Behind The Boss

Behind The Boss
Bukan Tanda Cinta



"Kau sepertinya sedang menyelidiki masa laluku ya, Dit .... Untuk apa semua itu?"


"Karena kau istriku. Jadi sudah selayaknya aku harus tahu seluruh kehidupanmu."


"Sampai ke cinta masa kecilku. Untuk apa?" tanya Kiran mendongak, menatap mata Radit tajam.


"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Membalas tatapan mata Kiran.


"Bara," jawab Kiran singkat.


"Dasar pria penggosip!" gerutu Radit.


"Jadi untuk apa kau harus tahu sampai ke cinta masa kecilku?"


"Untuk mengetahui kebodohanmu! Kenapa kau tidak bertanya padanya saja?! Kan dia yang cerita padamu!!" Radit menekan sedikit jari telunjuknya ke dahi Kiran. Kiran menjauhkan tubuhnya. Mendorong Radit agar melepaskan pelukannya.


"Hei, Tuan Radit Makarim. Aku tanya baik-baik. Jika kau menjawab dengan nyolot begitu, lebih baik aku tidak usah bicara padamu!" Kiran berbalik, menjauhkan tubuhnya lalu memunggungi Radit.


Radit terdiam beberapa saat, tidak menduga reaksi Kiran akan seperti ini. Kemudian pria itu tersenyum. "Baiklah, aku tidak akan bicara seperti itu lagi. Aku tidak akan nyolot lagi."


Radit menarik Kiran dalam pelukannya. Namun Kiran tetap dalam posisi membelakanginya. Posisi ini sebenarnya paling diinginkan Radit. Kiran memberontak, masih ingin melepaskan diri dari pelukannya. Namun tangan kekar Radit sudah menguncinya. Karena tak bisa melepaskan diri, Kiran akhirnya tak melawan lagi. Ia membiarkan Radit memeluknya dari belakang.


Radit menarik satu sudut bibirnya saat tak ada perlawanan lagi dari Kiran. Merasa wanita dalam pelukannya terdiam, Radit mulai menciumi rambut Kiran. Tidak puas sampai disitu, ia mulai mencium lebih ke bawah hingga menyentuh kulit leher Kiran.


"Dit! Jaga batasanmu!" Kiran mengingatkan. Merasa risih atas sentuhan bibir Radit pada lehernya.


"Memangnya aku sedang apa? Kau yang harus mengerti. Aku suamimu dan kau istriku. Batasan apa lagi yang harus kujaga. Seandainya malam ini aku menunaikan kewajibanku sebagai suami, kau pun tak selayaknya menolak. Para malaikat akan melaknatmu hingga aku ridho kepadamu. Kau tentu tahu hal itu?" Masih mendusel-dusel leher Kiran.


Kiran berbalik. "Kau sendiri yang mengucapkan itu. Kau yang bilang untuk tidak melakukan tindakan lebih jauh. Kau akan merasa bersalah pada Ari. Konsisten lah atas apa yang telah kau ucapkan. Sebagai istrimu, aku hanya mengingatkanmu." Menatap Radit.


"Aku kan sudah minta maaf atas perkataanku waktu itu. Kenapa kau masih membahasnya?Ari juga sudah meninggal Karina .... Mau bagaimana pun dia memang sudah meninggal," kata Radit pelan.


"Panggil aku Kiran, Dit, bukan Karina."


"Baik, Kiran. Sekali lagi aku katakan dan aku minta tolong jangan bahas lagi kedepannya, okay?!"


"Tindakan kita yang waktu itu, aku lakukan karena memang aku ingin menyentuhmu. Dan itu atas kemauanku. Bukan karena kau yang ingin aku sentuh, dan aku tahu kau tidak menolakku karena aku suamimu. Jadi, maafkan jika ucapanku di masa yang lalu membuatmu berpikir yang tidak-tidak tentang dirimu sendiri. Maafkan juga jika sebelumnya aku menyebutmu murahan dan licik. Sekarang aku tahu kau bukan wanita seperti itu," kata Radit lagi. Menatap Kiran lembut.


Kiran tercenung. Terdiam beberapa saat. Mencerna ucapan Radit. Walau bagaimanapun, aku tidak akan pernah lagi masuk ke dalam lubang yang sama. Hari ini mungkin dia baik dan lembut, namun belum tentu besok.


Kiran menatap Radit datar dan dingin. "Apa pun itu, aku memang tidak ingin jika kau melakukan tindakan lebih jauh padaku!" kata Kiran. Di dalam suaranya mengandung ketegasan.


Radit menghela nafas pelan. Kemudian membalikkan tubuh Kiran dengan lembut untuk membelakanginya. Ia peluk kembali tubuh gadis itu dari belakang. "Iya. Aku paham. Aku tidak akan terburu-buru. Aku bisa menunggu hingga kau siap."


Suara Radit terdengar sangat lembut ketika mengucapkan itu. Ada yang berdesir dalam hati Kiran. Ia sudah yakin seratus persen jika Radit memang telah berubah. Terselip sedikit rasa bersalah karena seperti mengabaikan pria itu. Namun segera Kiran menepisnya. Sekali lagi, dia tidak mau tergoda. Biarlah hubungan mereka seperti ini saja.


Tiba-tiba Kiran teringat sesuatu. Rasa penasaran menggelitik di benaknya. Ia ingin bertanya. Ia memberanikan diri untuk itu. Mumpung pria ini sedang baik dan lembut.


"Dit, wanita yang kau cintai itu, siapa namanya?" tanya Kiran. Ia mengingat ucapan Bara saat di kantor tadi.


"Kenapa?"


"Aku akan memberitahunya bahwa kau mencintainya. Aku akan menikahkan kalian berdua."


"Kau ini ...! Memang ada istri seperti dirimu ini?!"


"Aku hanya ...."


"Aaoowwww!!" Kiran mengaduh kesakitan. Menjauhkan tubuhnya dari Radit namun Radit tak membiarkannya, dia masih memeluk Kiran dengan erat.


"Kenapa kau menggigit leherku?!" pekiknya dengan tubuh masih membelakangi Radit. Ia mengusap tangannya pada lehernya, di tempat yang digigit Radit.


"Karena kau bodoh!" jawab Radit cuek.


"Kenapa kau jadi nyolot lagi!"


"Kalau kau tidak ingin aku bicara begitu. Perhatikan apa yang kau bicarakan. Sebagai gantinya kalau kau berkata yang tidak-tidak, aku akan menggigitmu!"


Kiran menghela nafas pelan. "Aku cuma ingin membantumu, Radit. Aku ingin kau bahagia."


"Kalau kau ingin aku bahagia, buka bajumu sekarang!"


"APAA??!!" Berbalik dengan cepat. Menjauhkan tubuhnya dari Radit.


"Aku kira memang terjadi sesuatu dengan saraf di kepalamu!!" Kiran mengernyitkan dahinya. Radit melotot tajam. Membalikkan badan Kiran dengan cepat.


"Aowwww!! Kau menggigitku lagi!" pekik Kiran ingin berbalik namun tidak bisa.


"Kau kira aku gila! Ya, aku memang gila menghadapi wanita tidak peka seperti dirimu!"


"Karena aku peka makanya aku bertanya seperti itu. Aku kan cuma bertanya. Kalau bertanya saja salah, lalu apa yang harus aku bicarakan padamu. Apa tentang Lusi yang cantik itu?! Apa kau mulai jatuh hati padanya?"


Radit mengeratkan pelukannya. Mulutnya mendekati telinga Kiran. Bahkan Kiran bisa merasakan hawa hangat karena hembusan nafas pria itu.


"Aku tidak akan pernah jatuh hati pada wanita lain. Kau harus paham itu!" Radit memberikan penekanan pada kata-katanya.


"Karena kau begitu mencintai wanita masa lalumu itu? Makanya kau tidak bisa mencintai wanita lain?"


"Iya!"


"Makanya aku bertanya, ada di mana dia sekarang? Biar aku menemuinya."


"Gak perlu cari kemana-mana. Dia sudah ada depanku sekarang."


"Di mana? Cuma aku yang ada di depanmu! Kau jangan mengejekku, Radit! Aku bukan wanita di masa lalumu!"


"Aowww!! Kenapa kau menggigitku lagi?!"


"Diam! Atau kubuat lebih banyak dan dalam."


"Aku menarik kata-kataku. Kau sebut saja aku bodoh daripada menggigit leherku. Kau seperti vampir!" gerutu Kiran.


"Radit!!! Jangan menggigitku lagi!!" pekik Kiran, tak menghentikan Radit yang menghujaninya dengan gigitan.


-


❇❇❇


Kiran mendengkus kesal melihat pantulan lehernya dari cermin yang ada di kamar mandi.


"Apa-apaan dia, kenapa membuat begitu banyak tanda di leherku? Syukur aku pakai jilbab. Jika tidak, aku pasti akan jadi bahan tertawaan orang!"


Kiran menggerutu, melihat tanda merah yang membekas cukup besar di lehernya. Merah, besar dan banyak. Sampai ke bahunya. Hasil mahakarya Tuan Radit Makarim.


"Yang kutahu, kissmark itu tanda cinta. Tapi semua ini tercipta bukan karena cinta, karena kebodohanku yang bertanya padanya. Kedepannya, aku tidak akan bertanya lagi dalam posisi tidur. Aku akan bertanya dalam jarak aman agar aku tidak dirugikan seperti sekarang," gumam Kiran pelan.


Ketika Kiran keluar dari kamar mandi, ia menunjukkannya pada Radit. Pria itu tersenyum bahagia saat melihat tanda merah itu.


"Itu tanda kebodohanmu. Coba kau pintar sedikit. Tanda itu tidak akan ada di lehermu."


Kiran menatap Radit datar. "Awas saja. Nanti malam aku yang menggigitmu!"


"Nggak perlu nanti malam. Sekarang saja jika kau ingin membalas." Radit membuka kancing kemejanya satu persatu. Kiran terkesiap.


"Eh, kau mau apa?" Kiran mundur ke belakang.


Aku yakin, otaknya memang konslet!


Kiran berdiri dengan kikuk, perlahan melangkah mundur ke belakang. Radit terus melangkah maju mendekatinya. "A-aku menarik kata-kataku tadi. Aku tidak ingin menggigitmu. Aku ingin menendangmu."


Radit menghentikan langkahnya. Wajahnya berubah datar. "Meminta balasan juga ada batasnya! Kau ini sungguh tidak tahu diri. Dikasi hati minta jantung. Aku kan menggigitmu bukan menendangmu! Dasar!!"


Radit tampak kesal. Ia mengancingkan kembali kemejanya. Kiran menghela nafas lega. Sebuah ketukan di pintu mengalihkannya.


"Masuk!"


Pintu terbuka. Tina masuk dengan menundukkan kepalanya sedikit. "Sebaiknya Mbak Kiran dan Mas Radit segera turun ke bawah. Semua sudah menunggu."


-


❇❇❇


Semua orang berkumpul di halaman. Pelayan yang mengucapkan selamat jalan sudah kembali ke pekerjaan masing-masing. Kiran memeluk Raisa dengan erat. Tidak terasa, hari ini adik iparnya itu akan pergi. Kembali ke rumah nenek. Kali ini, tak hanya Raisa yang pergi. Mama Ariana juga ikut menemaninya.


"Selamat tinggal Kakak Ipar .... Raisa menyayangimu," ucap Raisa memeluk Kiran lama.


Setelah mereka melepaskan pelukan, Raisa mengusap sudut matanya yang basah. Perjumpaannya dengan Raisa masih terbilang sebentar namun Kiran pun merasa seperti sudah lama mengenal adik iparnya itu.


"Hati-hati di jalan ya, Dek. Kakak pasti akan merindukanmu." Kiran menangkup wajah Raisa dengan sayang. Mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih. Siapa pun yang dekat dengan Raisa pasti merasa ia seorang gadis kecil mungil yang selalu minta untuk disayangi serta dikasihi.


Kini tiba giliran Raisa memeluk Radit. "Kakak jaga diri baik-baik. Raisa nggak mau kehilangan seorang Kakak lagi ...," pintanya sambil berurai air mata.


"Dasar cengeng. Kakak juga nggak mau kehilanganmu. Jadi ingat selalu pesan Kakak. Nilai juga ..., selalu pertahankan untuk sempurna." Kata-kata Radit membuat emosi Raisa berubah. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Raisa selalu ingat pesan Kakak, tapi mbok ya jangan bawa-bawa nilai. Biar Kakak tahu, yang kebayang di kepala Raisa itu waktu ujian bukan wajah dosennya tapi wajah Kakak yang melotot dan bilang 'Raisa ..., nilai jangan lupa. Selalu pertahankan untuk sempurna.' Mbok ya momen gini tu jangan inget nilai Kakak ....!" Raisa mengomel.


Mama Ariana dan Tuan Mahesa menahan tawa. Keceriaan di keluarga mereka akan hadir jika ada Raisa.


Tuan Mahesa melirik Mama Ariana. "Nanti akan Papa jemput. Rindukan Papa ya, Ma," bisik Tuan Mahesa pelan.


Mama Ariana terkesiap kemudian mencubit pinggang Tuan Mahesa dengan pelan. "Papa juga. Kalau udah rindu Mama langsung datang aja ke sana. Jangan ditahan-tahan," balasnya sembari memberi kode ke bawah. Refleks Tuan Mahesa melirik ke bawah, ke arah celananya.


(Ulala... Mama...😆😆)


Wajah Tuan Mahesa bersemu merah. "Si Mama mah bisa aja ..., tau aja yang Papa suka."


Tuan Mahesa berbisik dengan sangat pelan. Anak-anak mereka tidak ada yang menyadari obrolan kedua orang tua mereka. Tuan Mahesa melirik ketiga anak mereka. Raisa terlihat masih protes dengan manja pada sang Kakak. Radit mengacak-acak rambut Raisa. Kiran hanya bisa menyunggingkan senyum melihat tingkah mereka berdua.


Bara memandang Raisa dengan sedih. Namun dia menyembunyikannya dengan rapi. Raisa mendekatinya juga. "Raisa pergi dulu ya, Kak Bara. Jaga Kak Radit ya, Kak. Kakak juga jaga diri baik-baik," ucap Raisa di hadapan Bara.


"Kakak nggak dipeluk juga kayak Radit?" tanya Bara, berharap lebih.


Radit mendehem. "Belum mahrom. Haram peluk-peluk!" Wajah Bara tampak kecewa.


"Padahal Raisa pengen banget banyak ngobrol sama Kak Bara. Tapi Kakak sibuk banget," ujar Raisa.


Bara memonyongkan mulutnya. "Akibat Kakak kamu tuh, yang gila kerja." Radit memalingkan wajahnya. Tak mengacuhkan mereka.


"Rindukan Kakak ya, Dek. Jangan cari cowok lain. Babang Bara akan melamar adek kalau adek udah tamat nanti."


Bara berbisik pada Raisa. Tak dipedulikan Radit yang melototinya. Raisa memberikan satu jempolnya pada Bara.


"Kalo nggak ada yang lebih ganteng dari Babang, Adek pasti nggak nyari cowok lain. Tapi kalo ada yang lebih ganteng, adek nggak janji ya, Bang," balas Raisa berbisik, mengedipkan satu matanya. Membalas kata-kata Bara.


"Udah. Jangan dekat-dekat. Gih, masuk saja ke mobil." Radit menarik Raisa, menuntunnya ke dalam mobil.


"Dek, yang ganteng banyak. Yang setia cuma Babang Baraaa ...!" pekik Bara tak peduli pada Radit yang melirik dan menatapnya tajam.


Meski tatapan Radit tak dipedulikannya. Namun begitu tatapannya bertemu dengan mata Tuan Mahesa, nyalinya ciut juga.


"Saya bercanda, Pak. Biasa Pak, anak muda ...." Bara menundukkan kepalanya sedikit. Tersenyum kecut menatap Tuan Mahesa. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak berani menatap mata elang pria paruh baya itu.


Bapak sama anak, sama aja horornya. Tapi demi dirimu Dek Raisa, apapun Babang jabanin ....


Mama Ariana ikut masuk ke dalam mobil. Raisa melambai dari dalam mobil. Bara terkesima menangkap senyum manis Raisa. Radit menyikut Bara. "Jangan diliatin kali. Nanti kecantikan adikku bisa luntur."


"Dasar pelit. Kau memang bukan sahabatku!" Bara melengos.


-


❇❇❇


"Karina ..., makan siang nanti, kau harus ikut denganku!" kata Radit. Mereka sudah berada di dalam mobil menuju gedung TJ Company.


"Tuan Radit Makarim ..., berapa kali anda harus saya ingatkan bahwa nama saya Kiran dan bukan Karina lagi."


"Tapi aku menikahi Karina. Waktu akad itulah nama yang aku baca." Radit berkilah.


"Baiklah. Kau menang. Mau kemana siang nanti?"


"Kita makan siang di luar. Sekaligus ada yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?" tanya Kiran penasaran.


"Orang yang memang harus kau temui. Tapi aku minta kau jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum ia menceritakan semuanya padamu. Dengarkan dulu apa yang ia bicarakan baru ambil sikap yang tepat," ucap Radit menatap Kiran sekilas.


Kiran tercenung. Orang yang harus aku temui? Siapa?


❤❤❤💖


Mana netizen yang bilang part-nya kok dikit kali...??


Nah, Part ini khusus aku banyakin biar para netizen senang...


So, kalo udh senang. Nge-vote nya yang banyak juga ya. Biar aku juga senang bin bahagia.


Ulala..


Trus..., ada lagi nie...


Si Bambang beli piala


Singgah sebentar beli terasi


Buat para readers yang masih setia


Aku ucapkan banyak terima kasih..


Aseeekkk... Hupla...


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Isi Partnya udh banyak plus pantun pula. Nge-vote jangan lupa dibanyakin juga ya...


See u next chapter..


😁😁😁