Behind The Boss

Behind The Boss
H-1 Resepsi



Setelah percakapan yang terjadi di balkon, Radit menyadari Kiran menjauhinya dan bersikap dingin padanya. Radit pikir pasti wanita itu marah padanya, tapi yang tak dipahami Radit adalah dimana letak kesalahannya.


Radit juga sudah kembali tidur di ranjangnya. Kiran juga tampak tidak keberatan atas itu. Tapi tetap saja, yang terjadi bagaikan dua orang yang sedang bermusuhan. Kiran tak pernah bertanya lagi padanya jika tidak diminta. Jikapun Radit yang memulai percakapan maka Kiran akan menjawab dengan singkat sehingga percakapan yang ingin dimulai itu berakhir begitu saja.


Hari ini Radit dilarang bekerja oleh Tuan Mahesa. Besok resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan. Tuan Mahesa ingin Radit lebih fokus pada persiapan resepsinya saja. Tugas kantor dipending untuk sementara. Tuan Mahesa tidak ingin Radit terlalu lelah, namun bagi Radit malah sebaliknya. Ia bisa menebak persiapan resepsi ini malah yang nantinya membuatnya semakin lelah.


"Sudah kubilang, aku gak mau luluran! Aku ini pria! Perawatan itu gak terlalu penting bagiku!" ujar Radit ketus pada salah seorang pelayan yang memintanya menuju ruangan spa.


"Siapa bilang bagi pria itu tidak penting?! Menjaga kulit bagi pria dan wanita sama-sama penting!" sahut Intan menyeruak keluar dari belakang tubuh pelayan yang menyuruh Radit tadi.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Radit ketus.


"Untuk memastikanmu agar menjalani kegiatan hari ini dengan benar!" jawab Intan dengan ketus juga.


Tuan Mahesa memang meminta Intan untuk memastikan persiapan pernikahan berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itu, Intan sudah berada di rumah keluarga Makarim sejak pagi.


Radit membuang muka. "Mau ada kau atau tidak, aku tetap tidak akan mau!"


"Aku sudah mengira begitu. Aku di sini bukan untuk menyuruhmu. Aku di sini hanya sebagai pemantau yang akan melaporkan kepada Papamu. Aku tinggal menelpon Papamu kalau kau tidak mau. Setelah itu pekerjaanku selesai."


"Kau ...." Radit tak melanjutkan ucapannya. Hatinya bertambah kesal.


Intan menghela nafas kasar. "Menurut sajalah! Tidak ada ruginya juga bagimu. Kau malah bisa lebih relaks," sahut Intan.


"Masalahnya aku tidak suka disentuh oleh wanita!" Radit memalingkan mukanya, duduk di atas sofa.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?! Aku tinggal mencari seorang terapis pria. Kau tenang saja. Hari ini pokoknya kau harus relaks, gak boleh terlalu capek, jangan stress. Biar besok wajah jutekmu itu lebih fresh."


"Dia yang bilang aku harus relaks, tapi belum juga dimulai, dia juga yang udah buat aku kesal. Dasar Nenek Sihir! Antara ucapan dan tindakan sama sekali gak sinkron! Radit mendengkus kesal melirik Intan.


Intan menghubungi seseorang dari ponselnya. Setelah itu ia meminta Radit mengikutinya. "Aku sudah menghubungi seseorang. Dia akan datang setengah jam lagi. Kau tunggu saja di ruangan spa."


Intan melangkah menuju ruangan tersebut, diikuti oleh Bara dan Radit. Pintu ruangan itu terbuka. Tampak Kiran telah berada di sana. Duduk di salah satu sofa sembari memejamkan mata, wajahnya dibaluri masker.


Intan memberikan beberapa instruksi pada terapis yang berada di ruangan tersebut bahwa Radit akan dilayani oleh seorang terapis pria yang sudah dia hubungi. Mereka semua mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali untuk menyiapkan treatment pada Kiran.


Mendengar ada suara lain dalam ruangan, Kiran pun membuka matanya. Ia terkesiap, menyadari Radit dan Bara yang telah berada di ruangan itu. Masalahnya bukan pada Radit, akan tetapi pada Bara yang seharusnya tidak melihatnya dalam kondisinya sekarang. Ia hanya mengenakan bathrobe, dan handuk di kepala. Lehernya bebas terbuka, begitu juga dengan betisnya.


Kenapa pria itu tidak paham bagaimana seharusnya melindungi istri yang berhijab?! Apa yang kuharapkan dari suami sepertinya?!


Kiran melirik Radit tajam kemudian menghela nafas pelan. Dengan menahan rasa kesal dan malu, Kiran mendekati salah seorang pelayan yang berada di dalam ruangan itu. Meminta sehelai handuk lagi yang dibalut ke lehernya dan berpesan untuk melanjutkan treatment di kamar Ari. Setelahnya ia keluar diikuti oleh beberapa pelayan. Di dekat pintu, Kiran berpapasan dengan Bara dan Radit. Kiran melepaskan tatapannya pada keduanya. Tanpa senyuman apalagi sapaan. Gadis itu berlalu begitu saja dengan tatapan datar.


"Sepertinya kalian sedang ada masalah ya, Dit?" tanya Intan berbisik, menyadari dinginnya tatapan Kiran pada Radit. Kiran bahkan sampai lupa menegurnya tadi.


Radit melengos, "Itu bukan urusanmu!"


"Kau ini memang payah! Baru saja kalian tampak lebih nyaman satu sama lain, lebih mesra, kenapa jadi begini lagi ...."


"Oh, aku tahu, pasti karena mulutmu bau. Trus malah kau menuduh mulutnya yang bau ya, kan. Sehingga kemudian dia marah padamu," sambung Intan lagi.


Bara tersenyum geli. Cuma Nenek Sihir lah yang punya pemikiran seperti itu. Mana ada orang lain yang kepikiran sampai ke situ, batin Bara.


"Gak lucu." Radit menatap Intan tajam.


"Jadi kenapa?" tanya Intan penasaran. Tak peduli dengan tatapan Radit.


"Sudah kubilang bukan urusanmu!" pekik Radit.


"Baiklah kalau kau tidak mau cerita. Aku akan menyampaikan pada Kak Mahesa bahwa kau berbuat yang tidak baik padanya."


"Kau ini ...." Radit mengepalkan tangannya menahan geram. Kemudian pria itu menghela nafas secara perlahan.


"Aku hanya bilang agar kami tidak bertindak lebih jauh lagi. Karena aku merasa bersalah pada Ari, cuma itu aja."


Intan melongo. "Apa katamu?" tanyanya tak percaya.


"Kau ini tuli, ya?! Yang jelas seperti itulah yang kukatakan. Aku sendiri saja heran. Aku sudah bicara baik-baik tentang perasaanku, tapi kenapa dia jadi dingin begitu."


Intan terlihat kesal. "Jangan-jangan kau juga bilang padanya kalau kau tidak mencintainya dan tidak akan bisa mencintainya karena kau telah mencintai orang lain?!" tebak Intan.


"Memang iya! Dia juga bilang dia mencintai orang lain!" jawab Radit tanpa dosa.


"Dasar laki-laki tidak berguna! Apa katamu tadi?! Dasar kau memang bodoh! Pantas saja dia jadi seperti itu padamu!" teriak Intan kesal. Tangannya memukuli kepala Radit.


"Sabar, Mbak!" dengan cepat Bara segera menghalangi Intan. Mendorong tubuhnya, menjauhkannya dari Radit.


"Kenapa kau memukulku?!" pekik Radit kesal sambil memegang kepalanya yang turut menjadi korban amukan Intan.


Intan tak menjawab. Masih mencoba memukul Radit. Karena Bara menghalanginya, kepala Radit sudah tidak dalam jangkauannya lagi. Kaki Intan bergerak, ia menendang tulang kering kaki Radit.


"Aouww!!" Radit meringis memegang kakinya.


"Kau ..., Nenek Sihir! Kenapa kau jadi ikutan marah padaku?!" pekik Radit tidak terima.


Intan menghela nafas kasar. Menenangkan dirinya. Padahal aku sudah hampir berhasil .... Pria tidak berguna ini malah menghancurkan semuanya!


"Sini, Dit. Ceritakan yang sebenarnya dari awal sampai akhir. Biar aku tahu seberapa besar kau telah melukai hatinya," ajak Intan pada Radit. Suara wanita itu sudah kembali tenang.


"Aku tidak mau!" jawab Radit.


Intan memberi kode pada Bara. Pria itu secara perlahan mendorong Radit mendekati Intan.


"Kau bekerja sama dengannya ya?! Kau itu asistenku, kenapa jadi berpihak padanya!" Radit mendelik kesal menatap Bara.


"Aku hanya ingin yang terbaik buat sahabatku." Bara berkilah. Padahal yang sebenarnya, ia juga telah mendapat pesan dari Tuan Mahesa untuk membantu Radit, memengaruhinya, agar bisa dekat dengan Kiran.


Mau tak mau Radit duduk di sebelah Intan dan menceritakan segalanya mulai dari awal sampai akhir.


"Kau telah menyinggungnya," komentar Intan setelah mendengar semuanya dari Radit.


"Aku hanya berusaha jujur."


"Apa maksud kau bilang mau dilanjutkan atau tidak itu?"


"Ya, kalau dia ingin melanjutkan, ya akan aku lanjutkan. Tapi aku sampaikan bahwa aku merasa bersalah pada Ari jika melanjutkan hal lebih jauh dari kemarin."


"Di situlah letak kesalahanmu. Kau membuatnya seakan-akan dia yang menginginkan itu semua. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan mau kau sentuh lagi!


"Aku tidak berpikir seperti itu!"


"Ya karena kau bodoh!" Radit melirik, menatap Intan tajam.


"Coba sekarang kau jawab pertanyaanku dengan sejujurnya. Kau lihat pelayan yang ada di sana itu." Intan menunjuk salah satu pelayan yang ada di dalam ruangan itu. Radit melihat ke arah telunjuk Intan.


"Kau bayangkan dia yang ada di posisi Kiran. Apa kau mau melakukan tindakan yang kau lakukan pada Kiran kepadanya?" tanya Intan.


Radit melengos. "Kau pikir aku ini pria apapan?!"


"Lalu kenapa kau mau melakukannya pada Kiran?" tanya Intan menyelidik.


"Ya, karena dia istriku!"


"Kalau pelayan itu jadi istrimu. Apa kau mau?"


"Kenapa kau jadi bicara sembarangan seperti ini?!"


"Aku hanya ingin kau menjawab dengan jujur. Biar pikiranmu itu bisa terbuka!"


Radit kembali melirik pelayan yang ditunjuk Intan tadi. Wajahnya biasa saja. Tidak ada menariknya. Sepertinya kepribadiannya pun tidak menarik bagiku. Lalu kalau dia jadi istriku ....


"Entahlah, aku tidak tahu!" ucap Radit putus asa. Ia tidak bisa membayangkannya.


"Kalau kau bisa melakukannya pada Kiran, sementara membayangkan pada wanita lain, kau tidak bisa. Kau tau artinya itu?" tanya Intan menyeringai. Radit tak menjawab, hanya memandang Intan dengan kesal. Karena telah bertanya hal yang tidak-tidak padanya.


"Artinya kau tertarik padanya, Bodoh ...!"


Radit terkesiap. "Tertarik? Padanya?"


"Kiran pun juga sepertinya sudah tertarik padamu. Tapi kalian tidak menyadarinya. Masa' kau tidak tahu, tipe wanita seperti apa si Kiran itu?!"


"Mana kutahu?! Untuk apa juga aku harus peduli, dia tipe seperti apa?!"


"Sedari awal aku sudah tahu dia itu bukan tipe wanita gampangan. Dia sudah mau kau sentuh. Artinya kau sudah tau kan?"


"Karena aku suaminya!" jawab Radit cepat. Intan mendelik.


"Jadi karena apa lagi?! Dia kan dosa jika menolakku," ujar Radit lagi.


"Terserah kau saja lah!" ucap Intan ketus. Bocah ini memang payah!


Pembicaraan Kiran dan Radit terhenti saat seorang pelayan membawa seorang pria di sampingnya. Dia terapis yang dipanggil Intan.


"Sudahlah, kau nikmati saja treatmant mu hari ini!" kata Intan keluar dari ruangan. Dia ingin menjumpai Ariana di kamarnya.


-


❇❇❇


"Kau bisa pastikan kalau undangan itu sampai ke tangannya?" tanya Tuan Mahesa kepada seseorang melalui ponselnya.


"Iya, Tuan. Surat itu langsung saya berikan kepadanya. Dan Nyonya itu sendiri yang menerimanya."


"Bagus!" jawab Tuan Mahesa sembari tersenyum tipis, kemudian menutup sambungan telponnya.


Tuan Mahesa sengaja mengirimkan surat undangan kepada keluarga Widjadja satu hari sebelum pelaksanaan. Surat itu pun langsung diberikan oleh orang suruhannya kepada Nyonya Tutik Hardiyanti. Ibu dari sahabatnya, Kamil Prayetno Widjadja.


❤❤❤💖