Behind The Boss

Behind The Boss
Ternyata dia



Erlangga tertegun melihat reaksi semua orang yang menatapnya dengan tatapan terkejut. Terlebih Nala yang seakan tak mengenali dirinya.


Beberapa detik kemudian, Erlangga pun tersadar dengan apa yang terjadi. Betapa dia lupa jika dirinya tidak boleh terkena air jika berada di hadapan banyak orang karena make up-nya pasti akan luntur.


"A-Angga, ini wajah aslimu?" tanya salah seorang di antara mereka.


Erlangga kebingungan menjawab pertanyaan itu. Dia sama sekali tidak menyangka jika hari ini akan tiba. Wajah aslinya akan ketahuan oleh semua orang. Dan jika ini terjadi, maka semua orang tahu jika dia adalah Erlangga Armadja.


"Aku seperti tidak asing dengan wajahmu. Siapa, kau?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.


"Astaga, Ya Tuhan!" Salah seorang terlihat terkejut ketika melihat ponselnya dan mencocokkan wajahnya dengan Erlangga.


"Kenapa, Vin?" tanya temannya dengan tatapan heran.


"Di-dia!" Wanita yang bernama Vina langsung menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto yang merupakan foto Erlangga.


Putra Bungsu Reyza Armadja. Erlangga Armadja, pemilik nama pimpinan pertama yang mendirikan perusahaan Armadja. Sosoknya yang tertutup hingga tak banyak orang tahu bahwa dia adalah keturunan Armadja.



Mata mereka membola sempurna ketika melihat wajah di dalam artikel itu adalah wajah milik Erlangga.


"Ja-jadi kau Erlangga? Erlangga Armadja?"


Bagas yang mengetahui bahwa Angga adalah Erlangga langsung berkeringat dingin. Dialah orang yang selama ini menjadi bulan-bulanan Bagas karena iri padanya. Pantas saja Erlangga begitu mudah mendapatkan posisinya saat ini. Ternyata dia adalah keturunan keluarga kaya itu.


"Tu-Tuan, maafkan jika selama ini kami salah. Jangan pecat kami."


Erlangga tak menjawab, namun matanya terus menatap Bagas yang masih terdiam membisu. Wajahnya terlihat pias, berkeringat, dan penuh ketakutan.


Namun Nala, dia menatap Erlangga dengan tatapan penuh kekecewaan. Tampaknya dia sangat marah ketika mengetahui bahwa Airlangga adalah orang kaya. Jenis orang yang sangat dibencinya karena menurutnya orang-orang seperti itu akan menggunakan kekuasaan mereka untuk menindas yang lemah dan menghina yang miskin.


Nala pun segera pergi dari tempat itu dan disusul oleh Erlangga. Dia berlari menuju ke luar. Namun, ketika melihat jalanan yang sudah gelap dan sepi, dia pun langsung berhenti karena tak tahu harus pulang naik apa. Dia tidak bisa mengendarai mobil, terlebih mobil itu bukan miliknya.


Erlangga yang masih dalam keadaan basah kuyup pun berhasil menyusulnya. Meski dia harus menggigil karena menahan dinginnya malam akibat tubuhnya yang basah kuyup, dia tetap mengejar Nala karena tak ingin sang pujaan hati pergi meninggalkannya.


"Berhenti!" Nala yang merasakan bahwa saat ini Erlangga sedang berjalan di belakangnya langsung mengeluarkan kalimat perintah itu.


Erlangga langsung berhenti dan menatap punggung Nala. Dia tahu bahwa hari ini pasti akan terjadi. Nala pasti akan mengetahui bahwa dia adalah keturunan konglomerat.


"Kalau aku jujur sejak awal, apa kau akan menerimaku?"


"Ya, tentu saja aku akan menerimamu."


"Tidak, kau tidak akan menerimaku. Kau akan menjauhiku sebelum kau mengenalku terlebih dahulu."


"Sudah aku katakan bahwa aku membenci orang kaya! Mengapa kau tidak menjauh juga? Apa kau mencoba mempermainkan perasaanku? Kau ingin menunjukkan padaku bahwa kau berhasil melakukannya? Ya, kau menang. Kau memang telah berhasil melakukannya. Selamat."


"Tapi, aku sangat mencintaimu. Aku tidak pernah sedikitpun berniat untuk menipumu. Sejak awal, kedatanganku ke kota itu memang untuk mencari jati diriku. Percayalah, aku tidak terlalu suka hidup dengan embel-embel nama belakang keluargaku. Aku selalu diperlakukan layaknya raja, padahal aku ingin diperlakukan seperti orang biasa. Bahkan teman pun aku tak punya karena mereka mau berteman denganku demi harta saja. Dan kekasih? Awalnya aku tidak berniat untuk mencari pendamping. Tapi kau datang dan mengubah semuanya. Kau membuatku percaya apa artinya cinta. Nala, aku sungguh sangat mencintaimu."


Erlangga mencoba melangkah maju. Namun, Nala langsung berbalik dan menyetopnya dengan tangannya.


"Kau tidak berhak mendekati aku."


"Nala, apakah kau takut keluargaku memperlakukanmu seperti Hery?"


Nala tidak langsung menjawab, matanya menatap ke arah lain dengan tatapan lirih.


"Semua orang kaya sama saja. Mereka akan memperlakukan orang miskin semena-mena!"


"Tapi keluargaku tidak seperti itu. Mereka menghargai setiap orang dari mana dan seperti apapun hasilnya."


"Mengarang adalah pekerjaan yang sangat mudah, Angga, maksudku Erlangga Armadja," ucap Nala sinis.


"Buka ponselmu dan carilah berita tentang sepupuku, Davin Pramudya dan Cahaya Mentari. Kisah hidupnya mungkin akan membuatmu memahami bahwa kami bukan keluarga seperti itu. Kalau itu belum cukup, kau juga bisa mencari artikel tentang kakek dan nenekku. Sean Armadja dan Viana. Dia juga wanita dari kalangan biasa."


Erlangga pun masuk ke dalam. Dia segera menelpon pengawal yang memang memantaunya dari jauh.


Setelah pengawalnya datang, dia pun langsung pulang karena keberadaannya di sana hanya akan membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.


"Jika kau sudah berubah pikiran, telepon aku dan aku akan datang untukmu."


Erlangga pun segera pergi dengan pakaiannya yang sudah diganti.


Nala menatap kepergian mobil Erlangga dengan tatapan mata berkaca-kaca. Dia juga bingung harus bagaimana karena dirinya yang sedang dilema. Di satu sisi, dia masih mencintai Erlangga. Namun, di sisi lain, dia juga takut masuk ke kehidupan orang kaya yang menurutnya sangat menyeramkan.