Behind The Boss

Behind The Boss
Rencana Jitu



"Kakak punya rencana apa?" Kiran bertanya dengan antusias.


Radit terdiam beberapa saat. Meski ragu, akhirnya ia mencoba memaparkan juga rencana yang memang sudah ia siapkan dari hotel setelah melihat kemunculan Ari di sana.


"Kiran ingat kisah Papa Kamil dan Paman Sandi kan?"


"Ya ...."


"Rencana ini akan berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Papa Kamil meskipun memang memerlukan sedikit pengorbanan kita. Demi menghindari agar efek yang timbul dari hubungan kita tidak sama dengan apa yang Kiran alami."


"Ya ...?" Kiran berdebar. Entah kenapa perasaannya jadi sedikit tidak nyaman.


"Kiran lihat kan perubahan Ari pada Kakak?"


"Ya, jadi ...?"


"Untuk sementara kita berpisah dulu!"


Deg!


Kekhawatirannya menjadi nyata. Mendengar mereka akan menjalani cara berbeda dengan papa, Kiran sudah bisa menebak sebab papa dan mamanya menempuh cara terus bersama meskipun mengorbankan dirinya yang akhirnya ditinggalkan sendirian.


"Untuk sementara Kakak akan pergi ke suatu tempat dan tinggal di sana. Kiran tetap di sini sembari terus meyakinkan Ari tentang hubungan kita."


Kiran menggeleng. "Nggak, Kak. Kalau solusinya harus berpisah, Kiran nggak mau."


Radit menggenggam kedua tangan Kiran. "Perpisahan kita cuma untuk sementara, Sayang. Setelah kita mendapatkan restu mama dan Ari, kita akan bersama kembali."


"Tapi nggak harus pisah kan, Kak? Yang namanya istri itu walau bagaimana pun tempatnya tetap di sisi suami. Kiran akan ikut kemana Kakak pergi!" Kiran bersikeras.


"Kita akan mengulangi kisah yang telah Papa kamu alami, Kiran ...," bantah Radit lembut.


"Berbeda, Kak. Papa tidak memiliki papa Mahesa seperti kita. Papa Mahesa pasti bisa meyakinkan Ari tentang hubungan kita."


"Tapi Papa Kamil punya Nenek Tutik yang mendukungnya sementara Kakak tidak, Kiran ...."


"Papa Mahesa pasti bisa meyakinkan mama, Kak!"


"Sebenarnya Kakak tidak ingin mengatakan ini, tapi mama dan papa punya luka masa lalu yang membuat papa terkadang sulit untuk membantah keinginan mama."


Kiran terdiam. Menatap Radit hampa.


Radit melepaskan tangan Kiran, menyimpan wajah sendunya dengan mengalihkannya dari tatapan Kiran.


"Sebenarnya tujuan Kakak memilih langkah ini agar bisa menahan hati Kakak untuk tidak membenci mama." Gerimis membasahi hatinya.


Matanya menerawang. "Sedari kecil, mama memang selalu lebih sayang pada Ari dibanding Kakak. Alasan terbesarnya karena dia lebih mirip mama. Sedari kecil, Ari juga lebih putih dan lebih tampan. Pujian banyak orang terutama teman-teman mama banyak mengalir padanya.


Sementara orang lain sering sekali tidak mengira jika Kakak adalah anak mama karena kulit Kakak yang hitam dan Kakak juga obesitas saat masih kecil. Tentu kamu ingat bagaimana penampilan Kakak dulu. Kakak juga sadar itu. Kakak pikir setelah penampilan Kakak berubah, sikap mama juga akan berubah. Dia tidak lebih menyayangi Kakak dari Ari.


Namun ternyata dugaan Kakak salah. Peristiwa ini semakin membenarkan bahwa memang mama lebih menyayangi Ari dibanding Kakak.


Dan Kakak khawatir dengan hati Kakak, Kiran. Kakak takut membenci mama jika Kakak terus berada di sini dan mendengarkan permintaan mama untuk menceraikan kamu demi Ari. Kakak takut menjadi anak durhaka dengan membeci mama, Kiran ...."


Air mata yang tadi sempat turun kini tergenang dan meluncur kembali di kedua pipi Radit.


Bergegas Kiran memeluk Radit dari samping. "Maafin Kiran, Kak. Kiran paham sekarang. Kiran akan mendukung Kakak meski kita harua berpisah dulu." Jemari Kiran mengusap kedua pipi Radit.


"Kamu tahu, Kiran. Apa pun yang terjadi Kakak tidak akan pernah menceraikanmu. Kakak juga tersiksa jika harus berpisah dari kamu."


"Iya. Kiran tahu. Kiran juga begitu. Kiran juga tidak akan pernah mau menceraikan Kakak."


Radit menatap Kiran haru. "Terima kasih, Sayang."


Kiran mengangguk.


"Jadi berapa lama kita harus berpisah, Kak?" tanya Kiran ragu.


"Sampai mama mendukung kita dan Ari menerima hubungan kita."


"Jadi selama itu kita tidak akan pernah berjumpa?"


"Iya. Itulah yang Kakak katakan pengorbanan." Radit mengulas senyum.


"Kakak juga tidak akan memakai ponsel yang lama. Ponsel itu akan Kakak tinggal. Kakak akan pakai ponsel baru agar papa tidak bisa melacak dimana Kakak." Radit menambahkan.


"Tapi Kakak tetap akan menghubungi Kiran, kan?"


"Jadi Kakak berencana tinggal di mana?"


"Di suatu tempat yang tidak akan terpikirkan oleh papa dan mama juga Ari."


Kiran menghela nafas pelan. Radit menyadarinya. Ia menepuk lembut punggung tangan Kiran.


"Bersabarlah, Sayang."


Meski berat namun Kiran menganggukkan kepalanya.


"Kiran akan siapin baju Kakak." Kiran bangkit.


"Kakak juga akan menemui Ari sebentar."


Kiran mengangguk lagi.


...***...


Dia kembali ke kamar itu. Tapi bukan untuk menyendiri namun melihat si pemilik kamar yang telah kembali. Meski ia menyadari tatapan Ari menjadi berbeda. Entah itu benci atau apa pun itu namun sedikit pun hatinya tidak berubah. Dia tetap saudara laki-lakinya. Ari, adiknya.


"Assalamu'alaikum ...." Radit memberi salam sambil membuka pintu. Ia memang tidak berniat mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ari mengalihkan pandangannya dari sebuah sketsa yang berada di jemarinya. Sketsa Kiran. Ia sedang duduk di atas ranjang.


Begitu Kiran memasuki kamar Radit, ia bergegas masuk ke kamarnya. Hatinya merasa sakit menyadari Kiran dan Radit sedang berdua di dalam kamar.


"Apa Kakak mengganggumu, Ari?" tanya Radit sembari melangkah masuk ke dalam kamar.


Ari tak menjawab. Hanya memberikan seulas senyum yang dipaksakan.


Radit mengabaikan senyuman itu. Ia menghampiri Ari dan duduk di sebelahnya. "Senang akhirnya kau kembali ke kamar ini, Ari."


Ari menatapnya datar. Hening terjeda di antara keduanya.


"Maafkan Kakak karena tidak bisa melindungimu dari musibah di sungai itu. Kakak juga tidak bisa menemukanmu." Radit memberikan tatapan menyesal.


"Maaf juga karena Kakak akhirnya menikah dengan Kiran," imbuhnya.


"Kakak tidak perlu minta maaf, Kak. Semua bukan salah Kakak. Tapi jika Kakak ingin memperbaiki semuanya, Kakak tinggal mengembalikan Kiran pada Ari. Maka semua hal yang Kakak ucapkan tadi terbayar sudah."


Radit sudah bisa menebak kata-kata ini jadi pria itu sudah tidak kaget lagi. Ia tersenyum tulus.


"Kakak minta maaf karena permintaan maaf Kakak di poin terakhir karena memang Kakak tidak bisa mengubahnya. Sampai kapan pun Kakak tidak akan pernah menceraikan Kiran."


Ari menatapnya datar.


"Belajarlah menerima Ari. Bisa jadi ada jodoh yang lebih baik untukmu dari Allah. Bisa jadi jodoh itu yang terbaik menurut Allah yang memang tepat sebagai pasanganmu."


"Bisa jadi ...," Ari bergumam, sinis.


"Pernikahan itu merupakan ikatan yang kuat, Ari. Menghancurkan sebuah rumah tangga merupakan sebuah dosa besar. Kakak tidak ingin kau menjadi pelakunya."


Ari terdiam, membisu.


"Tidak masalah bagi Kakak jika kau dan mama membenci Kakak. Itu lebih baik dibanding kalian harus mendapatkan dosa besar karena perpisahan kami. Meski mungkin bayangan seorang Kakak telah hilang di hatimu karena masalah ini. Tapi kau harus tahu kalau kau tetaplah adikku. Aku akan selalu menyayangimu."


Ari terpana mendengar penuturan Radit. Kakaknya itu memperlihatkan senyuman yang membuat hatinya bergetar.


"Kakak pergi dulu. Kau harus lebih menjaga diri. Jangan lakukan hal konyol lagi dengan keluar malam-malam dengan tujuan yang jauh. Jika ragu akan keselamatanmu, kau bisa menghubungi Bara. Minta pengawal padanya untuk menemanimu."


Setelah mengucapkan itu, Radit menepuk paha Ari pelan, bangkit kemudian mengucapkan salam.


Ari menjawab salam Radit pelan tanpa didengar pria itu sebab terus melangkah menuju pintu tanpa menunggu jawaban salam adiknya.


Ari merasa aneh. Radit berkata seakan dia hendak pergi jauh. Ari hanya tercenung menatap punggung Radit yang kemudian hilang dibalik pintu.


❤❤❤💖


Gak apa2 ya part ini sedikit. Syukurin aja ya sayang2 aku....


Dengan bersyukur insya Allah akan Allah tambah nikmatnya.


Mohon maaf, author lagi kena penyakit malas nulis lagi. Maafkan kelemahanku ini. 😘