
Jika kau ingin punya dua cinta ..., maaf, karena aku tak ingin jadi salah satunya~ Kiran
❇❇❇
Informasi yang disampaikan Bara luar biasa mengejutkan bagi Kiran. Seorang sekretaris di Makarim Group, perusahaan induk dari TJ Company. Dipecat secara tidak langsung akibat ketahuan oleh sang direktur utama. Ketahuan ingin mencium bibir sang direktur saat ia tertidur di kursinya. Kemudian sekretaris itu dipanggil kembali untuk bekerja di sini oleh sang direktur yang memecatnya. Meski dia sudah punya riwayat seperti itu. Apa maksud dari semua ini?
Wajah Kiran berubah dingin. Perlahan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Bara. Berbisik dengan sangat pelan.
"Kau tahu Bara .... Dalam kamusku tidak ada kata cemburu. Yang ada kata percaya dan yakin. Itu pun untuk orang yang aku cintai. Jika pun terukir kata pengkhianatan dalam hubungan itu, kau tenang saja. Secara otomatis hatiku akan menghapus namanya. Bukan hanya untuk sementara namun untuk selamanya."
Glek!
Bara menelan ludah secara kasar. Wajah wanita yang ada dihadapannya berubah menjadi dingin dan datar. Suaranya sangat pelan namun mengandung ketegasan yang luar biasa.
Kiran menarik tubuhnya lagi ke belakang. Ia menegakkan punggungnya. "Baik Bara. Kita lihat ke dalam. Apa yang dua orang itu lakukan hingga memintamu keluar. Jika kejadian yang telah lalu terulang. Ataupun bos-mu itu punya maksud lain dengan mantan sekretarisnya. Maka sebagai istri yang baik aku akan melalukan yang terbaik buat suamiku." Kiran beranjak, bangkit dari duduk.
"Melakukan yang terbaik buat suamimu?" gumam Bara seperti pada dirinya sendiri.
"Aku akan menikahkan mereka." Bara tercekat. Kiran berkata dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Kiran ..., kau mau kemana? Tunggu ...! Radit melarang siapa pun masuk ke sana!"
Kata-kata Bara tak dipedulikan Kiran. Ia melangkah dengan yakin menuju ruangan direktur utama. Hatinya penasaran luar biasa. Kata merindukanku itu terngiang dalam benaknya. Dirinya yang sudah tersaput kemarahan bahkan tak melihat senyum Bara mengembang melihat kepergiannya.
Kiran mendorong pintu dengan perlahan namun pasti. Apapun yang akan ia lihat di dalam, hatinya sudah bersiap akan itu. Pintu terbuka. Kiran menatap tajam dua makhluk yang berada di dalamnya. Lusi sedang duduk di sebrang meja Radit. Berhadapan dengan pria itu. Mereka berdua tampak terkejut ketika melihat Kiran masuk. Namun Radit langsung merubah keterkejutan tadi dengan senyuman. Ia melambai pada Kiran.
Kiran terkesiap. Dia memanggilku?
Kiran yang tadinya masuk dengan berani. Menginterupsi daerah kekuasaan atasannya tanpa izin. Bahkan ia mendengar Bara bilang bahwa Radit melarang siapapun untuk masuk. Sebenarnya ingin melihat apa yang mereka lakukan di dalam. Bahkan Kiran sudah mengantisipasi hatinya untuk menerima situasi terburuk. Nggak disangka dirinya malah dipanggil oleh orang yang bersangkutan bahkan dengan senyuman.
Merasa canggung namun tak bisa menolak, Kiran mendekati Radit. "Maaf, jika saya mengganggu. Sepertinya saya meninggalkan sesuatu di ruangan ini tadi. Ternyata sesuatu itu tidak ada. Saya akan kembali saja."
Meski merasakan alasan itu akan menghancurkan image nya sebagai sekretaris profesional sebab untuk profesinya, keteledoran semacam itu tentu sangat tidak pantas untuk dilakukan. Namun demi menjaga dari sesuatu yang mencurigakan, Kiran terpaksa menggunakan alasan tidak rasional itu pada saat ini.
Tidak ada mata yang menatapnya tajam. Meski mata Lusi melihatnya dengan heran. Radit masih kembali melambai. "Mendekat!" perintahnya dengan lembut. Menyuruh Kiran mendekat ke samping pria itu.
Tangan kekar Radit langsung melingkari pinggangnya ketika ia sudah berada di samping pria itu. Kiran terkesiap. Reaksi Radit di luar dugaannya. "Kenalkan Lusi. Namanya Karina. Dan dia istriku."
Kiran tercekat. Eh?
Lusi terlihat membelalak kaget. "Dia ...??"
"Ya, dia ... orangnya!" kata Radit lagi penuh kebanggaan. Wajah Lusi tampak pias sementara Radit tersenyum sangat puas.
Kiran memandang Radit dan Lusi secara bergantian. Apa maksud dua orang di hadapan dan di sampingnya ini. Dan perasaan senang macam apa ini? Ia merasa diakui oleh Radit. Eksistensinya sebagai istri sudah diberitahu dengan jelas dari awal dan Radit memperkenalkan dirinya dengan rasa bangga.
"Oke, sepertinya aku akan melanjutkan pekerjaanku. Silakan kalian meneruskan apa yang harus kalian bicarakan." Kiran menepiskan tangan Radit dengan lembut dari pinggangnya. Ia berjalan dengan kikuk keluar dari ruangan.
Setelah di luar, Kiran menghela nafas pelan. Bara yang melihatnya, menahan senyum. Kiran berjalan kembali ke mejanya. "Apa yang kau lihat? Apa yang terjadi di dalam sampai kau menghela nafas seperti itu?" Bara tersenyum mengejek.
Kiran menatap Bara tajam. "Sebenarnya apa yang terjadi?! Siapa Lusi itu?! Dan masalahnya dengan Radit di Makarim Group, apa memang benar atau kau hanya ingin memanas-manasin aku?!"
"Opsss!!! Banyak banget pertanyaannya, mana pake nge-gas lagi. Satu-satu dong Kiran. Biar aku enak jawabnya."
Bara berkilah. Kiran melengos. "Kau memang sengaja. Kau secara tidak langsung menyuruhku untuk masuk ke dalam kan?!"
"Wah, parah! Kau bahkan memfitnahku, Kiran. Aku kan sudah melarangmu tadi."
Kiran memicingkan matanya. "Jadi apa maksudmu menceritakan kalau dulunya Lusi pernah ingin mencium Radit padaku? Apa alasanmu kalau bukan ingin membuat aku cemburu hingga mendorongku masuk ke dalam sana?!"
"Aku ingin membuatmu cemburu mungkin benar. Tapi mendorongmu masuk, itu di luar ekspektasiku." Bara menjawab dengan sungguh-sungguh. Kiran bisa melihat dari kedua manik matanya.
"Aku hanya ingin cerita padamu tentang masa lalu mereka. Menurutku kau harus tahu itu. Kau kan istrinya. Tapi belum lagi aku menyelesaikan ceritaku, kau sudah main pergi aja."
Kiran menatap Bara datar. "Lalu kenapa kau mulai dari bagian mencium itu. Bukan dari yang lain. Kau sedari awal memang berniat membuat aku salah paham." Masih tidak terima.
"Baiklah, aku akan cerita lebih lengkap lagi padamu. Kau dengarkan aku sampai selesai ya." Bara mengajak Kiran duduk kembali di kursinya.
"Lusi itu dulunya teman kuliah Radit di luar negeri. Setelah selesai, ia bekerja sebagai sekretaris di Makarim Group. Mulai dari kuliah hingga sampai saat bekerja pun Lusi menyukai Radit. Dan perlu kugaris bawahi. Radit tak pernah menyukainya. Bahkan saat Lusi hampir menciumnya, Radit sangat marah hingga mendorong Lusi untuk resign dengan sendirinya."
"Lalu kenapa wanita seperti itu dipekerjakan lagi jika memang dia tidak menyukainya?!"
Bahkan kau pun sangat detail Kiran ....
"Selain kelemahannya yang terlalu menyukai Radit. Kelebihannya, ia sangat profesional dalam bekerja. Radit menyukai cara kerjanya."
Tidak mungkin juga jika kusampaikan bahwa alasan utama Lusi bekerja lagi agar kau tahu bahwa Radit itu banyak yang suka. Hadeeuhhh!! Ternyata repot berada di antara dua orang ini.
"Karena Radit sudah punya cinta di masa lalunya. Cinta bodoh yang membuatnya terpaku pada satu wanita."
"Cinta bodoh?"
"Bayangkan, dia sudah mencintai wanita itu sejak dari kecil hingga dewasa. Bahkan di hatinya tidak ada wanita lain. Tapi wanita itu malah melupakannya. Terlihat bodoh kan Kiran?!"
Meski hatinya menjadi tidak nyaman atas perkataan Bara bahwa di hati Radit tidak ada wanita lain, tetap saja ia jadi ikut terbawa emosi mendengarnya.
"Kasihan ya, Radit. Siapa wanita itu, Bara? Beritahu padaku. Biar aku yang menjelaskan padanya. Biar aku yang memberitahunya bahwa hati Radit untuknya."
Kyyyaaaa ...!! Kasi tau ah ....
"Wanita itu ...." Bara tidak meneruskan ucapannya. Panggilan Radit menghentikannya.
"Baraaaa!!!" Bara dan Kiran terkesiap.
"Opss! Sejak kapan dia keluar dari ruangannya?! Kenapa kita tidak menyadarinya Kiran ...." bisik Bara pada Kiran. Kiran memberi isyarat bahwa dia pun tidak sadar jika Radit sudah ada di sana.
Lusi mendekati mereka. "Bara, segera pergi. Radit sudah menunggumu."
Bahkan suaranya pun sangat merdu. Bagaimana Radit bisa tidak suka padanya?! Kiran membatin dalam hati.
Bara segera mendekati Radit. "Udah siap? Jadi kita langsung go sekarang?" tanyanya setelah ada di hadapan Radit.
Radit tak menjawab, hanya melihat tajam ke arahnya dan Kiran bergantian. Dari tatapannya ia menjelaskan bahwa ia mendengar semuanya dan ia tidak menolerir perkataan itu lagi ke depannya.
"Aku tidak bicara apa-apa. Baik, aku akan mengambil tasku sekarang," kata Bara sambil ngeloyor pergi. Hanya sebentar dia masuk, dia sudah keluar lagi. Kemudian mengambil sesuatu di mejanya yang berada di luar ruangan Radit.
"Ayo!" ajaknya pada Radit.
Radit memandangnya sinis. "Tak kusangka kau jadi pria suka bergosip sekarang!" ejek Radit sembari melangkah pelan.
"Makasih. Ini semua berkat istrimu," jawab Bara santai, mengikuti langkah Radit. Kiran yang mendengarnya, melotot menatap Bara. Bara tak mengacuhkannya.
"Ibarat kata orang. Gosip itu, makin digosok makin siiipp. Hahaha ...." Bara tergelak.
"Jaga wibawamu!" Radit mengingatkan. Karena suara tawa Bara membuat orang yang berada di dalam kubikel satu lantai dengan mereka jadi memperhatikan mereka.
Bara menghentikan tawanya. Mengatur ekspresinya agar kembali formal seperti sedia kala.
-
❇❇❇
"Apa yang kau bicarakan pada Kiran?" tanya Radit saat mereka sudah ada di dalam mobil. Mobil itu meluncur dengan mulus di jalanan. Tak lama kemudian kemacetan mengurangi lajunya.
"Tidak ada. Hanya basa-basi saja."
"Kau memang sahabatku, Bara. Tapi kau tidak perlu ikut campur dalam hubunganku ketika tidak kusuruh. Terkait Kiran masuk keruanganku secara tiba-tiba tadi. Itu ulahmu kan? Apa yang kau katakan padanya?"
Bara melihat Radit melalui kaca spion. "Aku hanya bilang bahwa Lusi pernah ingin menciummu. Tak disangka, dia langsung masuk begitu saja. Aku saja sampai kaget."
Radit tersenyum tipis. "Kutarik kata-kataku kembali. Kau boleh mencampuri urusan pribadiku tanpa kusuruh jika itu menguntungkanku."
Beuuhhh!!
Bara tersenyum sinis. "Kau kira aku bodoh, mengatakan sesuatu yang tidak menguntungkanmu!"
"Apa yang dikatakan wanita itu? Kenapa kau sampai lama sekali bicara dengannya?!" tanya Bara mengalihkan topik. Ia merasa penasaran, apa yang ingin dikatakan Lusi di dalam hingga perempuan itu menyuruhnya keluar.
Sejujurnya Bara merasa jengkel tadi. Baru pun melangkahkan kaki di TJ, perempuan itu sudah merasa bahwa dia itu diistimewakan oleh Radit.
"Hei, bukankah kau sudah melewati batasmu?! Kiran saja tidak bertanya seperti itu padaku." Radit memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela.
"Bagaimanapun aku tetap tidak setuju kau memperkerjakan dia kembali. Kau tahu, aku tadi bisa melihat kalau Kiran itu benci pengkhianatan. Jika sampai terjadi hal yang hampir terjadi di masa lalu, kau akan kehilangan dia. Bahkan untuk selamanya!" Bara memberi penekanan pada akhir kata yang ia ucapkan.
Radit tertawa melecehkan. "Bahasamu membuat aku takut." Bara melengos.
"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Dia sudah kuberikan ultimatum tadi. Aku pun tidak rela jika sampai melakukan itu dengannya."
"Jadi apa yang dia katakan padamu tadi di dalam?" Bara masih kekeuh bertanya pada pertanyaan awal.
Radit terkekeh pelan. "Tidak ada. Hanya membicarakan perasaannya padaku yang tidak pernah berubah," jawab Radit datar.
❤❤❤💖