Dear Imamku

Dear Imamku
Perubahan tiba tiba



Tiga Minggu berlalu, Aisha saat ini berdiam diri di rumah sementara Naufal sibuk bekerja di rumah sakit, seluruh tugas kantor di tangani oleh Zee. Kabar dari Fauzan belum pernah ia dapatkan, terkadang rasa bersalah itu menyeruak ke dalam hatinya


Aisha tengah memandikan si kecil, ia tak sendiri di rumah itu namun bersama Azmi, kakaknya itu sengaja datang ke sana untuk menjenguk adiknya itu


"Sha, suami mu kemana?" tanya Azmi heran karena tak ada di rumah


"Lagi pergi ke medical Qurtuby." jawab Aisha seadanya, ia fokus memandikan Debia


"Kok, kakak lihat akhir-akhir iniĀ  Naufal agak beda ya?" tanya Azmi


"Beda gimana kak?" tanya Aisha, ia tak terlalu tertarik dengan topik pembicaraan Azmi


"Ya dia sering menghilang dari rumah, kamu pun tahu maksud kakak, Sha," ucap Azmi nada bicaranya serius


Aisha mengalihkan pandangannya menatap Azmi, kemudian tersenyum tipis


"Dia lagi sibuk kak, dia CEO plus dokter, jadi wajar aja kalau dia sering pergi-pergi apalagi kan di akntornya emang lagi ada masalah." jelas Aisha lagi, ia tahu apa yang di alami Naufal dan juga perusahaannya


"Udah ya kak nggak usah di bahas," kata Aisha, ia sungguh tak berminat untuk membahas kemana Naufal pergi


Azmi menghela napas, "Ya terserah kamu aja Sha,"


Azmi tak membahas masalah itu lagi, ia malah sibuk berkutat dengan ponselnya dan laptopnya memeriksa pemasukan butiknya


"Kak, minta tolong keringin badannya dong, aku mau ambil bajunya dulu," pinta Aisha dan tentu saja Azmi membantunya


Azmi meletakkan laptop dan hp nya kemudian mengambil alih Debia dari tangan Aisha


"Ciluk Baa," kata Azmi mengajak Debia bermain, dan dia tertawa ketika aunty nya melucu


Namun tiba-tiba Debia mendadak menangis hal itu membuat Azmi panik sendiri, Aisha datang untuk menenangkannya sedangkan Adnan bersama Azmi


"Kak kamu apain anak aku?" tanya Aisha, Debia sudah tenang di gendongannya


"Eh mana aku tahu, dia lagi ketawa terus tiba-tiba nangis," jelas Azmi


Aisha tak mempermasalahkan itu, ia kembali meletakkan Debia di kasur, Azmi melihat Aisha dengan heran


Heran, karena belakangan ini adiknya itu tak bersemangat menjalani hari-harinya


"Mungkin aja dia nangis karena tahu ibunya lagi sedih," celetuk Azmi membuat Aisha menoleh


"Tau ah," kata Aisha kemudian mengambil perlengkapan bayi, ia sibuk mengurus Debia


"Kak," panggil Aisha


"Apa?" sahut Azmi, ia ikut membantu Aisha mengurus anaknya, sekalian latihan sebelum benaran menjadi ibu


"Aku penasaran sama hidup aku sendiri, kadang aku heran," kata Aisha ia menghela napas


"Semenjak aku nikah sama Kak Naufal, semua orang seolah menghilang di telan bumi, Yumna, Nazeef, Azizah, Farah, Zilia, semua orang yang berkaitan sama aku seolah hilang gitu aja," jelas Aisha


"Atau aku yang terlalu menutup diri? Aku nggak menyalahkan pernikahan aku, kalau Zilia sama Farah aku masih ada saling tukar kabar, tapi sama Azizah-" Aisha tak melanjutkan kalimatnya, tatapannya kosong


Azmi mengusap pundak Aisha, "Kamu nggak salah, juga bukan salah siapa-siapa, takdirnya aja yang memang sudah begitu," kata Azmi


"Selama ini orang lain melihat aku bahagia, Ayah Bunda. Tapi bahagia aku nggak sesempurna itu kak," ujar Aisha lagi


Entahlah, Aisha ingin mengeluarkan seluruh bebannnya saat ini, beban yang ia tanggung selama ini. tak berbicara pada siapapun


"Kadang aku bingung aja kak," kata Aisha lagi, ia kembali menghela napas "Ah, lupain aja kak." kata Aisha


Ia menatap Debia kemudian tersenyum, "Kak temenin aku nyuapin Bia, yuk," ajak Aisha membuat Azmi mengangguk


Keduanya beranjak ke lantai bawah tentunya dengan membawa Debia, Azmi menunggu di ruang tamu bersama Bia sementara Aisha menyiapkan makanan si kecil


"Kak Azmi nggak akan berhasil," kata Aisha sambil tertawa


"Ihh kok gitu sih, tadi aja pas di kamar Debia ketawa sama aku, kan Bia?" tanya Azmi pada bayi itu


Debia hanya kebingungan melihat tingkah aunty nya itu, percayalah jika sudah besar Aisha yakin pasti Debia akan jengah melihat kelakuan Azmi


"Lagian aneh sih, masa anak bayi diajak ngomong kak Azmi," kata Aisha masih dengan sisa tawanya


"Ya kan niatnya mau ngelucu, tapi nggak lucu sama Debia nya," kata Azmi cemberut


"Kak, aku makin yakin deh nanti," kata Aisha membuat Azmi menoleh


"Apa?" tanya Azmi


"Kalau Debia udah besar, dia pasti kesal lihat kelakuan aunty nya yang aneh," kata Aisha lagi ia tertawa puas saat melihat wajah Azmi yang kesal


"Kamu tuh ya Aish, hobi banget ngeledek kakaknya sendiri." kata Azmi dan lagi Aisha meledeknya terus-menerus


Hari itu Azmi menghabiskan waktunya di rumah Aisha untuk bermain bersama keponakannya


Waktu beranjak malam dan Naufal baru kembali entah dari mana Aisha tak tahu yang jelas ia baru saja selesai menidurkan Debia. Ia langsung turun ke bawah saat mendengar suara mobil Naufal


"Mas, udah pulang? Gimana kerjaannya lancar?" tanya Aisha, ia membantu membawa tas dan jas Naufal


"Lancar." jawab Naufal singkat, wajahnya terlihat sangat lelah


"Kamu mau mandi dulu? Aku siapin air hangat," kata Aisha lagi


"Nggak usah, mas langsung tidur aja." kata Naufal kemudian berlalu begitu saja


Aisha tersenyum kecut, ia menatap nanar jas di tangannya. Kakaknya, Azmi benar, Naufal sudah berubah tepatnya sejak tiga minggu yang lalu saat kepulangannya dari rumah sakit hari itu


Naufal jadi lebih pendiam dan kembali ke dirinya yang dulu, dirinya yang irit bicara dan cuek. Aisha menghela napas, ia lelah dengan situasi ini


Lantas perempuan itu berjalan menuju kamarnya, ia melihat Naufal yang sudah terbaring di atas kasur lebih tepatnya sudah terlelap


Kemudian tatapannya beralih pada anaknya yang ada di dalam box bayi, tatapan itu meredup


"Kamu sebenarnya kenapa mas?" lirih Aisha sendu, matanya berkaca-kaca


"Kamu tiba-tiba berubah, bikin aku bingung kamu ada masalah apa lagi marah sama aku?" tanya Aisha dengan suara pelan


Sungguh ia merindukan Naufal yang dulu, bukan Naufal yang pendiam melainkan Naufal yang sering memberinya senyuman dan juga kecupan di dahi


Hatinya berdesir jika mengingat hal itu, sudah lama Aisha tak merasakan itu tepatnya setelah kejadian malam itu Naufal yang pergi tiba-tiba kemudian tak pulang dua hari, pas pulang tau-tau sikapnya sudah berubah lagi


"Aku rindu kamu yang dulu mas," lirih Aisha lagi, air matanya sudah tak bisa di tampung


Aisha menghapus air matanya kemudian menghela napas panjang, lantas ia berjalan meletakkan tas dan jas itu


Kemudian berlaih ke kasur, berbaring dengan napas berat, ia menatap sekilas wajah Naufal yang terlelap


"Jangan berubah," lirih Aisha, ia mengusap rambut Naufal yang terasa lengket


Kemudian ia terlelap dengan perasaan sesak, tanpa Aisha sadari ternyata Naufal belum tertidur ia mendengar semua yang Aisha katakan


Perkataan Aisha sungguh menohok hatinya, kesunyian malam menambah perasaan sesak Naufal


"Maaf, aku nggak bermaksud." kata Naufal ia mengecup dahi Aisha pelan


Lantas mengusap pipi mulus Aisha, ia sungguh tak bermaksud menyakiti perasaan Aisha hanya saja akhir-akhir ini Naufal sendiri tak tahu mengapa ia bisa berubah di hadapan Aisha


"Sungguh, aku minta maaf." gumam Naufal lagi