
"Apa, Pak? Saya dimutasi? Tapi kenapa?" tanya Erlangga pada kepala HRD yang baru saja menyampaikan informasi padanya setelah dia dipanggil ke ruangan itu.
"Pimpinan perusahaan bilang kalau pekerjaanmu sangat bagus dan Kau layak dipindahkan ke perusahaan inti. Ah, induk perusahaan Armadja. Perusahaan impian bagi semua pekerja. Entah amal baik apa yang kau lakukan sehingga kau mendapatkan kesempatan emas ini." Kepala HRD menatap Erlangga dengan tatapan penuh kekaguman.
"Wajahmu memang pas-pasan, tapi kinerjamu sangat bagus."
"Te-terima kasih, Pak. Ka-kalau begitu saya permisi."
Erlangga pun langsung pergi dari ruangan itu membawa surat yang merupakan surat pemberitahuan pemindahannya ke perusahaan inti. Dia tahu pasti ini adalah ulah orang tuanya agar dia tidak terlalu jauh dari mereka.
Dia pun diam-diam menaiki lift dan pergi ke ruangan direktur untuk bertemu dengan pimpinan baru yang bernama Bima.
Setelah dirasa aman, Erlangga pun langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Erlangga? Ada apa?" tanya Bima dengan tatapan heran. Dia seperti melihat maling yang sedang mengendap-endap dan takut ketahuan.
"Om, kenapa aku dimutasi? Aku betah kerja di sini," ucap Erlangga dengan tatapan kesal. Dia mendudukkan dirinya ke atas sofa, lalu menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa? Bukankah itu bagus? Kau dipindahkan ke perusahaan inti agar orang tuamu tidak khawatir padamu."
"Aku justru tidak bisa bekerja dengan tenang jika diawasi seperti itu." Erlangga menggaruk kepalanya dengan kesal.
"Ya sudah, Om akan menyuruh kepala HRD untuk mencabut pemindahan itu. Cukup satu orang saja yang akan dipindahkan ke sana."
"Gadis bernama Anna Laura. Om lihat dia sangat rajin dan cantik. Wanita secantik itu tidak pantas berada di perusahaan kecil seperti ini. Dia harusnya berada di perusahaan inti. Dia pasti akan menjadi wanita populer di kantor," ucap Bima sambil tersenyum kecil.
"Apa? Jadi mereka juga memindahkan Nala?"
"Ah, ternyata kau memiliki panggilan khusus untuknya, ya. Manis sekali." Bima menatap Erlangga sambil tersenyum nakal untuk menggoda Erlangga yang pipinya mulai memerah.
"Jadi, apakah Nala menerimanya?"
"Dia terpaksa menerimanya karena tidak punya pilihan. Om rasa, saat ini dia sedang menangis di sebuah tempat. Meninggalkan kekasih tercintanya yang tak mau ikut dengannya ke perusahaan inti. Ah, manis sekali kisah kalian. Om sampai terharu."
Tanpa berbasa-basi lagi, Erlangga langsung pergi mencari keberadaan Nala yang ternyata ada di belakang kantor. Benar saja, Nala sedang menangis tersedu-sedu. Di sampingnya, ada sebuah amplop yang merupakan surat pemindahannya ke perusahaan ini.
"Nala!" Erlangga langsung mendatanginya.
Nala memeluk Erlangga dengan erat. Bahkan Erlangga belum sempat mengatakan apa-apa lagi.
"Aku tidak mau berpisah denganmu. Mereka tiba-tiba saja memindahkan ku ke perusahaan inti. Dan jika aku menolak, maka aku harus berhenti dan membayar pinalti karena melanggad kontrak kerja."
"Nala, tenanglah, kita tidak akan berpisah. Aku juga dipindah tugaskan ke sana," ucap Erlangga dengan senyuman lembutnya.
"Benarkah? Jadi kau dipindahkan juga? Angga, aku sangat bahagia jika bisa bekerja satu tempat denganmu lagi." Nala tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia tidak akan berpisah dengan Erlangga karena pria itu juga ikut dipindahkan ke perusahaan inti yang tak diketahuinya kalau perusahaan itu adalah perusahaan keluarga Erlangga sendiri.