Behind The Boss

Behind The Boss
Berkelahi



"Apa katamu? Dasar gadis sial*n! Tidak tahu diri! Sudah miskin, jual mahal!"


Erlangga yang mendengar ucapan ucapan Hery langsung terpancing emosi dan melayangkan sebuah tinju ke wajah Hery.


"Berani sekali kau mengatakan itu pada Nala! Kau hanyalah seorang pengusaha yang dilakukan penggelapan pajak! Kau juga melakukan suap ke beberapa orang penting! Apa yang bisa kau banggakan dari itu semua?"


Hery tentu saja terkejut karena tiba-tiba saja Erlangga mengetahui seluk beluk perusahaannya.


"Tutup mulutmu! Aku bisa menuntutmu karena mencemarkan nama baikku!" Hery menunjuk wajah Erlangga dengan tatapan penuh kebencian.


"Silakan kau tuntut aku! Kau sudah pasti akan menyuap hakim seperti kau menyuapnya saat kasus korupsi yang dilakukan ayahmu!"


"Dasar kurang ajar!" Hery langsung melayangkan tinju ke wajah Erlangga. Namun, sebelum tangannya mendarat di pipi Erlangga. Tangan Erlangga sudah menahan tangannya hingga dirinya meringis kesakitan.


Tak disangka jika Erlangga memiliki tenaga yang cukup kuat.


"Lepaskan, sial*n!"


"Baik." Erlangga langsung melepaskannya namun dengan sedikit dorongan hingga Hery terjungkal ke belakang.


Dia pun berdiri dan menatap tajam Erlangga. "Kau! Dimana kau bekerja? Aku akan memberi perhitungan padamu!"


"Aku bekerja di perusahaan Armadja!"


"Aku akan pastikan kau dikeluarkan dari perusahaan itu!"


"Coba saja!"


Hery pun langsung meninggalkan tempat itu dengan hati yang sangat.


"Angga, dari mana kau tahu mengenai masalahnya? Bahkan kau sampai menuduhnya."


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik sekarang kita pergi."


"Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar membuatmu keluar dari perusahaan?"


"Kata mereka aku adalah pekerja terbaik sehingga aku dipindahkan ke sini. Begitu juga denganmu. Lagipula, perusahaan tidak boleh sembarangan mengecat karyawan tanpa alasan yang jelas."


"Hmmm."


"Tapi aku masih khawatir."


"Aku akan mencari pekerjaan lain di sini jika aku benar-benar dipecat."


"Tidak, jika kau dipecat, kita menikah saja. Biar aku yang mencari nafkah."


Erlangga tertawa lebar mendengar ucapan polos Nala yang sudah dibutakan oleh cinta.


"Jangan bodoh, Nala. Mana mungkin aku membiarkan seorang wanita mencari nafkah untukku. Aku akan tetap bekerja. Karena harga diri laki-laki adalah bekerja."


"Angga, aku jadi semakin tergila-gila padamu." Nala merangkul pinggang Erlangga dengan mesra, lalu mereka pulang ke Mess bersama-sama.


*****


Hery baru saja sampai di rumah. Wajahnya terlihat sangat masam, bahkan saat istrinya bertanya dia dari mana saja pun dia tidak menjawab.


"Mas, kau kenapa? Pulang-pulang jadi seperti ini."


"Sudahlah, Linda, aku pusing!" Hery membentak istrinya yang bernama Linda hingga sang istri mengeluarkan bulir air mata.


Hery yang melihat istrinya menangis bukannya melunak, malah semakin marah.


"Bisanya hanya menangis saja! Asal kau tahu, aku menyesal menikah denganmu yang sampai sekarang pun tidak bisa memberikan aku keturunan!"


"Apa kau tuli? Apakah kau lupa saat dokter mengatakan bahwa kaulah yang tidak sehat, bukan aku! Tapi kau selalu mengatakan pada keluargamu bahwa akulah yang bermasalah!"


Plakkk, terdengar suara tamparan keras yang mendarat di pipi Linda. Hery melayangkan tamparan ke pipi sang istri karena merasa harga dirinya di injak-injak.


"Awas jika sampai kau mengatakan ini pada keluargaku, aku tidak akan segan-segan habismu!"


Hery pun langsung pergi meninggalkan sang istri yang menangis tersedu-sedu. Dia segera menelepon sekretarisnya untuk mendapatkan kontak pimpinan perusahaan Armadja yang sekarang.


Dia mendapatkan kontak Radyen Armadja dan akan menemuinya besok.