Dear Imamku

Dear Imamku
Kesabaran Aisha



..."Terkadang aku merasa perjuangan ku seperti sia-sia saja."...


***


Ini sudah memasuki Minggu ketiga bagi pernikahan Aisha, namun sikap Naufal tak kunjung menghangat padanya dan membuat Aisha terus menghela lelah


Memang akhir-akhir ini Naufal sering membuat Aisha melayang namun setelahnya di jatuhkan lagi dengan sikap kulkas berjalannya itu


Menghadapi Naufal bukanlah suatu hal yang mudah bagi Aisha, seperti saat ini lah Aisha hanya bisa mendesah panjang karenanya


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.03 malam Aisha sedang menonton televisi di ruang tamu sedangkan Naufal berada di kamarnya entah apa yang ia kerjakan bahkan Aisha pun sudah tak peduli dengan hal itu


Nada dering ponselnya menyadarkan dirinya bahwa ada panggilan yang masuk lantas Aisha melihat ponselnya yang berada di atas meja di depannya


Aisha melonjak senang saat melihat siapa yang menelponnya ternyata itu adalah Nayya, dengan sekali geser ia mengangkatnya


"Assalamualaikum," ucap Nayya dari seberang sana


"Waalaikumsalam," jawab Aisha dengan perasaan senang


"Huwaa aku kangen banget sama kamu!" teriak Nayya dengan ponsel Aisha tepat berada di telinganya


Hal itu membuat Aisha langsung menjauhkan ponsel itu karena suara Nayya memekakkan telinganya


"Istighfar Nay, kamu teriak-teriak di telinga orang," kata Aisha membuat Nayya terkekeh pelan


"Maaf, aku seneng banget akhirnya bisa telponan juga sama kamu, terakhir ketemu itu kan pas kamu nikah." ujar Nayya yang langsung dibenarkan oleh Aisha


"Iya juga sih, aku juga kangen banget ngobrol sama kamu," kata Aisha


"Oh iya Kak Naufal gimana? Nggak macem-macem kan?" tanya Nayya


"Enggak kok, lagian kamu kenapa khawatir banget?" tanya Aisha heran


"Aku cuma takut aja, sahabat terbaik aku kenapa-napa kan nggak lucu kalau aku denger kabar kamu di sakitin sama Naufal yang notabennya suami kamu sendiri juga temen aku," ucap Nayya membuat Aisha tertawa renyah


"Nggak kok, dia baik bangettt malahan sama aku," kata Aisha dengan menyengir meskipun Nayya tak melihatnya


Ternyata dari lantai atas Naufal mendengar pembicaraan antara Nayya dan Aisha ia cukup terkesan dengan pribadi Aisha


Meski sudah di sakiti berkali-kali perempuan itu masih tetap terlihat tegar dan bahkan mengatakan pada semua orang bahwa hubungan mereka baik-baik saja, ia akui Aisha sosok gadis tegar dan baik


Dan membenarkan apa yang di katakan Fauzan beberapa waktu silam bahwa Aisha memang tulus padanya itu dapat terlihat setiap menatap matanya dan meski ia sudah sakiti, marah, dan bersikap dingin tetap saja masih tahan dengannya tapi tak bisa di pungkiri ego Naufal lebih tinggi daripada keinginan hati nuraninya


"Iya Nay kapan-kapan aku main deh ke London," kata Aisha dengan hati yang tak tenang karena dirinya merasa sedang di awasi


Ia meringis pelan ketika mendongak ke atas dan mendapati Naufal tengah menatapnya dengan tatapan sulit di artikan


Tatapan itu menyayu Aisha tau pasti Naufal sedang lelah karena akhir-akhir jadwal operasinya sangatlah padat jika dibandingkan dengan dirinya. Naufal kembali ke kamarnya


"Aisha!!" teriakan itu membuyarkan lamunannya ia baru sadar bahwa panggilannya masih tersambung


"Eh iya, maaf." kata Aisha terkekeh


"Kayaknya kamu lagi capek ya sampai ngelamun terus aku di anggurin, yaudah deh lain kali aja kita teleponan lagi okeyy," kata Nayya terkekeh


"Maaf ya, iya Nay Assalamualaikum," kata Aisha


"Waalaikumsalam," Aisha mematikan sambungannya


Setelah sambungan terputus Aisha memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan tidur tak lupa mematikan televisinya


Begitu Aisha sampai di kamar ia di suguhi pemandangan Naufal yang sudah tidur duluan tanpa selimut


Lantas Aisha memakaikan selimut itu hingga bahu Naufal, ia pun pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan kembali lagi ke ranjang untuk tidur


***


"Jangan pergi."


"Jangan tinggalin aku, maafin aku."


"Aku mohon jangan pergi."


"Jangan tinggalin aku sendirian."


"Jangan!" Naufal terbangun dengan napas terengah-engah hal itu tak sengaja ikut membuat Aisha terbangun dan menghidupkan lampu di atas nakas lalu menatap ke arah samping tepatnya menatap Naufal


Aisha melihat wajah gelisah Naufal, mimpi buruk itu kembali menghantuinya dan membuat beban pikirannya bertambah


"Kak Naufal nggak papa?" tanya Aisha dengan suara serak karena baru bangun tidur


Namun Naufal tak menjawabnya membuat Aisha khawatir sendiri, pasti suaminya itu kelelahan bekerja


Aisha berfikir mungkin Naufal sedang sakit, "Kak Naufal sakit?!" tanya Aisha khawatir ketika tangannya meraba tangan Naufal dan terasa panas


"Kak Naufal, kamu demam." bukan lagi pertanyaan yang Aisha lontarkan melainkan lebih ke pernyataan


"Kak Naufal tiduran aja dulu, aku ambil air hangat dan kompresan dulu," kata Aisha sembari membantu Naufal untuk menidurkan dirinya


Aisha beranjak dari kasur hendak pergi namun pergelangan tangannya di tahan oleh Naufal membuat menoleh pada pemuda itu


"Aku nggak ke mana-mana kak cuma ke dapur aja," kata Aisha


"Jangan lama." kali ini suara Naufal benar benar terdengar lemah tak ada Naufal yang dingin dan cuek yang ada hanya Naufal yang lemah


"Cuma sebentar doang kak," dengan berat hati Naufal melepaskan tangan Aisha lalu membiarkan perempuan itu pergi


Dan benar saja tak lama kemudian Aisha sudah kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan juga kompresannya


Lalu Aisha meletakkan kompresan itu di dahi Naufal ia sungguh khawatir saat melihat Naufal seperti ini meskipun suaminya itu cuek padanya tetap saja Aisha tak bisa melihat Naufal sakit seperti ini


Naufal tampak sudah kembali memejamkan matanya dan Aisha melirik jam dinding yang menunjukkan jam 03.00 pagi sepertinya hari ini ia harus minta izin pada Azma untuk tidak bisa hadir karena ia tak tega meninggalkan Naufal sendirian


"Jangan tinggalin aku."


"Please, jangan pergi."


"Bertahanlah disini."


Lagi-lagi Naufal mengigau dalam tidurnya membuat Aisha menatap dalam meneliti wajah Naufal


"Maaf."


"Jangan."


"Tolong."


"Jangan pergi. Aku nggak mau."


"Tolong, tetap di sini bersamaku." Gigau Naufal lagi hal itu malah membuat Aisha tidak bisa tenang ia duduk di sebelah Naufal untuk membenarkan kompresannya kalau kalau benda itu jatuh


"Aku ada di sini bersama kamu Kak, hanya saja kamu nggak pernah menganggap keberadaan ku. Mungkin." gumam Aisha pelan namun hatinya sedikit sesak


***


Begitu Naufal membuka matanya ia mendapati Aisha yang sedang tertidur di sebelahnya dengan bertumpu pada ke dua tangannya yang di lipat dan wajahnya menatap ke arah Naufal


Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Aisha, ia tersenyum tipis saat melihat Aisha sedikit menggeliat dalam tidurnya. Tidurnya terganggu.


Mendadak senyuman itu berganti dengan rasa sedih di hatinya, Aisha sangat-sangat tulus padanya bahkan ia mau merawat dirinya ketika sakit yang bahkan tak pernah memikirkan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak? Apakah Aisha sudah makan atau tidak? Apakah dia sakit atau tidak?


"Maaf. Tapi aku rasa kesalahan aku terlalu besar." ucap Naufal


Ia hendak bangkit dan melaksanakan sholat subuh karena takut kehabisan waktu, Aisha terbangun karena menyadari ada pergerakan di sekitarnya


Dan ia melihat Naufal dengan susah payah hendak bangkit, "Kak Naufal mau kemana?" tanya Aisha


"Aku mau ke kamar mandi, mau ambil wudhu juga," jawab Naufal dengan lemah


"Aku bantu ya," tawar Aisha dan Naufal mengangguk


Dengan hati-hati Aisha membantu memapah tubuh Naufal ke kamar mandi untuk berwudhu


"Aku sholat kayak biasa aja." kata Naufal ketika selesai berwudhu


Aisha hendak kembali ke kamar mandi karena ia juga harus sholat subuh


"Aisha," panggil Naufal


"Iya Kak kenapa? Ada yang mau Aisha bantu?" tanya Aisha


"Mau berjamaah nggak?" tanya Naufal dan dengan senang hati Aisha mengiyakannya bahkan matanya sampai berbinar mendengarnya


Bagaimana tidak? Ini kali pertamanya Naufal mau mengimami sholatnya setelah tiga Minggu lebih menikah


Dengan cepat Aisha masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, takut-takut jika Naufal berubah pikiran nantinya


Tak lama Aisha keluar dan segera menggunakan mukenahnya lalu menggelar sajadah tepat di belakang di belakang Naufal sebagai makmum


Kedua pasutri itu menjalankan ibadah sholat dua rakaat itu, begitu salam kedua selesai Naufal mengulurkan tangannya ke belakang dan Aisha menatap tangan itu sebelum akhirnya di sun


Aisha masih tetap berada di belakang Naufal sampai akhirnya pemuda itu berbalik menatap Aisha tepat di manik matanya hal itu malah membuat Aisha salah tingkah


"Makasih." kata Naufal dengan seulas senyum tipis dan hal itu malah membuat seorang Aisha takjub


Pasalnya Aisha merasa selama ini senyuman Naufal itu palsu hanya topengnya semata namun kali ini senyuman itu terasa tulus bagi Aisha


"Untuk apa kak?" tanya Aisha


"Makasih udah mau rawat aku di saat sakit." jawab Naufal masih dengan menatap Aisha yang sudah menunduk karena ia tak ingin Naufal melihatnya blushing


"Itu udah kewajiban aku sebagi istri kak Naufal." kata Aisha "Mungkin." sambungnya dalam hati


"Tetap aja makasih karena kamu udah baik." kata Naufal lagi


"Eum sama-sama kak," ucap Aisha, dan Aisha baru menyadari satu hal bahwa panggilan Naufal sudah berubah menjadi aku-kamu bukan lo-gue lagi


"Semoga ini menjadi titik terang ke depannya apa yang terjadi nanti." batin Aisha