Behind The Boss

Behind The Boss
Kejutan Besar



Sepasang suami istri sedang menikmati makan cemilan sambil menonton televisi. Saat itu mereka sedang berada di ruang tengah rumah mereka. Area tempat mereka bersantai.


"Pa, ada suara mobil berhenti," ucap sang istri pada suaminya, menyadari ada suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah mereka lalu berhenti.


"Coba Papa lihat ya, Ma," suaminya berinisiatif. Secara perlahan berjalan menuju ruang tamu. Mengintip dari balik jendela nako berwarna hitam yang terbuka separuh. Rumah itu masih menggunakan jendela model lama. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik dinding.


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu terkesiap saat seorang wanita muda turun. Ia mengusap wajahnya. Memastikan bahwa pandangannya tidak salah. Hatinya bergetar. Kerinduan memancar dari kedua manik matanya.


"Siapa Pa?" bisik istrinya. Tiba-tiba saja ia sudah berada di belakang suaminya.


Suaminya memberikan ruang untuk si istri mengintip. Wanita itu terbelalak kaget. "Dia ...?" sebuah pertanyaan menggantung, mengalir dari bibirnya yang bergetar.


"Iya. Dia putri kita. Akhirnya dia menemukan kita," jawab sang suami bijak. Tanpa diketahui sang istri, dia mengusap sudut matanya yang basah.


Terdengar suara salam yang diberikan dari seorang pria. Pria itu bersama si wanita yang turun dari mobil tadi. Menyita perhatian sepasang suami istri tadi.


"Apa nggak apa-apa kita jumpai mereka, Pa?" tanya sang istri menatap suaminya dengan penuh pengharapan. Seolah bukan bertanya namun memohon.


Sang suami mengangguk. "Sudah saatnya. Mari kita temui dia."


Salam masih terdengar. Si Istri langsung melangkah dengan cepat, menghampiri pintu dan membukannya. Menimbulkan suara berderit. Sesuai dengan isi hatinya yang juga berderit. Tangannya bergetar. Air matanya sudah mengambang.


Krieetttt!


Suara pintu tua berderit. Sesosok wanita menyembul keluar. Seorang wanita paruh baya dengan jilbab instannya. Matanya berkaca-kaca.


Kiran yang tadinya tak melihat ke arah pintu, begitu terdengar bunyi derit pintu, mendadak menoleh, melihat ke arah pintu itu. Ia tersentak kaget. Menatap sosok wanita itu tak percaya. Sebuah kata lolos dari bibirnya tanpa ia pinta.


"Mama ...???"


"Karina ...." balas wanita paruh baya itu dengan bibir bergetar. Kristal bening mulai menuruni pipinya.


Karina bergerak, melangkah secara perlahan, mendekat. Namun urung saat pintu yang terbuka sebagian itu, secara perlahan terbuka lebar. Menampilkan satu sosok yang membuat Kiran kaget luar biasa. Air matanya jatuh sendiri tanpa diminta.


"Pa ... pa ...," ucapnya bergetar. Merasa tak yakin atas apa yang ia ucapkan. Berulangkali memastikan matanya bahwa apa yang dilihatnya benar. Ya, dia memang sang papa!


Sosok pria paruh baya itu, masih dengan ketegasan yang sama, memandangnya dengan lembut. "Karin ...," ucap pria itu lirih.


Kiran tersentak kaget kemudian terhuyung ke belakang. Ia terdiam beberapa saat. Setelahnya seketika ia memalingkan muka, bergerak ingin melangkah pergi. Namun sebuah tangan kekar menahannya.


"Kau mau kemana?" tanya Radit menghentikan Kiran.


"Mari kita pergi dari sini, Radit," ucap Kiran tegas.


"Kita dengarkan dulu." Radit mencegah, masih menahan lengan Kiran.


"Kau sudah tahu kan? Kenapa tidak kau katakan sejak awal?" Kiran menatap Radit nanar. Menatap dengan penuh air mata.


"Aku hanya ingin memberi kejutan padamu, Karina. Mohon maaf jika aku salah. Tapi sekarang kita kan sudah sampai di sini. Jadi lebih baik kita masuk dulu dan bicara."


"Aku nggak mau!" sahut Kiran ketus.


"Kenapa? Mereka itu kedua orang tuamu, Karina ...."


"Bukan. Kedua orang tuaku telah meninggal. Mereka bukan orang tuaku," sahut Kiran dengan suara bergetar.


"Mereka ...."


"Mereka telah membuangku, Radit. Mereka telah membuangku. Kenapa kau tidak mengerti!" bantah Kiran cepat. Tubuhnya merosot. Berjongkok sambil menutup kedua wajahnya, dia terisak.


Wanita paruh baya yang merupakan mama Kiran---Rina mendekat, begitu melihat putrinya menangis sambil menekuk lutut.


"Maafkan Mama, Nak .... Maafkan kami, Nak." Ia menghampiri Kiran kemudian memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.


-


❇❇❇


Kiran duduk dengan kepala tertunduk. Rina masih memeluknya dari samping. Radit duduk di samping sebelah Kiran. Menggenggam jemari wanita itu dengan erat. Kamil duduk di hadapan mereka.


"Papa bingung harus menjelaskan mulai darimana. Tapi Papa hanya ingin Karin tahu bahwa Papa dan Mama terpaksa melakukan ini, Nak." Kamil memulai pembicaraan setelah mereka hening beberapa lama. Hanya terdengar sedu sedan dari Kiran dan Rina. Kamil juga merasakan kesedihan yang sama. Namun ia menahannya. Matanya hanya berkaca-kaca melihat putri yang sangat dirindukannya itu.


"Mungkin Karina membenci Papa karena selama ini telah membohongi Karina. Tapi Papa melakukan itu agar Karina bisa bahagia, Nak." Kamil menambahkan.


Kiran menengadah. Menatap wajah Papanya. Terlintas saat Papanya kehilangan nyawa di pangkuannya. Hatinya bergetar. Ia kembali terisak.


"Sudahlah Nak. Karina jangan menangis lagi. Mama jadi sangat sedih lihat Karina begini," ucap Rina lembut. Membelai kepala Kiran dengan lembut.


Beberapa saat mereka membiarkan Kiran kembali menangis sampai ia menjadi tenang. Tidak berapa lama azan maghrib pun berkumandang. Mereka pun salat maghrib berjamaah di ruang tengah.


Setelah salat, mereka makan malam berempat. Rina meminta Kiran dan Radit untuk menginap. Radit langsung menyetujuinya. Jalanan di daerah itu sangat gelap ketika malam. Maka lebih aman bagi mereka untuk kembali esok harinya.


Kiran telah kehilangan selera makan. Ia membisu sama sekali. Ia juga tidak pernah menatap kedua orang tuanya. Terutama sang Papa. Ia selalu mengalihkan pandangannya jika secara tak sengaja matanya menangkap sosok sang Papa.


Selesai acara makan malam sederhana, Kamil mengajak Radit mengobrol berdua di ruang tamu. Sementara Rina dan Kiran mengobrol di dalam kamar.


Rina mengambil sesuatu di dalam lemari. Setelah ia menemukannya, ia pun menunjukkannya pada Kiran yang masih membisu.


"Karina ingat ini apa, Nak? Baju ini lah yang selalu Mama peluk jika Mama rindu Karina."


Kiran melirik baju kaos panjang merah muda, beserta rok merah muda. Baju kesukaannya dulu waktu masih SD. Pantas ia mencari kemana-mana saat mamanya telah pergi. Ternyata baju itu dibawa oleh sang Mama.


Hati Kiran kembali berdesir. Dirinya sudah lelah menangis. Ia merasakan air matanya telah mengering, sudah habis. Sama seperti dirinya kini yang telah kehabisan kata-kata. Hanya kesedihan yang meliputi keseluruhan emosinya. Meski begitu, hatinya kenbali gerimis mendengar penuturan sang mama barusan.


❇❇❇❇


"Bagaimana kabar Mahesa?" tanya Kamil memulai pembicaraan antara dirinya dan Radit.


"Alhamdulillah Papa baik, Pa. Ehmm, saya boleh panggil papa sekarang kan?" Radit berbicara dengan bahasa formal.


Papa Kamil terkekeh. "Ya tentu saja. Kalian sudah menikah kan?"


Radit mengangguk, sungkan. Ia ingat betul, dulu dirinya sangat takut dengan pria yang ada di hadapannya ini. Namun kini ia melihat mertuanya telah berubah. Dia terlihat hangat dan ramah.


"Bagaimana perasaanmu bisa menikahi anakku?" tanya Papa Kamil dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Sudah pasti senang, Pa." Radit menjawab apa adanya. Kalem.


"Bagaimana kalian bisa menemukan kami?" tanya Papa Kamil lagi.


Radit menghela nafas pelan. "Jika boleh, sebelum menjawab pertanyaan Papa, Radit ingin mengajukan beberapa pertanyaan dulu."


"Silakan."


"Kenapa Papa sampai melakukan semua ini? Sampai harus berpura-pura meninggal dan membiarkan Karina sendirian?" tanya Radit.


Papa Kamil menghela nafas berat. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Terdiam beberapa saat.


❤❤❤💖


Maaf ya readers...


hari ini segini dulu...


ada kerjaan lain...🙏🙏🙏


〰〰〰〰〰〰〰😘😘😘〰〰〰〰〰〰〰〰