
Radit masih bimbang harus seperti apa bersikap pada Kiran. Di satu sisi ia sudah berjanji pada Papa untuk bersikap baik, di sisi lain, ia sama sekali tidak bisa bersikap baik. Mengingat bahwa Kiran menjadi penyebab kematian Ari.
Sementara untuk terbuka pada Papa, Radit merasa sulit karena sudah menutupi Kiran sedari awal. Maka tak mungkin memaparkan apa yang ia pikirkan pada sang Papa. Akhirnya ia putuskan untuk tidak membuat masalah dengan Kiran sementara waktu. Sampai jelas penyelidikan yang ia lakukan, barulah ia bisa menetapkan sikap.
Setelahnya, Radit pun tidur di ruang kerjanya. Ketika sudah kembali ke kantor, ia hanya masuk ke kamar untuk mengambil baju dan menggantinya di ruang kerja. Ruang kerja Radit memiliki kamar mandi di dalamnya, maka setelah mengambil baju, ia pun masuk ke ruang kerja dan tak keluar lagi dari sana hingga esok harinya mereka sarapan bersama.
Kiran sama sekali tak berani lagi menegur Radit. Baik hanya untuk berbasa-basi atau sekedar bertanya tentang apa yang telah dikatakan pria itu sebelumnya. Meski pertanyaan itu menggelayuti pikirannya. Ia cuma bisa menebak, ini semua ada kaitannya dengan orang yang selalu berada di belakang peristiwa menyedihkan dalam hidupnya.
Meski Radit selalu mengantar dan menjemput Kiran ketika ia bekerja, tetap saja tidak ada percakapan yang mereka lakukan. Mereka berdua membisu. Bahkan ketika fitting baju yang akan mereka kenakan ketika resepsi pun, mereka masih membisu satu sama lain.
Di kantor Makarim Group....
Radit ternganga mendengar penuturan pria yang ada di hadapannya. Setelah menyelesaikan ceritanya, pria itu pun kemudian berpamitan pada Radit.
Radit masih tercenung meskipun pria itu telah berlalu dari hadapannya. Ia baru saja mendengar kejadian yang sebenarnya ketika Ari dan Kiran bersama di dalam kamar hotel.
"Apa kau sudah tau jika inilah yang sebenarnya terjadi?" tanya Radit melirik Bara.
"Ya, aku hanya ingin kau mendengarnya secara langsung. Biar kau semakin yakin. Aku tidak ingin membuatmu ragu," jawab Bara dengan penuh keyakinan.
Radit menekan pelipisnya. "Aku jadi tahu sekarang. Sepertinya aku telah salah menilainya," ucap Radit.
"Lalu bagaimana dengan penyelidikan terkait foto itu?" tanya Radit kemudian.
"Informasinya sudah aku terima. Sudah kupastikan sendiri. Seperti yang aku jelaskan, semua itu memang benar. Asumsiku, mereka menyerang Ari karena tidak ingin semua itu terbongkar. Dan alasan kenapa mereka
menyembunyikan diri. Mungkin mereka tidak ingin Kiran menderita. Aku memang belum bertanya langsung pada mereka, tapi aku bisa memahaminya."
"Tapi saranku, kita harus bertindak seakan-akan belum tahu masalah ini. Kau harus tetap melaksanakan resepsimu sebagaimana biasanya. Setelah resepsi, mungkin kau bisa langsung membawa Kiran ke sana," ucap Bara lagi.
❇❇❇
Sore ini, Intan meminta kepada Radit dan Kiran untuk foto prewedding di studionya yang berada di dalam butiknya. Meski pada awalnya Radit menolak namun Papa berhasil membujuknya. Atas permintaan Papa, Radit pun menjemput Kiran kemudian mereka pergi bersama ke sana.
Sesampainya di butik Intan, mereka langsung memakai baju yang sudah disediakan. Baju itu telah mereka coba sebelumnya.
Kini Kiran berada di dalam kamar ganti bersama Intan dan Radit. Selesai mendandani Kiran, kini Intan beralih pada Radit. Ia mulai memberikan pelembab pada wajah pria itu.
"Kiran kan sudah selesai. Bisa tolong bantu Mbak, bedakin si Radit. Mbak mau ke belakang dulu," ucap Intan tiba-tiba melihat ke arah Kiran. Radit dan Kiran sama-sama terkesiap. Namun masing-masing mereka mencoba menutupinya.
"Kiran kurang mengerti, Mba. Takutnya nanti malah jelek," jawab Kiran seadanya. Ia memang tidak ahli untuk itu.
"Ini cuma sederhana aja. Tinggal kasi concealer terus dibedakin. Setelah itu tinggal kasi liptint aja," sahut Intan. "Bisa ya?" tanyanya memastikan. "Aku kebelet banget nih, mau ke belakang." Meski ragu, akhirnya Kiran mengangguk.
Intan menarik tangan Kiran, membawanya ke hadapan Radit. Kemudian memberikan instruksi yang harus dilakukan oleh Kiran pada wajah pria itu.
"Kenapa tidak suruh karyawanmu saja. Dia kan tidak begitu paham," sela Radit dengan wajah tidak terima. Sejujurnya ia merasa canggung jika Kiran yang meriasnya.
"Mereka semua takut padamu. Kau sih terlalu galak pada mereka," seru Intan memasang tampang galak.
"Jadi untuk apa kami membayar kalian, jika istriku juga yang harus bekerja. Kami di sini untuk kalian layani. Bukan kami melayani diri kami sendiri," sahut Radit masih tak mau kalah.
"Oh, sayang istri ternyata dirimu ya. Baguslah kalau begitu. Tunjukkan rasa sayangmu nanti ketika difoto ya. Hilangkan wajah jutekmu itu," ejek Intan.
"Lagipula Kiran tidak keberatan. Aku juga mau ke toilet. Kalau kau bersedia menungguku ya gak apa-apa. Tapi jangan salahkan aku, jika dalam setengah jam kedepan kau masih menungguku," lanjut Intan.
Radit memalingkan wajahnya. "Terserah kau saja. Jika sampai wajahku jelek, kaulah yang harus menerima akibatnya."
Intan menarik satu sudut bibirnya. Ia melanjutkan memberi beberapa petunjuk kemudian meninggalkan Kiran dan Radit berdua di dalam kamar.
Setelah kepergian Intan dari dalam kamar, suasana canggung menguar dalam ruangan. Kiran dan Radit melirik satu sama lain. Kiran menghela nafas pelan kemudian mengambil concealer.
"Pejamkan matamu," perintah Kiran pada Radit. Pria itu tak membantah dan memejamkan matanya dengan segera. Kiran menarik nafas lega. Menatap mata Radit secara langsung tentu sangat canggung baginya. Maka dengan matanya yang terpejam, akan lebih memudahkan dirinya.
Secara perlahan Kiran melaksanakan apa yang Intan instruksikan. Ia mengoleskan concealer pada wajah Radit. Terutama pada area bawah mata hingga ke ujung. Dahi dan bagian atas bibir tak luput dari olesannya. Kemudian Kiran meratakannya menggunakan spons. Kiran menyadari, wajah mereka begitu dekat, hingga Kiran bisa melihat wajah Radit dengan leluasa secara keseluruhan.
Dia memang tampan. Jika diam begini dia kelihatan lebih tampan. Hidungnya sangat mancung dengan bibir tipis yang sangat menawan.
Merasa ada sentuhan jari pada bibirnya, Radit pun membuka mata. Matanya bersitatap dengan manik mata Kiran yang terkejut dengan mata Radit yang terbuka tiba-tiba. Jantung gadis itu kini bertalu dengan cepat. Sesaat mereka terdiam dan hanya saling menatap. Setelah Kiran mampu menguasai diri, gadis itu pun kembali melanjutkan merapikan liptint pada bibir Radit.
Kiran menundukkan pandangan, mengelak dari tatapan Radit yang setajam elang. "Sudah?" tanya Radit ketika Kiran menghentikan gerakannya. Tatapannya masih tak beralih dari Kiran.
"Ya, sudah siap. Kau boleh melihat pada cermin, mana tau ada yang kurang," jawab Kiran.
"Aku percaya padamu. Mari kita keluar," ajak Radit sembari bangkit dan ingin beranjak keluar.
Kiran sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Radit ucapkan. 'Aku percaya padamu'. Kiran pikir, ini pertama kalinya Radit mengucapkan itu. Meskipun itu mengarah pada makeup, tapi Radit tidak seperti biasanya langsung percaya padanya.
Kiran berjalan dengan perlahan mengikuti Radit. Gaunnya yang panjang membuat dia sedikit kesusahan saat melangkah.
"Sini, biar aku yang angkat," kata Radit mendekati Kiran sembari mengangkat ujung gaun gadis itu. Kiran melirik Radit sekilas kemudian kembali berjalan.
Mereka tiba di ruang pemotretan. Atas permintaan Radit, pemotretan hanya dilakukan di dalam ruangan. Radit tidak ingin keluar hanya untuk foto. Pria itu tidak ingin repot.
"Ternyata kalian sudah sampai di sini." Intan muncul dari belakang bersama Bara.
"Darimana saja kalian? Kenapa kalian baru datang," Radit membuang muka.
"Lebih baik kau konsen saja dengan pemotretanmu. Ini foto seumur hidup sekali. Maka fotomu harus bagus."
Selanjutnya fotografer memberikan instruksi pada Radit dan Kiran mengenai pose foto yang harus mereka lakukan. Total untuk pakaian pertama ada tiga foto yang diambil.
Pose pertama, Radit diminta untuk berdiri sementara Kiran berdiri dengan posisi bergelayut pada lengan Radit. Tangannya memegang seikat bunga.
Pose kedua Radit berdiri sembari memegang wajah Kiran. Mereka berdua diminta saling menatap dengan penuh cinta.
"Tunjukkan cintamu pada istrimu. Jangan malu-malu pada kami. Anggap saja kalian sedang berdua sekarang," pekik Intan dari kejauhan. Radit meliriknya tajam.
Meski Radit dan Kiran merasa canggung pada awalnya, akhirnya dengan bantuan fotografer, ekspresi yang diharapkan pun muncul juga.
Pose ketiga, Radit dan Kiran berpegangan tangan dengan wajah yang saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Seakan hendak berciuman. Kiran menjadi salah tingkah.
Karena merasa kurang puas, pose pun dirubah. Radit diposisikan memeluk Kiran yang seakan seperti hendak terjatuh. Tangan Radit memegang pinggang Kiran. Menjadi penopang tubuh Kiran agar tidak jatuh. Sementara Kiran diarahkan untuk memegang dada dan bahu Radit. Wajah mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
"Calon mempelai pria jangan terlalu kaku. Tatap wajah calon mempelai wanita dengan penuh cinta." Fotografer mengarahkan Radit.
Radit menatap Kiran. Lagi-lagi sebuah seruan meminta mereka agar lebih rileks. Radit melirik sang fotografer dengan tajam. "Tatapan penuh cinta itu yang bagaimana? Wajahku kurang penuh cinta apalagi?!" protesnya kesal.
Intan yang tadinya berdiri di dekat sang fotografer berjalan dengan cepat. Kemudian dengan cepat pula, salah satu tangannya berada di kepala Radit. Sementara satunya lagi berada di kepala Kiran. Selanjutnya ia menyatukan kepala mereka hingga ..., cup! Bibir Kiran dan Radit menyatu.
Radit dan Kiran sama-sama terkejut. Mata mereka membelalak seketika. Namun Radit tak bisa memberontak karena tangannya sedang menopang tubuh Kiran. Sementara Kiran juga dalam posisi tak berdaya untuk mengelak.
"Ciuman dulu, biar nampak penuh cintanya," ujar Intan dengan tampang tak berdosa. Bara yang berada di dekat sang fotografer tersenyum menahan tawanya.
Merasa cukup, Intan menarik tangannya. Kemudian dengan cepat menyingkir. Wanita itu memberi kode pada sang fotografer.
Merasa tidak ada tekanan, Radit menjauhkan kepalanya kemudian menatap wajah Kiran. Wajah mereka berdua bersemu merah.
Cekrek! Fotografer mengambil moment yang pas.
"Wah, wajah kalian sudah macam kepiting rebus saja. Memang beda pengantin baru, ya. Ciuman gitu aja langsung malu-malu," cibir Intan.
Radit melirik Intan tajam. "Dasar nenek sihir! Awas aja kalau dia nikah nanti. Aku buat dia ciuman juga di depan orang banyak," gumam Radit kesal.
"Apa katamu?" tanya Intan mendengar gumaman Radit.
Radit tak memedulikan suara Intan. Ia hendak membantu Kiran berdiri dalam posisi tegak dan melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Namun tiba-tiba kepalanya terdorong lagi mendekati wajah Kiran dan..., cup! Bibir itu kini menempel dengan lebih kuat dari sebelumnya. Hingga hidung Radit dan Kiran bertabrakan. Mata mereka berdua membelalak lagi seketika.
❤❤❤💖
Like, komen n vote..😋😘💖💖💖