
Kiran terkejut saat Tina datang menemuinya dan mengatakan bahwa papanya datang serta memintanya mengemasi semua barang-barangnya.
"Ada apa sebenarnya, Tina? Kenapa aku harus mengemasi semua pakaianku?"
Tina menggeleng pelan. "Hanya itu perintah Tuan Kamil, Mbak. Sepertinya papa Mbak Kiran marah besar."
"Maksudnya?"
"Lebih baik Mbak turun saja dan temui beliau."
Tanpa menunggu lama, Kiran segera melesat turun. Begitupun Ari yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraannya dengan Tina. Ia ikut turun mengekori Kiran. Namun Kiran tidak menuruti perintah papanya untuk mengemasi pakaiannya. Bukan akhir seperti ini yang diinginkan Radit. Ia tahu betul akan hal itu.
Begitu sampai di bawah, Mama Ariana langsung menyambut Kiran sembari menggeleng pelan. Kiran yang belum mengerti hanya memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja dengan mengangguk pelan.
"Ada apa, Pa?" tanya Kiran setelah sampai di depan Kamil.
"Mana pakaianmu? Papa kan menyuruh Tina agar kamu berkemas."
Kiran tahu sang papa dalam mode marah. Suaranya terdengar sangat tegas.
Ari yang langsung memahami bahwa Kiran ingin dibawa pergi bergerak maju namun Tuan Mahesa melarangnya.
"Pa ..., ada apa sebenarnya?" tanya Kiran dengan nada lemah.
"Ikut Papa. Kamu tidak perlu di sini lagi," jawab Papa Kamil dingin.
"Pa, ...."
"Kamil ..., bukankah tadi kami sudah mengatakan bahwa pikiran kami telah berubah. Kenapa kamu masih saja bersikeras ingin membawa Kiran dari kami." Tuan Mahesa mencoba meyakinkan Kamil kembali.
Kiran beranjak mendekati papa Kamil yang ia tahu bahwa papanya telah menyunggingkan sebuah senyuman tersembunyi dari semua orang. Tentu kecuali dirinya.
"Kita akan menemui Radit," bisik Papa Kamil pelan dengan suara yang hanya bisa didengar Kiran, ketika putrinya itu mendekat.
"Bukan seperti ini yang kami harapkan, Pa," balas Kiran dengan berbisik pula.
"Ayo ikut Papa atau tidak sama sekali!" Papa Kamil mengeraskan suaranya. Namun matanya memberi kode bahwa itu hanya akting belaka.
"Kamil ..., jangan seperti ini. Dia putriku! Dia menantuku! Kenapa kamu keras kepala sekali!" Mama Ariana menyela. Dengan cepat dia mendekati dan memegang lengan tangan Kiran. Menahan agar Kiran tidak menuruti keinginan Kamil.
"Keras kepala?" Papa Kamil memicing, tersenyum sinis. "Tidak lebih keras darimu kan, Ariana?" ujarnya sarkas.
"Kami tidak akan memaksa mereka lagi, Kamil. Kami akan merestui mereka ...."
"Lalu bagaimana dengan Ari, Pa? Bukannya Mama sudah berjanji pada Ari untuk menyatukan hubungan Ari dengan Kiran?!" Ari menyela perkataan Tuan Mahesa.
"Diam kamu!" bentak Tuan Mahesa seketika. Mama Ariana terperanjat. Begitu juga dengan Ari dan Kiran. Hanya Kamil yang secara tersembunyi mengulas senyum di wajahnya.
Kamil berdehem. "Baik. Jika seperti ini, aku akan pergi sekarang. Aku sudah percaya kalian tidak akan memaksa mereka lagi. Tapi aku sarankan secepatnya kalian satukan mereka berdua. Karena jika kalian masih menundanya maka aku yang akan turun tangan untuk menyatukan mereka."
Ari terperanjat dan tampak tidak terima namun ia tidak berani menyela sebab tatapan tajam Tuan Mahesa masih memaku didirinya.
Melihat kegelisahan Ari, Kamil mendekatinya lalu menepuk pelan bahu pria muda itu. "Percayalah Ari ..., jika kamu mengikhlaskan semua ini maka akan hadir wanita yang lebih baik dari Karin yang akan menjadi pendampingmu nantinya. Tapi jika kamu masih menjadikan dirimu duri di dalam hubungan kakakmu dan Karin maka bukan mereka yang akan tidak bahagia nantinya namun ketidakbahagiaan akan menjadi milikmu sepenuhnya."
Meski Ari sedikit aneh mendengar jika Kiran dipanggil dengan sebutan Karin oleh orang yang disebut Tina sebagai papa Kiran tadi, namun ia tidak berani berkomentar.
Kamil berbalik kemudian melangkah hendak pergi. "Aku tidak perlu diantar. Tapi kalian harus berjanji setidaknya besok putriku harus menemui menantuku," ucapnya sekilas yang disambut anggukan oleh Mama Ariana dan Tuan Mahesa.
Setelah Kamil pergi. Tuan Mahesa mendelik tajam pada Ari. Kiran menyadari hal itu. Ia tahu setelah ini akan ada perdebatan di antara anak dan ayahnya itu. Kiran tidak menginginkannya. Ia ingin memahamkan Ari dengan caranya sendiri maka dengan cepat ia mengajukan permohonan pada mertuanya.
"Pa, Kiran ingin bicara sebentar dengan Ari, boleh?"
Pria paruh baya itu terdiam sebentar lalu mengangguk dengan berat. Mama Ariana yang melihat tanggapnya Kiran melihat situasi akhirnya bisa bernafas lega dan mengelus dadanya.
"Setelah ini, kamu Papa tunggu di ruang kerja Papa," titah Tuan Mahesa sebelum ia dan Mama Ariana berlalu.
Ari menghela nafas pelan. Wajahnya menyiratkan kekecewaan yang dalam.
"Kita ngobrol di luar, yuk!" ajak Kiran. Disambut anggukan lemah pria itu.
Kiran membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi di taman depan rumah keluarga Makarim.
Ari belum tertarik. Ia masih diam menatap wajah Kiran dalam-dalam.
"Hei, semangat dong! Lemes banget kayak kerupuk melempem."
Ari tersenyum kecut. "Kamu bahagia Kiran? Meski kamu tahu kalau aku merasa sedih." Kiran terdiam. Ia menarik nafas perlahan.
Beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangan ke depan. "Kamu mau denger cerita aku nggak, Ri?"
Hening beberapa saat hingga akhirnya Ari menganggukkan kepalanya.
"Waktu aku kecil dulu, saat aku berusia sembilan tahun, aku bertemu seorang anak laki-laki. Ia sangat sombong dan angkuh awalnya hingga kemudian kami menjadi sangat akrab. Kebersamaan kami selalu saja membuat aku sangat bahagia pada waktu itu.
Kemudian anak laki-laki itu pergi dan menimbulkan kesan yang dalam di hatiku. Menyingkirkan semua pria yang mencoba masuk meski telah lama kami tidak bertemu.
Hingga aku menyusulnya ke sini. Aku berharap menemukannya. Namun ia tidak pernah kutemukan. Kemudian aku bertemu denganmu, Ari.
Aku hanya berharap kamu akan menjadi seseorang yang selalu ada di hidupku. Tidak seperti Papa yang kukira telah meninggalkanku dan Mama yang telah pergi. Tapi ternyata Kamu juga pergi dari hidupku, Ari," suara Kiran mengguratkan kesedihan.
Ari menatap Kiran sendu. "Aku juga tidak ingin begitu, Kiran."
Seolah tidak mendengar sahutan Ari, Kiran melanjutkan ceritanya, "Kemudian Mama memaksa kami untuk menikah. Pada awal pernikahan, sulit untuk berbicara dengan damai pada Kak Radit. Hatiku juga sering sekali tersakiti oleh Kak Radit karena beliau sering merasa masih sulit untuk menerima bahwa calon istri dari adiknya harus menikah dengannya. Ditambah lagi, kebenaran yang diketahuinya bahwa kecelakaan yang terjadi padamu disebabkan oleh keluargaku.
Dia menjauhiku dan selalu merasa frustasi jika pada akhirnya karena berbagai situasi kami menjadi dekat.
Hingga akhirnya aku tahu bahwa dia, kakakmu, adalah anak laki-laki yang dulu begitu kurindu. Dan ternyata selama ini dia juga menjauhi semua wanita karena aku."
Ari terperangah.
"Aku seperti mendapat semua kebahagiaan yang aku inginkan saat aku mengetahuinya, Ari. Begitu pun kak Radit.
Kami saling mencintai, Ari. Cinta yang dulu terpendam kini telah keluar, merekah dengan sempurna."
"Kamu mengarang cerita ini kan, Kiran?" Ari menaikkan satu alisnya.
"Kamu tahu sendiri, aku bukan tipe seperti itu!"
Ari menggeleng pelan. "Tidak semudah itu, Kiran."
"Itu akan terjadi jika kamu berusaha, Ari. Kamu harus mencobanya."
"Kamu nggak ngerti, Kiran!" suara Ari mulai meninggi.
"Saat aku hilang ingatan, aku lupa semuanya. cuma kamu yang aku ingat. Kamu tahu artinya?"
Kiran terpana.
"Tanpa sadar kamu sudah begitu dalam di hatiku, Kiran. Aku juga tidak menyadari itu." Ari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia tampak begitu frustasi.
Melihat kondisi Ari menjadi seperti itu, Kiran pun jadi menciut. Kepercayaan dirinya yang tadinya berpikir akan bisa memahamkan keadaan mereka pada Ari menguar seketika.
"Mbak ..., Mas ..., maaf mengganggu. Wanita ini mencari Mas Ari."
Suara sekuriti, pak Arif mengagetkan Kiran. Ia melihat seorang wanita yang berada di belakang bapak sekuriti tersebut. Seorang wanita manis dengan balutan jilbab panjangnya memegang sebuah kotak.
Ari yang menyadari adanya suara selain mereka juga langsung menoleh. Setelah sebelumnya menyeka air matanya yang telah tumpah.
"Kamu ...," katanya terkejut.
Wanita itu maju. "Maaf, Mas. Ibu menyuruh saya ...."
"Aku menceraikanmu. Kamu dengar. AKU CERAIKAN KAMU. Kiran dan bapak itu menjadi saksi. Sekarang kamu boleh pulang." Kata-kata Ari membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
Wanita itu pun tampak sangat terkejut sampai kotak yang ada di tangannya terlepas dan meluncur ke bawah.
Kiran menatap Ari, "Dia istrimu, Ari?"
Pria itu menjawab dingin. "Tidak lagi."
❤❤❤💖