Behind The Boss

Behind The Boss
Dia Raksasaku



Radit merasa kesal luar biasa. Ia sampai lupa jika akses lift di hotel itu harus memakai key card kamar mereka. Ia terlanjur keluar dari kamar itu karena merasa tidak tahan dengan apa yang Kiran ucapkan. Syukurnya ia masih membawa serta ponselnya keluar kamar. Karena merasa bingung, Radit pun menghubungi Bara.


"Ada apa Dit?" terdengar tanya dari sebrang.


"Hubungi resepsionis. Pesankan satu kamar lagi untukku. Minta mereka menjemputku di lantai tiga. Aku nggak bisa kemana-mana. Nggak punya kartu akses naik lift. Aku di hotel x."


"Oke Dit. Tunggu aja."


"Kenapa suaramu terdengar ngos-ngos an?"


"Habis makan mie ayam. Jadi kepedesan."


"Oh. Segera terbang kemari Bara."


"Apa? Aku? Kesana?"


"Segera. Aku menunggumu. Bawa juga supir Kiran untuk menemaninya pulang."


"Baik. Ada lagi?"


"Segera datang!"


"Iya."


Radit memutus sambungan ponselnya. Ia berjalan ke depan lift. Menunggu.


Tak berapa lama, salah satu karyawan hotel datang dan membawa Radit menuju salah satu kamar yang telah dipesan Bara.


-


❇❇❇


Bara membiarkan Lusi dengan pose seenaknya di atas sofa. Ia bergegas masuk ke dalam kamar. Berada berdua dengan Lusi bisa menambah dosa, pikirnya.


Bara mengecek jadwal penerbangan yang tersedia. Sudah tidak ada jadwal untuk berangkat sekarang. Paling cepat ada pukul lima pagi. Jika berangkat pukul lima, ia akan sampai pukul tujuh lewat. Perjalanan dari bandara ke daerah wisata itu sekitar empat jam lebih. Bila semua perhitungannya tepat dan tidak ada kendala di jalan, ia akan sampai di depan Radit pukul sebelas siang.


Bara menyiapkan barang yang harus dia bawa. Tidak usah terlalu banyak. Radit membencinya. Setelah selesai, ia melihat ponselnya kembali. Melihat jadwal penerbangan itu lagi, kemudian memesan salah satunya.


Masalah Lusi. Bara akan meninggalkannya besok. Ia memberikan pesan pada Asisten Rumah Tangga yang biasa bertugas di rumahnya.


Bi, di rumah ada teman Bara. Nemu di jalan karena lagi mabuk. Pagi ini Bara mau ke kota x. Jika bibi datang nanti dia masih ada. Masakkan dia sesuatu ya Bi. Setelah makan suruh aja dia pulang.


Send.


Bara menghela nafas lega. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah memberikan Lusi selimut. Ia harus tidur cepat. Ia pun memejamkan matanya. Jam weker di atas nakas sudah disetelnya dengan alarm pukul tiga.


-


❇❇❇


Kiran merasa bersalah. Ia gelisah. Berulangkali menghubungi Radit namun pria itu sama sekali tidak mau menerima panggilan darinya. Malam itu sama sekali Kiran tidak bisa tidur. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sampai keesokan harinya pun Radit tak kembali ke kamar. Padahal pria itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Kemana ia bisa pergi?


Pagi harinya layanan laundry datang. Dengan mengenakan selimut, Kiran membuka pintu. Ia pun segera turun ke lobby hotel setelah berganti baju. Mencoba bertanya pada resepsionis. Namun nihil. Mereka menyimpan rapat-rapat informasi terkait tamu yang menginap.


Bahkan saat sarapan pagi, Kiran tetap tidak menemukan Radit. Jikapun dia masih hotel ini, mungkin sarapannya diantar langsung ke kamar. Kiran menghela nafas kecewa. Sepertinya memang pria itu sangat marah padanya.


Bel kamarnya berbunyi. Kiran membuka pintu dengan penuh pengharapan. Mempersiapkan diri jika akan mendapati Radit dengan ekpsresi marahnya. Namun ia begitu kecewa saat yang datang ternyata bukan pria yang diharapkannya. Bara dan supirnya berada di depan kamar.


"Aku mau mengambil barang-barang Radit," kata Bara dingin.


"Dia ada di mana Bara?" tanya Kiran.


"Untuk saat ini dia tidak ingin bertemu denganmu. Aku sudah mempersiapkan tiket pulangmu. Dia akan menemanimu."


Bara menunjuk supir yang sedari tadi diam di samping Bara. Meski berat, Kiran mengangguk juga. Ia memberikan beberapa pakaian dan barang-barang Radit yang tertinggal di kamar.


Sebelum Bara pergi, Kiran sempat menanyakan sebuah pertanyaan pada Bara. Ia bertanya dengan lirih. Entah kenapa hatinya merasa menyesal atas kejadian tadi malam.


"Bara .... Apa benar memang dia teman masa kecilku? Apa benar dia itu lelaki yang dulu kupanggil dengan sebutan raksasa?"


Bara menatap Kiran dengan tatapan penuh arti. "Tanyakan hatimu, Kiran. Kau hanya perlu membuka mata dan hatimu untuk melihat kebenaran itu. Sebab percuma aku mengatakan jawabanku jika kau sendiri tak pernah membuka hatimu untuk itu."


Bara pergi meninggalkan Kiran yang tercenung, duduk di atas tempat tidur.


Hari itu juga Kiran kembali ke kotanya. Wajahnya muram hingga ia sampai di rumah. Hatinya merasa sedih, mengingat ekspresi dan kata-kata Radit sebelum meninggalkan kamar.


Meski begitu, Kiran tetap menanyakan keberadaan Mama Ariana pada Tina yang menyambutnya di depan pintu.


"Nyonya ada di belakang Mba," jawab Tina saat Kiran bertanya.


Kiran melangkahkan kakinya menuju tempat yang dikatakan Tina. Begitu melewati dapur, ia melihat Mama Ariana sedang duduk di gazebo. Terlihat sedang khusyuk mencermati sesuatu yang ada di pangkuannya.


Kiran mendekat. "Assalamu'alaikum Ma."


"Wa'alaikumussalam. Eh, kamu sudah pulang Kiran?"


"Alhamdulillah sudah Ma." Kiran naik ke atas gazebo itu.


"Ada sedikit oleh-oleh untuk Mama." Ia memberikan sebuah paper bag pada Mama Ariana.


Mama Ariana mengintip isinya. "Wah, daster motif khas daerah sana. Mama suka banget. Makasih ya Kiran," ujar Mama Ariana terlihat senang.


"Alhamdulillah jika Mama suka."


"Gimana di sana? Kamu pertama kali ke sana kan?"


"Ya Ma. Senang banget lihat pemandangannya. Danaunya luas banget Ma ...." Kiran tersenyum samar.


"Jika momennya pas, nanti kita ke sana lagi. Sekalian bawa Raisa." Kiran mengangguk. Kini pandangannya menatap sesuatu yang berada pada pangkuan Mama Ariana. Album foto.


"Itu apa ma?"


"Oh, ini. Album foto waktu anak-anak masih kecil. Kita lihat bareng yuk." Kiran merapat pada Mama Ariana. Matanya kini mencermati isi album itu.


"Ini waktu Ari SD. Lihat, dia memang sudah tampan sejak kecilkan?" Ada kesedihan yang dikemas rasa bangga dalam kata-kata Mama Ariana. Kiran juga memahami ada kerinduan yang melingkupi kalimat tadi.


"Ya, dia memang tampan Ma."


Mama Ariana membuka halaman berikutnya. Hati Kiran bergetar. Dia ...???


Hati Kiran berdesir melihat anak laki-laki gendut itu. Warna kulitnya sawo matang. Kontras sekali dengan kulit Ari yang putih sejak kecil. Dan dia sangat mengenali anak laki-laki itu. Dulu ..., dulu sekali.


Tidak! Bagaimana mungkin?!!


Tangan Kiran bergetar. "Dia .... Radit, Ma?"


"Wah, penilaianmu cermat juga. Hanya kau yang bisa menebak jika dia adalah Radit. Kau pangling kan? Lihat betapa luar biasa transformasinya sekarang. Dia berubah menjadi anak Mama yang tampan. Berbeda banget dengan dulu kan Kiran?"


"Dulu itu sampai orang-orang meragukan kalau dia itu anak Mama. Karena beda jauh wajah dan warna kulitnya sama Mama. Kalau sudah dengar orang-orang bilang begitu, wajahnya pasti tambah jutek. Haha .... Mama jadi lucu kalau ingat dia dulu. Ditambah lagi teman-teman Mama suka gemes sama gendutnya, jadi suka nyubitin dia. Akhirnya wajahnya tambah jutek lagi. Makin jutek malah makin dicubitin. Hahaha ...."


"I-iya Ma. Beda jauh," sahut Kiran lirih. Sampai aku pun tak bisa mengenalinya meski pun dia sudah mengakuinya padaku.


"Lihat, yang masih sama dengan dirinya sekarang paling hanya mata tajamnya aja. Ya kan Kiran?"


"Iya Ma." Hati Kiran semakin gerimis melihat mata tajam itu yang dulu tidak pernah menjawab panggilannya.


"Kalau Ari memang kurus sejak kecil. Sejak dulu dia selalu tersenyum. Bisa dibilang cengengesan. Selalu tebar pesona."


Raut wajah Mama berubah sedih. Tangannya bergetar mengelus foto Ari kecil. Kiran melirik, buliran bening itu sudah menggenangi mata sang Mama. Kiran tahu, Mama pasti rindu Ari. Dan tujuannya melihat album foto ini mungkin untuk mengobati kerinduannya. Tapi dengan adanya foto ini, Kiran jadi mengetahui sebuah fakta tak terbantahkan tentang Radit. Pria itu mengatakan apa adanya.


Dia memang raksasaku!


Berbagai rasa kini membuncah dalam hati Kiran. Ia tak tahu pasti. Namun ia bisa memastikan bahwa rasa senang dan bahagia sudah memenuhi hatinya. Impiannya untuk menikah dengan pria yang disukainya sejak kecil ternyata telah tercapai. Namun rasa itu juga dipenuhi rasa sedih. Mengingat ucapan yang telah dilontarkannya pada pria itu.


Dengan alasan lelah, Kiran meminta izin pada Mama Ariana untuk kembali ke kamar. Ia menjadi tidak sabar. Ingin segera bertemu dengan Radit.


Kiran menekan tanda panggil pada layar ponselnya. Panggilannya tak diangkat. Kini ia beralih pada nomor Bara.


"Halo," terdengar suara dari sebrang.


"Radit bersamamu Bara?"


"Ya."


"Aku ingin bicara dengannya. Bisa?"


"Maaf Kiran. Dia nggak bisa diganggu sekarang."


"Oh, begitu," jawab Kiran kecewa. "Jika sudah tidak sibuk, tolong minta padanya untuk menghubungiku kembali ya Bara."


"Sip!"


"Makasi Bara. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir.


Kiran tahu, jika sebenarnya Radit pasti menolak untuk menerima telponnya. Bukan karena ia sibuk. Namun memang pria itu tidak menginginkannya. Kiran menyesal. Dadanya sesak. Ia pasti kecewa padaku. Dia pasti benar-benar marah. Jika aku diposisinya, mungkin aku akan kecewa dan akan pergi dari sisinya. Aku nggak mau dia pergi. Setelah semua ini kuketahui.


Kiran kembali teringat cerita Bara tentang tubuh gemuk Radit. Teman masa kecil yang tak pernah dilupakan pria itu.


Beralih pada jawaban Radit ketika dirinya menanyakan perihal nama wanita yang ada di masa lalunya. Radit menjawab dengan tegas, menyebutkan namanya. Begitu juga jawaban ketika ia menanyakan tempat tinggal wanita itu. Semua terlintas kembali.


Kenapa nggak jujur sedari awal, Kak .... Kenapa nggak terbuka sejak kalung itu ada di tangan Kakak ....


Buncahan perasaan itu sudah tak mampu ditampung Kiran. Riak air sudah memenuhi kedua cawan di matanya. Kini riak itu melimpah, mengalir, membuat sungai kecil di wajahnya. Kiran merasa hatinya terluka. Ia menyesal.


-


❇❇❇


Esoknya Kiran kembali bekerja. Konsentrasinya buyar. Ia tak mampu berpikir dengan jernih. Air matanya selalu tergenang mengingat apa yang ia katakan pada Radit di malam itu.


Ia menyadari jika kata-katanya sangat, sangat dan sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin ia mementahkan semua kata-kata yang Radit berikan. Padahal pria itu sudah melakukan banyak hal untuknya.


Ponsel Radit juga sama sekali tidak bisa dihubungi lagi olehnya. Pesan yang ia kirimkan pun hanya centang satu, tanda bahwa pesan itu belum dibaca. Padahal Kiran sudah meluapkan perasaannya di dalam pesan itu. Maka satu hal yang sekarang hanya bisa dilakukannya. Menunggu.


Jika saja urusan pekerjaan bisa diwakilkan. Tentu ia memilih mengejar Radit ke kota itu. Tapi bagaimana dengan TJ, jika dia dan Bara pergi?


Meski berat, Kiran menahannya. Seluruh rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Dan ia menahankan semua itu selama enam hari penuh. Sebab pada malam sabtunya, Bara memberikan sebuah pesan padanya.


Tenang saja. Besok Radit akan pulang.


Sebuah pesan yang membuat semangat Kiran bangkit. Melihat dari tanggapan Bara, Kiran yakin, Radit akan memaafkannya.


-


❇❇❇


Kiran mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia merasa gelisah. Bara hanya berpesan jika Radit akan pulang besok. Ketika ditanya waktunya, Bara tak menjawabnya sama sekali.


Kiran sudah berpesan pada Tina untuk segera memanggilnya jika Radit telah tiba. Saking tidak sabarannya karena sudah menunggu sejak pagi. Kiran pun berdiri menatap halaman dari atas balkon.


Sebuah mobil masuk ke pekarangan. Hati Kiran berteriak senang. Itu mobil Radit. Dengan tergesa ia pun turun ke bawah. Radit masuk bersama Bara. Saat Kiran turun, terlihat Radit sedang berbicara pada Tina.


"Jika Mama bertanya, sampaikan jika aku harus menginap di luar. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Kiran mendengarnya. Radit tidak menginap. Ia akan tidur di luar. Kiran tahu, pesan itu merupakan cara Radit menghindarinya. Kiran mematung menatap Radit dengan tatapan berkaca-kaca.


"Sepertinya Kiran menyambutmu, Dit." Bara berbisik di telinga Radit.


"Ayo masuk. Kita ke ruang kerjaku sebentar. Ada yang ingin kuambil."


Radit menatap Kiran dingin. Ia ingin melewati Kiran begitu saja namun urung. Tangan Kiran mencegahnya. Wanita itu menahan lengannya.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Bisa kita bicara berdua .... Kak?"


Radit terkesiap. Panggilan itu ....??


❤❤❤💖


Salam Readers.. Senang bisa nyapa lagi...


Pada pedes komennya ya di chapter sebelumnya.


Hihi... nggak apa. Aku sudah terbiasa sekarang. 😁😁😁


Yang jelas aku ucapin terima kasih buat yang masih setia.


Trus dukung aku ya dengan like, komen n votenya. Terima kasih.😘😘