
Radit beranjak, bangkit dari ranjang dan meraih ponsel di atas nakas. Beberapa saat ia mencari nomor kontak seseorang. Setelah berhasil, ia segera menghubunginya. Panggilan tersambung, dengan cepat ia melangkah keluar menuju balkon.
"Assalamu'alaikum ...," terdengar salam dari sebrang.
"Wa'alaikumussalam. Ini Radit, Pa. Ada yang ingin Radit sampaikan ...."
"Ya, Dit. Ada apa?"
Radit menceritakan dengan detail kejadian yang hampir menimpa Kiran. "Menurut Papa, adakah kemungkinan anggota keluarga Widjadja pelakunya, Pa? Radit yakin itu sengaja."
Tak ada sahutan. Mungkin papa Kamil sedang berusaha mencernanya.
"Jika dari pihak Radit insya Allah tidak bakalan ada yang berani, Pa. Jika pun memang ada yang ingin mencelakakan kami, tentu mereka akan mencelakai Radit."
Hening.
"Pa ...?"
"Iya, Dit. Papa akan mengurusnya. Selalu jaga Kiran seperti itu. Insya Allah kedepannya tidak akan terjadi lagi."
Radit menghela nafas pelan. "Sebenarnya jika bukan karena kata-kata Papa, mungkin Radit nggak akan tinggal diam, Pa. Radit nggak ingin Kiran terluka. Terlebih lagi perbuatan mereka menyebabkan Ari kehilangan nyawa."
"Iya, Dit. Papa minta maaf. Konflik keluarga kami jadi menyeret keluarga kalian hingga seperti itu. Papa akan menemuinya. Papa akan mengakhiri semuanya."
"Tapi, Pa ...." Radit menahan kata-katanya. Mencoba menimbang perasaan sang papa.
"Ada apa, Dit?"
"Ehm, Pa .... Jika kejadian serupa terulang, Radit pikir Radit nggak akan bisa menahan diri lagi. Radit yang akan menghadapinya, Pa." Radit memelankan dan melemahkan suaranya sedemikian rupa. Khawatir papa Kamil tersinggung.
"Baik, Papa mengerti. Papa tidak akan mencegahmu. Lakukanlah. Tapi biarkan Papa meredakannya terlebih dahulu."
"Ya, Pa."
"Ada lagi, Radit?"
"Nggak ada, Pa. Papa apa kabar? Sehat semua kan?" Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Akibat terlalu bersemangat melampiaskan keresahannya sampai lupa berbasa-basi pada papa Kamil.
Terdengar suara tawa dari sebrang. Papa Kamil ternyata menyadari kerisauan yang melanda hati Radit.
Setelah bertukar kabar akhirnya Radit pun memutus sambungan telponnya. Meski belum bisa dipastikan semua akan berakhir, setidaknya dia harus percaya pada papa Kamil untuk sementara waktu.
Radit kembali menekan salah satu nomor panggilan pada ponselnya. Menunggu beberapa saat hingga kemudian panggilan itu diangkat.
"Bara ...."
"Cari tahu perusahaan yang berada di bawah kepemimpinan Adrian Widjadja. Selidiki kelemahannya." Setelah terdengar jawaban 'ya' dari sebrang, Radit pun memutus sambungan telponnya.
-
***
Seorang pria paruh baya melangkah gontai memasuki sebuah restauran yang letaknya agak sedikit memencil dari kebisingan ibu kota. Ia sudah membuat sebuah janji makan siang di sana. Sengaja ia datang tepat pada waktunya, agar tidak perlu menunggu hingga orang itu tiba. Topi serta kacamata hitam yang menutupi wajahnya, ditambah seulas kumis tipis yang tentu saja kumis palsu sebagai tambahan agar orang lain tak mengenalinya.
"Kau sudah datang?" katanya pada pria yang tengah duduk menunggunya. Ada seorang pria muda yang berdiri di sebelahnya, itu asistennya.
"Kau selalu tepat waktu, Kamil ...." Ia memberikan seulas senyuman. Tangannya terangkat hendak menyalami sang pria paruh baya yang tak lain adalah papa Kamil.
Papa Kamil tertawa pelan. "Itu sudah menjadi kebiasaanku. Lalu kau datang sebelum waktunya, apa karena takut pada ancamanku, Adrian?"
Papa Kamil menarik kursi di depannya, bersebrangan dengan tempat duduk pria yang telah menunggunya, Adrian Widjadja.
"Kukira kau telah paham bahwa datang sebelum waktunya adalah kebiasaanku."
"Ah, iya. Aku lupa. Kalau bukan karena begitu mana mungkin aku datang ke sini sekarang." Papa Kamil membuka topinya. Kumis dan kacamata hitam menurutnya sudah cukup untuk menyamarkan wajahnya di dalam restauran ini. "Kau sudah pesan makanan, Adrian?"
"Aku takut kau jadi makan sendirian nantinya maka aku menunggu kedatanganmu baru memesan makanan," kata Adrian sambil memberi kode pada pria muda di sebelahnya untuk memanggil pelayan dan memintanya menjauhi mereka.
Pria muda itu mengangguk, bergegas memanggil pelayan kemudian mengambil tempat duduk tidak jauh dari Adrian dan Kamil berada.
Seorang pelayan datang, memberikan buku menu. Setelah mencatat pesanan dua orang pria paruh baya di depannya, ia berlalu. Tak lama kemudian pelayan dengan membawa nampan pun datang, meletakkan pesanan di atas meja. Adrian dan Kamil makan dengan tenang.
"Baik, apa yang ingin kau bicarakan, Kamil? Aku kira kau tidak akan pernah lagi menampakkan wujudmu di hadapanku sesuai dengan kesepakatan kita." Adrian membuka percakapan sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Tadinya aku ingin selalu begitu hingga kau sendiri yang mengingkari janjimu, Adrian Widjadja ...." ujar papa Kamil setelah sebelumnya meneguk air putih dari gelas yang berada di tangannya.
"Aku? Apa yang aku lakukan?"
Adrian terkekeh. "Itu hanya peringatan agar kau tidak kembali. Kalau kau kembali maka itulah yang akan terjadi."
Papa Kamil menghela nafas pelan. Ia mendesah kecewa. "Kau puas setelah melakukan itu? Dia keponakanmu?"
"Dunia kita bukan yang seperti itu. Kau tau sendiri."
"Dunia siapa? Dunia yang paman ciptakan hingga membentukmu jadi begini?!"
"Jangan menghina Papaku!" Adrian melotot, ia marah.
"Sadarlah Adrian. Kita sudah tua. Umur kita sudah mau kepala enam. Apa kau tidak bisa merenungi apa yang terjadi pada keluarga kita. Seharusnya dengan kekayaan yang kita punya, kita semestinya bahagia. Namun apa, kita saling mencurigai, saling menyakiti. Apa kau tidak lelah Adrian? Paman kan sudah meninggal, sekarang kau yang punya kuasa. Berpikirlah sesuai logika yang kau punya."
"Omong kosong!"
"Mau kau terima atau pun tidak, kita tetap saudara kandung, Adrian. Dan aku menyayangimu sebagai saudaraku."
"Berhenti membuatku tertawa. Sejak kapan kau jadi begini...," Adrian tersenyum sinis. "Jika kau yang di posisi kami tentu kau tidak akan mudahnya berbicara begitu. Kalian lah yang telah merebut semuanya dari kami. Nenekmu telah merebut kakek. Bukan hanya itu bahkan penanggungjawab perusahaan pun diserahkan pada kalian. Jika nenekmu tidak hadir, semua masih menjadi milik kami. Kami tidak akan pernah berbagi dengan kalian, bahkan harus merendahkan diri melaporkan pertanggungjawaban kami pada kalian."
Papa Kamil mendesah lagi. "Memiliki istri dua, itu hak kakek. Kita kan juga pria. Berhentilah merengek tentang itu. Kejadian itu sudah lama berlalu. Yang terpenting kita yang sekarang jangan lagi bermusuhan hanya karena kejadian masa lalu. Cukup nenekmu yang membenci nenekku. Mereka juga sudah meninggal. Jadi tidak perlu kita bebani mereka dengan permusuhan kita."
"Kau mengajakku bertemu hanya untuk mengucapkan itu?"
"Aku pikir bisa bicara dengan secara kekeluargaan padamu. Tapi ternyata kebencianmu itu sudah mendarah daging. Baiklah aku pakai cara lain kalau begitu ...."
Adrian menaikkan satu alisnya. Menunggu apa yang akan dikatakan Kamil padanya.
"Jika masih ada gangguan yang diterima Kiran ataupun keluarga suaminya, aku akan kembali dan mengambil semua kekuasaan perusahaan kakek. Dan kau kembali seperti apa yang kakek wasiatkan, kau hanya akan mengelola Mega Mas yang sekarang dipegang oleh Sandi."
"Kau tidak takut Sandi tau yang sebenarnya? Kau yakin?"
"Dia sudah tau."
Adrian terperanjat. "Kau mengingkari janji dengan ayahmu?!"
"Karina yang memberi tahu Sandi, jadi tidak ada janji yang aku ingkari. Meski sebenarnya aku menyesal telah memegang janji itu dengan terlalu kuat hingga kau dan paman bisa sampai begini. Sampai kalian menghilangkan nyawa Ari. Itu sungguh keterlaluan." Adrian terdiam.
"Aku pikir apa yang ingin aku sampaikan sudah aku utarakan. Camkan kata-kataku Adrian. Aku hanya ingin ketenangan hidup untuk keluargaku. Jika ketenangan itu kau usik maka sudah saatnya aku mengusikmu. O iya, untuk mengingatkanmu. Tentu kau tidak lupa kalau aku sudah membuat perjanjian dengan pengacara bahwa jika kematianku terjadi karena pembunuhan maka semua harta kakek akan diserahkan ke badan-badan amal."
"Hal ini juga sebenarnya untuk menjaga agar keluarga kita jangan saling menbunuh meski akhirnya kau tetap membunuh orang lain hanya karena itu."
Papa Kamil bangkit hendak beranjak pergi namun tangannya dicekal oleh Adrian. "Tentang Ari. Itu hanya kecelakaan. Aku hanya ingin menghalanginya menemuimu. Tidak ada sama sekali maksud untuk membunuhnya."
"Tapi akhirnya dia terbunuh. Kau sudah berdosa."
"Ya. Meski begitu, ada satu hal yang kau juga harus tahu."
"Satu anggotaku hilang dalam insiden itu. Dia dan Ari sama-sama hilang. Aku juga ikut mengerahkan secara diam-diam penyelam untuk mencari anggotaku itu. Sementara akhirnya hanya satu mayat yang ditemukan oleh Radit."
"Jadi ...."
"Entahlah. Intinya dalam insiden itu murni kecelakaan. Aku hanya ingin orangku menghalanginya. Ternyata semua di luar dugaanku."
"Kenapa tidak kau katakan pada Radit."
"Lalu kau pikir dia akan diam kalau aku mengatakannya."
"Lalu kenapa kau mengatakannya padaku."
"Agar kau tau, sebencinya aku padamu, tidak pernah terbersit keinginanku untuk membunuhmu."
Papa Kamil menepuk bahu Adrian. "Terima kasih karena kau telah mengatakannya. Aku pergi dulu."
❤❤❤💖
Assalamu'alaikum semuanya ....
Mohon maaf ... terlalu lama diriku kembali untuk up novel ini. Terlalu lama rehat akhirnya jadi malas mau up. hehehe..
Selalu dukung novel ini dengan like, komen dan votenya ya teman2...
Dukungan kalian sangat ... sangat ... berarti buatku.
I love u all ..😘😘