
Erlangga meminta sang sopir untuk mempercepat laju kendaraan. Sedangkan dua pengawal yang diperintahkan untuk mengawasi rumah Adnan terus memantau tempat itu.
Hingga saat mobil pengawal Adnan datang, mereka melihat seorang gadis dikeluarkan secara paksa dari dalam mobil tersebut.
Adnan yang menanti di depan pintu langsung tersenyum lebar dan menarik gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Mereka langsung melapor pada Erlangga bahwa sepertinya garis itu akan langsung dinikahi oleh Adnan.
Erlangga pun langsung menyuruh mereka untuk masuk ke rumah tersebut dan mengatakan bahwa sebentar lagi salah satu anggota keluarga Armadja akan datang untuk membicarakan tentang kerjasama.
Mereka pun langsung menemui Adnan dan menyampaikan hal tersebut agar prosesi akad nikah tidak jadi dilaksanakan.
"Tidak, katakan pada majikan kalian bahwa aku tidak bisa bicarakan tentang bisnis saat ini. Tidakkah kalian melihat bahwa aku akan menikah?" Adnan menatap tajam pada dua pengawal yang terlihat bingung.
Mereka tak hanya disuruh untuk menyampaikan hal itu saja, namun juga disuruh untuk memperlambat prosesi akad nikah sampai Erlangga datang.
Mereka pun kehabisan cara untuk mencegah pernikahan itu. Namun, sebuah mobil yang akan masuk dan diduga adalah mobil penghulu langsung membuat mereka memikirkan jalan pintas, yaitu menculik Pak penghulu agar dia tidak masuk ke pekarangan rumah dan menyempurnakan prosesi akad nikah itu.
Mereka langsung memberhentikan mobil itu secara mendadak dan menarik paksa Pak penghulu dari dalam mobil lalu menyeretnya ke dalam mobil mereka.
"Lepaskan! Saya mau menikahkan klien saya! Mau saya sampai agar kalian tidak dapat jodoh?"
"Maaf, Pak, kami hanya menjalankan perintah saja. Di dalam itu adalah sebuah pernikahan yang dipaksa. Apa Bapak tidak tahu yang mereka itu laki-laki yang berusia lima puluh tahun dan gadis dua puluh tahunan?"
"Saya tahu, tapi Pak Adnan bilang kalau wanita itu sangat mencintainya."
"Kalau ucapan itu bisa dikarang, Pak. Sudahlah, Bapak di sini saja sampai bos kami datang."
"Heh, memangnya siapa bos kalian?"
"Saya masih belum percaya pada kalian."
"Bapak lihat saja seragam kami. Ada simbol perusahaan keluarga kaya yang kami miliki di baju ini."
Pak penghulu langsung melihat simbol di baju mereka dan tertegun melihat bahwa mereka adalah pengawal di keluarga konglomerat.
"Saya tidak tahu kalau Tuan Sean akan menikah lagi."
"Aduh, jangan sembarangan berbicara, Pak. Bos kami itu cucunya Tuan Sean."
"Lalu, sampai kapan kita akan di sini? Saya ada janji menikahkan orang lain setelah dari sini."
"Sebentar saja, Pak. Begitu bos kami datang, Bapak akan kami perbolehkan pergi."
"Awas saja kalau kalian sampai bohong."
"Iya, Pak, kami berani jamin kalau kami tidak bohong. Mana mungkin kami mau mengambil resiko jomblo seumur hidup."
Merek pun ntar dia beberapa saat sambil memerhatikan sekitar. Nun jauh di sana, terlihat para pengawal Adnan yang panik karena mobil penghulu tidak ada penghuninya sama sekali.
Mereka berusaha mencari penghulu yang mereka kira tersasar ke rumah orang lain.
"Tuh, mereka sedang mencari Bapak. Lihat kan, semua wajah mereka sangat-sangar. Kelihatan sekali kalau mereka itu orang jahat."
"Wajah sangar belum tentu menandakan seseorang berhati jahat. Dan wajah lugu belum tentu menandakan seseorang berhati baik."
Ucapan sang penghulu langsung membuat mereka berdua diam seketika. Hingga tiba di saat yang sedari tadi mereka tunggu, akhirnya Erlangga muncul bersama sang sopir.