Dear Imamku

Dear Imamku
Berubah



بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


-


-


-


-


-


💜


"Hargai orang-orang yang mencintaimu karena mereka tidak akan hidup selamanya.”


●_●


     “Kenapa cepat sekali pulang Farzan? Padahal hari ini kita akan membicarakan tentang panti asuhan yang kamu ajukan itu.” Astagfirullah, aku baru ingat kalau lusa kita memilih rencana untuk menghibur anak yatim piatu di panti asuhan tempatku dulu. Dan sekarang sudah jam enam lewat tujuh belas berarti empat puluh tiga menit lagi aku harus ke acara pernikahan teman Adibah. “Bagaimana? “


     “Bagaimana ya? Hari ini ada acara pernikahan yang harus saya kunjungi bersama Adibah.”


     “Yaelah Farzan, kalau rapatnya di tunda besok aku dan Qamariah gak bisa ikut, soalnya kita berdua ada acara amal lainnya, tidak mungkin kan aku menyia-nyiakan waktu terbaikku bersama Qamariah,” kata Sultan, atau biasa di panggil Sultan Afandi. Dia memang dari dulu menyukai Qamariah hanya saja gadis itu belum memiliki niat sedikit pun untuk berpacaran bahkan dia sangat menghindari perbuatan itu.


      Islam memang melarang kita berpacaran, tetapi islam tidak melarang kita untuk mencintai seseorang


     Aku mundur beberapa senti dari tempatku berdiri, kemudian kembali ke tempat dudukku tadi. Bagaimana lagi? Harusnya aku bisa bertanggung jawab dengan keputusan aku, dan Jihan tidak akan batal menikah hanya karena kita terlambat datang bukan?


     “Ya sudah. Berapa lama kita bicarakan ini? “


     Sultan terlihat berpikir. “Mungkin sekitar tiga puluh menit.”


     Aku kembali melihat jam di tangan kiriku yang sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit, berarti tinggal empat puluh menit dan aku mungkin terlambat beberapa menit saja sampai di rumah.


     “Oke, kamu panggil yang lain dulu aku tunggu di sini, “ ucapku kemudian, yang disetujui Sultan. Tidak lama itu dia keluar dari ruanganganku untuk memanggil beberapa rekan dokter dan suster yang ikut acara amal ini.


      Sampai akhirnya semua kumpul, kita mulai membicarakan tentang acara amal itu. Mulai dari tempat, pembicaraan yang akan disampaikan, sampai hadiah yang akan anak-anak di sana dapatkan. Panti asuhan itu adalah, panti yang pernah aku tempati, semoga berjalan lancar, aamiin.


     “Ya sudah. Aku dan dokter Riska yang akan mengatur soal dana dan hadiahnya nanti,” kata salah seorang dokter. Semuanya menyetujui perkataannya, hingga akhirnya semuanya selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas. Aku mengundurkan diri agar segera pulang dan sampai ke apartemen secepatnya.


     Tidak lupa aku singgah untuk membeli martabak, permintaan Adibah tadi pagi sebelum aku berangkat kerja. Allahu akbar, aku sampai lupa memberitahukan ke Adibah kalau beberapa hari lagi dia akan kuliah, kenapa sifat pelupa Adibah tertular kepadaku.


     Setelah semua selesai, aku akhirnya sampai dengan kantongan berwarna putih di tangan kananku. Langkaku kemudian terhenti saat sampai di depan pintu. Aku mengetuk pintu, sepersekian detik kemudian pintu terbuka, menampilkan Adibah di sana. Kenapa wajahnya seperti itu? Salompas kini melekat di kepalanya dengan hidung kemerahan.


     Adibah mencium punggung tanganku. “Kamu kenapa? “ tanyaku.


     “Tadi habis memperbaiki kerang air, lama sekali baru selesai. “


     “Kenapa tidak menghubungiku?”


     “Masuk dulu kak Farzan,” pintahnya. Memang benar, suaranya terdengar serak-serak seperti sedang pilek.


     “Kak Farzan sudah makan? “ tanyanya sambil terus memegang tanganku hingga menuju sofa. “Makan dulu yuk kak Farzan. “


     “Kenapa tadi tidak menghubungiku? “ tanyaku lagi. Aku tahu apa jawabannya setelah ini, dia akan menjawab kak Farzan kalau di tanya jangan tanya balik. Dan benar dia menjawab seperti dugaanku tadi. “Aku lebih dulu mempertanyakan ini Adibah. “


    “Tadi Dibah udah coba hubungi kak Farzan tapi nomornya tidak aktif, jadi Dibah kira kak Farzan sedang sibuk, jadi aku kerja sendiri. “ Astagfirullah, aku baru ingat, kalau pagi tadi ada operasi mendadak.


     “Ya sudah, aku naik dulu untuk mandi. Aku lapar,” ucapku kemudian meninggalkan Adibah. Tapi baru beberapa langkah aku menjauh, dia sudah menganggilku. “Ada apa lagi? “


     “Ke rumah Jihan jadi tidak? “ Aku hampir saja lupa lagi.


     “Aku mandi dulu, setelah itu kita pergi,” kataku. Di terlihat sangat bahagia mendengarnya, terlihat jelas dari senyumannya. Aku kembali melanjutkan langkahku dan lagi dia memanggilku. Padanganku terarah kepadanya.


     “Martanya mana? “ Benda ini hampir saja aku bawa mandi kalau saja Adibah tidak mengingatkan aku. Aku menyerahkan martabak itu dan meninggalkan Adibah tanpa singgah lagi.


●_●


        Setelah sampai di gedung tempat resepsi pernikahan Jihan, aku dan Adibah segera turun. Dari kejauhan aku melihat Fauzi dengan beberapa teman Adibah yang tidak kutahu namanya. Fauzi menatap kami, lebih tepatnya ke pada Adibah sambil tersenyum. Demi Allah, andai saja membunuh bukan termasuk dosa, sekarang mungkin sudah kulakukan itu.


     Adibah terlihat biasa-biasa saja terhadap kehadiran Fauzi.


     “Cieee, pengantin baru,” teriak salah satu dari teman Adibah, sambil mencubit pinggang Adibah. Apa ini termasuk tradisi anak jaman sekarang? Mungkin, Adibah pernah mencubit pinggangku juga. Dan tunggu, dia bilang pengganti baru? Pernikahan kita sudah ada setahun dan itu sudah lama.


     “Pernikahan lama, kelesss,” ucap Sri Ramadhani. Aku mengetahui namanya karena dia teman Adibah yang aku lihat pertama kali, sewaktu di musollah.


     Kulihat Adibah tersenyum merespons perkataan teman-temannya, apa dia aslinya pendiam? Kenapa kalau bersamaku dia banyak bicara? Bahkan bicaranya tanpa jeda sampai-sampai aku tidak paham dengan apa yang dia katakan.


     “Bapak dokter tampan. Nikahnya udah lama terus ponakan kapan nyusul. “ Berselang beberapa detik perkataan dari teman Adibah, Fauzi tiba-tiba batuk. Seharusnya aku atau Adibah yang kaget bukan dia! “Kenapa? Mau ditanya kapan punya anak juga? Allahu Akbar Fauzi nikah dulu sana baru punya anak. “


     “Ayo, daripada berdiri di luar lebih baik kita masuk, Jihan pasti sudah merindukan kita,” Ucap Adibah. Aku tahu, dia berusaha mengalihkan pembicaraan itu.


     Tanpa sengaja aku melihat Fauzi selalu seja mendekati Adibah. Aku segera memegang tangan Adibah, ini sebenarnya kode untuk Fauzi agar segera sadar.


     “Kak Farzan. Kapan resepsi pernikahan kita dilakukan? “ tanya Adibah. “Dibah udah gak sabar. “


     “Aku bahkan akan menikahi kamu kembali, dengan kembali mengucapkan akad nikah dengan di dasari rasa cinta. Tidak seperti pertama mungkin hanya karena terpaksa,” ucapku. Tangan Adibah tidak henti-hentinya memegang tanganku, aku suka. “ Aku ingin terikat denganmu karena rasa cinta. “


     “Kak Farzan janji? “tanya Adibah memastikan.


     “Iya, aku janji. “


     “Wallahi? “


     “Wallahi. “


     “Demi Allah? “


     “Astagfirullah Adibah. Aku sudah bilang wallahi, ya wallahi. “


     “Iya, demi Allah yang maha besar,” kataku, aku tidak pandai berdebat dengannya kali ini.


     Aku tidak nyangka kalau ternyata mempelai prianya adalah Abdul, ya teman pesantrenku dulu. “Farzan? “ tanya Abdul memastikan. Aku mengangguk sambil tersenyum. “Ya Allah, Gua gak nyangkah bisa ketemu dengan lo lagi, “ kata Abdul sambil memelukku duluan.


     Ujung bajuku rasanya ditarik. Aku tahu, pelakunya pasti Adibah, dan aku tahu dia akan bertanya banyak hal mengenai Abdul. “Pantesan dekorasi gedungnya bertemakan alam ternyata yang nikah itu kamu, “ kataku sambil tertawa. Abdul dari dulu bercita-cita ingin menjadi tentara.


     “Alhamdulillah cita-cita gua terkabulkan. Kalau kau? Sekarang cita-citamu untuk jadi pilot bagaimana? “ Ya sewaktu masih sangat kecil aku sangat mengangumi profesi pilot, sampai-sampai aku sangat ingin menjadi pilot waktu itu, tapi takdir siapa yang tahu sekarang aku berprofesi lain.


     “Bukan, sekarang aku berprofesi dokter.”


     “Wah! Hebat seorang Farzan yang takut melihat suntik dan luka bisa jadi dokter. “ Abdul tertawa dan akupun ikut tertawa. Sekali lagi, takdir tiada yang tahu.


     Dan lagi, aku kembali merasakan bajuku di tarik seseorang. Aku menatap Adibah. “Kenapa? “ tanyaku. Adibah baru saja ingin berbicara tapi harus terhenti saat melihat wajah Abdul, apa yang salah? Wajah temanku tampan dan tidak ada yang menakutkan sedikit pun.


     “Adibah, kita juga mau lewat! “ kesal salah satu teman Adibah.


     “Ihh Baru juga pelukan satu kali sama Jihan udah di suruh cepat-cepat! Tidak pengertian banget sih! “ kesalnya.


     Wallahi, dia terlihat sangat lucu.


     “Tapi masalahnya Adibah di belakang orang mengantre sudah kayak orang lagi tunggu sembako. “


     Dan benar, antrean memang sangat panjang, mereka menatap kami mungkin sambil mengerutuki kami. “Ayo Adibah turun. Aku pergi dulu, jangan lupa kita reunian, “ ucapku yang disetujui Abdul.


      Terdengar juga kalau Adibah sedang berbicara juga dengan Jihan, yang terakhir terdengar jelas oleh telingaku, kalau di berbicara seperti ini, “Jangan lupa ponakan yang lucu ya,” dan juga kulihat Jihan mencubit pinggang Adibah.


     "Harusnya, kamu yang dulu punya," ucap Jihan sambil tertawa.


     Setelah turun, aku di banjiri banyak pertanyaan oleh Adibah mengenai Abdul, sudah kuduga.


     “Ka Farzan kok bisa kenal sama calon suami Jihan? Eh salah kan sudah akad nikah jadi sekarang sudah sah, bukan calon lagi tapi suami Jihan? Dan apa pekerjaannya? Orangnya bagaimana? Kasar atau tidak? Dia baik tidak kalau suatu saat nanti Jihan minta boneka beruang? Soalnya Jihan sukanya boneka beruang. Bagaimana kalau dia tidak suka perempuan seperti itu? Ya Allah kak Farzan aku tidak bisa membayangkan Jihan tanpa boneka beruangnya! Ke sekolah saja dia selalu bawa boneka beruang, soalnya boneka beruangnya itu tergantung di tas Jihan lucu banget itu kak Farzan. Terus Jihan itu aneh, dia sukanya makan pare padahal pahittt sangat ...” Sumpah Adibah kembali melakukan kebiasaannya, berbicara tanpa jeda. Dia bertanya sambil berbisik-bisik. Aku tidak tahu, harus menjawab pertanyaan dia dari mana dulu. “Kak Farzan jawab! “


     “Aku jawab harus mulai dari mana Adibah? “


     “Mau aku ulang? “


     “Tidak usah. Abdul itu sahabatku di pesant-“


      “Jadi, dia seusia kak Farzan?” tanyanya yang kubalas anggukan. “Berarti sudah dewasa dong.”


     “Iya dia sudah dewasa. Pekerjaannya itu tent-“


     “Ber-“


     “Kalau suami lagi bicara, dengarkan dulu jangan di potong-potong kayak marta,” kesalku. Dia memang mempunyai hobi seperti ini.


     “Tapi kak Farzan tadi juga potong pembicaraan Adibah, kayak marta. “ Rasanya ingin meminumkan obat tidur untuk Adibah! Astagfirullah maafkan aku ya Allah.


     “Tapi yang duluan siapa? “


     “Dibah. “


      “Jadi?”


      “Dibah yang salah. “


     “Anak pintar. “


     “Yeahhh. “ Adibah terlihat sangat senang mendengar perkataan terakhirku. “Dibah baru dengar, orang salah di bilang pintar. “


     Sabar! Sabar! Sabar!


     Andai saja aku tidak mencintainya, mungkin sudah kutinggalkan dia di sini, atau tidak ke kandang macan! Astagfirullah Farzan.


     "Kata Jihan, panainya¹ gak banyak kak Farzan. Cuma seratus juta, katanya ambil dari adat ayahnya gak tahu adat apa, andai saja adat bugis mungkin panainya lebih mahal lagi, " kata Adibah. Seratus juta sedikit? Gajiku sebulan saja tidak begitu.


     "Itu banyak Adibah. "


     "Iya itu banyak kak Farzan. Tapi kalau di pakai untuk pernikahan seperti ini, mungkin terbilang tidak terlalu banyak."


     "Terlalu mubazir," kataku. Aku orang pendatang, bukan asli Bugis, jadi wajar saja kalau aku tidak tahu apa fungsi dari uang panai tersebut. Apalagi kata Adibah panai dan mahar beda, jadi mempelai pria harus mempunyai uang banyak untuk menikahi wanita Bugis.


     “Adibah, “ panggilku. Dia berdeham, membalas perkataanku. “Hargai orang-orang yang mencintaimu karena mereka tidak akan hidup selamanya.”


     “Kak Farzan kok bilang seperti itu! Dibah gak suka! “


●_●


-


-


-


-


-


💜


     "Cukuplah Allah bagi mu, tidak ada tuhan selain dari-Nya hanya kepada-Nya aku bertawakkal. " -QS. At-Taubah : 129


●_●


Uang Panai"¹, Tanda Penghargaan untuk Meminang Gadis Bugis-Makassar. MAKASSAR, KOMPAS.com - " Uang panai" atau uang belanja untuk pengantin mempelai wanita yang diberikan oleh pengantin pria merupakan tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.


●_●