Dear Imamku

Dear Imamku
Siapa pelakunya?



-


-


-


-


-


💜


Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya disisi Allah ta'ala selain doa. HR. Tirmidzi.


●_●


     Kuletakkan surat yang telah kubaca tadi, kemudian menjatuhkan badanku ke sofa. Apa ini? Aku tidak bisa marah dengannya, di saat aku sadar, akulah yang membuatnya seperti itu. Meninggalkan dia dengan waktu yang cukup lama.


      Rasanya kepalaku tiba-tiba sakit, mungkin efek begadang, selama di luar negeri, tidurku tidak pernah sempurna, maksudnya jam tidurku sangat kurang, terlalu banyak yang kupikirkan. Mungkin saatnya, aku mengistirahatkan badanku sejenak.


     Baru beberapa detik aku menutup mata, pikiranku kembali mengingat Adibah. Pirasatku tidak enak. Astagfirullah ya Allah ada apa ini? Detak jantungku berdenyut dengan kencang. Aku segera mengambil ponselku kemudian menelpon Adibah , ‘Semoga dia baik-baik saja ya Allah.’ Ucapku dalam hati.


     Tidak ada jawaban. Atau dia lupa ponselnya? Farzan tenang Farzan, tenangkan dirimu Farzan, Adibah pasti baik-baik saja. Aku terus berusaha menghubungi tapi hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban.


     Aku mencoba menelepon nomor Fauzi yang sempat aku save sewaktu masih di luar negeri. Semoga aktif, aamiin.


     Teg! Teg! Teg! Teg!


     “Aa. Assalamual-alaikum, “ Salam Fauzi terdengar agak aneh.


     “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Adibah di mana? “


     Fauzi diam. Tiba-tiba suara ambulans terdengar jelas dari ponsel ini. Astagfirullah, jangan bilang Adibah kenapa-napa? Tidak, tidak pasti cuma ambulans yang kebetulan lewat saja, tapi tunggu kalau kebetulan lewat kenapa suaranya masih ada?


     “Fauzi, apa yang terjadi di situ? Co. Coba.. Jelaskan, secara detail! “ tanyaku dengan gagap.


     “Adibah, Farzan! “ terdengar dari nada suaranya, kalau dia sedang menangis, terdengar sangat parau.


     “Astagfirullah, anak satu ini! Coba jelaskan baik-baik, ada apa? Adibah kenapa? Apa dia melakukan kecerobohan lagi? Menabrak hewan? Atau-“


     “Dia yang ditabrak Farzan! Dan akan dirujuk ke sumatri, “ucap Fauzi dengan suara yang lantang.


     Astagfirullah. Refleks aku menjatuhkan ponselku kelantai. tubuhku rasanya mendadak kaku, keringat dingin mulai bersimbah di punggungku. Kupejamkan mata, tanpa sadar setetes air mata mengalir di wajahku.


     Aku segera meninggalkan apartemen untuk menuju rumah sakit tersebut. Selama di perjalanan, aku sudah menghubungi keluarga terdekat dan sebentar lagi dia juga akan sampai.


     Aku manarik rambutku kasar, rasanya aku begitu prustasi, kembali memukur setir. Kenapa harus Adibah? Kenapa harus dia! Kenapa bukan aku saja? Kenapa harus wanita itu ya Allah? Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobil.


    Aku mengusap air mataku kasar. Hari ini begitu menyakitkan! Di saat resepsi pernikahan kita sebentar lagi akan di lakukan, tapi harus tertunda lagi.


     Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya sampai juga. Langsung saja menuju ke ruangan Adibah berada. Tanpa bertanya, aku sudah mengetahui ruangan ICU di tempat ini. Andai saja bisa, aku yang menangani semuanya Adibah!


     “Selamat siang Dokter Farzan. Dokter katanya cuti kenapa mala datang? “ tanya salah seorang suster saat aku sudah berdiri tegap di depan pintu.


     Aku tersenyum kaku di hadapan suster tersebut. “Siapa di dalam?” tanyaku, tanpa mempedulikan pertanyaan suster itu.


     “Korban tabrak lari katanya Dok. Tapi di dalam sudah ditangani oleh dokter Mahesa jadi Dokter Farzan bisa keruangan dulu, “ ucap suster itu dengan lembut.


    “Tapi di dalam istriku, bagaimana aku bisa pergi?" Suster tersebut terlihat kaget mendengar perkataanku barusan. Di rumah sakit mana pun, tidak ada yang tahu kalau aku sudah menikah.


     “Akah, bagaimana keadaan Adibah? “ Aqilah dan umi baru saja datang.


    “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, jangan lupa," ucapku dengan lesuh.


    “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, “ ucap umi kemudian mendekatiku, dan memelukku. “  Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya disisi Allah ta'ala selain doa. " HR. Tirmidzi.


   Tanpaku minta air mataku mengalir begitu saja. Rasanya aku kehilangan jiwaku sekarang. Aku memeluk tubuh umi dengan erat, tubuh kecilnya yang begitu sangat berarti untukku sekarang.


     Tiba-tiba aku teringat ucapan Adibah, ‘Kesepian itu datang ketika kita lupa bahwa Allah bersama kita. La tahzan innallah ma'ana jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.’waktu itu dia tersenyum dengan lembut, dengan tulus dan aku sangat rindu senyuman itu.


     “Umi, Adibah sekarang sakit Umi. Kalau bisa di tukar, aku yang berada di posisinya Umi, dia sudah terlalu banyak menanggung sakit. Aku sayang istriku Umi... Sekarang dia sangat lemah Umi,” ucapku dengan suara parau.


    “Umi tahu apa yang kamu rasakan nak, umi tahu Adibah, dia gadis yang kuat dan manis. “


    “Iya dia sangat manis Umi, apalagi kalau bicara tanpa jeda, “ ucapku sambil tertawa, dengan air mata yang masih mengalir.


     Umi melepaskan pelukanya dariku kemudian mengusap air mataku. “La tahzan innallah ma'ana, ingat itu nak.”


     Berselang beberapa detik, Mahesa keluar dari ruangan ICU. Aku mulai mendekatinya, “Keadaannya bagaimana? “ tanyaku sambil tersenyum. Mahesa diam. Dia menatapku dalam dalam, mimik wajah yang sulit di definisikan. “Kenapa diam? Huh? Kamu dokter apa si! Bilang kalau Adibah baik baik saja sulit bagimu ka-“


    “Masalahnya keadaannya memburuk, dia kekurangan banyak darah, ada benturan di otaknya, Zan. Dan kemungkinan dia akan kehilangan penglihatan, dia terlalu lem-“


     “Stop! Berhenti bicara seperti itu! Kalau kau bicara seperti itu lagi, akan kupukul kau! “ ucapku sambil memegang kera baju Mahesa.


     Umi dan Aqilah mendekatiku, sambil menyuruhku untuk bersabar dan menenangkan diri. Umi membawaku turun dan Aqilah membawa Mahesa menjauh dariku. Aku menangis sejadi-jadinya, dadaku rasanya sesak mendengar hal itu. Aku bodoh! Sangat bodoh! Kenapa harus kutinggalkan waktu itu!


     Kupeluk tubuh umi dengan erat, sambil menangis. Banyak hal yang ingin kutanyakan ya Allah, salah satunya kenapa duniaku sekarang begitu hancur? Rencana apa yang telah Engkau berikan untukku? Takdir apa yang telah Engkau berikan untukku?


     “Orang yang perkasa bukanlah orang yang dapat merobohkan (musuhnya). Orang yang perkasa adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” H. R Ahmad. Umi mengusap-usap punggungku. “Waktunya salat zuhur, salatlah dan doakan istrimu agar segera sembuh,” ucap umi, sambil mencium keningku.


     Pandanganku terarah di mana Mahesa berada. Dia menatapku juga. “Apa aku bisa lihat keadaannya sekarang?“ tanyaku, yang di balas anggukan oleh Mahesa.


     Perlahan langkahku menuju ke dalam. Sungguh, kalau boleh jujur, aku tidak sanggup untuk melanjutkan langkah ini. Tubuh yang penuh dengan peralatan medis. Aku meringis saat melihat luka yang ada di kepalanya, pasti sangat sakit, bagaimana hal ini terjadi? Aku terus saja beristigfar dalam hati, rasanya aku sangat gelisah sekarang.


     “Kenapa ini bisa terjadi? “


     Dia melempar tatapannya kearah aku berada. “Itu semua karena saya! Saya yang hampir membunuhn-“


     “Apa maksudmu? Huh! “ tanyaku dengan geram.


     Tiba-tiba dia menangis. Memukul tembok rumah sakit itu. “Saya menyesal telah melakukan ini! Saya sangat mencintainya hingga membuatnya seperti ini. Dia menyuruhku untuk melamarnya sebelum resepsi pernikahan kalian dilaksanakan! Saya menyesal menolaknya! Farzan, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya mencintainya tapi tidak mungkin juga kalau saya harus melamarnya! “ ucapnya sambil terisak.


     Rasanya aku berdiri diatas lantai dua puluh, dengan seribu anak panah yang terlempar ke arahku, andai aku melompat untuk menghindar dari anak panah itu aku akan tetap mati dan andai pun aku berdiri aku akan tetap mati.


     Siapa yang bisa kusalahkan sekarang? Di saat aku sadar akulah yang salah saat ini! Ingin rasanya membunuh pria itu tapi aku sadar diri, kesalahan tidak berpihak kedia! Siapa pun, bisakah kalian membuatku mati untuk sementara? Sampai masalah ini selesai? Kalau tidak bisa, buatlah aku mati untuk selamanya!.


     Dadaku terasa sesak, seakan aku kehabisan oksigen lagi untuk bernafas. Ya Allah, bagaimana caranya aku melewati ini? Mana yang katanya akan indah pada waktunya? Wanita yang aku nikahi ternyata tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun untukku!


      “Meski hati menginginkan dia untuk melabuhkan rasa, tetapi jika Allah tidak menghendaki aku bisa apa?” kata Fauzi yang masih berada di samping kanan Adibah.


     Aku menjatuhkan badanku ke bawah. Aku kembali menangis! Aku benci di posisi ini! Memang betul, sebesar apapun keinginan kamu untuk memilikinya, jika dia bukan milikmu, dia tidak akan pernah bisa menjadi milikmu.


     “Maafkan aku Fa-“


     “Berhenti berbicara! Sekali lagi kau berbicara akan kubunuh kau! “ teriakku geram. Aku mendekati Fauzi dan ingin memukulnya.


     “Berhenti Farzan! “ teriak Umi, saat aku sudah memegang kera baju Fauzi.


     “Jangan bilang aku diam, jadi kau seenaknya saja untuk berbicara! “ teriakku lantang. Dadaku kembang kempis. “Adibah tidak akan pernah bilang seperti itu! “


     Tanpa di duga hal lain terjadi. Adibah mendadak kejang kejang. Mahesa mendekati Adibah, kemudian melepas semua peralatan medis setelah itu memiringkan kepala Adibah, Posisi ini akan mencegah muntahan masuk ke dalam paru-paru.


     Tidak lama setelah itu, akhirnya Adibah membaik. Aku mendekati istriku dengan alat medis yang kembali terpasang. Memeluknya, sambil sesekali menciumnya. “Jika aku bukan bahagiamu, aku akan membiarkan kamu untuk mencari kebahagiaanmu, karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku. Setiap orang pasti berhak mencintai, walau cinta itu hanyalah mimpi, tapi setiap mimpi berhak untuk di wujudkan,” isakku.


     Saat ini, aku berada di puncak kelemahanku. Sulit untuk menjelaskan semuanya, sulit untuk menghapus segala hal. Ahhh! Aku benci di posisi ini!


     Ya Allah, apa salahku? Apa rencana-Mu? Saat masalah yang satunya belum selesai tapi masalah yang lain malah datang. Mungkin ini yang di sebut adil, saat Zahra menghancurkan kehidupan Adibah dan Fauzi menghancurkan kehidupan-ku.


      Sumpah, aku tidak percaya kalau Adibah mengkhianatiku! Aku sangat tidak percaya. Tapi bukannya dari dulu Adibah memang mencintai Fauzi? Dan aku datang sebagai perusak hubungan mereka, dan dengan rencana yang sangat indah, Adibah pura pura mencintaiku dan, arghh!! Jagalah dirimu dari prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seburuk-buruk ucapan. H. R. Bukhari Muslim dan Abu Dawud. Ya Allah maafkanlah aku. Kenapa aku memikirkan hal ini?


     Dengan perasaan bercampur aduk, aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari ruangan ini. Aku ingin menceritakan masalah ini ke pada-Mu ya Allah.


     “Mau ke mana nak? “ tanya umi.


     Aku balik menatap manik wajah umi. “Aku mau menenangkan diri untuk sementara Umi,” ucapku kemudian melanjutkan kembali langkahku, tapi baru beberapa langkah aku kembali berbalik menatap umi dan yang lainnya. “Aku harap, saat aku datang lagi, makhluk itu sudah tidak ada lagi di sini! “ tegasku sambil menatap wajah Fauzi.


     “Ma-“ belum sempat umi menyelesaikan ucapannya, aku sudah memotong kalimatnya.


     “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


●_●


   Farzan berdiri, takbiratul ikhram, dan mulai salat zuhur. Rakaat demi rakaat ditunaikan. Setelah selesai salat bibirnya bergetar mengucap kalimat tasbih kepada Allah SWT, bersimpuh di hadapan Allah SWT, tangannya mengadah, ia memanjakan doa dengan air mata yang terus saja mengalir.


     “Ya Allah ya robbi, aku memohon kepadamu, kembalikanlah kebahagiaan istriku ya Allah, kembalikan senyuman manis di bibirnya, kembalikan keceriaan setiap harinya. Aku tidak meminta banyak ya Allah, hanya meminta sedikit saja, salah satunya berilah kesembuhan kepada istriku. Dia wanita kedua setelah umi yang aku sayangi ya Allah.


     “Aku kembali teringat dengan perkataan Fauzi, kalau memang itu betul, aku rela meninggalkan Adibah demi kebahagiaan dia dengan lelaki lain. Aku yakin ya Allah, di saat dia bahagia, aku akan menemukan kebahagiaan juga di sana. Ini sebenarnya ungkapan kebodohan, tapi beda denganku, bagiku ini adalah sebuah keikhlasan.


     “Ya Allah yang maha pengasih. Jika memang benar Adibah bukanlah jodohku, kumohon sisakan satu orang yang seperti dia untuk masa depanku. Atau tidak buat aku berjodoh dengannya di akhirat nanti.


          “Ya Allah yang maha bijaksana, maafkan aku jika doaku terlalu berlebihan kali ini, maafkan aku dengan lancangnya meminta ini kepada-Mu. Maafkan aku yang mungkin mencintai seorang dengan melebihi rasa cintaku kepada-Mu ya Allah. Aku memohon berilah jalan sebaik-baiknya jalan untukku ya Allah...


     Robbana aatiina fiddunya khasanah, waa fil'a khiroti khasanah, waa qiinaa adzaabannar, "


     Doanya berakhir dengan tangan yang kembali ke semula. Dia tersenyum menatap sekeliling, menatap orang yang baru masuk dan yang sudah keluar, yang asik berbicara, ada juga yang tertawa dan sebagainya. Memang benar, masalahmu adalah tanggung jawabmu, tidak akan ada yang mengerti kecuali kamu sendiri.


     Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. QS. Al-Baqarah ; 216


     Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan salat, dan sesungguhnya salat itu amatlah berat, kecuali kepada orang-orang yang khusus


tiada daya dan upaya yang kecuali atas pertolongan Allah semata. QS. Al-Baqarah ; 45


     ''Cukuplah Allah bagi mu, tidak ada tuhan selain dari-Nya hanya kepada-Nya aku bertawakkal. QS.At-Taubah ; 129


    ''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka di biarkan (saja) hanya dengan menyatakan kami telah beriman , sedang mereka tidak di uji lagi...?


Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. QS.Al-Ankabut : 2-3


●_●


-


-


-


-


-


💜


Setiap orang pasti berhak mencintai, walau cinta itu hanyalah mimpi, tapi setiap mimpi berhak untuk di wujudkan


💜