
Rina menutup mulutnya dengan satu tangan. Merasa kaget dengan apa yang dilihatnya. "Kau?"
Tangan wanita itu dengan cepat ingin menutup pintu kembali namun segera dicegah oleh Sandi Sanjaya. "Aku tidak bermaksud jahat padamu. Aku hanya ingin bicara baik-baik," ucap Sandi cepat melihat perubahan raut wajah Rina yang terlihat ketakutan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Rina masih menunjukkan kecemasan di wajahnya.
"Minta maaf. Aku ingin minta maaf padamu dan Kakak," jawab Sandi cepat. Wajah pria itu berubah sendu. Rina terdiam. Ia sudah tidak memberikan tenaga untuk menutup pintu itu lagi. Kini pintu itu dibiarkannya terbuka lebar.
"Jika kau ingin bicara maka sebaiknya kita bicara di luar. Suamiku sedang tidak ada di rumah. Tidak baik jika kau sampai masuk ke dalam."
Sandi mengangguk. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi karyu yang diangsurkan oleh Rina. "Duduklah. Kau sudah datang dari jauh. Aku akan membuatkan minuman untukmu."
Tanpa menunggu jawaban Sandi, Rina segera melesat ke dapur. Ia menyambar sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja makan. Sebuah nomor dengan panggilan cepat segera ia hubungi. Beberapa detik ia menunggu sebelum panggilan itu tersambung.
"Wa'alaikumussalam," sahutnya mendengar salam dari sebrang.
"Pa ..., dia datang." Rina memelankan suaranya. "Sandi," imbuhnya.
"Baik. Papa segera pulang ya. Mama nggak mau berlama-lama dengan dia."
"Iya. Assalamu'alaikum."
Rina mematikan sambungan telponnya. Meletakkan ponsel itu kembali di atas meja. Kemudian melangkah mendekati tempat penyimpanan gelas di dapurnya.
Rina meletakkan sebuah gelas bertangkai berisi teh ke atas sebuah meja kayu kecil yang baru saja ia angkat dari dalam rumah dan meletakkan tepat di samping Sandi Sanjaya duduk. "Minumlah," katanya mempersilakan Sandi.
"Terima kasih." Pria itu meraih gelas dan meminumnya sedikit. "Apa kabarmu?" tanya Sandi meletakkan gelas bertangkai itu kembali ke atas sebuah piring kecil sebagai alasnya.
"Kau tahu dari Karina ya?" Rina tak menjawab pertanyaan Sandi, malah bertanya kembali sesuatu yang mengganjalnya sejak tadi. Hatinya merasa tidak tenang.
"Iya." Sandi merasakan kekhawatiran dan ketidaknyamanan wanita yang duduk di sampingnya. Mereka hanya terhalang sebuah meja kayu kecil sebagai tempat gelas bertangkai tadi.
"Aku sudah tahu semuanya, Rina. Aku tidak berniat sekalipun untuk mengganggu rumah tangga kalian seperti dulu."
Rina melirik sekilas, melihat raut wajah Sandi yang masih terlihat sendu. Perlahan rasa iba hinggap di hatinya. "Aku juga sudah mendengar itu dari Karina. Kau juga apa kabar? Bagaimana rumah tanggamu?"
Suasana itu kini telah sedikit mencair. Sandi memahami, Rina memang wanita yang seperti itu. Dia mudah sekali iba pada orang lain. Jika ingin mengajak dia berbincang maka ceritakan kesedihanmu, tunjukkan rasa sakitmu. Maka ketertarikannya akan kehidupanmu pun mengalir seketika itu juga.
Sandi Sanjaya mendesah. "Mungkin karma bagiku. Karena begitu jahatnya aku pada kalian, rumah tanggaku pun tidak berjalan baik. Kini aku telah berpisah dengan istriku."
Rina terkejut namun sebisa mungkin ia tidak menunjukkannya. "Padahal kami berdua sama sekali tidak membencimu, Sandi. Terutama Kak Kamil, beliau tetap menyayangimu." Suara Rina menjadi lebih tenang. Sudah hilang rasa kekhawatiran di hatinya. Semakin jelas bahwa seperti yang Karina dan Radit katakan bahwa memang Sandi telah berubah.
"Iya. Kakak memang luar biasa. Kau beruntung memiliki suami seperti dia." Menatap Rina dalam.
Meski pandangan Rina tetap mengarah ke depan namun dia tahu pasti bahwa Sandi melihatnya. "Tidak seberuntung dirimu memiliki Kakak sepertinya," sahut Rina lirih.
"Apa maksudmu?"
Rina menoleh, menatap Sandi. "Dulu dia kan sempat menjauhiku karena tidak ingin kehilanganmu."
"Hah? Kapan? Kenapa aku baru tau sekarang?" Sandi benar-benar terkejut atas perkataan Rina.
"Aku tidak pernah cerita karena kau tidak pernah bisa untuk diajak cerita. Kau sangat marah hingga tidak melihat betapa mengalahnya dia padamu. Kejadian itu terjadi sebelum pernikahan kami. Dia menyuruhku untuk menikahimu namun karena aku sedikit memaksa waktu itu hingga akhirnya dia pun luluh."
Rina jadi kembali teringat pada masa itu. Ya, semua itu sudah berlalu namun ia hanya ingin Sandi semakin paham seperti apa kakaknya itu.
"Jadi begitu ...," ucap Sandi dengan suara melemah. Perasaan bersalah kembali memenuhi hatinya.
Suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah itu mengakhiri perbincangan antara Rina dan Sandi. Hati Rina sangat riang melihat mobil yang baru saja masuk itu. Sementara Sandi kembali merasakan degub jantungnya yang berdetak lebih kencang.
"Kakak ...," desisnya dengan mata yang entah sejak kapan sudah digenangi oleh cairan nan bening itu.
-
***
Radit mengamati wajah Kiran yang telah tertidur dengan pulas. Wanita itu terlihat lelah. Mungkin akibat ia yang menyuruhnya berenang tanpa pemanasan sama sekali. Pria itu membelai rambut Kiran dengan lembut. Memberikan sebuah kecupan ringan di dahinya. Seketika ingatannya melayang ke peristiwa puluhan tahun yang lalu ....
Ketika itu ia masih kelas enam sekolah dasar. Sebab adanya keretakan rumah tangga orang tuanya, papa menitipkannya di rumah nenek. Ia merasa sepi meski nenek selalu menyemangatinya. Hilang sudah semangatnya untuk tersenyum bahkan untuk basa-basi memperkenalkan diri pada seorang anak perempuan yang tiga tahun lebih muda darinya.
"Nama Kakak siapa?" tanya anak perempuan itu. Tak sekalipun ia menjawab bahkan tak terbersit keinginan untuk menjawab. Ia pun selalu mengabaikan sapaan si perempuan kecil itu hingga ....
"Raksasa ...!"
Dirinya begitu terkesiap saat mendengar panggilan itu. Dia memanggilku Raksasa?! Aku? Raksasa? Dirinya semakin mengabaikan anak perempuan itu.
Hingga suatu hari saat ia sudah lelah berada di sana sendiri. Sore itu papa datang ke rumah nenek. Ia meminta agar papa membawanya pulang ke rumah mereka. Namun papa menolak. Kerinduannya pada rumah, Ari dan juga mama membuatnya marah lalu berlari dan bersembunyi di dalam gudang. Hingga kemudian ia terkunci di sana hingga malam.
Gudang itu terletak di samping rumah nenek. Gudang yang berisi barang-barang bekas itu ternyata tidak memiliki lampu. Saat bersembunyi di sana, entah mengapa ia terkunci di dalamnya hingga malam hari. Anehnya, papa dan nenek sama sekali tak mencarinya. Mereka tak kehilangan dirinya. Saat itu ia sangat marah. Traumanya muncul. Ia menjadi gemetar ketakutan sebab terkurung kembali di ruang gelap nan pengap. Meski telah gemetar, ia tetap tidak berniat untuk berteriak memanggil nenek dan papa agar membantunya. Ia menahannya sendiri sampai ketika pintu itu terbuka. Seorang anak perempuan kecil yang selalu ia abaikan itu masuk dan memanggilnya dengan lembut.
"Kakak ..., kau di sana?"
Dirinya mematung. Namun deru nafas dan suara menggigilnya ternyata didengar anak perempuan itu.
"Maafkan Karina, Kak. Karina yang mengunci Kakak ...."
Ia tetap bergeming. Masih memeluk lututnya. "Kakak kenapa?" tanya gadis kecil itu. Tangan gadis kecil itu menyentuh tubuhnya yang menggigil. Ia begitu terkesiap.
"Kakak sakit?"
Dia masih diam. Mulutnya terkunci. Perlahan ia rasakan tangan kecil itu melingkari tubuhnya.
"Maafkan Karina, Kak. Maafkan Karina."
Setelahnya anak kecil itu, Karina menangis sesenggukan sambil memeluknya. Berkali-kali mengucapkan maaf. Ia yang tadinya mematung, mendengar kekhawatiran besar dari Karina dan suara tangisnya yang tak berkesudahan membuka kuncian pada mulutnya. Menggigilnya pun hilang.
"Hei, Bodoh! Jadi kau yang mengunciku?"
Karina menatapnya dengan linangan air mata di wajahnya. "Karina siap Kakak hukum dengan apapun. Yang penting Kakak jangan sampai sakit karena Karina. Biar Karina yang sakit karena Karina yang salah."
"Dasar bodoh! Lepaskan tanganmu. Air matamu membasahi bajuku."
Setelah itu mereka pun menjumpai neneknya yang ternyata mengira jika dirinya ikut bersama papa. Sehingga nenek tidak mencarinya dan tidak merasa kehilangan.
Setelah hari itu, tanpa ia sadari anak perempuan itu yang telah menghilangkan trauma akibat penculikan yang pernah dialaminya perlahan dan pasti masuk lebih dalam ke ruang hatinya.
Radit memberikan seulas senyuman hangat. "Sejak itu kau selalu di hatiku, Karina. Dan posisimu itu tak mampu aku gantikan dengan siapa pun. Dan aku juga tidak ingin melihat kau disakiti oleh siapa pun termasuk keluargamu sendiri," gumamnya lirih.
Ia beranjak, bangkit dari ranjang dan meraih ponsel di atas nakas. Beberapa saat ia mencari nomor kontak seseorang. Setelah berhasil, ia segera menghubunginya. Panggilan tersambung, dengan cepat ia melangkah keluar menuju balkon.
"Wa'alaikumussalam. Ini Radit, Pa. Ada yang ingin Radit sampaikan ...."
❤❤❤💖