Behind The Boss

Behind The Boss
Jangan Mengganggu



Setelah menyelesaikan makan siangnya di rumah yang rencananya akan Radit hadiahkan pada Ari, pria itu pun mengajak Kiran untuk menyeburkan diri di dalam kolam renang.


"Panas, Kak." Kiran memberikan alasan. Namun Radit tak menanggapinya. Pria itu malah mengeluarkan remot kemudian dengan ujung jarinya membuat sebuah atap yang otomatis menutup kolam renang itu hingga matahari pun tak masuk.


"Aku pakai baju apa, Kak, jika baju ini basah." Masih mencoba memberikan alasan lain.


"Gak usah pakai baju." Radit menjawab singkat sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak lama terdengar jeritan protes dari Kiran.


"Kakak?! Mana boleh begitu!"


Radit terkekeh. "Aku udah siapin bajunya. Ada di kamar ganti. Mandi aja yuk."


Dengan gerakan cepat Radit membuka bajunya hingga membiarkan dadanya terbuka. Mendekati Kiran kemudian menggendong tubuh gadis itu dan ....


Byurrr!!!


"Aku belum siap-siap, Kak!" Kiran menyembul ke permukaan dan langsung memrotes Radit. Pria itu hanya terkekeh melihat Kiran mengusap wajahnya.


Kiran menarik satu sudut bibirnya. "Kakak mau main-main denganku? Ayuk, kita lihat siapa yang menang."


Kiran mengayuh tangannya, mendekati tubuh Radit lebih dekat. Meletakkan tangannya di bahu Radit. Kemudian menekan kuat pada bahu pria itu. Otomatis Radit turun lagi ke dalam air.


Kiran masih menekan bahu Radit dengan kuat. Namun tetiba ia kehilangan tubuh pria itu di tangannya. Tidak ada pergerakan. Kiran melayangkan pandangannya ke sekitar permukaan air. Tak terlihat Radit menyembul keluar dari sana. Sebab merasa khawatir, Kiran menahan nafas, mencoba menyelam kembali ke dalam air, mencari Radit. Mungkinkah pria tinggi tegap itu tak mampu menahan nafasnya? Padahal menurut Kiran masih setengah dari yang ia bisa. Namun, belum sempat Kiran menyelam lebih dalam, tubuhnya terangkat kembali ke permukaan.


"Mencari aku ya?" Radit menyunggingkan senyuman. Tangannya masih berada di pinggang Kiran. "Kau tidak meragukan kemampuanku kan? Kau khawatir aku tenggelam?" Radit berdecak.


"Harus ada hukumannya nih, kalau begini."


"Lagi? Apa?"


Meski sudah bisa memahami apa maksud hukuman yang dimaksud Radit, Kiran tetap saja mengajukan pertanyaan sebab mereka baru saja melakukan salah satu hukuman yang diinginkan pria itu.


Satu hari kami harus ciuman berapa kali, sih?!Aku kan sudah menciumnya tadi.


Radit tak menjawab. Ia mendekati Kiran. Mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan menempatkan wajahnya beberapa senti dari wajah Kiran. Di sela itu, Kiran menyadari tangan Radit membuka blazernya. Tidak sampai di situ. Kini tangan itu membuka kancing kemejanya satu persatu. Radit menjauhkan wajahnya. Kiran merasa tubuhnya menghangat tiba-tiba.


"Kak?"


"Hanya ada aku di sini. Apa yang kau takutkan. Bara juga akan menghalangi siapa pun yang berani masuk. Jadi cuma aku yang lihat."


Kiran menahan nafas saat kemeja itu akhirnya juga terbuka. Pun dengan jilbab yang bertengger di atas kepalanya. Terlempar ke tepi kolam oleh Radit. Pria itu memegang kedua bahu Kiran. Mencondongkan tubuhnya mendekati Kiran. Menjangkau bagian samping wajah gadis itu. Nafas Kiran memburu, merasakan sapuan nafas pria itu pada samping wajahnya.


"Nah, jika sudah terbuka begini. Kau bisa kejar aku." Radit berbisik pelan di telinga Kiran kemudian berenang menjauh.


Kiran terkesiap. "Kakak ...! Kalo cuma minta aku ngejar Kakak kenapa mesti baju aku dibuka sih?!"


"Kamu lambat pakai baju begitu. Sekarang kejar aku. Siapa kalah harus mandiin yang menang."


"Taruhan apa begitu? Aku nggak ikut."


"Kalau begitu kau kalah. Hahaha ... siap-siap aja aku mandikan." Radit berenang semakin menjauh.


Merasa tidak ada pilihan lain, Kiran akhirnya mengejar Radit. Mereka berenang memutari kolam renang. Beberapa kali Radit memercikkan air kepada wajah Kiran sebagai upaya mengelak dari wanita itu yang ternyata tak disangka mampu berenang dengan cepat. Berulangkali kaki Radit hampir ditangkapnya. Meski apapun hasilnya tetap saja menguntungkan baginya namun Radit tidak ingin mengalah dengan cepat. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berenang menjauh dari gadis itu.


Hingga tanpa mereka sadari, waktu terus berputar. Meninggalkan waktu terbuang yang sekarang sedang disesali oleh asisten pribadi Radit di lantai dasar. "Ah, dasar! Sedang apa lagi mereka? Sudah jam tiga lewat begini kok belum turun juga?" gerutu Bara kesal.


Ingin sekali dia naik ke atas dan mengingatkan sahabat sekaligus bosnya itu namun mengingat pesan yang dilayangkan pria itu sebelum naik dengan memasang wajah seram membuat Bara mengurungkannya. Kalimat itu yang membuatnya menelpon kembali tiap sekretaris anak perusahaan bahwa rapat yang rencananya akan diselenggarakan setelah makan siang akan dibatalkan.


"Setelah para pelayan membawa piring kotor ke bawah maka kau harus cegah siapa pun masuk ke lantai atas sebelum aku turun. Kau harus pastikan itu. Jika ada yang mengganggu, maka akan kubuat hidupmu tak tenang." Kata-kata angker itu terngiang lagi di telinga Bara.


"Cih, harus sampai ngancam aku begitu?! Padahal aku tahu maksudnya. Dia melarangku naik sebelum dia turun. Tinggal bilang begitu saja, pasti aku akan tetap di sini. Ya meski aku sendiri penasaran sedang apa mereka di atas sana." Bara menggumam sendiri.


Ia melihat layar laptopnya lagi. Sebuah pesan terlintas kembali. Aku ingin bahagia, Bara ....


Bara meraih ponselnya. Menekan sebuah nomor pada daftar kontak di sana. Sebuah panggilan ia hubungkan. Dia menunggu sebentar hingga panggilan itu tersambung.


"Halo?" Terdengar suara dari sebrang.


Ah, akhirnya. "Rian ..., aku bisa minta tolong?" (Jika ada yang ingat, Rian ini pernah keluar namanya sebagai tangan kanan yang menolong Bara mencari Ari. Sebab Bara juga harus membantu Radit menangani perusahaan. Maka urusan pencaharian di sungai dilakukan oleh Rian hingga akhirnya Ari ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sana.)


"Ada apa, Bara?"


Bara mengutarakan maksudnya. Sama sekali tidak ada selaan dari sebrang ketika itu terjadi. "Jadi bagaimana? Kau bisa?"


"Apa ini perintah?"


"Sifanya pribadi, sih, jika kau tidak bisa aku akan meminta pada yang lain."


"Baiklah."


"Kau mau?"


"Tapi tetap kau harus membayarku. Karena ini di luar pekerjaanku. Dan aku tidak ingin melakukan ini cuma-cuma."


"Itu bisa kuatur. Nanti akan kuberikan nomor gadis itu padamu. Kau hubungi saja dia dan ajak ketemu. Setelah itu semuanya kuserahkan padamu."


"Dia tidak keberatan?"


"Kau tenang saja. Dia sedang terdesak sekarang."


"Baik. Ada lagi?"


"Ah, satu lagi. Mana tau saja ini berguna untukmu. Jika kau menyukainya. Maka hadapkan dia pada situasi sulit lalu kau menolongnya maka dia akan jatuh cinta padamu."


"Hah?"


"Hahaha ... saran ini kuberikan jika mana tau kau nanti jatuh cinta padanya."


"Oke."


"Kau tahu dia siapa kan?"


"Ya."


"Baik, selamat menjalankan tugasmu. Aku tutup dulu. Assalamu'alaikum."


Setelah mendengar jawaban dari salamnya, Bara segera memutuskan panggilan. Dia menarik senyum tipis di bibirnya. Memainkan jemarinya pada layar ponsel. Mengetikkan sebuah pesan kemudian mengirimkannya pada gadis yang sedari tadi mengusiknya.


Akan kukirimkan seseorang untuk membantumu. Nanti dia akan menghubungimu. Namanya Rian. Kau bisa menggunakannya sebagai penggantiku.


Send.


Pesan itu dikirimkan kepada seseorang yang berada di chat teratas. Tanpa perlu menunggu jawaban, Bara mengirimkan nomor yang berada di chat teratas tadi pada Rian.


Segera hubungi dia! Pesan singkat juga Bara layangkan pada Rian. Sebuah balasan masuk. OKE!


Sudah menjadi kebiasaan bagi Rian. Ia selalu menjawab dengan cepat perintah Bara padanya.


Sebuah pesan masuk kembali. Pesan yang tak dihiraukan Bara. Ia letakkan ponselnya kembali ke atas meja setelah membaca pesan itu. Ia mencoba fokus kembali pada layar laptopnya. Pesan itu begitu menyebalkan baginya. Aku maunya kamu yang menolongku, bukan orang lain.


"Cih! Dikasi hati minta jantung!" semburnya pada ponsel yang berada di atas meja. Seakan sedang mewakili orang yang memberi pesan tadi untuk menerima ucapannya.


❤❤❤💖