Behind The Boss

Behind The Boss
Aku Akan Selalu Membelamu



Bara dan Radit berlari kecil menghampiri Lusi. Wanita itu telah pingsan rupanya. Terdapat luka kecil di sikunya karena membentur pot bunga yang terbuat dari batu serta beberapa luka memar di kakinya.


Beberapa orang yang masih berada dalam kubikel mendengar teriakan Radit juga langsung mengerubungi Lusi. Ada yang langsung membawakan air putih hangat dan minyak kayu putih untuk digunakan pada Lusi.


Setelah dipercikkan sedikit air ke wajahnya, Lusi membuka mata. Setelah ia bangun, seorang karyawan wanita memberi Lusi air putih hangat tadi. Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya.


Lusi mencoba bangkit namun ia mengaduh karena kakinya terasa sakit. Beberapa karyawan pria menolong. Atas perintah Radit, Lusi dibopong ke dalam ruangannya.


Dari semua keributan yang mengitari Lusi, Kiran terpaku sendiri, masih berdiri di tempatnya. Pikirannya berkecamuk. Antara kasihan, kesal maupun khawatir terjadi sesuatu pada Lusi. Namun rasa takut tak sedikitpun menyeruak di antara semua rasa. Ia pun ikut masuk ke ruangan Radit. Selain ingin mengetahui keadaan Lusi, ia juga ingin melihat seperti apa respon Radit atas kejadian ini.


"Letakkan saja dia di situ!" Perintah Radit pada karyawan pria yang menggendong Lusi, menunjuk sofa. Pria itu meletakkan Lusi di sofa sesuai perintah Radit.


"Bara, minta supir kantor untuk mengantar Lusi," perintah Radit kemudian. Bara mengangguk kemudian meraih interkom.


"Usul saya Pak. Lebih baik Ibu Lusi diurut dulu sama Pak Man," ucap salah seorang karyawan. Dia pria yang menggendong Lusi tadi.


"O..., office boy itu ya? Bapak itu bisa mengurut?" Radit mengingat wajah office boy yang sudah lumayan tua itu. Ia masih bekerja karena penghargaan atas dedikasinya membersamai TJ sejak lama.


"Bisa Pak." Karyawan tadi menjawab dengan cepat.


"Kalo gitu, bisa tolong kamu panggilkan Pak Man ke sini."


"Bisa Pak. Kalau begitu saya permisi Pak." Karyawan pria tadi langsung mengambil langkah besar keluar ruangan.


Tak berapa lama kemudian, seorang pria yang dipanggil Pak Man tadi datang bersama karyawan yang diperintah Radit untuk memanggilnya. Setelah datang ia langsung mengecek kaki Lusi.


"Terkilir sedikit saja ini, Pak," ucapnya tenang. Mencoba mengurut kaki Lusi. Awalnya Lusi mengaduh kesakitan, hingga berteriak kesakitan. Namun setelah Pak Man selesai mengurut, kakinya sudah bisa digerakkan.


Setelah Lusi terlihat baik-baik saja, beberapa karyawan yang ikut masuk ke ruangan Radit undur diri. Termasuk Pak Man dan karyawan pria tadi. Menyisakan Radit, Kiran, Bara dan Lusi di ruangan itu.


"Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi?" tanya Radit segera setelah semua orang keluar.


Lusi dan Kiran sama-sama bungkam. Lusi yang biasanya selalu bicara lebih dahulu juga membisu. Sejujurnya ia merasa takut. Sementara Kiran, sengaja membiarkan Lusi berbicara lebih dahulu. Ingin melihat, alasan apa yang dibuat wanita itu.


Merasa tidak ada jawaban, Radit emosi. Ia menggebrak meja. "Kenapa kalian berdua bungkam?! Kalian berani bertindak seperti itu, tapi hanya bisa diam saat ditanya!" Intonasi suaranya kini telah meninggi. Bara spontan melirik Lusi tajam.


Radit menghela nafas pelan. Meredakan amarahnya. "Kau dulu yang cerita Kiran. Apa yang terjadi?" tanya Radit, intonasi suaranya sudah seperti biasa.


"Anda mungkin sudah melihatnya hingga meneriaki saya seperti tadi. Jadi seperti itulah yang terjadi, seperti yang anda lihat." Kiran menjawab dengan tenang.


Jawaban ini membuat Radit hilang akal. Sebab secara tidak langsung Kiran telah mengatakan bahwa saat ia berteriak dari jauh tadi secara tidak langsung ia sudah menuduh Kiran sebagai pelaku dan Lusi korbannya.


Jika bukan Kiran, orang yang berbicara seperti tadi sudah pasti habis riwayatnya di perusahaan ini dibuat Radit. Sebab berani memberikan jawaban ambigu.


"Apa maksudmu? Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa membuat keributan di kantorku?!" Radit mulai emosi lagi di akhir pertanyaannya.


Kiran ingin menjawab. Tapi hatinya baru saja patah oleh ucapan Radit sebelumnya. Apa harus ia mengalami patah hati untuk kedua kali? Dan bukankah seperti mengadu jika dia mengatakan semuanya? Sementara ia sendiri sangat membenci hal itu.


Bingung menentukan jawaban agar tidak terdengar klise, dan karena belum mendapatkan jawaban yang tepat akhirnya Kiran bungkam. Alasan lain, sebab Kiran masih merasa malas berbicara dengan pria ini. Apalagi sepertinya Radit terlihat kesal dan marah padanya.


"Kenapa kau cuma diam?! Aku bertanya padamu?! Apa ini caramu menyelesaikan masalah?! Kau pikir semua masalah bisa hilang dengan kekerasan?! Kau ingin satu kantor tau kalau kau memukul orang lain?! Kau kira akan terlihat hebat jika kau melakukan itu?!"


Radit mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Bukan pertanyaan tapi kemarahan. Ia marah pada Kiran karena tidak menjawab pertanyaannya. Padahal sengaja ia bertanya lebih dulu pada Kiran agar Kiran memperoleh kesempatan pertama untuk didengar jawabannya. Bukannya menjawab, wanita itu malah bungkam. Membuat Radit naik darah.


Kiran mematung di tempatnya. Tanpa ekspresi di wajahnya. Menurutnya diam lebih baik daripada bicara untuk saat ini.


Mendengar kemarahan Radit, wajah Lusi semakin pucat. Sebelumnya ia pucat karena kaget, mendapat perlawanan frontal dari Kiran. Tidak menyangka wanita itu bisa melakukan aksi beladiri seperti tadi. Pucat itu semakin bertambah mendengar kemarahan Radit.


"Coba sekarang kau yang katakan Lusi! Ada apa sebenarnya?!" Tatapan Radit kini beralih pada Lusi.


"Semua ini salahku. Aku yang membuatnya marah," jawab Lusi lirih. Merasa tak mampu mengelak.


"Jika tau salah, kenapa masih kau lakukan?! Aku kan sudah memberi peringatan padamu tadi. Kenapa kau masih membuat masalah?!" Lusi mengkerut, mencoba menutupi diri di sofa.


Bara meliriknya sinis, Rasakan!


Seseorang mengetuk pintu. Setelah dipersilakan oleh Radit, seorang pria masuk ke dalam ruangan. Supir TJ yang dipanggil oleh Bara. Radit langsung menyuruh Lusi pulang, di antar oleh supir itu.


"Bantu Lusi keluar, Bara!" perintah Radit pada Bara, melihat Lusi masih tertatih ketika mencoba berdiri. Bara mengangguk. Kemudian ia membantu wanita itu untuk berdiri. Memapahnya keluar ruangan.


Hening beberapa saat. Radit hanya menatap Kiran yang mematung. "Tidak ada lagi yang ingin Anda katakan pada saya?" tanya Kiran tenang.


Radit sedikit terkejut. Meski cuma berdua, Kiran masih berbicara dengan bahasa formal. Begitu pun ia menjawab dengan tenang. "Tidak ada."


"Baik. Jika begitu, saya permisi dulu."


"Sebagai referensi Anda atas kejadian barusan. Jika Anda tidak keberatan dan tidak terlalu sibuk. Anda bisa melihat CCTV agar mengetahui lebih jelas penyebab kejadian tadi," ucap Kiran lagi kemudian ingin melangkah pergi.


"Aku tahu. Aku hanya ingin mendengarnya sendiri darimu. Seharusnya kau katakan seperti itu di hadapan Lusi."


Kiran terkesiap. "Saya pikir anda pasti akan objektif dalam menilai. Sebagai direktur utama, tentu Anda paling tahu jika kejadian tadi bisa dilihat menggunakan CCTV. Saya sendiri malah merasa kurang fair jika mengatakan hal seperti itu di hadapan orang lain. Saya tidak ingin terlihat seperti mengajari Anda."


"Bukan mengajari, Karina. Aku tidak merasa seperti itu. Aku hanya ingin kau melawan seperti biasa. Buat dia jatuh dengan argumenmu. Buktikan jika kau memang benar."


Kiran terdiam. Mencermati setiap ucapan yang Radit berikan.


"Apapun yang terjadi aku pasti akan selalu membelamu, Karina. Jangan pernah kau ragukan itu," ucap Radit lirih.


"Pembelaan itu tidak akan berguna jika tidak dilakukan di hadapan orang lain, Pak." Radit terdiam. Menjelaskan sekarang pun mungkin tidak akan ada gunanya. Setelah menatap Kiran lama, akhirnya ia biarkan Kiran meninggalkan ruangan.


"Pulanglah. Aku akan di sini sebentar lagi," ucap Radit setelah Kiran meminta izin pulang.


Setelah Kiran keluar. Radit meraih interkom dan melakukan panggilan pada ruang keamanan.


"Berikan aku video yang terjadi hari ini beberapa menit yang lalu di dekat ruangan sekretaris! Dan segera kirimkan ke ponselku." perintahnya melalui interkom. Setelahnya Radit menyebutkan nomor ponselnya. Sebuah jawaban mengiyakan terdengar dari sana.


Tidak berapa lama, Bara masuk ke dalam ruangan. Bersamaan dengan masuknya notifikasi video yang masuk. Radit segera membukanya. Ia mengernyitkan dahinya.


"Kau lihat apa?" tanya Bara melongok ponsel Radit.


"Jadi, apa lagi yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Bara setelah melihat video itu.


"Berikan dia cuti sepekan. Setelah itu kirimkan surat pemecatan beserta video ini," jawab Radit tegas.


-


❇❇❇


Kiran pulang lebih dulu. Makan malam dihidangkan oleh Tina di balkon. Kiran sudah menolak. Namun ternyata Radit telah memberi perintah langsung pada Tina hingga perintah itu tak akan bisa ditolak. Maka, mau tidak mau Kiran makan juga meski hanya sedikit.


Sudah larut, namun Radit belum pulang juga. Padahal tadi Radit berkata bahwa ia hanya akan sebentar.


Ia sendiri nggak bisa memegang ucapannya. Lalu bagaimana aku bisa percaya padanya?


Lintasan kejadian tadi membayang. Bentakan Radit pada Lusi bahwa ia telah memberi peringatan sebelumnya. Apa benar pria itu telah memberi peringatan pada Lusi? Jika benar, kenapa tidak langsung di hadapannya?


Setelah berpikir dan menduga. Akhirnya Kiran tertidur juga. Di saat ia terlelap, ia tersentak saat sebuah tangan tegap dan dingin melingkari pinggangnya. Kiran menoleh.


"Biarkan seperti ini. Aku hanya ingin memelukmu."


Kiran ingin membantah, namun urung mendengar suara Radit mencegahnya. "Aku memeluk Karinaku, istriku. Bukan memeluk sekeretaris yang sedang marah padaku di kantor tadi."


Akhirnya ia biarkan tangan Radit melingkar hingga akhirnya mereka berdua terlelap.


❤❤❤💖


Sori sori bori.. kalo telat up untuk hari ini. Ini pun di palain kali lho sayang-sayang aku..


Banyak yang ngamuk di part sebelumnya ya? Kok serem amat sih wahai para netizen.... hehehe..


Radit punya alasannya kok. Di part ini memang belum diungkap alasan Radit. Next part insya Allah.


Ini mata udh lima watt bikin this chapter. Jadi maaf sangat kalo ada tipo and nggak nyambung. Nanti saya revisi lagi deh Insya Allah..


O iya. Jika readers mungkin pada gak puas, kok lama banget sih Radit ngungkapin kalo dia itu teman masa kecil Kiran?


Tenang saja ya sayang2 aku, gak lama lagi kok. Paling beberapa chapter lagi.


Serius? Absolutely!!!


So, ikutin terus kisah mereka ya. Jadilah saksi cinta mereka...❤❤❤


(ceileww.. gaya amat dah.😁)


Wokelah. Sing penting, makasi banyak ya.. masih setia di novel ini. Aku doain semua pada sehat dan berlimpah rezeki. Aamiin


〰〰〰〰〰〰〰😘😘😘〰〰〰〰〰〰〰〰