia sendari tadi deg-degan memikirkan hal ini. Ada sesuatu yang menganjal di otaknya, entah apa itu.


     Tit! Tit!


     Jihan mengambil teleponnya yang baru saja berbunyi itu. “Bapak! “ katanya sebelum menempelkan telepon itu di pipinya. “Assalamualaikum bapak? “


     “Waalaikumsalam. Kamu dimana? Bapak dari tadi tunggu kamu di depan sekolah ini,“ tanya bapak Jihan yang sudah menunggunya di depan sekolahnya.


     “Hah! Saya kira bapak mau keluar kota? Yaudah saya kesana ya pak. “


     “Iya, besok bapak baru berangkat. Yaudah bapak tunggu disini ya. Assalamualaikum.”


     “Waalaikumsalam, “ ucap Jihan, kemudian menaruh telepon itu di sakunya. “Adibah, maaf ya. Saya harus pulang duluan. “ katanya dengan nada lesuh.


     “Kenapa? “


     “Bapak tidak jadi keluar kota hari ini. Maaf ya. “


     Adibah tersenyum sambil mengangguk. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa juga kan untuk melarang Jihan pulang dengan bapaknya. Seperti adibah, Jihan juga sangat menyayangi ayahnya bedanya, Jihan masih memiliki keluarga yang utuh, maksudnya memiliki kedua orang tua. Dan Adibah sudah tidak.


     “Yaudah saya pulang dulu yah,” ucap Jihan sesudah mencium sekilas pipi Adibah. Adibah memang selalu mendapatkan ciuman singkat seperti tadi dari Jihan. Awal mula Jihan mencium Adibah itu sewaktu SMP saat Adibah ingin merasakan ciuman dari ibunya.


     “Wassalamualaikum,” salam Adibah kepada Jihan yang sudah mau menjauh darinya.


     “Walaikumsalam,” teriak Jihan sambil berlari kecil.


     Adibah menatap punggung Jihan yang sudah menjauh hingga punggung itu tidak terlihat lagi. Dia kembali sendiri, hampir saja dia ingin pulang ke apertemennya tapi seseorang kini menghalangi jalannya.


     Adibah mendongak. “Fauzi? “ ucapnya dibalas anggukan oleh Fauzi.


     “Saya antar pulang ya? “


     “Ah. Gak usah Dibah mau ke pasar dulu. Gak baik kan kalau kamu ke pasar, bisa-bisa seragam sekolah kamu kotor. “ Adibah menjauh dari Fauzi, dan sekali lagi Fauzi kembali menghalangi jalan Adibah.


     “Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa ke pasar kok. “


     Ah sial! Batin Adibah. “Dibah, lama kalau ke pasar. Kamu kan gak bisa tunggu lama-lama.”


     “Untuk kamu, saya bisa kok. “ Fauzi tersenyum menatap Adibah. Mungkin kali ini rencana akan gagal.


     Sesaat kemudian Adibah diam. Entah apa alasannya lagi agar Fauzi tidak ikut. Fauzi terbilang pria yang tidak mudah menyerah, lihat saja sekarang.


     “Yaudah, Dibah mau. Tapi kalau di pasar nanti lama, jangan salahkan Dibah yah salahkan dirimu sendiri,” ucap Adibah akhirnya mengalah.


     Fauzi tersenyum penuh kemenangan. Jelas saja dia kembali bisa bersama Adibah seperti dulu lagi. Dia sangat merindukan sesosok sahabatnya yang satu ini, selama ayah Adibah sakit sampai meninggal, mereka tidak pernah lagi bersama.


     Sebenarnya Fauzi sudah tahu dimana Adibah tinggal, hanya saja dia ingin kalau Adibah langsung yang memberitahukan hal itu ke dia. Bahkan Fauzi pernah melihat Adibah berdua dengan pria yang pernah datang ke sekolahnya, tapi dia lupa siapa pria itu. Mungkin sifat pelupa Adibah bisa menular dengan siapa pun yang dekat dengannya.


     Selama diperjalanan menaiki motor mereka membicarakan tentang rumah pohon yang katanya sudah sangat berantakan selama Adibah tidak ada, sedangkan Fauzi cuma sesekali ke sana, rumah pohon itu.


     “Terus bagaimana keadaan Difa? “ Difa adalah nama bunga matahari yang mereka tanam awal jadinya rumah pohon itu. Difa sebentar nama mereka berdua, Dibah dan Fauzi.


     “Difa sudah saya pindahkan ke rumah semenjak paman Halik sakit dan kamu tidak pernah lagi kesana. Kasihan soalnya kalau disana terus, bisa-bisa Difa mati kelaparan.“ Fauzi terkekeh. “Dibah, pegang-pegang napa, kamu mau jatuh kalau jalannya nanti jelek? “


     Tanpa menolak, Adibah langsung memeluk pinggang Fauzi lembut. Mereka sebenarnya tidak terlalu dekat, Adibah hanya menyentuh pinggang Fauzi setengah tangannya saja, tidak sampai merapatkan badannya.


     Kalau ke sekolah, Adibah hanya memakai jilbab instan saja. Tidak seperti saat di rumah, biasanya dia memakai jilbab yang panjangnya bisa sampai se-paha.


     “Rasanya Dibah, mendadak rindu ayah,” ucap Adibah.


     “Kalau ada waktu kita berdua ke pemakaman paman ya? “ tawar Fauzi yang langsung dapat persetujuan Adibah. “In sha Allah. “


     “Sesampai di pasar nanti kamu mau ikut belanja atau mau tunggu saja?” tanya Adibah saat pasar yang mereka ingin tujui sudah hampir sampai.


     “Saya mau ikutlah, biar ada yang jagain kamu nanti. Sekalian bantu mengangkat barang belanjaan kamu,” ucapnya sambil terkekeh, “Btw yang nyuruh kamu ke pasar siapa si? Barusan hari ini kamu belanja, biasanya gak pernah ke pasar.”


     “Dibah kan tinggalnya bukan sama ayah lagi, jadi mau tidak mau Dibah harus bisa hidup mandiri di rumah paman Dibah, apa lagi paman Dibah jarang tinggal di rumah, dia keseringan kerja diluar kota. Dan paman juga baik karena mau terima Dibah tinggal di rumahnya dengan gratis. “ Jelas Adibah.


     “Nah turun,” ucap Fauzi setelah sampai di depan pasar. “Mau beli apa kita? “ ucapnya seolah dia sedang berpetualang bersama Dora.


     “Biasanya kalau emak-emak ke pasar beli apa saja ya? Ini kan pertama kalinya Dibah ke pasar jadi masih agak belum paham. “


     “Biasanya ikan, tahu, tempe, sayuran, beras... Dan kunyit,” ucap Fauzi menyebut semua yang bisanya di beli ibunya saat ke pasar.


     “Yaudah, kita beli sekarang.” Adibah berlalu pergi bersama Fauzi.


     Mereka berdua mengelilingi pasar untuk membeli alat pokok yang menurutnya perlu dibeli. Kalau perlu jujur, Adibah sangat bahagia sekarang, bagaimana tidak dia bisa kembali bisa bertemu dan bercanda dengan sahabatnya sekaligus cinta pertamanya, ah sial! Memang benar yang paling sulit untuk di lupakan itu cinta pertama, lihatlah Adibah sekarang, dia bahkan tidak mempedulikan hal kemarin yang membuatnya menangis.


     “Adibah? “ panggil Fauzi tetap melanjutkan langkahnya.


     “Hem?”


     “Kalau boleh tahu bagaimana tipe lelaki yang kamu sukai? “


     Adibah diam kemudian tersenyum. “Saya ingin memiliki pria yang benar-benar ingin memiliki saya.”


     Fauzi diam menatap Adibah yang masih melanjutkan langkahnya serius. “Emang ada? “


     “Ihh Fauzi! “ Adibah kesal karena Fauzi selalu seperti ini disaat dia sedang serius berbicara, dia malah bercanda. Menjengkelkan sekali. Batin Adibah.


     Fauzi terkekeh. “ Maaf. Maaf,” ucapnya disela tawa. “Tapi Adibah tahu gak, kemarin saya mimpi dikejar hantu lo. “


     “Apa hubungannya dengan Adibah,” Jawab Adibah judes. Adibah masih kesal ke Fauzi.


     “Saya serius Dibah, sampai-sampai ya saya tadi malam keringatan, deg-degan. Tapi harapan saya satu untuk nanti malam. “


     Adibah menatap Fauzi. “Apa memang? “


     “Semoga nanti malam saya bermimpi bisa mengejar hantu itu, biar dendamku terbalaskan. “


     Adibah terkekeh bersama Fauzi. Bisa-bisa mereka tidak jadi belanja hari ini kalau seperti ini terus.


     “Astagfirullah. Ada-ada saja kamu, Fauzi. “ Adibah kembali terkekeh.


     “Adibah, “ panggil Fauzi sesaat.


     “Kenapa lagi? “


     “Kau tahu? Kenapa semua hal yang aku temui bersamamu menjadi sangat berarti? Walau mungkin sederhana, namun aku sayang kamu apa adanya, dan itulah alasannya mengapa aku ingin terus bersamamu."


     Adibah menatap Fauzi lekat, apa ini nyata? Apa Fauzi sekarang bercanda lagi? ‘Jangan baper dulu Adibah' batinnya.


    “Apaan sih! “


     Fauzi tersadar apa yang baru dia ucapkan. Dia memang mencintai Adibah dan ingin mengatakan ini setelah tamat nanti tapi sayang, bibirnya tidak bisa diajak kompromi, selalu saja ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya di rasakannya sekarang.


     “Yaudah kita lanjut yuk. Kalau seperti ini kapan kelar belanjanya. “


    Semuanya seakan seperti dulu, seakan Adibah belum terikat dengan hubungan ini, hubungan pernikahan Adibah dan Farzan.


●●●●●_●