
Kiran membuka matanya perlahan. Azan subuh sayup-sayup terdengar. Kiran menggeliat sebentar. Sontak ia tercekat. Sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya.
Kiran melirik, Radit sedang memeluknya dari belakang. Ia berusaha melepaskan pegangan tangan pria itu dari tubuhnya, namun seperti tak rela melepaskan, tangan pria itu semakin memeluknya dengan erat.
"Dit .... Dit!" panggil Kiran.
"Hmmm ...." Radit menyahut tanpa membuka matanya.
"Tanganmu, Dit. Aku mau bangun. Udah azan."
"Hmmmm ...." Tidak ada pergerakan. Tangan itu masih melingkar dengan erat.
"Dit!!! Tanganmuuu!!!" Kiran berteriak.
"Iya." Radit mengangkat tangannya.
Aneh, menurut Kiran. Pria itu sama sekali tidak marah. Ia yang biasanya pasti akan langsung nge-gas. Kini masih tampak kalem dan malah ikut bangun serta mendahului Kiran masuk ke dalam kamar mandi.
Kiran duduk di tepi tempat tidur menunggu Radit keluar. Begitu pria itu keluar, Kiran langsung masuk ke dalamnya.
Kiran merasa heran ketika keluar dari kamar mandi. Radit sedang duduk di atas tempat tidur. Pria itu sudah mengenakan sarung dan koko putihnya. Pria itu tampak sedang menunggunya.
"Kau menungguku?" tanya Kiran memberanikan diri menebak hal yang mustahil itu. Namun melihat posisi sajadah yang dibentangkan pria itu, memang seperti itu lah maksudnya.
"Iya. Kita salat berjamaah aja," jawab Radit.
Eh? Aku mimpi 'kan?!
"Udah jangan bengong. Segera pakai mukenamu!" perintah Radit.
Kiran segera meraih mukena dan memakainya. Ia mengambil posisi di belakang Radit. Melihat Kiran sudah ada di posisinya, Radit pun memulai salatnya. Ia mengangkat tangan, takbiratul ihram.
Perasaan Kiran menjadi hangat. Terasa damai mendengarkan bacaan pria itu. Tak disangka ternyata bacaannya sangat bagus. Kiran merasa ada getar aneh saat mendengar suara Radit. Namun ia menepiskannya, mencoba mengkhusyukkan diri pada salatnya.
Setelah salam, Kiran mengikuti tasbih yang dibaca Radit. Ia pun ikut mengangkat tangan dan mengaminkan ketika pria itu berdoa. Lagi-lagi rasa damai menggelayuti perasaannya. Semua terasa menenangkan.
Baru saja Kiran ingin bangkit karena sang imam telah selesai berdoa namun ia mengurungkannya. Dirinya tercekat saat Radit berbalik dan mengulurkan tangannya.
Hah? Maksudnya?
Tangan Radit masih menggantung di udara. Kiran sendiri bingung pria itu maunya apa. Apa dia mau aku mencium tangannya??
Saat pria itu menatapnya tajam, barulah Kiran sadar. Akhirnya ia raih tangan pria itu dengan canggung dan mencium punggung tangannya. Radit tersenyum menatap kepala Kiran yang sedang mencium punggung tangannya. Saat Kiran mengangkat kepala, Radit menyembunyikan senyumnya.
Kiran melipat mukenanya dengan bingung. Ia merasa kikuk luar biasa. Sesekali diliriknya Radit yang sedang duduk di atas sofa, membuka laptopnya.
Entah perasaanku saja, tapi sepertinya sikapnya berubah.
Seketika wajah Kiran memerah mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya tadi malam. Ia memimpikan Radit membelai wajahnya dan mencium dahinya. Kiran menepis mimpi itu dari ingatannya. Dirinya merasa malu.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Radit tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di hadapannya.
"Siapa yang menatapmu?" jawab Kiran dengan tak acuh. Kiran meletakkan mukenanya di dalam lemari yang ada di walk in closet.
"Kalau mau menatapku ya tatap saja. Siapa yang melarangmu," ujar Radit setelah Kiran berjalan kembali ke sisi tempat tidur.
"Aku rasa kau tidak tuli. Aku tidak menatapmu. Okey?!"
Pria itu terkekeh. "Semakin membantah, kau semakin ketahuan. Aku sudah tahu dari awal. Matamu itu tidak bisa berbohong. Kau seperti mengagumiku kalau aku memakai baju seperti ini. Kau suka kan?!"
Kiran tak menjawab. Makin dijawab maka pria di depannya akan semakin besar kepala. Terserah dia saja!
"Kau hari ini kenapa?! Kau tidak sedang demam kan?" tanya Kiran yang sedang mengambil posisi duduk di sisi tempat tidur.
"Kau mau membuatku marah?!" Radit masih fokus pada layar laptop. Tapi intonasinya menyiratkan bahwa dia akan marah jika hal itu memang benar terjadi.
"Ah, sudahlah. Lupakan!" Kiran mulai memakai jilbab instannya.
"Jangan kau pakai jilbabmu itu!" cegah Radit melirik Kiran.
"Hah?!" masih melanjutkan kegiatannya. Kini jilbab itu sudah terpasang di kepalanya.
"Kubilang jangan dipakai ya jangan dipakai! Kau tidak dengar kata-kataku tadi!" Kini pria itu bangkit menghampiri Kiran.
"Apa masalahmu? Kalau aku mau pakai kenapa rupanya? Kenapa harus emosi gara-gara jilbab!" Kiran melengos. Tak acuh pada Radit yang menghampirinya.
Radit menyusulnya dan duduk di sampingnya. "Buka!!" perintah Radit dengan tegas. Nah, kalau sudah intonasi yang begini nih, yang Kiran susah menolaknya. Ada aura kekuasaan yang menguar disertai dengan tampang mengintimidasinya itu.
"Kau ini kenapa ...?" gumam Kiran. Ia membuka jilbabnya kembali.
Biarlah kalau cuma jilbab, asal jangan bajuku aja yang minta dibuka!
"Kalau cuma kita berdua, kau harus selalu membuka jilbabmu. Kau itu istriku. Kalau kusuruh buka jilbab aja susah, bagaimana jika kusuruh buka baju?!"
Kiran menatap Radit dengan tatapan heran. Baru juga dibatinin ....
"Nanti malam temeni aku ke rumah sakit yuk, Dit." Kiran menatap Radit dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa, kau sakit? Apanya? Coba sini kuperiksa ...." Radit menatap Kiran dengan khawatir. Pria itu berdiri menghadap Kiran dan mulai seperti ingin memeriksanya.
"Kau yang mau kuperiksa. Aku takut ada sesuatu yang terjadi dalam saraf otakmu atau sesuatu yang berbahaya terjadi di sana. Perubahanmu ini membuat aku khawatir."
Radit menghela nafas pelan. Kembali duduk di samping Kiran. Sesaat ia terdiam seperti memikirkan sesuatu kemudian tubuhnya berputar menghadap ke arah wanita itu.
"Ada sesuatu di keningmu. Coba sini kulihat ...," katanya seakan melihat sesuatu di dahi Kiran.
"Hah?! Apa?!" Kiran memutar tubuhnya, menghadap Radit.
"Wah, ada nyamuk di dalamnya. Sini biar aku pukul."
Tuk! Tuk!
Radit mengetukkan ujung jari telunjuknya pada dahi Kiran. Tidak sakit. Tapi Kiran merasa itu tidak seharusnya.
"Aku sedang membunuh nyamuk-nyamuk itu. Dia yang selalu memberikan pikiran buruk tentangku di kepalamu. Biar hilang pikiran buruk itu."
Tuk!Tuk! Tuk! Radit masih mengetukkan jarinya di dahi Kiran.
"Hentikan, Radit!" Kiran menepiskan tangan Radit.
Radit tersenyum. Eh, dia tersenyum??
"Wah, sekarang sudah hilang. Alhamdulillah, mudah-mudahan kepala ini bersih dari pikiran-pikiran kotor tentang suaminya." Wajah pria itu tampak cerah.
"Dit, beneran. Aku merinding. Dirimu kenapa sih?! Kok berubah begini?! Ada apa?! Kau terserang puber memberi kebaikan pada orang lain, atau apa?!"
"Tolong diralat. Hanya padamu aku berubah. Tidak yang lain." Kiran menaikkan satu alisnya. "Kita ini suami istri, Kiran. Sudah selayaknya seperti itu."
Kiran masih belum bisa memahaminya. Pria di depannya ini, kadang-kadang masih tidak stabil perasaannya. Hari ini baik. Besok, bisa jadi dia berubah. "Baiklah kalau begitu," ujar Kiran lirih, malas berdebat.
Radit menyentuh ujung rambut Kiran. "Aku suka melihat rambutmu."
Eh? Kiran menepis perasaan-perasaan aneh yang kini melandanya.
Tiba-tiba, ia teringat akan satu hal. Wajahnya tampak memerah. Merasa ragu, harus bertanya atau tidak. Namun rasa bersalahnya membuat Kiran memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana dengan 'itumu'? Apakah baik-baik saja?" tanya Kiran, merasa malu. Kejadian kemarin saat dia dengan tidak sengaja menduduki sesuatu milik Radit, kembali diingatnya.
"Nggak tahu. Belum aku periksa," jawab Radit cuek. "Kalau kau begitu merasa bersalah. Kau boleh memeriksanya," kata Radit lagi. Pria itu berdiri hendak menanggalkan celananya.
Kiran terkesiap. "Kau gila??!" pekiknya tak percaya. Wanita itu sampai berdiri.
Radit tersenyum geli. "Aku ini suamimu, Karina. Nggak papa kalau dilihat olehmu. Nggak dosa. Begitu juga kalau aku ingin melihat tubuhmu." kembali duduk di sisi ranjang.
Kiran refleks menutupi tubuh bagian atasnya. "Kau jangan macam-macam. Ingat aku ini siapa dan kau siapa? Jangan kau lupakan itu! Ingat Ari!" kata Kiran terbata-bata.
Radit tersenyum menyeringai. "Aku siapa? Suamimu. Dan kau istriku. Ari juga sudah meninggal. Jadi kenapa? Bolehkan?!"
Wajah Kiran jadi bersemu merah. Memang ada yang salah dengannya .... Tapi tadi itu ..., Karina???
"Kau memanggilku Karina?" kembali duduk di sisi tempat tidur.
"Kenapa? Namamu kan memang Karina. Dan kau memang Karina. Jadi apa salah?"
"Ya enggak seperti biasanya kau seperti itu. Kau sebenarnya kenapa? Aku merasa kau sedikit berbeda." Radit tak mengacuhkannya. Ia kembali duduk di sofa dan menatap layar laptopnya.
"Kenapa kau butuh sekeretaris lagi, Dit?" tanya Kiran, beralih ketopik lain.
"Kenapa?" masih tak mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Aku merasa itu pemborosan. TJ belum butuh dua sekretaris karena selama ini aku pikir aku bisa menghandlenya sendiri."
"Sebentar lagi kau akan dipecat dari jabatan itu," ujar Radit datar.
"Apa maksudmu??"
"Ya, kau dipecat karena kau akan jadi wakilku. Wakil Direktur."
"Hah? Kau bercanda."
"Tentu saja tidak."
"Kau akan kujadikan sebagai sekretaris pribadiku dulu. Sembari memantau kau mengerjakan tugasmu. Setelah aku rasa kau siap, baru kita adakan rapat dengan para pemegang saham untuk mengangkatmu menjadi wakil direktur."
Kabar itu sangat mengejutkan bagi Kiran.
Dia tercenung, bergumam seperti pada dirinya sendiri. "Aku? Wakil Direktur?"
"Ya, kau orang yang paling pantas untuk itu."
"Sudah, jangan bicara lagi. Aku mau fokus pada laporan ini. Kau mandi sana. Lihat sudah terang."
"O, iya. Saat rapat nanti, kau tetap saja di tempatmu. Jika ada sekretaris baru yang bernama Lusi. Kau suruh saja dia untuk menungguku."
"Sejak kau jadi atasanku, aku sama sekali jadi tidak mengerti pekerjaannku," ucap Kiran lirih. Nada suaranya terdengar sedih.
Semestinya saat atasannya ingin memanggil pekerja baru, CV calon pekerja itu sudah ada di mejanya. Minimal, calon itu dia dulu yang menyeleksinya. Sekarang ini, ia sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Kau jangan tersinggung. Bara sudah terbiasa menjadi tangan kananku. Makanya dia yang sudah menyiapkannya," kata Radit menangkap maksud ucapan Kiran.
-
❇❇❇
Seorang gadis dengan rambut panjang sebahu, melangkah gontai masuk ke dalam gedung TJ Company. Postur tubuhnya ideal, ditambah lagi dengan gaya pakaiannya yang fashionable dan stylish.
Gadis itu memakai stelan dengan kemeja warna putih yang memiliki aksesoris berupa kancing berwarna-warni di kerahnya. Rok hijau sepan dengan tali pinggang hitam membalut bagain bawah tubuhnya. Make-up nya terlihat natural namun tetap tampak segar. Tidak berlebihan namun membuat wajahnya terlihat memesona.
Gadis itu berjalan penuh dengan percaya diri. Menebar senyuman pada setiap orang yang ia lewati. Tanpa bertanya, ia langsung masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas. Saat pintu lift terbuka, ia seperti akan tahu kemana arahnya. Terus berjalan, hingga menerbitkan rasa penasaran setiap orang yang dilewatinya.
Kiran terkesima saat gadis itu berada di hadapannya. "Maaf, saya ingin bertemu dengan Bapak Radit Makarim. Di mana saya harus menunggu?" suaranya tenang namun mengandung ketegasan.
Kiran tercekat. Bukan hanya penampilan yang rapi. Tata bahasanya bahkan luar biasa. Kiran menata hatinya yang berdegub. Entah kenapa ia merasa seperti melihat saingan.
"Maaf, nama Anda?" tanya Kiran mengatur intonasi suaranya. Dia harus terdengar formal dan berwibawa.
"Saya, Lusi Marinka Anggraini. Bapak Radit memanggil saya atas panggilan lamaran yang sudah saya ajukan sebagai sekretaris perusahaan," jawabnya. Lembut namun tegas dengan senyum menawan.
❤❤❤💖
Waduh, Kiran dapat saingan berat nie....!!
Yang penasaran cerita mereka selanjutnya, jangan lupa like, komen n votenya...
biar author semakin cemungud nulisnya.. hehehe..😁😁😁🤗