Behind The Boss

Behind The Boss
Gangguan



Setelah memendam kekesalan dan mengeluarkan beberapa gerutuan akhirnya sepasang suami istri yang baru berbaikan itu pun turun dari lantai dua dengan jemari saling menaut disertai senyuman serta warna kemerahan yang menghiasi wajah keduanya. Alarm kepo tingkat dewa Bara pun berbunyi. Mereka habis ngapain tadi?!


Matanya mengamati rambut basah Radit. Baju Kiran yang telah berganti. Ditambah senyum malu-malu itu membuat sebuah kesimpulan berdenting dalam balutan rasa penasaran Bara. Apa mereka habis melakukan itu? Siang-siang begini hingga mengabaikan pekerjaan sedari tadi?


Bara menggeleng lemah. Sungguh picik! Apa tidak bisa menunggu nanti malam? Jadi sedari tadi aku menunggu mereka melakukan itu? Bara membuang muka.


"Hei, kau memikirkan apa? Pasti pikiranmu sedang berpikir yang tidak-tidak sekarang kan?" Radit menyela tebakan serta gerutuan dalam pikiran Bara yang mengembara. Melihat raut wajah sahabatnya yang terlihat kesal, ia bisa tahu apa yang sedang temannya itu pikirkan.


"Seharusnya aku yang bertanya. Kalian habis ngapain sampai rambutmu basah begitu?" tanya Bara terus terang. Meski sebenarnya dia sudah punya jawaban atas itu.


"Habis melakukan perbuatan yang mengasyikkan. Perbuatan yang harusnya dilakukan suami istri sungguhan. Kau yang masih jomblo mana mungkin tahu," jawab Radit tersenyum penuh arti, menggoda Bara. Aku tahu pikiranmu kemana Bara.


"Dasar kemaruk!" Bara mendengkus. Perbuatan suami istri sungguhan yang mengasyikkan sama dengan itu kan?


Wajah Bara tambah sewot. "Lain kali kalau memang mau melakukan perbuatan suami istri sungguhan yang mengasyikkan, lakukan di malam hari. Atau lakukan saat agenda kosong," semburnya mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi disimpannya. Radit terkekeh.


"Kami habis berenang, Bara ...," timpal Kiran mementahkan apa yang pria itu pikirkan. Bara sedikit terkejut. Namun ia berusaha menyembunyikannya. Oh, berenang ....


"Aduh, kok dibocorin sih, Sayang. Tidak perlu diberi tahu si Bara juga sudah tahu. Dia ini kan tipe peka. Peka tingkat dewa. Mana mungkin dia berpikir kita akan melakukan hal selain berenang karena kan sedari tadi kita di lantai dua. Di area kolam renang. Tentu dia akan berpikir ke arah sana," celetuk Radit menahan tawanya. Tidak ada habisnya dia menggoda sahabatnya itu yang akhirnya memendam rasa malu akibat pikirannya yang melalang buana.


"Ya, aku tahu kalian habis berenang. Mana mungkin kalian melakukan hal aneh di kolam renang," timpal Bara menyembunyikan apa yang dipikirkannya tadi.


"Semua agenda tadi siang sudah aku cancel. Jangan katakan kita akan membatalkan agenda sore ini juga?" imbuh Bara lagi, melirik Radit.


"Tidak. Tentu akan kita laksanakan agenda itu. Kita akan mengantar Kiran ke TJ terlebih dahulu. Setelah itu kita berangkat ke tempat tujuan kita."


Setelah menjawab pertanyaan Bara, Radit mengajak Kiran ke teras depan dan memberi kode pada Bara untuk mengambil mobil mereka. Tak lama kemudian sebuah sedan hitam itu berhenti di hadapan mereka. Sepasang suami istri itu pun segera masuk ke dalamnya dan mendaratkan tubuh mereka di kursi penumpang dengan jari saling bertaut dan bibir senantiasa mengulas senyuman.


"Ingat untuk pulang ke rumah tepat waktu ya, Sayang. Gak perlu lembur. Jika ada pekerjaan yang membuatmu kesusahan tinggal menyerahkannya pada Bara karena dia yang mengusulkan untuk memecat Lusi." Radit melirik Bara sekilas. Menangkap gerutuan sahabatnya itu meskipun tak bersuara. Radit menahan senyumnya. Dia memang sengaja menggoda sahabatnya itu.


Meski Kiran juga memahami arti ucapan itu, ia menjawab juga perkataan itu dengan baik. "Iya, Kak."


"Kiran turun dulu ya, Kak." Kiran mencium punggung tangan Radit takzim. Pria itu membalas dengan membelai lembut kepala Kiran.


Perempuan itu mengayunkan kakinya keluar dari mobil. Tatkala gadis itu berjalan menjauhi mobil, terlihat sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi seperti hendak menerjang tubuh Kiran. Beruntung Radit tahu dan segera menarik tangan Kiran hingga gadis itu terhindar dari motor yang melesat dengan cepat tadi.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Radit dengan cemas. Menatap Kiran yang tergagap dalam pelukannya. Matanya menyipit mengamati nomor plat motor itu yang bergerak semakin menjauh. Gerakannya terlalu cepat hingga Radit tak mampu melihat nomornya.


Kiran menggeleng cepat. "Tidak."


"Ada apa, Dit?" tanya Bara menghampiri, melihat tiba-tiba saja sahabatnya itu keluar dari mobil.


"Baik," jawab Bara kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.


Radit menggenggam tangan Kiran dan menggandeng wanita itu masuk ke dalam TJ Company. "Aku sudah bisa, Kak. Lebih baik Kakak pergi saja."


"Tidak. Aku akan melihatmu hingga masuk ke dalam lift," bantah pria itu masih menunjukkan kecemasan dalam matanya.


Setelah memastikan Kiran masuk ke dalam lift, Radit keluar dari gedung itu. Ia kembali masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan dan menghempaskan tubuhnya pada kursi di samping supir.


"Ada apa? Apa mungkin itu sebuah kesengajaan?" tanya Bara sambil mengemudikan mobil itu menuju jalan raya. Bara menyadari raut wajah Radit yang berubah sejak peristiwa Kiran dan motor yang melesat kencang tadi. Sahabatnya itu terlihat sangat khawatir.


"Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melintas di trotoar dan bukan di jalan raya. Bersamaan dengan waktu turunnya Kiran. Tidakkah itu aneh, Bara? Tidak ada yang kebetulan untuk hal seperti itu. Yang ada kesengajaan."


"Siapa?"


"Akan kutanyakan pada papa Kamil. Aku pikir dia pasti tahu jawabannya," cetus Radit sambil memandang ke depan.


"Intruksikan Rian untuk menjemput Kiran. Beritahu dia harus berbuat apa saat mengantar Kiran nanti. Aku tak ingin Kiran mendapat gangguan lagi seperti tadi."


"Baik," jawab Bara sambil tetap fokus pada kemudi yang ada di tangannya.


-


***


Sandi Sanjaya menghentikan mobilnya tepat berada di depan sebuah rumah yang jaraknya dekat dari lokasi tujuannya. Ia mengetuk pintu rumah itu. Ketika si pemilik rumah menyembul melalui celah pintu, ia pun meminta izin kepada si pemilik rumah agar membiarkan mobilnya berada di depan rumah itu. Dengan senyum ramah, si pemilik rumah pun membolehkannya. Meskipun jelas sekali terlihat raut kebingungan di wajah si pemilik rumah.


Setelah selesai dengan meminta izin untuk memarkirkan mobilnya, Sandi Sanjaya melangkahkan kakinya menuju rumah yang tak jauh dari rumah tempat ia memarkirkan mobil tadi. Mengamati rumah itu yang semakin lama semakin dekat. Sandi Sanjaya menghembuskan nafasnya ke udara. Menetralkan jantungnya yang bertalu lebih cepat dari sebelumnya. Hatinya berdesah. Merasa kebingungan pada awalnya. Namun ia segera memantapkan hati dan melangkah dengan yakin mendekati pintu depan rumah itu. Rumah makan yang sudah tidak dibuka lagi. Ia ketuk pintu itu dengan perlahan.


Hening.


Ia mencoba mengetuk pintu itu kembali. "Assalamu'alaikum ...." Sandi mengucapkan salam dengan sedikit keras.


Perlahan pintu berderit. Membuka sedikit celah terbuka. Menerbitkan seraut wajah yang sudah sangat lama tidak lagi dilihatnya. Raut wajah seorang wanita yang dulu sangat dicintainya.


"Rina ...," gumamnya pelan melihat seraut wajah wanita yang menyembul melalui celah pintu itu.


❤❤❤💖