Behind The Boss

Behind The Boss
Bertemu mantan



Sepulang bekerja dan makan malam, Erlangga pun mengirimkan pesan pada Nala untuk mengajaknya keluar jalan-jalan sebentar.


Mereka pergi ke taman yang ada di dekat basement mereka. Duduk sambil menikmati angin malam yang segar.


"Bagaimana suasana kota menurutmu?" tanya Erlangga pada Nala.


"Aku sudah terlalu lama tinggal di ibukota. Istirahat di kota kecil selama setahun, lalu kembali lagi ke ibu kota. Menurutmu bagaimana suasananya?"


"Menurutku kau tidak terlalu senang berada di sini."


"Awalnya begitu, tapi, karena kau selalu ada bersamaku, aku mengesampingkan perasaan itu. Entahlah, semakin lama, aku semakin jatuh cinta padamu," ucap Nala sambil bersandar di bahu Erlangga.


"Aku senang jika kau merasa nyaman denganku. Apa kau haus? Mau cokelat panas?"


"Boleh."


"Aku akan belikan ke minimarket," ujarnya sambil berlalu. Namun, Nala menarik tangannya hingga dia terhenti.


"Aku ikut," ujarnya sambil menarik Erlangga pergi.


"Kau masih saja takut, padahal aku sudah katakan padamu bahwa dia tidak akan pernah mengganggumu lagi." Erlangga merangkul mesra pinggang Nala.


"Aku tidak takut dia datang. Aku hanya takut jauh darimu."


Erlangga tersenyum mendengar ucapan Nala. Dia hanya mengusap kepala gadis itu dengan gemas.


Mereka pun sampai di minimarket dan segera membeli cokelat dan menyeduhnya di dalam. Setelahnya, mereka pun keluar dan duduk di halaman minimarket yang menyediakan bangku dengan payung besar di atasnya.


"Anna?" ucap seorang pria yang tak lain adalah Hery, mantan kekasih Nala yang sudah menikah.


Nala tentu saja terkejut bertemu dengan Hery di kota ini.


"He-Hery?"


"Tidak disangka kita akan bertemu lagi. Apa kabar? Kau masih tak berbeda dari yang dulu," ucap Hery dengan tatapan penuh ejekan.


"Apa dia temanmu?" tanya Hery yang sama sekali tidak mengenali Erlangga.


"Lebih dari itu, dia kekasihku," ucap Nala dengan tatapan sinis.


Hery terlihat menahan tawa. Dia terus menyorot tampang dan gaya rambut Erlangga. Belum lagi kacamata besar yang digunakannya.


"Ternyata kau begitu depresi setelah putus denganku hingga memilih kekasih asal-asalan. Jujurlah, aku puluhan kali lebih tampan dari dia, kan?"


Erlangga yang mendengar ucapan Hery hanya bisa mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja. Dia harus tenang dan tidak boleh terpancing emosi.


"Maaf, sepertinya sudah terlalu malam untuk suami yang meninggalkan istrinya di rumah."


"Istriku menuruti semua yang aku katakan. Jadi, aku tidak perlu khawatir. Aku bebas kemanapun aku suka."


"Terdengar tidak harmonis," gumam Erlangga yang langsung membuat Nala tertawa.


Hery yang merasa diejek langsung mencengkram kerah baju Erlangga dan hendak memukulnya.


Namun, Nala dengan cepat melerai mereka. "Lepaskan kekasihku! Kau tidak berhak memukulnya!"


Hery langsung melepaskan tangannya dari Erlangga. Dia menatapnya dengan tajam.


"Kau tidak berhak bersama Anna! Kau hanyalah manusia jelek yang miskin! Harusnya aku yang bersamanya!"


Nala tentu saja terkejut mendengar ucapan Hery yang seperti orang gagal move on itu.


"Hery! Berhentilah berpikiran gila! Aku sudah mengubur Kisah kita sejak hari itu. Hari dimana kau lebih membela keluargamu dan mengatakan bahwa aku memang wanita yang tidak memiliki etika karena miskin!"


"Tapi kau tidak pantas bersamanya. Dia hanyalah manusia jelek dan miskin!"


"Tapi aku mencintainya! Dia memberikan aku kenyamanan. Sedangkan kau? Kau hanya orang egois yang membela keluargamu yang suka menghina itu!"