
"Kau datanglah pada hari terakhir di sana. Selama aku berada di sana, ponselku tidak akan pernah aku aktifkan. Jika pun aktif, aku tidak ingin kau mengabariku seputar pekerjaan. Aku ingin free dari apa pun. Kau dengar itu, Bara?!"
Radit memberikan penekanan pada akhir kalimatnya sambil berjalan masuk ke dalam bandara.
"Iya. Aku paham." Mau tak mau ia menjawab juga pertanyaan yang sudah pasti jawabannya itu. Ah, ia sudah seperti seorang anak yang diminta orang tuanya untuk tidak mengganggunya.
Radit tersenyum senang mendengar jawaban pasrah sahabatnya.
"Aku yakin semua akan berjalan lancar bila kau yang menghandlenya. Kau kan sahabat sekaligus asisten terbaikku. Hidupku tak akan sempurna tanpa jejak kebaikanmu." Menepuk bahu Bara sambil tersenyum senang.
Bara melirik Radit yang berada di sebelahnya sambil bergidik ngeri. Virus cinta itu memang luar biasa.... Bara menggelengkan kepalanya.
Sementara Kiran tersenyum lucu mendengar tingkah polah kedua sahabat yang berjalan beriringan itu. Tangan Radit masih bertaut dijarinya, sedikit pun tidak ingin Kiran jauh darinya. Hingga bisikan yang dilakukan kedua pria itu pun didengarnya. Bisikan yang diucapkan Bara pada Radit membuat bulunya meremang seketika.
"Kau tidak perlu khawatir soal itu. Kau fokus saja mempraktekkan teori yang sudah kau searching itu. Aku akan salut padamu jika Kiran pulang dalam keadaan hamil. Kalau dia masih belum hamil berarti kau harus belajar dariku."
Bisikan yang kemudian mendapat tanda jempol dari Radit disertai tanda penyatuan jari jempol dan telunjuknya.
Ah, Kiran seakan ingin berlari sekarang. Tak didengarnya lagi kalimat Radit yang menjadi penutup obrolannya dengan Bara.
"Kalau yang begitu nggak perlu belajar darimu. Ilmuku lebih mumpuni darimu. Kau doakan saja yang terbaik bagi kami. Kalau rezeki kami cepat maka semua akan dimudahkan oleh Allah. Eh, Kiran kenapa buru-buru ...." Menyadari tautan jari Kiran terlepas.
Gadis itu mengabaikan panggilan Radit dan berjalan dengan cepat mendahului mereka.
***
Begitu memasuki lobby hotel, kedatangan mereka sudah disambut oleh karyawan hotel. Bara telah mengonfirmasi kedatangan mereka sebelumnya.
"Selamat datang, Pak!" sapa salah seorang pria muda yang langsung menjabat tangan Radit.
"Terima kasih. Anda?" tanya Radit mencari tahu lewat tanda pengenal dibajunya namun pria muda itu tak memilikinya seperti karyawan lainnya.
"Saya Randi, Pak. GM di hotel ini," paparnya mengulas senyum.
"Kemarin saya langsung berhubungan dengan Pak Gultom ya, makanya saya tidak bertemu dengan kamu."
Pak Gultom merupakan pemilik hotel yang berencana menjual hotelnya pada Radit.
"Bener sekali, Pak. Beliau juga menunggu keputusan Anda sejak hari itu. Meskipun memang sudah ada juga beberapa pemilik perusahaan yang melihat hotel ini."
"Bara sudah memberitahu kalian tentang kedatangan kami, kan?" jelas Radit, mengabaikan pernyataan Randi sebelumnya.
Randi mengangguk cepat. "Pak Gultom sudah menunggu Anda diruangannya sejak tadi."
Radit mengangguk puas, Randi paham apa maksud pertanyaannya. Dia teringat satu hal.
"Kalau begitu, sudah kalian siapkan juga kan kamar untuk kami?" tanya Radit lagi.
"Sudah, Pak," jawab Randi cepat. Ia kembali mengulas senyum.
Radit mengangguk puas. "Tolong antar istri saya ke kamar kami dan tunjukkan jalan menuju ruangan Pak Gultom," pinta Radit.
Randi memberi instruksi pada karyawannya untuk membimbing Kiran menuju kamar istimewanya kemudian mempersilakan Radit mengikutinya.
"Tunggu aku di kamar ya, Sayang ...," ujar Radit sebelum melepas Kiran pergi bersama beberapa karyawan yang membawakan barang-barang bawaan mereka.
Kiran hanya tersenyum tipis sembari mengangguk.
Setelah melihat Kiran berjalan mengikuti bellboy, Radit pun mengikuti Randi menuju ruangan pemilik hotel itu.
***
"Gimana, mau jalan-jalan dulu?" tanya Radit sesaat setelah memasuki kamar.
Terlebih dahulu ia sudah menyusuri isi kamar. Melihat sejauh mana kejutan 'istimewa' yang disiapkan hotel ini pada mereka. Namun ia sudah cukup puas atas apa yang ditemukan oleh indera penglihatannya.
Kiran asyik meneruskan pekerjaan sebelum ia membuka pintu untuk Radit tadi yakni menyusun pakaian mareka di lemari.
"Urusan Kakak memangnya sudah selesai?"
Radit mengangguk.
"Terserah Kakak saja," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.
"Kamu capek nggak?" selidik Radit melihat wajah Kiran.
Kiran yang tahu ditatap, mengarahkan tatapannya pada Radit sembari mengulas senyum, "Enggak kok. Kakak capek?"
"Wah, kamu nyepele-in aku ya? Jangankan jalan-jalan sekitaran sini, kita mulai periode pertama kita sekarang pun aku sanggup!" Radit menaikkan alisnya berulang kali dengan senyum menggodanya.
"Iss ... apaan sih, Kak!" Kiran mengalihkan pandangannya. Wajahnya bersemu merah.
"Hemm, mulai deh malunya. Kamu makin di sini kok makin gemesin ya. Wajahnya merah jambu gimana gitu. Atau Kakak panggil kamu humairah aja kali ya, seperti istrinya baginda Rasulullah ...."
"Gak pantes kali Kak, Kiran dipanggil begitu. Nggak kemana-mananya Ummul Mukminin Aisyah."
"Apanya yang nggak kemana-mananya?"
"Ya, beliau kan cerdas. Meriwayatkan hadis udah ribuan. Yang paling penting ketika beliau menikah dengan Rasulullah, beliau masih perawan. Sementara Kiran ...." diakhir kalimat suara Kiran terdengar sedih. Ia kembali meneruskan pekerjaannya semula. Memindahkan baju dari koper mereka ke dalam lemari.
Radit tahu belakangan ini Kiran sering bahkan selalu mengungkit itu jika mereka sudah membahas yang berkaitan dengan keperawanan. Pria itu paham Kiran tidak ingin mengecewakannya. Padahal Radit sama sekali tidak pernah kecewa padanya, dari segi apa pun itu.
Pria itu mendekati Kiran dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Kiran. Kedua tangannya melingkari pinggang wanita itu, meletakkan dagunya pada leher Kiran, membuat Kiran terkejut dan reflek ingin berbalik namun urung sebab dicegah Radit.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Kamu masih hidup aja Kakak sudah bersyukur banget. Akhirnya Kakak bisa menyempurnakan agama ini dengan menikahimu meski mungkin pada awalnya pernikahan ini terjadi karena kita sama-sama terpaksa."
"Jadi jangan risaukan hal lain. Tetap berada di sisi Kakak saja itu sudah sangat berarti. Kalo yang lain Kakak nggak peduli," bisik Radit lirih.
Hawa hangat menjalari hati Kiran. Demi Allah, hatinya sungguh sangat tersentuh dengan kata-kata Radit barusan. Tanpa disadari air mata telah menitik dan mengalir turun di kedua pipinya.
Radit yang menyadari jika wanita yang berada dalam rengkuhannya menangis, segera membalikkan tubuh Kiran.
"Eh, kenapa? Kok malah nangis? Kakak salah bicara?" mengusap air mata yang telah turun itu dengan lembut.
Kiran menggeleng pelan. "Seharusnya Kiran yang bersyukur telah bertemu dengan Kakak. Kiran yang harusnya sangat bersyukur karena Allah telah mengabulkan semua keinginan Kiran dengan bantuan Kakak."
"Kiran jadi tahu kebenaran tentang papa dan mama. Kiran jadi mengenal nenek dan paman Sandi. Kiran bahkan jadi memiliki mama Ariana yang sudah Kiran anggap seperti mama sendiri. Yang terpenting, Kiran menemukan Kakak yang menghapus semua ketakutan Kiran karena selalu hidup sendiri."
Radit mengulas senyum. Menangkup wajah Kiran di kedua tangannya. "Bersyukurlah selalu pada Allah, Kiran .... Dia lah yang telah mengabulkan doa yang selalu kamu panjatkan dalam kesabaranmu menghadapi ini sendirian. Jangan khawatir, kedepannya Kiran nggak akan sendirian lagi. Kita akan selalu bersama, Insya Allah."
Kiran mengangguk sembari tersenyum tulus.
"Jadi gimana nih, mau jalan-jalan atau mau kita mulai ronde pertama?"
"Ya Allah Kakak .... !" Kiran membeliakkan matanya. Masih ingat juga rupanya ....
"O..., mau langsung ronde pertama. Hayuk!"
Kiran seketika menutup wajahnya menahan malu.
"Hahaha!" Pria itu tergelak, merasa sukses sudah membuat wanitanya kembali bersemu merah.
***
Setelah puas menikmati keindahan alam di sekitar dan makan malam, mereka pun memutuskan untuk menghabiskan malam mereka di kamar.
"Kita sholat dulu yuk, Kiran?" ajak Radit.
Kiran mengangguk, mengiyakan
Setelah shalat isya, Radit mengajak Kiran melanjutkan dengan shalat sunnah dua rakaat. Kini mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur. Sebuah ranjang king size dengan taburan kelopak mawar berbentuk hati di tengahnya plus lilin aromaterapi, menambah kesan ruangan menjadi semakin romantis.
Meski telah biasa bersama di satu tempat tidur, tetap tak menyurutkan detak jantung Kiran agar tidak berdetak lebih kencang dari biasanya. Wanita itu meremas kedua jemarinya.
"Kiran ...!" panggil Radit lembut, lembut sekali. Membuat bulu kuduk Kiran meremang seketika.
"A-ah, i-iya Kak!" Ia menjawab dengan terbata.
Radit menahan tawanya. "Kenapa? Tegang ya?" tebaknya.
Kiran tak menjawab namun hatinya berkata. Nggak, Kak. Nggak salah lagi.
Kiran sedikit terkejut karena ia tidak tahu jika Radit memesan minuman untuk mereka sebelumnya.
"Minuman apa ini, Kak?"
"Mas ...!" ralat Radit dengan mesra.
Wajah Kiran memerah.
"Atau cinta ... suamiku atau ... boleh juga lelakiku ...." tambah Radit lagi.
"Iss, apaan sih Kakak ini!" Kiran memukul dada Radit pelan.
Dengan cepat pria itu langsung menangkapnya. "Duh, sakit dada Mas ini, Sayang ...!"
"Kiran mencebikkan bibirnya. "Mana mungkin sakit ... mukulnya pun cuma pelan, gak pake tenaga."
"Beneran sakit. Sini deh." Radit meletakkan tangan Kiran di dadanya. "Berdetak lebih kencang kan? Jantung Mas seperti habis maraton setelah kamu pukul."
"Tapi anehnya ada tangan kamu, kok malah tenang debarannya ...." Masih melanjutkan godaannya.
Kiran menundukkan pandangannya. Tak sanggup ia menentang mata pria yang kini sudah semakin mahir menggodanya itu.
Radit tersenyum, menahan tawanya. "Aku tau yang kamu rasain karena aku juga berdebar. Ini pengalaman pertama buat Kita. Kita lakukan secara perlahan saja ya ...."
Kiran mengangguk.
Radit kembali menyerahkan segelas minuman hangat itu pada Kiran.
Kiran meneguknya. "Air jahe Kak?" ia menyadarinya setelah minuman itu masuk ke dalam kerongkongannya.
"Jahe plus madu." Ia membenarkan.
"Bisa pesan minuman begini di hotel, Kak?"
"Bisa dong. Kalo nggak bisa ya tinggal pecat aja manajernya. Masa' ngusahakan minuman begini aja nggak bisa!"
Kiran tertawa kecil. "Radit Makarim gitu lho ...."
Radit ikut tertawa. Ia juga meneguk minuman hangat itu dari gelas miliknya. Sesaat kemudian dia berhenti seperti sedang berpikir.
"Kenapa Kak?" Kiran menyadari perubahan raut wajah Radit. Ia meletakkan gelas kosong miliknya ke atas nakas.
"Coba deh, kamu rasain punya aku, Sayang." Mengangsurkan gelas miliknya pada Kiran.
"Kenapa?" Meski belum mendapatkan jawaban, cairan berwarna kuning kecoklatan itu tetap juga diteguknya sedikit.
"Sama kok, Kak, seperti punya Kiran tadi. Kenapa emangnya?"
"Ah, masa' sama? Aku cobain lagi ya."
Radit meneguk air dalam gelas itu sedikit. Wajahnya berubah cerah. "Eh, kok jadi lebih manis ya. Tadi agak pahit jahenya, Sayang."
"Masa sih Kak?" Kiran meneguk air dari gelas Radit sedikit lagi. Mencoba memastikan rasanya.
"Bener, sama kok, Kak. Nggak beda sama punya Kiran."
"Tadi nggak gini," ujar Radit kembali meminum isi gelasnya. "Lho, kok tambah manis, Sayang?" katanya lagi.
"Masa' sih Kak?" Kiran merasa heran namun ia hanya menatap Radit saja.
Radit tersenyum menggoda. "Atau jangan-jangan manisnya nambah karena kesentuh bibir kamu nih."
"Iss, apaan sih Kakak ...."
Kiran memanyunkan bibirnya. Wajahnya kembali bersemu merah. Radit tertawa senang mendapati wajah merah itu lagi. Pria itu meneguk kembali sampai habis minuman yang berada ditangannya.
"Sayang, baju yang kita beli kemarin itu, yang dua puluh buah itu, pake sekarang ya!" pinta Radit lembut.
Sedari tadi sebenarnya Radit ingin Kiran memakainya namun ia sendiri takut tak sanggup melihat Kiran memakai itu sebelum sholat sunnah mereka kerjakan. Pria itu merasa tidak cukup kuat sebab dia merasa sudah terlalu lama menahannya demi kesempurnaan malam ini.
Kiran memutar bola matanya. "Tapi Kiran malu Kak .... Apalagi modelnya lebih terbuka daripada yang Kiran pakai sebelumnya."
"Kalau malu ditutup aja wajahnya pakai cadar."
"Isss, apaan sih, Kak. Ya nggak mungkin wajah ditutupi, badan dibuka." Kiran terkikik geli. Suaminya memang kerap kali mengutarakan hal-hal aneh sekarang.
"Hahahaha ... habis kamu malu-malu gitu. Ayo dipake dong sayang. Kamu mau kita jadi mubazir udah beli dan bawa baju itu banyak-banyak tapi nggak kita pake sekarang."
Kiran terdiam sebentar. Setelah itu tanpa berkata ia beranjak ke lemari dan mengambil salah satu baju itu dari lemari kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Selama menunggu Kiran, Radit mengangkat tangan dan berdoa pada Allah agar perbuatan yang akan mereka lakukan tidak mendapat campur tangan setan serta agar Allah menutupi aurat mereka.
Kiran juga telah membaca doa sebelum masuk kamar mandi agar tubuhnya yang terbuka tidak dinikmati makhluk-makhluk tak kasat mata.
Kiran melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kamar mandi. Ia menghalau rasa malunya yang teramat sangat. Tubuhnya hanya dibalut baju itu tanpa dalaman karena begitu lah instruksi pegawai toko. Mungkin mereka paham bahwa yang membeli adalah pemakai pemula baju itu.
Mata Radit membulat seketika melihat penampilan Kiran. Ia berdehem mencoba menenangkan dirinya. Dengan berjalan pelan ia mendekati Kiran. Memegang lembut kedua bahu Kiran, menahan agar kedua mata mereka bertemu. Perlahan ia mendekatkan tubuhnya, memangkas jarak antara mereka. Hingga kemudian memeluk Kiran dengan lembut.
"Udah baca doa?" bisiknya lembut di telinga Kiran yang mulai memanas.
Kiran mengangguk.
Masih dengan tubuh yang saling melekat, Radit meraih wajah Kiran, menyusuri wajahnya dengan ciuman. Mulai dari dahi, mata, pipi, hidung kemudian lebih lama dan mendalam di bibir wanita itu.
Tubuh mereka berdua menghangat.
Perlahan Radit mengangkat tubuh Kiran, menggendong kemudian meletakkannya secara perlahan di atas ranjang.
Sentuhan lembut bibir Radit kembali berulang menyusuri wajah Kiran hingga merambati leher sembari tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh Kiran yang tak terbalut sempurna.
Mereka saling membelai dan hanyut dalam kelembutan masing-masing hingga akhirnya tersentak saat bel kamar mereka berbunyi.
Ting Tong!
"Kak ....!" panggil Kiran, ingin menghentikam aktivitas Radit agar melihat sebentar siapa yang sudah memencet bel di kamar mereka.
"Bukan kamar kita!" jawab Radit asal kemudian melanjutkan pekerjaannya semula.
Ting Tong!
Bel berbunyi lagi. Mau tidak mau Kiran terusik kembali.
"Kak, sepertinya memang kamar kita. Lihat dulu, Kak," usul Kiran.
Radit mendecak kesal namun tetap menuruti permintaan Kiran untuk membuka pintu. Dia pun turun dan mendekati pintu sementara Kiran bergelung ke dalam selimut.
Dengan malas Radit membuka pintu. Bersyukurnya pria itu belum membuka bajunya. Jika tidak tentu hatinya akan lebih sebal lagi.
Pintu terbuka. Wajah Bara adalah wajah pertama yang Radit lihat. Baru saja Radit ingin melampiaskan amarahnya pada Bara hingga ia tercekat mendapati sesosok wajah yang juga hadir ketika pintu itu semakin terbuka.
"Ari???!!" serunya tak percaya.
❤❤❤💖
Apa kabar para readers tercintaaa ...??
Terima kasih masih mau mampir dan tetap membaca novel yang sangat selooowww ini ... hehehe ....
Sing penting novel tetap ditamatin ya cayang-cayang aku ....
Semoga kita semua sehat2 ...
Jangan lupa trus dukung karya ini dengan like, komen, vote jika punya poin plus bintang lima di sampulnya (Bintang lima ngaruh nggak sih? Aku masih kurang peduli yang satu ini).
Pokoke dukung trus karya ini ya para readers tercintaaa .... muaachh
Kalo banyak typo harap maklum, author males ngoreksi, penting up dulu deh. Kapan2 tak benerin 😁