
Mobil yang membawa Radit telah berlalu sejak tadi. Namun Lusi masih tetap berdiri di tempat yang sama. Terpaku menatap kepergian mobil Radit dari jendela di lantai paling atas gedung TJ Company. Mengingat pembicaraan yang terjadi antara Radit dan dirinya.
"Kau merindukanku?" tanya Lusi merentangkan kedua tangannya. Radit menatapnya tanpa ekspresi.
Bara tertawa sinis. "Kau masih sama seperti dulu. Kau pikir kau dipanggil bekerja karena Radit merindukanmu?! Mimpi!!"
Lusi mengernyitkan dahinya. "Kau juga masih sama seperti dulu, Bara. Kenapa kau selalu membenciku? Aku kan tidak pernah berbuat hal yang tidak baik padamu."
Bara melengos. "Niatmu yang tidak baik. Dan kau tahu betul, aku tidak suka itu."
"Itu lumrah dan manusiawi, Bara. Semua wanita juga seperti itu." Lusi mengibaskan tangannya. Merasa lucu melihat tingkah Bara yang konyol.
"Yang kutahu saat ini hanya kau yang seperti itu. Belum pernah kulihat wanita lain. Entah teman-temanmu!"
Lusi menatap ke arah Radit dengan pandangan meminta pembelaan. "Kau lihat sahabatmu, Dit. Dia selalu begitu. Bisa kau usir dia sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
Radit tersenyum tipis. "Untuk kali ini kau kuturuti. Ke depannya dia tidak akan pergi meski kau ingin membicarakan hal rahasia padaku."
"Baiklah. Kali ini saja, aku pun sudah senang." Lusi tersenyum puas. Dia melirik Bara dengan senyum penuh kemenangan.
Cih! Bahkan melihat senyumnya saja aku sudah muak. Meski kesal, Bara tetap meninggalkan ruangan.
Lusi berjalan dengan langkah gemulai mendekati meja Radit. Tangannya menyentuh ujung sisi atas kursi hingga ke ujung lainnya. Matanya tak lepas, menatap Radit dengan tatapan menggoda.
"Kau masih tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya. Kau yakin tidak merindukanku?" tanya Lusi, duduk di kursi di depan meja Radit.
"Kau sudah tahu jawabannya," jawab Radit singkat, seperti biasa.
"Lalu kenapa kau memanggilku? Aku yakin pasti ada banyak pelamar yang melamar pekerjaan ini, lalu kenapa kau memanggilku? Padahal dulunya kau yang memaksaku untuk keluar dari Makarim Group." Jemari Lusi saling bertaut, menopang dagu. Kedua sikunya ditumpukan di atas meja.
Radit terkekeh. "Kau terlalu percaya diri. Aku memanggilmu kemari karena aku kasihan padamu." Lusi terkesiap.
"Aku benci kata-kata itu!" Wajah Lusi berubah tegas. Dia memalingkan muka. Merasa benci luar biasa. "Kau tahu aku bukan pengemis!" serunya menatap Radit tajam.
"Tapi kenapa kau selalu mengemis cintaku?" ejek Radit.
Lusi tersenyum mengejek. "Aku belajar darimu. Kalau untuk cintamu, dibilang mengemis pun aku nggak masalah." Kepercayaan dirinya datang kembali.
"Jadi kau menerima ini?" Radit menyandarkan tubuhnya pada kursi. Menyilangkan kakinya dengan santai. Menyodorkan satu lembar kertas padanya.
"Karena kau yang memanggilku, aku bisa apa. Kau kan tahu, aku begitu tergila-gila padamu." Lusi tersenyum menggoda.
"Berhentilah berpikir seperti itu. Kau sudah tua. Apa kau tidak ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan orang lain? Aku tidak akan pernah kau miliki. Kau harus ingat itu!"
"Aku sudah pernah mendengar itu. Jadi sudah biasa bagiku. Kau sendiri yang lebih tua satu tahun dariku, apa kau tidak ingin memiliki hubungan yang serius dengan orang lain?" Lusi tersenyum mengejek.
Biasanya Radit pasti akan marah mendengarnya, tapi kali ini pria itu tersenyum geli mendengar ucapannya barusan.
"Aku tahu, kau baru pulang dari luar negeri. Kau pasti tidak tahu berita ini. Aku sudah menikah, Lusi .... Aku sudah memiliki hubungan serius dengan orang lain seperti yang kau bilang tadi."
Radit merasa senang. Akhirnya serangan balasan yang dilancarkan Lusi seperti biasanya kini dapat ia mentahkan begitu saja. Ternyata ini yang namanya ketenangan setelah menikah ....
"Kau menikah? Dengan siapa? Siapa wanita itu?" Lusi bertanya dengan tidak percaya. Hatinya terluka. Ia merasa sia-sia.
Pintu ruangan terbuka. Perempuan yang dikatakan Bara akan menjadi sekretaris pribadi Radit pun masuk dengan sorot mata tak terbaca. Lusi menangkap gelagat Radit yang tampak senang ketika perempuan itu masuk. Tangannya melambai. Menyuruh perempuan itu untuk mendekat.
Padahal perempuan itu meminta maaf dan ingin keluar namun Radit masih memanggilnya. Ketika perempuan itu sudah berada di sampingnya, tangan Radit langsung melingkari pinggang wanita itu. Tubuh Lusi seketika menjauh, menyandar pada kursi.
"Kenalkan Lusi. Namanya Karina. Dan dia istriku." Radit memperkenalkannya dengan bangga. Karina? Bukankah dia ....
"Dia ...??"
"Ya, dia ... orangnya!" kata Radit lagi penuh kebanggaan. Wajah Lusi tampak pias sementara Radit tersenyum sangat puas.
Perempuan itu menatap Lusi dan Radit bergantian. Setelahnya dia meninggalkan ruangan. Radit menatap Lusi dengan senyum mengejek. "Itu tadi istriku. Nah, kau, mana suamimu?!"
Deg!
"Kalau kau tidak suka padaku setidaknya jangan melukai terlalu dalam. Aku akui kau menang sekarang." Lusi tersenyum getir. Senyum menggoda dan memesonanya telah hilang. Radit terkekeh.
"Aku bercanda, Lusi. Sudah jangan kau ambil hati. Intinya kau tahu sendiri sekarang aku sudah menikah dengan Karina. Dia yang belum menjadi siapapun dalam hidupku saja, kau tidak bisa masuk dalam hatiku. Apalagi setelah dia jadi istriku, kau harus tahu betapa mustahilnya itu."
"Sedari awal aku sudah bisa menduga jika hari ini pasti akan datang. Biar kau bisa tenang. Aku tidak akan mengganggu dan mengharapkanmu lagi. Puas?!" kata Lusi sinis.
"Kalau begitu bagus. Silahkan tanda tangan perjanjian ini. Bara sudah menjelaskannya padamu kan?!"
Radit mengetukkan jarinya di atas kertas perjanjian bermaterai ke hadapan Lusi. Kertas itu dibacanya dengan pandangan tidak tertarik. Isinya, jika dia melakukan tindakan-tindakan yang tak wajar selama masa bekerjanya maka dia harus mengundurkan diri secepatnya dan pihak perusahaan tidak akan memberikan kompensasi apapun.
"Bara sudah memberitahuku. Tapi melihat kertas ini hatiku jadi sedih," ucap Lusi terus terang. Hal itu yang memang sedang melanda hatinya. Ia meletakkan kertas itu kembali di atas meja.
"Ini lebih baik dibandingkan kau terus menghabiskan uangmu di luar negeri. Kau sendiri tidak bisa masuk ke perusahaan keluargamu. Dan kau sendiri tidak mau bekerja pada perusahaan lain. Jika kau menolak pekerjaan ini, kau lah yang nantinya akan rugi."
Lusi mengusap air matanya yang menetes. Dia menantang mata Radit. Menerobos kedua manik mata pria itu yang masih menatapnya dengan senyuman.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kau lah yang terlalu menganggap dirimu menyedihkan. Seharusnya kau berteman dengan Karina. Kau jadi bisa membandingkan antara hidupmu dengan hidupnya. Kisah kalian hampir sama. Tapi cara menyikapinya berbeda."
"Kembali ke awal. Jika kau menerima tawaranku. Silakan tanda tangan di sini." Radit mengetukkan jarinya lagi pada kertas perjanjian itu. Lusi menatap Radit beberapa saat. Kemudian ia menghela nafas pelan.
-
❇❇❇
Rumah kediaman Makarim sudah tampak sunyi. Radit masuk di sambut oleh Tina yang sudah menunggunya di depan pintu. Wanita paruh baya itu masih tampak segar ketika menyapanya.
"Lain kali tidur lah, Tina. Kau juga pasti lelah. Kau bisa menyuruh pelayan lain untuk menggantikanmu jika sudah malam begini."
Tina menundukkan kepala sedikit. "Terima kasih Mas Radit. Tapi saya sudah biasa."
Radit menatap Tina dengan khawatir. "Saat Ari tidak pulang pada saat itu, apa kau juga menunggunya seperti ini?" tanya Radit.
Tina terkesiap. Matanya jadi berkaca-kaca. "Iya. Tapi saya tidak berani mengganggu Nyonya."
Radit menepuk bahu Tina pelan. "Terima kasih atas perhatianmu pada kami, Tina. Sekarang tidurlah. Semua sudah pulang?"
"Alhamdulillah sudah, Mas. Mas Radit sudah makan?"
"Aku sudah makan tadi. Aku hanya ingin istrirahat sekarang. Kau juga, istirahatlah, Tina."
Radit berjalan ke lantai tiga. Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamarnya. Tampak Kiran sudah bergelung di bawah selimutnya. Wanita itu telah tidur dengan sangat pulas. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mandi dengan air hangat.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, dengan perlahan Radit naik ke atas ranjang. Matanya terpaku menatap Kiran.
Entah kenapa setelah aku tahu bahwa kau adalah Karina, kau jadi terlihat semakin cantik. Matamu yang terpejam saja bisa membuatku terpesona.
Tangan Radit menelusuri wajah Kiran. Pertama dari mata, hidung lalu beralih ke bibir. Ia mengusap perlahan bibir itu dengan lembut. Merasa tidak puas dengan itu, Radit mencondongkan tubuhnya mendekati Kiran. Pertama kali ia mengecup dahi Kiran. Turun ke hidung. Ia berhenti sesaat. Merasa ragu namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan itu, Radit pun mendekatkan bibirnya ke bibir Kiran.
Mata Kiran terbuka tiba-tiba. Radit kaget luar biasa. Begitu pun Kiran. Matanya langsung membulat seketika. Ia menarik kepalanya menjauh dari kepala Radit.
Merasa malu karena sudah ketahuan, Radit cuma bisa tersenyum manis. "Kau bangun? Apa aku membangunkanmu?"
"Kau mau apa tadi Radit? Kau tadi ...." Bahkan Kiran pun masih merasa malu menyadari jika Radit sepertinya ingin menciumnya.
Cup!
Ciuman ringan mendarat di bibir Kiran. Gadis itu terperanjat kaget. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia bahkan tidak bisa mengelak.
"Ciuman pengantar tidur," kata Radit tanpa dosa. Kiran masih kaget hingga tak mampu berkomentar apa-apa.
"Wajahmu Karina. Kenapa kaget begitu. Sudah kita harus tidur. Aku sudah lelah luar biasa."
Kata Radit menarik tubuh Kiran dalam pelukannya. Membenamkan wajah gadis itu ke dadanya. Beberapa saat Kiran terpaku. Ia masih mengira-mengira, apakah ini mimpi atau kenyataan. Kiran mencubit pipinya sendiri. Ia mengaduh sakit. Rasa kantuknya hilang seketika.
Kiran mendorong tubuh Radit. "Apa yang kau lakukan, Dit. Apa yang merasukimu? Kenapa kau jadi aneh begini?!"
Radit tak bergeming. Pria itu malah menarik kembali tubuh Kiran dalam pelukannya. "Aku sangat lelah sekali, Karina. Aku hanya ingin memelukmu. Apa itu salah?"
Lagi-lagi Kiran merasa aneh jika Radit memanggilnya dengan panggilan Karina. "Kenapa kau memanggilku Karina?"
"Kenapa? Itu kan namamu. Aku lebih suka memanggilmu begitu. Lebih familiar bagiku. Nama Kiran terasa asing bagiku."
"Tapi aku yang tidak suka. Nama itu sudah lama hilang dariku." Kiran menjawab tanpa bergerak dari pelukan Radit. Ia mendengarkan suara jantung Radit yang berdetak secara teratur. Biarlah, jika hanya pelukan ....
Hening beberapa saat.
"Hemmm, Karina .... Jika kau menjadi Kiran. Lalu bagaimana dengan Karina? Apa tidak ada orang lain dari masa lalumu yang mengenalimu?"
"Karina sudah mati. Paman Wili membuat surat kematian palsu untukku. Tidak ada orang yang mengenaliku. Cuma Rangga satu-satunya."
"O ..., karena itu kau jadi mencintainya? Karena cuma dia yang tahu bahwa kalau kau itu Karina?"
"Entahlah. Mungkin juga seperti itu," jawab Kiran lirih.
"Apa kau tidak khawatir jika ada orang yang mungkin saja mencari kau yang sebagai Karina?" Kiran terkesiap. Rangga saja tidak pernah bertanya hal seperti itu.
"Kau sepertinya sedang menyelidiki masa laluku ya, Dit .... Untuk apa semua itu?"
"Karena kau istriku. Jadi sudah selayaknya aku harus tahu seluruh kehidupanmu."
"Sampai ke cinta masa kecilku. Untuk apa?" tanya Kiran mendongak, menatap mata Radit tajam.
❤❤❤💖