Behind The Boss

Behind The Boss
Benarkah dia Karina??



Kumandang azan subuh tak terdengar sama sekali. Meski begitu, Kiran tetap bangun tepat waktu. Kebiasaan hariannya membuatnya bangun di waktu yang sama.


Setelah salat subuh, Kiran membangunkan Radit. Pada awalnya pria itu tampak enggan ketika Kiran bangunkan, namun setelahnya Radit bangun sendiri dan salat subuh. Setelahnya, pria itu tidur lagi. Kiran jadi heran, tak biasanya Radit tidur setelah subuh.


Untuk menghabiskan waktu, Kiran menghidupkan televisi dan menonton salah satu saluran yang dirasanya cukup menarik. Biasanya Kiran lebih suka membaca daripada menonton. Jika tidak ada buku, ia akan membaca bacaan yang dianggapnya menarik dari ponselnya. Ia juga biasa menghabiskan waktu dengan membaca Alquran dari aplikasi yang ada di ponsel. Sekarang ponselnya tidak ada, maka televisilah yang menjadi alternatif lain yang bisa mengisi aktivitasnya di kamar hotel ini. Sementara untuk tidur kembali, Kiran merasa itu bukan solusi terbaik.


Tanpa terasa sinar mentari semakin terang. Kiran membuka tirai, membiarkan cahaya matahari pagi memasuki kamar. Tak berapa lama Radit pun bangun. Kiran hanya melirik Radit yang bangkit dan beranjak dari tempat tidur.


Radit melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi. Perutnya mulas luar biasa. Alarm jadwal pembersihan perut setiap pagi memanggilnya.


Padahal tadinya ia berencana untuk tidur hingga Bara menjemputnya. Karena merasa canggung pada Kiran. Lintasan bayangan Kiran berjalan dengan baju kurang bahan itu selalu mengganggunya. Ia takut lepas kontrol lagi dan berbuat lebih jauh pada Kiran.


Setelah selesai, Radit menyeka wajahnya dengan air. Ia merasa segar kembali. Radit meraih sabun cair yang berada di atas wastafel namun ia terusik pada sebuah benda dingin yang ada di belakang sabun cair itu. Sebuah cincin kecil yang jadi mainan dari sebuah kalung.


Cincin kecil? Bentuknya ....


Radit meraih cincin itu dan mengamatinya. Ia begitu terkesiap saat tahu bahwa cincin itu adalah cincin yang seingatnya dulu ia berikan pada Karina. Radit mengamati bagian dalam cincin tersebut. Benar saja inisial RK terukir di sana.


Apa maksudnya ini? Kenapa cincin ini ada di sini? Apa Karina pernah menginap di hotel ini? Meskipun begitu, tetap saja tidak mungkin barang ini masih di sini. Sebab SOP hotel selalu mengecek kamar setelah tamu check out. Memastikan tidak ada barang hotel yang hilang ataupun barang tamu yang ketinggalan. Sepertinya cincin ini juga tidak ada saat aku masuk kamar mandi pertama kali. Lalu, apakah ini milik Kiran?? Mungkinkah?? Radit menggeleng cepat.


Radit memutar ingatan. Tentang mimpi berlari di bawah guyuran hujan. Kemudian besoknya ia melihat rambut basah Kiran sama seperti rambut basah Karina di dalam mimpinya.


Kemudian Kiran juga memeluknya tadi malam dengan memanggil Raksasa. Sebutan yang diberikan Karina padanya. Apapun itu, ia harus memastikannya agar semua jadi jelas.


Dengan tergesa Radit keluar dari kamar mandi sembari menggenggam cincin itu di tangannya. Ia menghampiri Kiran yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur.


"Cincin ini milikmu??!" tanya Radit dengan antusias. Kiran melirik Radit yang menunjukkan sebuah benda di telapak tangannya. Dia pasti akan mengejekku karena masih menyimpan cincin kecil seperti itu ....


"Benar. Kenapa?" jawab Kiran datar, langsung ingin mengambil cincin dari tangan Radit. Radit menarik tangannya, menjauhkannya dari tangan Kiran.


"Jawab dulu pertanyaanku. Darimana kau dapatkan cincin ini?" tanya Radit lagi. Kiran menatap Radit heran.


"Itu cincinku. Mau darimana asalnya pun, ya terserah aku. Yang penting aku tidak mencurinya darimu," jawab Kiran tak acuh. Kembali melihat ke layar televisi.


"JAWAB DULU PERTANYAANKU!!" bentak Radit. Kiran terkesiap. Merasa kaget, tidak menyangka sama sekali Radit jadi emosi begitu. Nyali Kiran jadi menciut. Wajah pria di hadapannya berubah mengerikan.


"Cincin itu pemberian teman masa kecilku. Itu hadiah perpisahan kami. Kata temanku waktu itu, itu uang muka sebelum ia beneran melamarku nanti setelah dewasa," jawab Kiran, memalingkan wajahnya dari tatapan Radit. Berpura-pura melihat televisi. Padahal hatinya lagi dag dig dug tidak karuan.


Tangan Radit bergetar. Matanya memerah. Jadi dia .... Dia .... Karinaku ...???


Kiran melirik Radit. Melihat pria itu lengah terhadap tangannya yang terbuka, Kiran langsung menyambar cincin yang ada di telapak tangannya. Tak dilihatnya mata Radit yang memerah ketika menatapnya.


-


❇❇❇


Radit berjalan mondar-mandir di ruangan kantornya. Hari ini ia sudah resmi pindah ke kantor TJ. Meski posisinya di Makarim Group masih sama. Namun kantornya sekarang sudah dialihkan ke TJ. Semua dokumen dari kantor Makarim Group ia periksa dari TJ.


Bara menatap Radit dengan bingung. "Bukankah seharusnya kau bahagia ya, Dit. Karina ternyata masih hidup bahkan sudah jadi istrimu," ucap Bara.


"Memang kau itu selalu beruntung ya. Sekarang hidupmu seperti kata pesulap itu. Sempurna ...," ucap Bara lagi sembari menggerakkan tangannya seperti gaya seorang pesulap setelah melakukan aksinya.


Radit berhenti. Menatap Bara tajam. "Kau tidak tahu. Aku masih belum yakin kalau Kiran itu Karina."


"Kalau kau belum percaya. Aku bisa bertanya padanya. Aku akan pastikan jawaban yang akan diberikannya padaku bisa membuatmu yakin seratus persen akan itu," usul Bara.


Radit menatap Bara, berpikir sejenak atas ide yang ditawarkan Bara. Setelah mengangguk setuju, Bara segera melangkah keluar dari ruangannya.


Radit kembali mondar-mandir di ruangannya. Setelah dirasa lelah ia pun duduk di kursinya. Memori kebersamaannya dengan Kiran kembali terulang.


Flashback On


"Aku juga punya seseorang dalam hatiku," ucap Kiran tidak mau kalah. Malam itu mereka menginap di kamar pribadi Intan di dalam butiknya.


"Siapa? Ari atau Rangga?" tanya Radit sedikit merasa penasaran.


"Salah satu dari keduanya," jawab Kiran


Selanjutnya saat mereka mengobrol setelah makan malam bersama. Ketika Radit mengutarakan perasaan bersalahnya pada Ari.


"Pria yang kau suka itu ..., pasti Rangga, kan?" tanya Radit mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Kiran melirik Radit. Kini mereka saling menatap satu sama lain.


"Kalian sudah lama bersama. Jika bukan karena Ari, pasti kau sudah menikah dengannya, kan?" tanya pria itu lagi.


"Iya," jawab Kiran singkat.


"Iya .... Iya .... Iya ...." Suara itu berulang di telinga Radit. Ia menutup telinganya dengan frustasi. Karena suara 'iya' Kiran tak mau pergi, ia pun menggebrak meja dengan keras.


"Berani sekali dia menyukai pria lain!! Apa dia tidak tahu aku sampai menutup pintu hatiku untuk wanita lain. Berani sekali dia melupakan aku!!" teriak Radit dengan marah tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.


-


❇❇❇


Kiran menatap layar monitor dengan setengah hati. Kejadian tadi pagi mengusiknya. Saat Radit bertanya masalah cincin padanya. Apa yang aneh dengan cincin itu? Tadinya Kiran pikir Radit akan mengejeknya, tak disangka pria itu malah dengan antusias bertanya hingga sampai emosi jiwa.


Setelah pria itu bertanya dengan emosi, bel pintu pun berbunyi. Bara menjemput mereka. Membawa baju kerja mereka berdua. Setelah mandi dan berganti baju, mereka pun sarapan bersama.


Saat sarapan di hotel, pria itu pun tidak berkata apa-apa lagi. Wajahnya muram dan tampak dingin. Kiran tak mengerti apa yang terjadi. Apakah dirinya salah bicara hingga menyinggungnya? Ingin sekali Kiran bertanya namun sepertinya Radit belum bisa untuk di ajak bicara.


"Eh, lagi melamun .... Lagi ngerjain apa sih?" Bara menghampiri meja kerja Kiran.


Kiran mengalihkan pandangannya pada layar monitor, melirik Bara. "Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Kiran datar.


"Aku cuma mau ngajak ngobrol aja. Ganggu gak kira-kira?" tanya Bara lagi menopangkan dagunya pada satu tangan, menatap Kiran.


"Bos mu gak marah kalau kamu ngobrol sama aku di sini." Kiran menunjuk ruangan Radit dengan bibirnya.


"Tenang aja. Si herder sudah kujinakkan. Hari ini dia tidak akan menggigitku," canda Bara.


Kiran tersenyum tipis. "Kalau sampai Radit tau kamu panggil herder, habislah hidupmu."


"Gak juga. Dia aslinya baik, kok. Kamu sendiri kan udah tahu gimana baiknya dia. Kalau gak baik mana mungkin kami bisa memergoki kalian waktu itu." Bara senyum mengejek.


"Gak lu-cu!" Kiran melototkan matanya. Bara tertawa geli.


"Yaelah. Gitu aja marah. Jangan marah dong Kiran. Ini hari pertama aku di sini. Masa kamu udah marah gitu. Aku bercanda kali, Kiran." Kiran tak bergeming. Pandangannya fokus menatap layar monitor.


Bara melambaikan tangannya di depan Kiran. Kiran menepiskan tangan Bara. Bara tersenyum geli. "Idih, nih cewek galak bener. Emang cocok jadi istri Pak Bos."


"Jangan marah-marah Kiran. Nanti kamu cepat tua. Biar Radit aja yang lebih tua karena suka marah-marah tapi kamunya jangan."


"Kamu mau apa sebenarnya, Bara. Kalau gak ada keperluan mendingan kamu samperin sana bos kamu tuh. Jangan gangguin aku lagi kerja gini."


Bara mesem. "Iya, ada yang mau aku tanya memang. Kamu pernah gak sih tinggal di kota x?" tanya Bara to the point. Takut wanita di hadapannya ini malah makin tidak bersahabat. Suami istri sama aja dinginnya. Gak bisa di ajak bercanda, pikir Bara.


"Kenapa tanya begitu?" Kiran merasa curiga.


"Aku hanya sepertinya pernah melihatmu. Tapi saat itu kamu masih sekolah dasar ya? Di sekolah SD X?" tanya Bara.


Kiran menautkan alisnya. Semua sudah terungkap juga jadi gak perlu ada yang disembunyikan lagi, pikir Kiran. "Iya, aku sekolah di situ dan pernah tinggal di situ. Tapi setelah SMP aku pindah rumah," jawab Kiran datar.


Bara tersenyum simpul. Udah jelas juga dia memang Karina. Dasar Radit. Jadi orang payah banget untuk percaya.


"Bener kamu kalau begitu. Radit juga pernah tinggal di situ lho. Tapi cuma setahun. Karena dia balik lagi ke rumah orang tuanya. Daerah itu rumah nenek dari papanya."


Maaf Dit, kukasi clue sedikit si Kiran. Kalau peka, maka dia akan tahu kalau teman masa kecilnya adalah dirimu.


Kiran melirik Bara. Ini anak beneran apa bohongan. Masa Radit pernah tinggal di sana. Perasaan di sana gak ada rumah elit.


"Gak percaya?" tanya Bara sambil tertawa. Melihat wajah curigaannya Kiran. Yaelah memang lah laki bini sama aja.


"Orang tua Radit dari pihak papanya itu orang sederhana Kiran. Kalau dari pihak mamanya baru orang kaya semua, pengusaha," ujar Bara meyakinkan.


"Ada satu lagi. Kalo aku cerita pasti kamu gak percaya," Bara memelankan suaranya, menatap Kiran yang mulai serius mendengarkannya.


"Badan Radit waktu SD itu sangat menggemaskan lho. Tinggi dan besar. Alias gemuk." Bara berbisik.


Eh, Kiran menaikkan alisnya. Bara menyeringai.


"Dia sampai dipanggil Raksasa juga lho oleh teman masa kecilnya ...," Bara berbisik lagi, bisikan yang membuat Kiran terperanjat seketika mendengarnya.


❤❤❤💖


Aku merindukan sosok seperti Mas Yan Hariyanto, Mas Ito Ragil Abadi dan Mbak Aywa yang buaaanyak kasi vote buat aku.. hehehe😁😁😁


Yang lain ikutan nge-vote juga ya...


Terima kasih atas like, komen n vote nya..


Thank uuuu 😘😘