Behind The Boss

Behind The Boss
Terbuka



Readers ....🤗🤗🤗


Untuk part ini mungkin agak memusingkan ya. Karena percakapannya dibuat bersambung dengan latar berbeda.


Semoga tetap masih bisa menikmatinya. Happy Reading!


❇❇❇


"Bagaimana kabar Mahesa?" tanya Kamil memulai pembicaraan antara dirinya dan Radit.


"Alhamdulillah Papa baik, Pa. Ehmm, saya boleh panggil Papa sekarang kan?" Radit berbicara dengan bahasa formal.


Papa Kamil terkekeh. "Ya tentu saja. Kalian sudah menikah kan?"


Radit mengangguk, sungkan. Ia ingat betul, dulu dirinya sangat takut dengan pria yang ada di hadapannya ini. Namun kini mertuanya telah berubah. Dia malah terlihat hangat dan ramah.


"Bagaimana perasaanmu bisa menikahi anakku?" tanya Papa Kamil dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Sudah pasti senang, Pa." Radit menjawab apa adanya. Kalem.


"Bagaimana kalian bisa menemukan kami?" tanya Papa Kamil lagi.


Radit menghela nafas pelan. "Jika boleh, sebelum menjawab pertanyaan Papa, Radit ingin mengajukan beberapa pertanyaan dulu."


"Silakan."


"Kenapa Papa sampai melakukan semua ini? Sampai harus berpura-pura meninggal dan membiarkan Karina sendirian?" tanya Radit.


Papa Kamil menghela nafas berat. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Terdiam beberapa saat.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin begini. Kami terpaksa."


Di kamar ....


"Mama meninggalkan kalian karena takut Sandi akan menyakitimu, Karina. Mama menghilang dan pergi sejauh-jauhnya." Mama Rina mulai bercerita. Kiran diam mendengarkan.


"Mama tahu pada saat itu pasti Papa dan Karina akan sedih, tapi bayangan ketakutan akan kehilangan Karina lebih besar dibandingkan dengan kesedihan karena harus meninggalkan kalian berdua. Maka Mama memberanikan diri untuk pergi."


"Mama nggak mengambil pilihan yang ditawarkan oleh Sandi. Karena Mama takut terikat seumur hidup dengannya. Jadi Mama pergi ke suatu tempat yang tidak pernah terpikirkan olehnya dan Papamu, Nak."


"Hari itu sangat sulit bagi Mama. Tapi pertolongan Allah selalu ada. Pada hari di mana Mama pergi ke tempat itu, Mama menemukan rumah makan yang sedang butuh orang untuk bekerja. Mama akhirnya bekerja sebagai pembantu di rumah makan itu."


Kiran menatap Mama Rina dengan sedikit terkejut. Ternyata berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya saat melihat Papanya muncul bersama Mama. Ternyata memang Mama meninggalkan mereka. Tadinya Karina berpikir, Mama pergi karena sudah meminta persetujuan Papa.


"Kenapa Mama nggak cerita ke Papa? Papa kan bisa bantu Mama. Jadi Mama nggak perlu sampai menderita begitu." Akhirnya, keluar juga suara Kiran yang sedari tadi hanya diam membisu.


"Saat itu Mama lihat sendiri bagaimana sedihnya Papa karena perubahan Sandi padanya. Itu semua sudah menjadi pukulan berat baginya. Dan itu semua terjadi karena Mama. Mama tidak ingin menambah beban Papa ...," ucap Mama lirih, menundukkan pandangannya.


Di ruang tamu ....


"Sandi .... Awalnya dia adalah adik yang selalu menghormati Papa. Tidak pernah sekalipun berani membantah Papa. Bahkan jika bisa dibilang dia takut kepada Papa. Namun, dia berubah drastis menjadi kian berani dan membenci Papa karena Papa menikahi Mama. Rina merasa bersalah atas itu, maka dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kami."


Suara Papa Kamil terdengar sedih. Seakan ia sedang kembali pada masa kepahitan itu terjadi. Radit bisa merasakan kesedihan yang teramat dalam itu.


"Papa mencarinya. Papa mengerahkan seluruh informan yang Papa punya. Papa puasa, salat tahajud, salat hajat agar Allah memberikan Papa petunjuk agar menemukan Mama. Setelah setahun lebih akhirnya kami bertemu ...."


Di kamar ....


"Saat Mama bertemu Papa untuk pertama kalinya setelah Mama pergi, Mama sangat sedih Karina. Papa semakin kurus dan terlihat tidak ceria dan semangat seperti sebelum Mama tinggalkan. Papa terlihat menyedihkan. Mama jadi merasa bersalah bukan hanya pada Papa tapi juga padamu, Nak. Papa jadi verubah seperti itu karena Mama, lalu bagaimana dengan dirimu."


"Setelah berdiskusi dengan Papa, akhirnya kami sepakat untuk hidup terpisah dulu. Papa membuat sebuah rencana agar kita bisa bersama lagi. Tapi Sandi ..., dia punya mata-mata yang bisa tahu lokasi kita di mana pun kita berada karena kamu masih sekolah, Nak."


Dada Karina terasa sesak. Jadi karena itu ..., karena itu maka mereka tidak bisa bersama dan dia harus berganti nama?


"Jadi rencana Papa berubah. Jika ingin Karina tetap sekolah sampai perguruan tinggi maka kita harus berpisah. Karina juga harus punya nama dan kartu keluarga baru. Karina juga tidak boleh terlihat terkait dengan kami. Baik hanya melalui foto. Karena Sandi akan tahu."


Di ruang tamu ....


"Sampai seperti itu kebenciannya, Pa?" tanya Radit tidak percaya.


"Ya. Papa bahkan tahu kalau mereka akan menghalangi Karina masuk perguruan tinggi baik swasta maupun negeri jika masih memakai nama Karina."


"Darimana dia bisa melakukan itu?" tanya Radit tidak percaya. Jika hanya sebagai direktur setara dengan TJ, mustahil dia punya kekuatan seperti itu.


"Dia hanya boneka. Dalangnya bersembunyi di belakangnya. Mereka menggunakannya karena mereka tahu kalau Papa tidak akan sampai hati melawan Sandi."


Radit sedikit terkejut. Namun ia tersenyum tipis. "Maksud Papa Sonya?" tebaknya to the point.


"Kenapa kau bisa berpikir ke sana?" tanya Papa Kamil sambil tersenyum simpul.


"Saya hanya menebak, Pa. Karena Sonya kan ibu kandung Paman Sandi."


"Ya, kau benar. Tapi juga salah. Sonya memang berperan menjadi angin yang selalu meniup permusuhan di hati Sandi. Tapi dia juga boneka."


Radit terkesiap. Apa mungkin tebakannya selama ini benar, jika ada keluarga Widjadja lain berada di balik penyerangan Ari?


"Jadi maksud Papa ...."


"Ya, ini menyangkut keluarga besar kami. Kau beruntung Radit. Kau lahir sebagai konglomerat generasi ketiga dari keluarga Makarim. Meskipun secara garis besar kau generasi kedua. Keluarga Makarim besar di tangan Papamu. Dan Mamamu tidak punya saudara lain yang memperebutkan perusahaan kalian. Jadi keluarga kalian minim konflik. Sementara Keluarga Widjadja tidak begitu."


"Jadi memang benar jika mungkin ada campur tangan anggota keluarga Widjadja lain?" tanya Radit menatap sang mertua dengan serius.


"Jadi kenapa Papa menolaknya?"


"Papa memikirkan Sandi. Dia akan semakin terluka jika Papa mengambil kesempatan itu."


"Lalu kenapa Kakek Widjadja hanya percaya pada Papa dan tidak memercayai anggota keluarga lain?" tanya Radit penasaran.


"Entahlah. Mungkin ada pertimbangan lain yang dipikirkan Kakek." Papa Kamil seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa Pa? Ada yang Papa sembunyikan?" tebak Radit, melihat jawaban sang mertua menggantung.


Papa Kamil menghela nafas pelan. "Lebih baik tidak usah kita bahas ya. Yang jelas, sekarang Papa sudah bebas dari itu semua. Keruwetan itu memang sudah selayaknya Papa tinggalkan."


"Tapi bagaimana dengan Karina? Apa Karina akan aman dari gangguan jika mereka tahu Karina adalah anak Papa?"


Papa Kamil terkesiap. "Papa pikir mereka tidak akan menyakiti Karina. Mereka hanya ingin Papa menghilang. Tapi kalau Sandi ...."


"Sandi sudah tahu semuanya, Pa. Dia terlihat menyesal sekali. Dia tidak akan menyakiti Karina lagi. Pekan lalu kami mengunjungi rumah Nenek Tutik. Beliau sebelumnya mengobrol dengan Kiran. Membicarakan kesalahpahaman yang terjadi. Setelah Nenek Tutik tahu semuanya, ia bahkan sampai sakit mengetahui kebenaran yang terjadi. Papa tidak ingin kembali dan menjenguk Nenek?"


"Sandi sudah tahu? Mama Sakit? Bagaimana mungkin ...?"


"Iya. Papa mungkin heran darimana kami mengetahui semua ini. Semua terkuak berawal dari kematian adik Radit."


Papa Kamil terkesiap. "Adikmu? Ari?" tanya Papa Kamil tak percaya.


"Ya. Dia meninggal pada malam saat dia menuju ke sini. Malam itu dia mengundang teman-temannya agar datang pada hari akad nikahnya bersama Karina. Saat dia membawa foto Papa sekeluarga. Temannya mengenali Papa dan Mama. Kata Bowo, teman Ari waktu itu, dia mengenali Papa dan Mama. Dia pernah makan di rumah makan Papa dan Mama."


"Ah ..., jadi?"


"Malam itu juga dia menempuh perjalanan ke sini. Tapi di tengah perjalanan dia diserang hingga kemudian mobilnya masuk ke dalam sungai dan tenggelam."


"Tunggu dulu. Jadi maksudmu sebelum menikah denganmu, Karina tadinya akan menikah dengan Ari, adikmu?" tanya Papa Kamil memastikan apa yang ditangkapnya dari ucapan Radit.


"Ya." Radit menjawab dengan malu.


"Jangan bilang, akhirnya kau menikahi Karina karena kau menggantikan Ari?"


"Iya. Memang seperti itu, Pa." Radit bertambah malu.


"Jadi Ari meninggal karena itu?"


"Ya."


"Ini berita sedih sekaligus bahagia kalau begitu."


"Maksud Papa?"


"Ya. Berita sedih karena Ari, adikmu meninggal. Bahagianya karena akhirnya kau dan Karina bersatu." Papa Kamil yang tadinya sedih mendengar kabar kematian Ari berubah sumringah.


Radit terdiam. Hah?


"Wajahmu terlihat bingung. Sekarang Papa tanya, apa kau tidak senang setelah tahu kalau Karina yang menjadi istrimu?"


"Ya-ya seneng Pa." Radit merona.


Kok jadi malu ya bolak balik ditanyain Papa. Padahal kalo boleh jujur seneng banget malah. Yah, asal Papa nggak tahu bagaimana sikapku pada putrinya sebelum aku tahu kalau dia itu Karina ....


Papa Kamil terkekeh. "Apa kau tidak heran, kenapa bisa dia sampai di TJ?"


"Hah? Iya heran Pa. Pada awalnya." Radit ingat, ia pikir Karina punya motif khusus masuk ke TJ.


"Papa memang sengaja mengarahkan agar Karina masuk ke TJ. Agar ia bertemu denganmu."


Radit menaikkan satu alisnya. "Bertemu denganku?"


Papa Kamil tertawa. "Ya kalian kan sudah terikat cinta mati satu sama lain. Kau kira aku menggiringnya ke TJ hanya untuk jabatan sekretaris itu aja? Tentu agar kau menemukannya. Kau mencarinya kan?"


"Papa tahu?"


"Papa sempat mengetahuinya. Papa sempat memergoki orang suruhanmu. Tapi yang paling penting juga karena Karina juga mencintaimu. Dia sampai tidak bisa mencintai pria lain selainmu."


Radit kaget. Mencintaiku? Hingga tidak bisa mencintai pria lain?


"Tapi dia kan berpacaran dengan Rangga, Pa. Dan akan menikah dengannya sebelum akan menikah dengan Ari. Lalu kenapa Papa bisa bilang Karina mencintai saya hingga tidak bisa mencintai pria lain?"


"Haha ... dari pertanyaanmu, sepertinya kau belum tahu ya. Memang sih, yang namanya wanita itu pemalu. Karina juga begitu. Dia nggak pernah pacaran apalagi dekat dengan pria lain karena mencintaimu. Dia selalu mengenang sahabat masa kecilnya yang entah di mana. Papa berulangkali mengingatkan dia untuk melupakanmu namun dia selalu diam. Papa tahu dia nggak berani membantah Papa, tapi sebenarnya dia juga nggak bisa merubah hatinya."


"Jika mungkin akhirnya dia mau menikah dengan Rangga ..., ya Papa tahu. Dia teman SMA Karina ya. Pasti karena sungkan makanya begitu. Sungkan atau mungkin kasihan ...."


Hati Radit berbunga. Ia senang luar biasa. Wajahnya berubah cerah lebih dari biasa. Dia mencintaiku .... Dia nggak melupakanku ....


"Hahaha .... Wajahmu seperti orang yang baru jatuh cinta." Papa Kamil kembali terkekeh.


Radit berdehem, kembali fokus. "Kalau boleh Radit bertanya, Pa. Apa Papa pernah menyesali semua ini? Karena efek dari pernikahan ini bukan hanya pada Papa dan Mama namun juga Karina?"


Papa Kamil tersentak mendengar pertanyaan Radit. Ia terdiam, menatap kedua manik mata Radit dalam.


❤❤❤💖