
Janji makan di restauran yang telah mereka sepakati, diubah oleh Radit. Siang ini, ia mengajak Kiran mengunjungi sebuah rumah. Rumah dua lantai dengan motif minimalis itu terkesan anggun dan mewah. Ditambah perabotan berkelas menambah kesan itu semakin kentara.
Begitu sampai di sana, Radit langsung mengajak Kiran ke lantai dua. Area kolam renang yang terdapat di rumah itu.
"Kita mau apa ke sini, Kak?" tanya Kiran heran sebab Radit telah membawanya ke rumah ini.
"Mas!" Lagi Radit meralat panggilan Kiran padanya.
"Ah, iya. Aku belum terbiasa, Kak. Boleh gak untuk panggilan ini, aku panggil Kakak dulu."
Belum lagi Radit menjawab, beberapa pelayan datang dan meletakkan beberapa makanan dan minuman di atas meja tak berapa jauh dari kolam renang itu. Meski hanya diam, Kiran yakin Radit mengamini permintaannya.
Radit membawa Kiran duduk di sofa dekat meja yang berisi makanan dan minuman yang telah dibawa pelayan tadi. "Bagaimana menurutmu rumah ini?"
"Bagus," sahut Kiran singkat. Ia memahami Radit akan menjelaskan semuanya tanpa perlu ia bertanya. Maka ia pun berhenti bertanya meski ada banyak sekali pertanyaan dalam hatinya.
"Rumah ini rencananya akan aku hadiahkan untuk pernikahanmu dan Ari. Itupun jika kalian akan pindah dari sana."
"Apa Ari sudah berencana pindah dari rumah hingga Kakak membelikannya rumah ini?" Merasa tak sabar, akhirnya Kiran bertanya juga.
Radit tersenyum samar. "Dulu aku sangat membencimu. Maka jika pun Ari memutuskan tidak pindah, aku yang akan memaksanya untuk pindah," tutur Radit dengan intonasi suara yang sangat pelan dan terkesan hati-hati. Ia khawatir Kiran tersinggung.
"Aku dulu merasa terancam karena saat itu calon istri Ari pernah membuka pintu kamar saat aku sedang membuka celana waktu itu. Sejak itu aku memiliki rencana akan rumah ini."
Ya, Kiran ingat waktu itu. Sebuah kesalahan yang ia lakukan karna telah membuka pintu kamar yang salah. Di mana saat itu ia melihat Radit dalam keadaan hanya memakai ****** ***** saja. Seketika wanita itu tersipu. Wajahnya memerah. Namun bertambah merah setelah mendengar penuturan Radit setelahnya.
"Dulu mungkin aku begitu benci karena dirimu telah melihatku dalam kondisi begitu. Tapi sekarang ini, jangan kan begitu mau tanpa busana pun aku nggak akan keberatan."
"Kita makan dulu yuk, Kak. Nanti makanannya dingin," ujar Kiran mengalihkan. Meski kemarin ia sudah berinisiatif untuk memakai lingerie itu lagi dan memasrahkan dirinya pada Radit, apa pun yang lelaki itu inginkan. Namun mendengar pembicaraan itu dilakukan secara frontal, ia merasa masih amat sangat malu.
"Ya, baik. Kita makan," sahut Radit. Lelaki itu mulai mengambil nasi dan beberapa lauk yang ia inginkan tanpa menunggu Kiran yang mengambilkan.
"Makan yang banyak ya, Sayang," bisik Radit disela-sela mengambil makanan tadi. Kiran hanya mengangguk tanda mengiyakan. Namun hatinya kembali berdesir ketika mendengar panggilan itu lagi. Mereka berdua pun makan dengan tenang.
Setelah selesai makan, beberapa pelayan langsung datang dan membereskan sisa-sisa makanan. Radit mengajak Kiran salat zuhur berjamaah di salah satu ruangan kemudian masuk ke dalam area kolam renang dan duduk di salah satu kursinya.
"Gimana rencana bulan madu kita? Kita mau kemana?" tanya Radit. Menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya tak lepas dari wajah Kiran.
"Tempat yang kemarin itu lumayan sih, Kak," usul Kiran melirik Radit. Dia merasa risih Radit mengamatinya kian lekat.
"Nggak mau pergi ke luar negeri?" Radit menawarkan alternatif lain.
"Schedule kita sedang padat. Lagipula kurang baik menurut Kiran karena keluarga kita masih kehilangan anggota keluarga." Radit manggut-manggut tanda setuju.
"Kalau cuma ke sana, pekan depan kita sudah bisa bulan madu. Sekalian persiapan akuisisi hotel di kota itu." Wajah Radit terlihat berseri. Sementara Kiran merasa wajahnya menghangat.
"Kamu sudah siap kan bulan madu pekan depan?" tanya Radit penuh arti. Kiran tak menjawab. Ia menunduk dan memainkan sedotan dalam gelas jus yang berada di hadapannya. Ditanya seperti itu malah membuat dirinya teringat akan malam di mana kesalahan itu terjadi.
"Apa yang harus dipersiapkan oleh wanita sepertiku, Kak?" Sinar mata Kiran memancarkan kesedihan. Ia merasa tidak pantas sebenarnya sebab dirinya telah cacat sebagai wanita.
"Kakak pasti tau kan yang terjadi malam itu di hotel saat Kiran bersama Ari?" Kiran mencoba Mengingatkan. Ia tak ingin Radit melupakannya hingga nantinya pria itu kecewa dan menyesal.
"Trus?" Radit menyunggingkan senyuman.
Kiran mendesah. Situasinya sangat sulit jika harus menyampaikan apa yang ia rasakan.
"Iya. Aku paham. Aku akan terima apa adanya dirimu, Kiran. Jangan ragukan hal itu dan jangan sampai semua itu memberatkan pikiranmu." Kiran terpana.
"Aku mencintaimu apa adanya, semua yang telah kamu lakukan dan semua yang akan kamu lakukan. Kakak nggak bisa berjanji menjadi lelaki terbaik tetapi Kakak bisa berjanji mendampingimu sampai mati." Radit langsung mengalihkan pandangannya ke area kolam. Menghindari mata Kiran.
Kiran sendiri membeku. Ia terpana. Ia berdehem. Menganduk-aduk jus lagi dan menundukkan pandangannya. Meskipun lirih suaranya terdengar juga. "Udah pande ya, Kak."
Radit menelan ludahnya kasar. "Hehehe. Iya baru belajar tadi, disela meeting sama klien." Ia tersenyum samar.
"Kiran senang kan?" Radit melirik Kiran.
Kiran mendongak. Menatap Radit lembut. "Iya."
"Kalau suka mana hadiahnya?"
Kiran terkesiap. Perlu beberapa detik untuk berpikir dan mengumpulkan keberanian. Setelahnya ia bangkit. Mendekati Radit. Duduk di pangkuan pria itu, mengalungkan tangannya ke leher Radit dan mendaratkan sebuah ******* lama di bibir pria itu. Awalnya Radit sedikit terkejut. Namun tak perlu waktu lama hingga ia membalas ciuman itu hingga menjadi lebih lama saat Kiran mencoba menjauhkan wajahnya.
-
***
Bara menunggu di lantai dasar. Membuka laptopnya sebagai pengisi kekosongan waktu menemani sang bos menikmati makan siang bersama istri tercinta. Ada beberapa dokumen yang harus ia periksa.
Saat masih asyik membaca barisan huruf yang terdapat di laptopnya, sebuah nada dering tanda satu buah pesan masuk berdering di ponselnya. Bara mengabaikannya. Kini dering ponsel yang hanya sekilas itu berganti menjadi nada dering panggilan masuk. Mau tak mau Bara meraih ponselnya. Di saat ia meraih ponsel itu, di saat itu pula nada dering ponselnya berakhir. Bara sekalian mengecek notifikasi pesan yang masuk tadi.
Bara, keluargaku ingin menjodohkan aku dengan seorang pengusaha. Statusnya duda. Jujur aku nggak suka dijodohkan, Bara. Ditambah lagi usia kami terpaut jauh dan status lelaki itu duda pula. Keluargaku tidak menerima alasan penolakan jika hanya seperti itu. Maka aku dengan sangat memohon padamu. Sebentar saja menjadi pacar sementaraku. Keluargaku mau membatalkan perjodohan itu jika aku punya pacar. Setelah aku mengenalkanmu pada keluargaku, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku mohon Bara. Please bantu aku ....
Ini urusan seumur hidupku, Bara. Aku ingin bahagia. Aku tidak ingin menikah dengannya. Please Bara ....
Bara menarik nafas panjang. Ponsel itu kembali ia letakkan di atas meja. Ia mencoba mengabaikan pesan itu dengan melihat layar laptop, membaca laporan-laporan itu lagi.
Ini urusan seumur hidupku, Bara ....
Please, aku ingin bahagia ....
Bunyi pesan tadi terngiang. Mengusik ketenangan dan kosentrasinya pada sesuatu yang ada di layar laptopnya. Bibirnya mendesah.
"Kau menggangguku, Lusi ...!!!!"
❤❤❤💖