
Peluk aku sekali saja, mungkin esok keadaan akan berubah.
●_●
Setelah pemakaman, saya kembali menemui Adibah. Dia belum sadar setelah pingsan tadi. Bahkan melihat anak kami untuk keterakhir kalinya pun dia tidak bisa.
Badannya terbaring lemah. Suara bed side monitor seakan menjadi alunan pembawa tidur untuk dirinya. Bagaimana bisa dua hal terjadi secara bersamaan?
Percayalah depresinya seorang pria itu lebih menyakitkan.
Allah benar-benar menguji diri ini.
Ya Rabb. Jangan buat diri ini terlihat lemah, saya malu kalau hanya karena masalah saya menjadi banyak mengeluh. Tidak ada yang lebih paham daripada diri-Mu ya Rabb.
"Akak, makan dulu yuk. Aku perhatikan, seharian Akak gak pernah makan." Suara Aqilah terdengar parau.
Saya berbalik. Dia menggunakan pakaian scrub untuk bisa masuk.
"Di luar umi udah bawakan akak nasi terus sup wortel kesukaan Akak," lanjutnya.
Saya hanya diam. Cuma senyum yang dapat saya tampakkan kepadanya seolah-olah dia baru saja menghibur saya.
Mungkin Aqilah merasa kasihan kepada saya, dia memeluk saya. Saya bukan Adibah yang tidak menyukai di kasihan walau dalam keadaan apapun. Untuk saat ini, keadaan saya memang benar-benar membutuhkan rasa kasihan dari mereka.
"Aku memang tidak berada langsung di posisi Akak. Tapi siapa yang mengerti duka Akak kecuali aku? Aku seorang ibu dan orang tua, aku tahu bagaimana duka saat kita kehilangan seseorang anak, saya tahu bagaimana saat kita mengharap sesuatu yang baik justru hal buruk yang terjadi. " Aqilah menguatkan pelukannya.
"Orang bilang setiap mimpi bisa di wujudkan, mungkin mereka lupa kalau setiap mimpi ada mimpi buruk yang akan terjadi..." lanjutnya.
Suaranya semakin parau. Saya tahu dia pasti menangis. Aqilah memang gampang nangis sama seperti Adibah.
"Kamu sudah punya anak, kenapa masih secengeng ini? " kata saya sambil mengusap air mata yang menempel di wajahnya.
"Akak tahu kalau tidak ada makhluk sehebat perempuan?" Aqilah duduk di sampingku. "Pernah ada seorang pria bertanya ke perempuan 'katanya melahirkan itu sakit ya? Apakah Anda tidak takut saat melahirkan nanti?' " Dia mulai bercerita.
"Perempuan itu menjawabnya, 'Saya lebih takut kalau saya tidak bisa melahirkan.' Kenapa wanita menjawab seperti itu? Padahal dia tahu sakitnya saat melahirkan. Hanya satu jawabnnya. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya sakit mendadak hilang setelah melihat dan mendengar anak yang kita kandung berhasil lahir dengan selamat," lanjutnya.
Saya hanya terus diam. Saya seakan tidak bergairah untuk berbicara banyak sekarang.
"Akak, ayo makan dulu. Adibah pasti gak akan suka kalau Akak seperti ini juga. " Aqilah terus menasihati saya.
"Akak, belum salat, kan? Akak salat saja dulu terus makan. Panggilan Allah lebih penting, lo. "
Firman Allah ta'ala
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. al-Mu'min : 30)
Mungkin, untuk saat ini saya perlu bercerita banyak dengan-Nya. Siapa yang lebih mengerti masalah hidup daripada Allah? Dia yang memberikan ujian, suatu saat akan menghilang ujian itu pula, saya sangat yakin.
Saya meninggalkan ruangan Adibah setelah berpamitan dengan Aqilah untuk ke musollah di samping ruangan. Di sini cuma ada saya saja, salat isya memang sudah dari tadi. Maafkan saya ya Allah karena keseringan menunda-nunda salat.
Bibir saya bergetar saat membaca surah pembuka, Al Fatiha. Rasanya saya tidak berada lagi di posisi semula, saya seakan terbawa pergi dengan ayat-ayat yang ikut serta keluar di bibir saya.
Setiap jiwa pasti merasakan kematian. QS. Ali Imran: 185)
Di sujud terakhir, saya mulai meminta banyak kepada-Nya. Mencurahkan segalanya, yang tak sanggup keluar dari bibir saya. Saya belajar untuk tidak mengeluh, tapi berusaha untuk tetap tegar dengan keadaan apapun.
Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, Mak perbanyaklah doa ketika itu. (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)
Setelah salat. Saya langsung ke ruangan Adibah. Entah kenapa saya mendadak was-was seperti ini, padahal di musalah saya tidak menghabiskan waktu lama di sana. Atau ini cuma sekadar perasaan saja? Semoga saja.
Bayang-bayang wajah anakku kembali terlintas. Allah lebih cinta kepadamu nak, tunggu ayah dan ibu di surga, insyaaAllah kita akan bertemu kelak.
Langkah saya sedikit demi sedikit semakin bertambah. Adibah dan alhamarhuma memenuhi pemikiran saya. Hingga kaki saya tersandung saat hendak masuk ke ruangan Adibah.
Allahu Akbar. Ternyata benar hanya sekadar perasaan saya saja, bahkan Adibah sudah sadar dari pingsannya, dia tersenyum menatap saya. Dia sangat pandai berpura-pura saya bahkan tidak bisa menemukan satu celah kesedihan yang tampak di wajahnya. Apa cuma saya saja yang tidak melihatnya?
"Farzan ayo ikut makan sini." Umi memanggil saya. Mereka memang sedang ingin makan sambil bercerita, entah apa yang mereka sedang bicarakan.
"Iya. Ayo Kak Farzan." Adibah menimpali. Dia menepuk-nepuk ruang kosong menyuruh saya untuk segera duduk di sampingnya.
"Adibah, kamu baik-baik saja? " Saya bertanya saat sudah duduk di dekat Adibah. "Kamu sudah makan? Apa perutmu masih sakit? Kamu makan saja dulu deh. A-" Adibah menaruh telunjuknya di bibir saya, menyuruh saya untuk berhenti bicara.
"Kak Farzan cerewet banget sih. " Saya tahu dia pura-pura marah sekarang. Saya hanya tersenyum kaku. "Makan dulu terus tanya-tanyanya nanti setelah kenyang. "
"Eh. Jangan makan dulu, " ucap Jihan tiba-tiba. Dia daritadi berdiri di belakang Adibah. Dia mulai agak cerewet sekarang.
Semua orang menatap Jihan dengan beberapa pertanyaan. Saya pun juga.
"Kata bapakku. Kalau mau pulang, gak boleh pas lagi ada yang makan. Jadi sebelum Kak Farzan makan, aku mau pulang dulu. " Semuanya tertawa lega. Saya kira ada apa.
"Kenapa pulang terlalu cepat Nak? " tanya umi.
Tidak cepat sekarang malah sudah pukul sepuluh, sebentar pagi jam 11 malahan.
"Abdul sudah telepon aku, dia udah mau pulang. Dia jaga di sini tadi."
"Kenapa Abdul tidak ke sini? "
"Aku belum tanya kalau yang masuk rumah sakit itu Adibah soalnya tadi panik juga, kalau tahu pasti bakalan ke sini. Ya udah, aku hubungi dia d-"
"Enggak usah. Dia pasti kecapean habis kerja. Besok kamu ke sini lagi aja. Jam jenguk aja sudah berlalu malahan," saran Umi.
Jihan tersenyum menanggapi. "Ya udah. Aku pulang dulu Adibah," katanya sambil memeluk tubuh Adibah pelan. Kemudian beralih untuk mencium tangan umi. "Umi aku pulang dulu, " lanjutnya.
"Hati-hati ya Nak. " Umi kembali mencium kening Jihan.
"Kak Farzan, aku pulang dulu. Assalamualaikum. " Saya hanya membalas dengan senyuman tipis kemudian menjawab salamnya.
Sekitar dua puluh menit Jihan pulang, umi juga ikut pulang, Abi datang menjemputnya. Padahal dari tadi jam besuk berakhir.
Sekarang hanya saya dan Adibah saja. Kami banyak mengobrol, seakan tidak pernah terjadi sesuatu. Saya sangat heran dengannya, bagaimana dia masih bisa bertingkah seperti ini padahal kami barusan berduka? Saya mencoba bertanya untuk menghilangkan rasa ingin tahu ini.
"Kamu kenapa Adibah? " Akhirnya kata ini berhasil keluar dengan bebar dari mulutku.
Adibah menatap saya heran, seakan tidak mengerti di mana arah pertanyaan saya.
"Kita baru saja berduk-" Adibah kembali menutup mulutku dengan tangannya.
"Kehilangan itu sudah menjadi hakikat," katanya.
"Iya. "
"Mungkin kak Farzan mengira aku tidak berduka atas kepergian anak kita, tapi nyatanya aku sangat merasa kehilangan bahkan rasanya saat ini jiwa aku telah memisahkan diri dari raga. Tapi mungkin Allah telah menguatkan diri ini, jangankan untuk menangis histeris hanya sebatas bersedih mengeluarkan air mata saja aku tidak bisa lagi.
"Tahu kenapa? Allah seakan telah menghilangkan air mata di hidupku. Begini, memberikan luka tapi tidak dengan air mata. Memang tadi sempat menangis tapi saat ini aku gak tahu harus berbuat apa, aku ingin menangis dan tertawa secara bersamaan.
"Allah telah menguatkan diri ini. Kak Farzan mungkin tahu, bahwa saat aku baru lahir pun Allah sudah mengambil seseorang di hidupku. Kemudian saat usiaku menginjak belasan Allah kembali mengambil ayahku. Aku tidak tahu ke mana anggota keluarga lainnya. Saat itu aku kira aku akan benar-benar sendiri setelah kepergian ayah tapi tidak, kamu akhirnya datang dan berhasil mengubah hidupku.
"Aku kira aku tidak akan kembali merasakan kehilangan, tapi tidak, Allah semakin menguji aku, saat ini bukan cuma aku tapi juga kamu. Kita telah kehilangan dua buah hati kita. " Pandangan Adibah kosong menatap dinding rumah sakit.
"Allah tidak akan mengambil sesuatu tanpa niat menggantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik. " Saya mencium keningnya yang mulai berkeringat, padahal udara malam ini sangat dingin. "Kak Farzan. "
"Ya. " Saya menyahut.
"Peluk aku sekali saja mungkin esok keadaan akan berubah. "
●●●●
Alhamdulillah, akhirnya chapter ini selesai juga, hehehe. Aku mau tanya dong, komentar kalian setelah membaca keseluruhan cerita ini. Pliss komentar kalian sangat berharga untuk mood-ku. Janji, setelah akan update secepatnya, asal ada yang komentar.
DAN JUGA, JANGAN LUPA VOTE, KOMENTAR, FOLLOW DAN SHARE YAH 💜
Jazakumullah khayran katsir 💜
MAAF JARANG ADA WAKTU MENULIS KARENA SIBUK KERJA SIANG MALAM :)