
Radit menatap Kiran dingin. Ia ingin melewati Kiran begitu saja namun urung. Tangan Kiran mencegahnya. Wanita itu menahan lengannya.
"Ada yang ingin aku sampaikan. Bisa kita bicara berdua ..., Kak?"
Radit terkesiap. Panggilan itu ...?
"Bara, kau tunggu saja di ruang kerja. Aku akan kembali dalam sepuluh menit."
Dia hanya memberiku waktu sepuluh menit ....
"Yakin ni cuma sepuluh menit ...," ledek Bara. Radit diam. Menatap tajam Bara. Membungkam mulut sahabatnya itu yang sepertinya ingin melanjutkan ucapannya.
"Kita mau bicara di mana?" tanya Radit tanpa ekspresi.
"Kamar."
Kiran melangkah lebih dahulu, diikuti Radit. Setelah Radit masuk, Kiran mengunci pintu dari dalam.
"Kenapa harus dikunci?" tanya Radit heran melihat tindakan Kiran.
"Kakak nggak boleh keluar sebelum kita selesai bicara," ucap Kiran menentang mata Radit.
Radit diam. Ia sedikit terusik dengan panggilan Kiran padanya. Namun lidahnya terasa berat ingin bertanya. Hatinya belum siap mendapat jawaban negatif dari Kiran.
Kiran mematung. Menatap wajah tampan pria yang ada di hadapannya. Mencermati setiap inci dari wajah pemilik mata tajam itu.
"Kau mengajakku kemari hanya ingin memandangiku seperti ini?" tanya Radit, membuang muka. Nada suaranya terdengar tegas. Ia tak habis pikir Kiran menghentikannya hanya untuk seperti ini.
"Kau mau ...." Radit menghentikan ucapannya saat matanya menangkap sinar kesedihan di wajah Kiran. Mata Kiran berkaca-kaca.
"Ya sudah, pandangi saja wajahku. Nggak apa-apa. Yang penting kau jangan sedih begitu." Radit mengalihkan tatapannya. Menghindari mata Kiran. Agak risih ditatap seperti itu. Sekaligus tak tahan melihat wajah wanita yang dicintainya bersedih seperti itu.
Dengan tangan bergetar Kiran meraih jemari Radit. "Kak .... Kak ....." suaranya bergetar. Ingin ia ungkapkan semua, tapi lidahnya kelu. Hatinya terasa sesak, dijejali oleh semua rasa yang hadir. Air mata yang sedari tadi ditahannya luruh sudah.
"Kenapa kau menangis?" Radit bingung. Ia menengadahkan wajah Kiran. "Ada apa?" tanyanya lagi. Mendengar suara Radit penuh rasa khawatir membuat Kiran semakin terisak.
Kakak memang seperti ini .... Selalu baik padaku. Sedari dulu ....
Bingung atas situasi yang terjadi, Radit pun memeluk Kiran. "Sudah. Jangan menangis lagi. Aku minta maaf. Aku menolak menerima telponmu karena hatiku belum siap," ucap Radit. Membelai puncak kepala Kiran. Ia jadi serba salah. Kiran makin terisak.
"Sudahlah Karin. Aku nggak marah. Jangan menangis lagi. Aku di sisimu untuk membuatmu bahagia. Bukan membuatmu menangis seperti ini."
Kata demi kata yang dilontarkan Radit malah semakin menyayat hati Kiran. Ia semakin terisak. Bahunya berguncang. Air matanya bahkan sudah membasahi jas yang dipakai Radit.
"Kak .... Karin minta maaf. Karin bener-bener nggak mengenali Kakak ..., " ucap Kiran disela tangisnya.
Radit menjauhkan tubuh Kiran. "Apa katamu tadi? Kau sudah menerimanya. Jadi kau ...." Radit tak mampu meneruskan ucapannya. Dirinya dipenuhi luapan kegembiraan.
Kiran mengangguk. "Iya. Karin udah percaya kalau memang Kakak itu teman masa kecil Karin ...."
Radit menarik nafas lega. Ia sangat senang sekarang. Tanpa disadari matanya telah memerah. Entah sejak kapan sudut matanya pun telah basah.
"Karin lihat foto Kakak waktu kecil. Sebab itu Karin bisa mengenali Kakak ...."
Radit terkesiap. Foto? Kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya!
"Maafin Karin Kak .... Maafin Karin ...."
Gerimis melanda hati Radit. Momen seperti ini adalah momen yang ia inginkan. Di mana mereka saling mengenali satu sama lain. Raksasa dan Karina, nama itu yang selalu diinginkannya untuk bersatu. Radit memeluk Kiran semakin erat. Ia menahan haru yang hampir menumpahkan tangisnya.
"Jadi, jika kau tak melihat fotoku, kau tetap tidak percaya juga?" Kiran mengangguk.
"Kenapa?"
"Kakak terlalu tampan sekarang ...."
-
❇❇❇
Radit tersenyum. Ia merasa sangat-sangat bahagia. Hatinya ibarat taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Penuh warna dan wangi yang menyenangkan hati. Bibirnya sampai tak lepas dari senyuman.
Tadinya ia berpikir akan memberikan waktu pada Kiran untuk menerimanya. Dia berniat tidak akan memaksakan keinginannya pada gadis itu. Jika memang Kiran tidak mengakui dirinya sebagai teman masa kecilnya, dia akan menerimanya. Jika pun Kiran menolak untuk disentuh, Radit pun akan menerimanya. Ia akan menerima semuanya. Namun dia tidak bisa mengingkari hatinya yang terluka. Demi menghindari perdebatan di antara mereka, ia pun memilih menjauhi Kiran sementara waktu. Namun dia sungguh tidak menyangka. Sangat-sangat tidak menyangka. Kiran tidak mengenalinya karena dirinya ... terlalu tampan? Terasa pedih namun diselimuti rasa senang luar biasa ketika mendengar alasan itu.
Katanya aku terlalu tampan .... Hahaha
"Kenapa Kakak senyum-senyum begitu?" tanya Kiran. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Dan apa itu? Kiran memakai lingerie waktu di hotel itu. Radit mendesah dalam diam.
"Kok pakai baju itu?" tanyanya menyembunyikan rasa gugupnya. Jantungnya berpacu dengan cepat.
"Ehm, kenapa? Kakak nggak suka? Kalau gitu, aku ganti aja lagi." Kiran sudah bersiap untuk bangkit namun tangan Radit mencegahnya. Gerakan pria itu sangat cepat.
"Nggak. Maksud Kakak bukan nggak suka. Tapi ...."
Gimana bilangnya ya .... Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nggak apa-apa. Aku ganti aja."
"Udah, nggak apa-apa. Kamu tidur aja."
Kiran menaiki tempat tidur dengan ragu. Lalu masuk ke dalam selimut.
"Kamu nggak dingin?" Radit makin gugup melihat pose Kiran berbaring di sebelahnya menggunakan baju tidur transparan begitu. Semua lekuk tubuh gadis itu telah terpampang nyata.
"Lumayan." Kiran tersenyum samar.
Radit tidak kuat lagi. Ia balikkan tubuhnya. Telentang. Matanya menatap langit-langit. Menepis apa yang baru saja dilihatnya. "Masuk saja dalam selimut jika dingin."
Kiran terkesiap. "Iya." Kiran menutupi tubuhnya dengan selimut. Menutupi tubuh Radit juga dengan selimut.
Beberapa saat mereka terdiam. "Kak ...." Panggil Kiran memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Hemm ...."
"Kak ...," panggil Kiran lagi.
"Kenapa? Kamu mau tes kuping Kakak budek apa nggak. Kenapa manggilin terus begitu."
"Masih terasa agak asing. Biasa kan manggilnya nama aja."
Radit memiringkan tubuhnya. Menghadap Kiran. "Sekarang nggak boleh lagi. Harus panggil Kakak. Aku lebih tua darimu." Radit melototkan matanya. Pura-pura marah.
Radit ingat. Ketika itu Raisa dan Mama Ariana pernah menyinggung panggilan yang diberikan Kiran padanya. Kiran juga menanyakan apakah dirinya mau dipanggil seperti itu. Namun saat itu dirinya masih membenci Kiran makanya dia menjawab jika dia geli mendengar Kiran memanggil panggilan selain namanya.
"Ya. Aku masih membencimu saat itu." Radit mendesah. Sesaat mereka saling menatap.
"Seperti mimpi ya, Kak? Kita kok bisa jumpa begini."
"Iya. Pertama tahu kalau kamu itu Karina, Kakak juga masih merasa jika semua ini mimpi."
"Kak ...."
"Ya."
"Boleh pegang sesuatu di tubuh Kakak?" tanya Kiran memberanikan diri.
"Mau pegang apa? Pegang saja."
Kiran mendekat. Meraba perut Radit. "Eh?" Radit kaget. Meski sudah siap-siap namun ternyata dia kaget juga saat tangan Kiran mendarat di perutnya. Tangan gadis itu terasa dingin.
"Terasa aneh ya. Ada yang kurang kalau nggak memegang perut buncit Kakak. Tapi sekarang udah keras begini." Kiran menarik tangannya.
Sewaktu kecil dulu, Kiran memang paling suka memegang perut Radit. Tatkala Radit memboncengnya naik sepeda. Bahkan saat mereka sedang bermain pun Kiran senantiasa mencolek perutnya karena gemas.
"Kakak diet ya?" Kiran meletakkan tangannya di bawah kepala.
"Iya."
"Pipi Kakak juga tirus. Nggak kayak dulu. Tembem." Kiran tersenyum simpul. Dia jadi mengingat wajah tembem pria kecil di masa lalunya.
"Kamu suka nggak aku yang begini?"
Kiran menundukkan pandangannya lalu menggeleng. "Nggak ...."
Wajah Radit berubah, alisnya bertaut. "Nggak?" Tapi tadi dia bilang aku tampan ....
"Nggak salah lagi. Udah pasti suka lah." Radit menarik nafas lega. Senyum mengembang dari kedua bibirnya.
"Sekarang aja bilang suka. Kemarin-kemarin itu mata kamu kemana? Bawaannya su'uzhonan aja. Curigaan aja. Ngomongnya ketus nggak ada manis-manisnya."
"Kayak air mineral ya, Kak." Kiran tersenyum. Radit menarik tubuh gadis itu dan memeluknya. Ia daratkan sebuah kecupan ringan di dahi gadis itu.
Beberapa saat mereka terdiam, menikmati kebersamaan satu sama lain. Kiran menengadah. Radit pun menundukkan tatapannya. Mereka saling bersitatap. Perlahan Radit mendekatkan wajahnya.
"Kak, beneran nggak pernah pacaran sebelumnya?" tanya Kiran menghentikan aksi yang ingin dilancarkan Radit.
"Ya."
"Kenapa?"
"Pertama, karena sedari awal memang Kakak nggak mau pacaran sebelum menikah. Kedua, karena susah melupakan wanita yang bernama Karina." Kiran terdiam. Membisu mendengar jawaban Radit. Hatinya menghangat.
Mata Kiran mencermati kembali garis wajah Radit. Mata tajam dengan bibir tipis yang selalu berkata sinis itu ... Ya, memang dia.
"Raksasa ...."
"Apa sekarang Kakak masih seperti raksasa?"
"Kenapa dulu aku begitu bodoh ya, Kak. Kalo saja aku tahu nama Kakak Radit. Kita nggak akan sampai salah paham begini."
"Yang penting kita bersama. Itu sudah cukup. Yang dulu-dulu jangan diingat lagi." Radit memeluk Kiran lagi.
"Kak ...."
"Hmmm ...."
Kiran terdiam. Terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu. "Kakak beneran cinta sama aku?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibirnya.
"Banget." Radit memberikan kecupan ringan lagi di dahi Kiran.
"Beneran nggak ada wanita lain selain aku di hati Kakak?"
"Iya. Kalo kamu mau bukti, lihat aja aku sekarang belum menikah karena gagal move on dari kamu. Kalau kamu butuh saksi, ada tuh masih hidup lagi. Si Bara."
"Bagaimana dengan bukti lewat kata-kata?" Radit terkesiap, melirik Kiran yang menatapnya penuh harap.
-
❇❇❇
Bara menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia melonggarkan dasinya.
"Katanya sepuluh menit ..., ujung-ujungnya aku disuruh pulang kan? Dasar gengsian! Tinggal bilang suka aja susah," gerutu Bara.
Sebuah kertas di atas meja kecil di samping sofa mengusiknya. Kertas itu diletakkan di bawah vas bunga.
Maaf, aku sudah menyusahkanmu. Terima kasih atas bantuanmu, Bara. Tentang ciuman itu, lupakan saja. Lusi.
"Cih! Yang mengingat ciumanmu itu siapa? Aku aja jijik nyium mulut bau alkohol begitu," gumam Bara.
Seketika ia teringat kata-kata Radit saat ia menceritakan kejadian dirinya menolong Lusi serta perbuatan Lusi menciumnya.
"Hati-hati aja Bara. Setelah ini dia akan beralih menyukaimu. Lusi itu seperti punya sindrom mencintai pahlawan. Jika ada pria yang dianggapnya pahlawan, dia akan mencintai pria itu."
"Maksudmu?"
"Alasan dia menyukaiku karena aku pernah menolongnya."
"Jadi?"
"Jadi ya setelah ini dia akan berhenti mengejarku dan akan mengejarmu."
Cih! Demi apapun itu. Bara tidak akan sudi. Ia akan mencari cara untuk jauh dari wanita itu jika sampai itu terjadi.
❤❤❤💖
Mohon maaf, part ini pendek. Penting tetap bisa up tiap hari ya readers...😁😁😁🤗
Tetap dukung author dengan like, komen n vote. Terima kasih😘😘😘