
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
"Asal kamu tahu, di hidup ini, kamu harus bisa menentukan satu pilihan saja dan pilihan itu tidak mungkin kamu ganggu gugat!"
●_●
“Kak Farzan, besok jadi kan? “ tanyak Adibah. Aku sedang sibuk berkutik dengan laptopku. Nada suaranya terdengar sangat antusias. Dan lagi, akhir-akhir ini Adibah selalu memiliki ke biasaan aneh, semisal seperti saat ini, dia memintaku untuk tidak pernah membiarkan dia sendiri saat aku sudah berada di rumah.
“In shaa Allah. Kita akan berangkat sekitar pukul 8 : 00. Kamu beneran ikut kan? “
“Mau dong,” ucapnya sambi memajukan kedua jempolnya. Besok, Adibah, dan beberapa rekan dokter, suster akan ikut acara amal di panti asuhan tempatku tinggal dulu.
“Tidurlah. Besok kita harus cepat-cepat,” pintahku. Tanpa kuduga Adibah langsung bangkit dari duduknya kemudian berlari ke dalam wc.
Aku yang melihatnya langsung mengekorinya. “Kamu kenapa? “ tanyaku sambil memijit tengkul Adibah yang merasa agak mual.
“Gak tahu, tiba-tiba mual saja saat Dibah cium bauh sesuatu gak tahu bau apa itu,” ucapnya.
Kalau kalian bilang Adibah hamil, kurasa tidak, kemarin dia habis memakan es krim sebanyak sembilang dengan sembunyi-sembunyi, dan suhu badannya juga terasa hangat.
Mungkin saat ini, aku harus kembali begadang untuk menjaga kesehatan Adibah. Dia terlalu rentang terkena penyakit, daya tahan tubuh Adibah memang sangat rendah.
Setelah mengeluarkan apa isi perutnya, Adibah kemudian duduk si atas kloset sambil menyandarkan tubuhnya. Saat ini dia pasti sangat lemah karena habis mengeluarkan makanan yang baru dia makan tadi.
“Yasudah, kamu istirahat dulu yah. Aku gendong kamu dulu. “ Dia mengangguki perkataanku.
Setelah sampai di kasur, aku membaringkan tubuhnya, dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Baru beberapa detik aku duduk, aku mendengar Adibah tiba-tiba menangis.
Aku segera menghampiri Adibah. “Kamu kenapa? “ tanyaku frustrasi. Dan tanpa kuduga, tangisnya malah menjadi-jadi, bisa gila aku kalau seperti ini terus. “Bicaralah Adibah. Kamu kenapa? “ Aku segera mendekati Adibah yang masih menangis, enggan untuk menatap wajahku. Apa dosa dan salahku ya Allah?
“Gak baik lo membelakangi orang, apalagi suami. “ Anggaplah aku sedang marah, bukan marah sih, tapi semacam kesal. Kemudian Adibah menggeleng dan tangisnya mulai tidak terdengar. Aku bangkit kemudian mencium keningnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, istriku. “
Aku tidak mendapatkan jawaban atas salamku, mungkin dia sudah tidur. Mungkin juga, ini sudah saatnya aku melanjutkan pekerjaanku. Ya Allah, bantu aku agar istriku bisa tidur dengan tenang, biar aku sendiri yang akan begadang hingga pagi.
“Kak Farzan,” panggil Adibah sendu.
Saat aku balik melihatnya, aku sudah mendapatkan wajah Adibah yang memerah seperti orang habis nangis. Jangan bilang kalau dia dari tadi menangis.
“Kamu kenapa? “ tanyaku hati-hati.
Adibah yang tadi setiap menatapku, kini menggeleng kemudian kembali tidur dan membungkus dirinya di dalam selimut. Ujian macam apa lagi ini?
“Kamu kenapa sayang? “ Aku kembali mendekatinya.
Seperti tadi, jawaban yang kudapatkan adalah gelengan kepala. Sejak kapang Adibah irit bicara?
“Kamu mau es krim? “ tanyaku kembali mendapatkan gelenngan kepala. “Terus apa? Adibah aku masih punya banyak pekerjaan lain,” jujurku. Entah kenapa dia terlalu berlebihan hari ini.
“Yasudah. Kak Farzan selesaikan pekerjaan penting itu! “ Sumpah, mendengar perkataannya membuatku semakin frustrasi. Allahu Akbar.
“Bukan itu maksudnya Adib-“
“Aku tidak apa-apa! “ tegasnya.
“Kalau tidak apa-apa kenapa suaramu terdengar parau seperti itu Adibah? “
“Enggak. Suara Adibah parau cuma karena es krim yang kemarin. “ Lah kenapa aku tidak sadar? Kan kemarin Adibah sibuk memakan es krim dan aku yakin dia akan kembali demam, inilah yang tidak kuinginkan.
Mood Adibah akhir-akhir ini sulit untuk di tebak. Kemarin saja dia mau tahu isi siang-siang, padahal di sini, jenis makanan itu langkah kalau waktu siang, dan setelah permintaannya tidak dituruti, dia langsung saja pergi dan entah bagaimana tiba-tiba saja dia langsung bisa memakan es krim.
Merasa Adibah sudah tidur, aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sudah segunung itu.
●_●
Pagi harinya. Alhamdulillah semuanya sudah membaik bahkan Adibah juga sudah seperti biasa—tidak menangis lagi seperti semalam. Dia sedang berada di dalam kamar sambil menyiapkan semuanya.
Aku agak tenang sekarang, apalagi pekerjaan semalam juga sudah selesai dan sisahnya bukan lagi urusanku, maksudnya beberapa rekan dokter ada yang mengambil tugas dalam acara tersebut.
Sepuluh menit aku menunggu di sofa sambil menunggu ponselku berdering, aku belum juga melihat kehadiran Adibah. Dan tidak lama setelahnya, ponselku akhirnya berdering, dokter Riska sudah menghubungiku, tandanya kita akan segera berangkat, bukan aku dan beberapa rekan dokter atau suster, tapi aku dan Adibah.
“Adibah, sudah siap belum? “ teriakku.
Tidak ada jawaban. Dengan perasaan bercampur aduk, aku segera ke kamar untuk memastikan apa Adibah baik-baik saja.dan setelah sampai aku melihat Adibah yang sudah lengkap dengan bawaanya, yang masih diam di meja rias.
“Adibah,” panggilku, membuyarkan lamunannya. Adibah menatapku. “Kamu kenapa? “
“Aku gak mau pergi. “
Hening. Aku masih diam mencerna perkataan Adibah barusan. Tidak jadi pergi? Rasanya kepalaku mendadak pusing. “Maksudmu apa Adibah? Kamu gak jadi pergi saat semuanya sudah matang? Coba deh
pikirkan baik-baik ucapanmu barusan. “
Adibah kembali menggeleng. “Adibah gak jadi pergi. Kalau kak Farzan mau pergi, ya pergi saja! “Wajah Adibah mendadak memerah. “Yang jelas aku gak mau pergi! “
“Kenapa baru sekarang bilang seperti itu? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin? Ya Allah Adibah! “
“Aku gak suka keramaian! “
Empat kata yang dapat membuatku bungkam.
Tiba-tiba Adibah langsung menangis. Kali ini aku tidak luluh, malahan aku kecewa dengan dia, bisa-bisanya saat acara seperti ini dia masih mementingkan egonya. Semuanya sia-sia!
Aku menjatuhkan badanku di kasur. Rasanya seluruh tubuhku mendadak lemas. Ingatan saat Adibah dengan gembiranya menerima tawaran untuk ikut, kembali dalam pikiranku, membuat emosiku kini kembali.
“Kalau tidak suka keramaian, kenapa kemarin kamu menerima tawaranku? Asal kamu tahu, di hidup ini, kamu harus bisa menentukan satu pilihan saja dan pilihan itu tidak mungkin kamu ganggu gugat! Kamu seharusnya dewasa dalam menyikapi hal ini Adibah! “ geramku.
“Kak Farzan selalu saja seperti ini! Aku capek selalu bersikap dewasa seperti yang kak Farzan! Aku capek harus selalu apa yang kamu mau.” Tunggu rasanya ada yang mengganjal sekarang. "Kak Farzan tidak pernah menghargai Adibah! "
Aku semakin frustrasi mendengar perkataan Adibah, terlebih perkataan dia barusan. Aku menarik rambutku kasar. "Selama ini aku kurang apa dalam menghargai? Aku selalu memberimu apa yang kamu inginkan Adibah! Kamu terlalu kekanak-kanakan! "
Kulihat dari pantulan cermin, wajah Adibah sudah berubah warna menjadi merah. "Aku tidak bisa seperti apa yang kak Farzan inginkan! " ucapnya sambil mengusap air matanya.
"Seharusnya kamu sudah bisa untuk menghargai suamimu Adibah! Memang betul, umur tidak menjamin kedewasaan. "
"Kak Farzan j-"
“Aku tidak suka berdebat! Hari ini selesaikan semua urusanmu. Aku juga punya tanggung jawab selain kamu, jadi kalau kamu gak mau pergi maka tinggallah, jangan pernah menggangguku selama aku berada di sana!” Entah kenapa aku bisa berbicara seperti ini. Tapi jujur, aku sangat kecewa dengan dia!
“Aku kecewa sama kak Farzan! “ Isaknya. Jarang kami saat ini sangat dekat. Tangan Adibah yang kupegang tadi kini di lepas olehnya. “Kak Farzan tidak akan pernah mengerti dengan keadaanku! “
“Aku lebih kecewa sama kamu Adibah! Kamu yang tidak mengerti! Kamu cuma tahu seberapa kurangnya aku tanpa tahu seberapa kurangnya dirimu sendiri, “ teriakku geram.
“Kalau seperti itu, ceraikan aku! “
●_●
Shahi dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, " wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya maka haram baginya bau surga." HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan.
●_●
-Perbuatan halal yang di benci Alllah adalah 'PERCERAIAN'
●_●