
Ada satu lagi. Kalo aku cerita pasti kamu gak percaya," Bara memelankan suaranya, menatap Kiran yang mulai serius mendengarkannya.
"Badan Radit waktu SD itu sangat menggemaskan lho. Tinggi dan besar. Alias gemuk." Bara berbisik.
Eh, Kiran menautkan alisnya. Bara menyeringai.
"Dia sampai dipanggil Raksasa juga lho oleh teman masa kecilnya ...," Bara berbisik lagi, bisikan yang membuat Kiran terperanjat seketika mendengarnya.
Brak!! Kiran menggebrak meja. Bara kaget.
"Gak lu-cu!! Bener-bener gak lucu. Pasti kamu sedang mengejekku kan sekarang?! Siapa yang bilang? Radit?! Aku jadi tahu, dia menahan untuk mengejekku, menunggu dirimu yang bilang ternyata. Kalian memang sama saja. Emang kenapa, kalau aku menyimpan cincin dari teman masa kecilku?! Emang kenapa juga kalau aku panggil sahabat masa kecilku raksasa?! Apa itu terlalu lucu bagi kalian hingga kalian jadi mengejekku begini!" Kiran mendengkus kesal.
Bara melongo. Semua di luar dugaan. Lho, kepiye tho???
"Aku rasa kamu udah salah sangka, Kiran. Yang aku bilang tadi memang benar. Sama sekali aku gak ada niat mengejek. Aku cuma ...."
"Lalu darimana kamu tahu kalau aku pernah sekolah di situ? Alasan kamu pernah melihatku waktu SD itu omong kosong kan?! Emang kamu sudah usia berapa waktu itu hingga bisa bertemu denganku? Posisi daerah tempat tinggal kamu di mana waktu itu? Trus kenapa jadi lari ke Radit. Semua omong kosong!" Kiran membuang muka.
Bara menatap Kiran dengan bingung. Merasa serba salah. Mau dijelaskan takutnya nanti si 'herder' eh si Radit marah. Gak dijelaskan takutnya bini si 'herder' yang jadinya marah. Ribet banget kalo harus nutupin gini, batin Bara sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ditatapnya wajah Kiran yang semakin datar dan dingin, kembali menatap layar monitor.
"Gini aja deh, Kiran. Intinya aku gak ada niat buat mengejek kamu. Aku sebenarnya niatnya baik. Tapi aku juga gak bisa jelasin detailnya. Yang jelas, kamu buka mata hati kamu. Lihat orang terdekat kamu. Hubungkan dengan orang di masa lalu kamu," ucap Bara dengan penuh kesungguhan. Kiran tak acuh, masih berpura-pura fokus pada layar monitor.
"Maaf jika aku sudah menyinggung perasaanmu. Aku pergi dulu ya, Kiran. Terima kasih atas obrolannya. Selamat bekerja," ucap Bara, melangkah pergi menuju ruang kerja Radit.
-
❇❇❇
Radit sedang memeriksa laporan yang ada di mejanya ketika Bara melangkah masuk. Hari ini tidak ada agenda keluar ataupun meeting. Tuan Mahesa yang meminta Bara untuk mengurangi kegiatan Radit hari ini. Tuan Mahesa takut anak sulungnya itu terlalu lelah.
Bara menghela nafas, duduk di kursi yang berada di depan meja Radit. "Kenapa? Dugaan kita memang salah? Dia memang bukan Karina, kan?" tanya Radit, penasaran dengan ekspresi Bara yang tampak kecewa.
"Dia memang Karina. Dia memang pernah tinggal di sana dan sekolah di SD yang sama denganmu," ucap Bara dengan tidak semangat.
"APAAAA?!!!!!" Radit menggebrak meja. Bara tersentak kaget. Sudah dua kali sodara ....
"Istighfar, Dit. Kalau kau begini, aku bisa cepat koit." Bara mengelus dada. Ia kaget luar biasa.
"Berani sekali dia?!! Kau lihat kan, bagaimana aku terhadap wanita! Bahkan ketika aku tahu dia sudah meninggal pun, aku masih tidak bisa menerima wanita lain. Sementara dia, sudah pura-pura meninggal sehingga aku tidak bisa menemuinya, dia bahkan berani menyukai pria lain! Bahkan menjalin hubungan sampai berapa tahun ... dengan si Rangga itu, Bara?" Radit bertanya pada Bara di tengah-tengah amarahnya.
"Empat tahun," jawab Bara.
"Hah, empat tahun!! Coba kau bayangkan Bara. Di mana letak keadilannya padaku sekarang ini?!" lanjut Radit lagi. Meneruskan kekesalannya.
Bara menghela nafas. Kirain karena akhirnya dia tahu kalau Kiran itu sebenarnya adalah Karina, si Radit bakalan langsung happy. Eh, ternyata makin ngamuk ....
"Coba kau bayangkan Bara. Pantas aku diperlakukan seperti ini?!" Radit bertanya dengan emosi yang meluap-luap.
"Waktu kalian berjanji dia kan masih sembilan tahun. Masih kelas tiga SD juga. Hubungan kalian pun cuma setahun. Setelah itu lose contact. Dia hidupnya sendiri setelah SMA. Ada seorang pria yang menemaninya, sementara kau nya masih di antah berantah. Jadi ya wajar aja, kalau dia menyukai pria lain. Lamanya pria itu mengejar pun lebih lama dari dia mengenalmu. Rangga mengejar Kiran hingga tujuh tahun, dalam usia yang sudah beranjak dewasa. Nah, pria di depanku ini mengejarnya cuma dalam waktu setahun, itu pun masih anak-anak. Jadi kalo menurutku, ya wajar aja," jawab Bara panjang lebar.
Melotot ..., melotot deh elu, Dit. Biar sadar juga. Karina meninggal salah. Udah ada Karina marah-marah.
"Jadi maunya gimana?" tanya Bara malas.
"Katamu kemarin Lusi melamar jadi sekretaris kan?" tanya Radit.
"Iya ...." Bara menaikkan satu alisnya.
"Jangan bilang kalau dia mau kau panggil bekerja lagi," tebak Bara sambil menarik satu sudut bibirnya.
"Itu ide yang bagus!" ucap Radit menyeringai.
"OMG! Aku sedang mengingatkanmu. Bukan memberikanmu usul," Bara menepuk jidatnya.
"Tapi, aku setuju ide itu. Terima dia sebagai sekretaris TJ. Tapi buat perjanjian di awal. Jika dia membuat ulah maka dia harus keluar dari perusahaan tanpa kompensasi!"
Bara menggeleng pelan. "Jangan kalap karena cinta, Dit. Ambil hikmahnya saja. Yang penting kalian sudah menikah. Jangan memperkeruh suasana."
"Aku mau dia tahu bahwa bukan cuma dia yang suka padaku. Wanita di luar sana juga pada antri mengharapkan cintaku! Itu tujuanku! Bukan karena kalap apalagi karena ingin memperkeruh suasana!! Intinya DIA HARUS TAHU ITU!!" Radit menatap tajam Bara.
Nyali Bara jadi ciut. "Iya, Dit. Akan segera kukabari dia. Besok akan kusuruh dia datang menemuimu." Bara ngeloyor keluar ruangan, pergi ke mejanya. Mejanya berada di luar ruangan Radit. Tidak berapa jauh dari meja Kiran. Meskipun sebenarnya dia banyak menghabiskan waktu di ruangan Radit.
-
❇❇❇
Wanita tua itu melangkah pelan-pelan dengan tongkatnya menuju ruangan Tuan Mahesa. Ketika resepsi pernikahan Kiran sengaja ia sembunyikan tongkatnya itu. Ia tidak ingin membuat cucunya malu.
"Silakan sebelah sini, Nyonya," ucap salah seorang pria, sekretaris Tuan Mahesa membimbing wanita tua itu menuju sebuah ruangan besar di kantor itu.
Pintu ruangan dibuka oleh sang sekretaris. "Silakan masuk, Nyonya," ia mempersilakan. Wanita tua itu tersenyum tipis menatap Tuan Mahesa yang tampak sedang menunggunya. Pria sahabat anaknya itu sedang duduk di sofanya.
Melihat wanita tua itu datang, Tuan Mahesa langsung berdiri. "Selamat datang, Nyonya. Silakan duduk." Tuan Mahesa menyambut wanita tua itu.
"Terima kasih, Mahesa. Kau memang selalu sopan sedari dulu," ucap wanita tua itu.
Ia pun melangkah pelan-pelan menghampiri sofa. Tampak wanita paruh baya yang masih tampak gagah berjalan di sisinya. Wanita gagah itu, diyakini Tuan Mahesa sebagai asisten si wanita tua, mungkin juga sebagai pengawalnya yang setia.
"Aku suka to the ponit Mahesa. Kedatanganku kesini hari ini masih ingin membahas tentang cucuku."
Tuan Mahesa mendengarkan. Ia menahan diri untuk tidak menyela.
"Tapi sebelum aku membahasnya denganmu, aku ingin kau tahu sesuatu tentang sahabatmu," ucap wanita tua itu menatap dalam mata Tuan Mahesa yang menjadi antusias mendengarkan wanita tua itu bicara.
❤❤❤💖
vote.. vote.. vote.. hehehe
kamsahamnida buat para readers yang udh baca plus like plus komen plus vote...😍😍😍😘