
Beberapa bulan sudah berlalu.
Hari ini, Nala dan Erlangga sedang bersiap karena malam ini mereka akan datang ke sebuah pesta yang diadakan oleh manager mereka.
Pesta itu diadakan di sebuah villa yang merupakan milik sang manager. Saat ini, mereka berada di belakang villa yang terdapat kolam renang. Mengadakan pesta barbeque untuk menikmati suasana malam yang indah.
"Ini untuk merayakan keberhasilan tim kita dalam mencapai target," ucap Bagas sambil mengajak para bawahannya untuk bersulang bersamanya.
Semua orang terlihat mengangkat gelas mereka dan saling membenturkan gelas, lalu meminumnya.
Pesta ini memang diadakan di malam weekend karena mereka akan menginap di sana. Banyak sekali kamar yang ada di villa besar itu sehingga mereka mendapatkan jatah satu orang satu kamar.
Namun, sampai sekarang, Bagas masih menaruh rasa tak suka pada Erlangga dan Nala yang menurutnya tidak pantas mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan Armadja. Mereka dipindahkan dari cabang perusahaan terkecil ke perusahaan inti yang terletak di ibu kota.
Sedangkan dirinya berjuang dari bawah untuk mendapatkan posisinya sekarang. Bahkan sangat sulit rasanya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di perusahaan besar itu, apalagi di posisi sekarang mengingat dia menjadi karyawan selama sepuluh tahun. Sedangkan Erlangga diangkat dari cleaning service di perusahaan kecil menjadi karyawan tetap di perusahaan besar. Menurut Bagas, ini semua tidak adil untuknya.
"Hei, Angga, dimana kota asalmu," ucap Bagas saat mereka sedang duduk sambil menikmati minuman.
"Di kota B, Pak," sahut Erlangga dengan ramah.
"Bisakah kau ceritakan pengalamanmu saat bekerja di cabang perusahaan sebelumnya?"
"Tidak ada yang istimewa, Pak. Saya hanya bekerja di sana sampai akhirnya dipindahkan ke sini. Yang saya tahu, perusahaan itu beberapa kali berganti pimpinan karena kasus pimpinan pertama."
"Memangnya seperti apa pekerjaanmu di sana sehingga kau dipindahkan ke perusahaan besar, bahkan diangkat dari cleaning service menjadi karyawan tetap? Menurut saya, itu adalah sesuatu yang mustahil karena kalau belum memiliki banyak pengalaman kerja di perusahaan itu." Bagas mulai menyerang Erlangga dengan beberapa pertanyaan yang menyudutkannya.
"Saya hanya bekerja tanpa cuti, Pak."
Semua terdiam mendengar ucapan Erlangga. Mereka semua tahu, bahwa kunci utama menjadi perhatian perusahaan itu adalah kerajinan dan ketekunan dalam bekerja.
"Kau tidak pernah mengambil cuti sekalipun?" tanya salah seorang diantaranya.
"Tidak, saya hanya libur ketika tanggal merah. Dan jatah cuti saya tidak pernah saya ambil selama bekerja."
Jelas saja Erlangga tahu karena dia kan salah satu keluarga Armadja.
"Tapi cukup aneh karena kau naik jabatan dengan singkat. Sedangkan saya butuh waktu selama bertahun-tahun."
"Tapi itu semua tergantung rezeki, Pak." Kini Nala menyahut karena semakin tak suka dengan perilaku Bagas yang semakin menyudutkan kekasihnya.
"Kau kekasihnya, kan? Saya melihat kalian berdua selalu bersama di setiap kesempatan. Duh, jangan mentang-mentang di perusahaan memperbolehkan berhubungan, lantas kalian sesuka hati tanpa memperhatikan sekitar."
"Memangnya kami melakukan apa, Pak? Apakah makan bersama setiap istirahat dan pulang pergi bersama adalah hal yang tidak diperbolehkan?" tanya Nala semakin sengit.
"Memangnya siapa yang bodoh, Pak?"
"Saya kan hanya menasihati saja. Kenapa malah marah? Jangan pernah lupa jika saya adalah atasan kalian! Tanpa saya, mana bisa kalian menikmati jalan-jalan gratis seperti ini? Kalian kan orang susah yang berasal dari kota kecil." Bagas mulai membandingkan kasta mereka.
"Maaf, Pak, bukankah dulu Bapak pernah menyuruh Erlangga mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya dilakukan satu tim? Bahkan ketika saya ingin membantunya Bapak tidak memperbolehkan. Dan ketika CEO datang, Bapak malah memutarbalikkan fakta. Apa memang begitu cara kerja seorang manager?"
Ucapan Nala rupanya mengundang emosi Bagas yang merasa sikap buruknya diumbar. Padahal, semua anggota tim juga mengalaminya, namun tak ada satupun dari mereka yang mau speak up.
"Kalian baru beberapa bulan bekerja dengan saya, tapi sepertinya kalian suka mencari masalah dengan saya!" Bagas berdiri dan menatap Erlangga serta Nala tajam.
Sedangkan anggota yang lain terdiam melihat Bagas yang mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah, Nala, sudah. Saya minta maaf, Pak," ucap Erlangga yang membuat Nala tidak terima.
"Asal kalian tahu, CEO itu sangat dekat dengan saya! Dan jika saya mengatakan bahwa kalian sudah tidak layak lagi bekerja di perusahaan, maka kalian pasti akan dipecat! Masih berani sama saya!" Bagas semakin menggila. Bahkan suaranya terdengar menggelegar.
"Iya, Pak, maaf, saya tidak tahu jika Bapak dekat dengan CEO."
"Dan kau! Selain wajahmu j*lek, ternyata kau juga sangat lemah dan payah! Bagaimana bisa ada orang yang menyukaimu?"
"Hei, Pak, mengapa harus menghina fisik? Bapak sendiri juga j*lek, giginya kuning, nafasnya bau!"
Ucapan Nala rupanya semakin membuat Bagas emosi.
"Sudah, Nala, sudah. Tidak ada gunanya melakukan ini." Erlangga mencoba menenangkan Nala yang semakin terbakar emosi.
"Aku tidak tahu bagaimana orang tuamu bersyukur memiliki anak b*ruk rupa seperti dirimu. Ah, atau keluargamu juga b*ruk rupa, ya?"
Mendengar ucapan Bagas mengenai orang tuanya, membuat Erlangga terpancing emosi. Namun, dia tidak mau melayangkan pukulan terhadap Bagas. Dia hanya menarik tangan Nala untuk pergi dari sana.
Namun, baru saja Bagas melangkah, tiba-tiba saja Bagas mendorongnya hingga dia jatuh ke dalam kolam renang.
Tentu saja hal itu sangat mengejutkan semuanya termasuk Nala.
Mereka berdiri untuk melihat keadaan Erlangga yang terlihat remang-remang karena minimnya cahaya lampu belakang.
Erlangga pun segera naik dengan dibantu Nala dan juga beberapa orang yang ada di sana.
Salah seorang memberikannya handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Akan tetapi, ketika Erlangga selesai mengusap wajahnya dengan handuk tersebut, seketika semua orang pun terkejut.
Semua jerawat dan bopeng yang ada di wajahnya hilang seketika. Berganti menjadi wajah tampan nan rupawan. Wajah yang sangat mulus seperti kulit bayi. Alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya yang kemerahan, dan sorot matanya yang indah karena tak tertutup kacamata lagi.