
Kiran mengalihkan pandangan keluar jendela. Himbauan Radit agar duduk lebih dekat di sampingnya, tidak dihiraukannya. Dirinya masih mencerna penjelasan yang diberikan oleh sang nenek.
Ya, kini Kiran sudah mengakuinya bahwa dia memang masih memiliki seorang nenek. Mungkin ini lebih baik baginya. Mengingat papa juga selalu mengatakan agar jangan membenci orang lain sebelum kita tahu kebenarannya.
Papa bahkan menggarisbawahi untuk jangan membenci mama, nenek dan paman Sandi. Suatu hal yang sangat mustahil bagi Kiran setelah dia menyelidiki sendiri kebenaran tentang nama perusahaan, dalang penyebab kehancuran perusahaan papanya secara berulang.
"Kau masih memikirkan pertemuan tadi?" tanya Radit menyadari bahwa wanita yang ada di sampingnya ini sedang berpikir ke arah sana.
Kiran tak menjawab. Ia masih memandang deretan bangunan yang mereka lewati. Ia sudah yakin, Radit tahu jawabannya tanpa perlu ia jelaskan.
"Kau ini begitu keras kepala ya? Bahkan sampai nenekmu pergi dari tempat itu pun, kau masih belum mengakuinya. Tidak kusangka hatimu sekeras baja."
Sebenarnya Radit ingin mencairkan suasana. Mengganti kata-kata yang seharusnya bisa diilustrasikan dengan kata batu namun diganti dengan baja. Pria itu ingin Kiran menyangkalnya. Namun karena Kiran dalam mode sama sekali tidak menerima gurauan, menganggapnya sebagai penghinaan.
"Ya, memang hatiku sekeras baja. Aku yakin, jika kau berada di posisiku, kau pasti melakukan hal yang sama."
Kiran menjawab tanpa menoleh. Tidak sopan menurut Radit karena Kiran berbicara tanpa melihatnya. Namun mengingat wanita di sampingnya ini sedang tidak enak hati, apa boleh buat. Kali ini ia membiarkannya.
"Pikirkanlah dengan tenang. Kau harus menempatkan dirimu juga pada sudut pandang orang lain. Dalam hal ini, kau bisa melihatnya dari kacamata nenekmu. Apa yang kau lakukan jika kau menjadi dirinya. Agar kau bisa lebih bijak dalam mengambil sikap."
Sebenarnya apa yang disampaikan Radit itu benar adanya. Bahkan sangat benar menurut Kiran. Namun karena pria itu yang mengucapkannya, mengingat apa yang telah pria itu lakukan pada dirinya di masa lalu, Kiran jadi ingin menyindirnya.
Seketika ia melirik pria itu. Menatapnya dengan dingin. "Kau sendiri, kenapa nggak berbuat seperti itu waktu pertama kali bertemu denganku?"
"Yang mana? Waktu kau menjatuhkanku di ruangan Ari itu? Jika aku tak begitu, kau sudah kupecat saat itu juga."
"Lalu waktu aku bertemu lagi denganmu di ruang rapat?"
"Kalau aku membiarkanmu menjelaskan semuanya, Ari tidak akan pernah belajar."
"Kemudian ketika bertemu denganku di rumahmu pertama kali. Kemudian saat aku tinggal di rumahmu. Kau selalu menyebutku murahan."
"Itu karena aku dapat informasi bahwa kau memutuskan pacarmu itu dan lebih memilih Ari karena kau menyukai uangnya." Radit terlihat mulai kesal.
"Aku ini orang yang bertindak dengan penuh perhitungan. Mana mungkin aku menuduhmu tanpa bukti yang jelas!" seru Radit lagi.
"Darimana informasi itu? Jadi maksudmu aku murahan karena perkataanku sendiri?!"
"Ya, kan kau sendiri yang bilang pada pacarmu waktu itu di depan rumahmu!"
Kiran jadi teringat momen ketika Rangga menemuinya. Pada saat itu Kiran mengatakan pada Rangga bahwa ia akan menikah pada Ari. Ia juga menyatakan alasannya. Yakni, sebab Ari lebih kaya.
"Ternyata kau memata-mataiku!"
Radit mendengkus kesal. "Aku harus tahu seperti apa wanita yang dicintai adikku. Maka sudah selayaknya aku mencari tahu tentangmu." Radit mengalihkan wajahnya.
Terdengar tawa dari dari depan. Radit melirik Bara tajam. Sahabatnya itu kemudian terlihat berusaha menyembunyikan tawanya.
"Tenang saja, Kiran. Sekarang ini, Radit nggak akan berpikir seperti itu lagi. Baginya kini kau bukan lagi murahan. Tapi 'mahalan'. Malah pake bingits!"
Bara tak bisa lagi menahannya. Dia sudah mengeluarkan apa yang ada di dalam kepalanya. Sedari tadi dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak nimbrung mendengar obrolan Radit dan Kiran dari bangku belakang.
"Kau menyetir saja! Jangan ikut campur urusan kami!" seru Radit.
Bara menutup mulutnya dengan rapat. Kemudian membuat isyarat seakan mengunci bibirnya.
-
❇❇❇
Kediaman Keluarga Nyonya Tutik ....
"Kau sudah menghubungi Sandi agar segera pulang?" tanya Nyonya Tutik ketika ingin masuk ke dalam kamar pribadinya.
Wanita paruh paya yang selalu menuntunnya mengangguk tanda mengiyakan. "Sudah, Nyonya. Beliau bilang akan segera sampai di rumah tak lama lagi." Nyonya Tutik berdehem.
Wanita paruh baya itu menuntun Nyonya Tutik untuk duduk di atas ranjangnya. Menyusun bantal di belakang kepala Nyonya Tutik kemudian dengan perlahan menaikkan kedua kaki wanita tua itu.
Seorang pria masuk dengan langkah tergesa. Ia masuk ke kamar dengan terburu-buru. Matanya menatap Nyonya Tutik dengan khawatir.
"Ada apa, Ma? Ada apa Mama mencari Sandi? Apa ada yang sakit, Ma?" tanya Sandi Sanjaya saat masuk ke kamar Nyonya Tutik.
"Duduk di sini, Nak!" kata Nyonya Tutik, melambaikan tangannya agar Sandi mendekatinya.
Sandi menghampiri Nyonya Tutik dan duduk di tepi ranjang. Duduk menghadap ke arah Nyonya Tutik.
Nyonya Tutik menghela nafas pelan. Menetralisir emosi yang timbul melihat wajah anak angkatnya ini. Menyesalkan, ternyata tanpa diketahuinya, Sandi berani berbuat sampai sejauh ini.
Nyonya Tutik tahu betul tempramen Sandi. Dia berubah lebih labil setelah kehilangan Rina. Meski dia juga sudah menikah. Seperti tidak pernah merasa bahagia, Sandi lebih sering mengeluarkan emosinya. Acap sekali ia marah-marah, meskipun bukan ditujukan untuknya. Maka Nyonya Tutik berusaha untuk tetap tenang.
"Kenapa kau lakukan itu, Nak? Kenapa kau hancurkan perusahaan Kakakmu?"
Sandi terperanjat kaget. "Apa maksud Mama?"
"Jujur saja, Sandi. Mama sudah tahu semuanya dari Karina. Mama hanya minta kejujuranmu." Nyonya Tutik menatap Sandi dalam. Mengharapkan anak angkatnya itu tak mengelak lagi dan menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.
"Apa benar kau yang menghancurkan perusahaan Kamil berkali-kali?" tanya Nyonya Tutik lagi. Memperjelas pertanyaannya.
Sandi tertunduk dalam. "Iya, Ma"
"Aku membencinya, Ma! Dia mengambil semuanya dariku! Rina, kasih sayang Mama bahkan sampai kepercayaan keluarga Widjadja."
Pandangan Sandi yang tadi tertunduk berubah. Ia menatap Nyonya Tutik dengan marah. Kemarahan yang ia tujukan pada Kamil. Meski sudah meninggal, mamanya masih saja selalu membelanya.
Nyonya Tutik menghela nafas kasar. Ia mengalihkan pandangannya. Mengatur debaran jantungnya yang mulai berdetak lebih kencang. Ia harus tenang. Usianya sudah melarangnya untuk mengeluarkan emosi yang terlalu. Jantungnya sudah tidak kuat lagi.
Setelah debaran itu berkurang. Nafasnya mulai teratur, Nyonya Tutik menatap Sandi.
"Baik. Aku akan menceritakan padamu. Kini kau harus tahu. Tidak baik bagimu untuk terus menanamkan kebencian pada orang yang sangat menyayangimu. Lagipula Kamil juga sudah meninggal. Dia tidak bisa lagi melarangku."
Nyonya Tutik terdiam beberapa saat. Sandi menatapnya dengan heran. Merasa penasaran atas apa yang baru saja mamanya ucapkan.
"Sandi .... Sebenarnya ..., kau itu anak angkatku. Kamil lah anak kandungku. Kau adalah anaknya Atmaja!"
Deg!
Seperti ada sebuah palu besar yang menghantamnya. Sandi terhuyung kebelakang. Matanya membelalak. Bibirnya bergetar.
"A-a-apa yang Mama bilang barusan ...? Sandi tahu Mama sangat menyayangi Kamil karena ia lebih segala-galanya dari Sandi. Tapi dengan memutarbalikkan fakta yang ada, tidakkah itu keterlaluan, Ma?"
Nyonya Tutik menggeleng. Ia mengangkat tubuhnya. Menjangkau Sandi, ingin meraih tangan anak angkatnya itu. Namun, Sandi menarik tangannya sebelum sempat Nyonya Tutik meraihnya.
"Kau pasti sangat kecewa. Tapi itulah kenyataannya. Fakta yang kau dengar pertama kali itu memang benar. Melihatmu hancur, Kamil tidak tahan. Dia membohongimu dengan mengatakan bahwa dialah anak angkatku. Meski sebenarnya aku tidak rela, namun demi memenuhi janjinya pada suamiku, aku membiarkan semuanya berjalan sesuai kemauannya."
Hati Nyonya Tutik kembali tersaput kesedihan. Matanya berkaca-kaca.
"Bahkan ketika dengan marah kau memintanya keluar rumah, meski sebenarnya aku merasa hancur pada saat itu. Aku tetap membiarkanmu. Karena Kamil yang memintaku seperti itu. Dan dia tidak pernah sedih atas itu. Dia tetap tersenyum dan mengatakan bahwa pada akhirnya nanti kau akan berubah. Kasih sayangmu padanya akan kembali seperti sedia kala. Dan dia berkata dengan yakin kalau kau tidak akan mungkin bisa lama bermusuhan dengannya."
Buliran bening itu luruh juga. Nyonya Tutik terisak pelan.
"Aku tetap menyayangimu, Sandi. Aku tetap memegang amanahku pada suamiku untuk tidak membedakan kalian berdua. Aku juga selalu memegang janjiku pada Kamil untuk tidak menceritakan semuanya padamu. Aku masih berharap apa yang dia katakan itu benar. Aku tidak menyangka ...."
Nyonya Tutik tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia menarik nafas.
"Aku tidak menyangka kau bahkan tega menghancurkannya berulang kali bahkan sampai dia kehilangan nyawanya ...."
Nyonya Tutik sesenggukan. "Dia putraku, Sandi. Anakku satu-satunya. Dialah buah hatiku yang selalu kurindukan. Aku menahan rasa rinduku bahkan untuk melihat cucuku sendiri. Namun ternyata kau menghancurkan semuanya. Kalau sekiranya aku tahu, memenuhi amanat pada suamiku sampai harus membuatku kehilangan anakku sendiri, tentu aku tidak akan menyanggupinya dulu ...."
Nafas Sandi terasa sesak. Semua kebenaran yang disampaikan oleh wanita yang selama ini amat sangat disayanginya. Yang ia kira sebagai ibu kandungnya, benar-benar tidak disangkanya. Tanpa sadar air matanya ikut menetes.
"Ja-jadi siapa ibu kandungku..., Ma?" tanya Sandi lirih. Menatap Nyonya Tutik dengan kepedihan luar biasa yang melanda hatinya.
"Sonya. Kau adalah anak Atmaja. Dia adalah tangan kanan suamiku. Atmaja meninggal karena ditembak seseorang yang menginginkan nyawa suamiku. Atmaja menggantikannya. Sebelum dia meninggal, Atmaja memberikan satu permintaan agar suamiku mau mengangkatmu sebagai anak dan memperlakukanmu seperti anak kandungnya sendiri."
"Bibi Sonya ...."
Nyonya Tutik mengusap air matanya yang berurai. Sandi menutup wajahnya. Menyesal tiada kira.
Pantas saja selama ini Bibi Sonya terlihat menyayanginya. Ternyata dia lah ibu kandung yang sebenarnya.
Sebuah tanya melintas di benak Sandi. Hatinya bergetar hebat. "Lalu apakah Mama menyesal telah menyayangiku? Apakah Mama menyesal telah menjadikan aku sebagai anak Mama?"
Ia berikan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya itu. Meski separuh hatinya meminta agar pertanyaan itu jangan diucapkan namun ia ingin mendengarkan kejujuran. Ketakutan akan kenyataan pahit yang bisa saja menderanya, tak ia hiraukan.
"Tidak!" Nyonya Tutik menatap Sandi tegas.
"Aku menyayangimu, Sandi. Bagiku, kau anak yang berbakti. Aku juga tidak menyesal sama sekali telah menerima keputusan suamiku untuk mengangkatmu."
"Aku hanya menyesal telah melaksanakan amanah agar aku merahasiakan kebenaran darimu. Ditambah lagi, aku menyesal telah menyetujui permintaan Kamil untuk itu."
"Aku hanya tidak ingin kalian hancur .... Aku ingin anakku, Sandi. Aku ingin Kamil .... Huhu .... Kenapa Kau tega menghancurkannya ..., bahkan ia sampai meninggal dunia ...."
Terpukul!
Itulah yang terjadi pada hati Sandi. Wajahnya pias. Dengan gemetar Sandi turun dari ranjang. Ia berlutut di samping ranjang. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Nyonya Tutik.
"Maafkan Sandi, Ma. Maafkan Sandi. Bunuh saja Sandi, Ma. Jika memang itu bisa mengobati hati Mama ...," katanya dengan bersimbah air mata.
❤❤❤💖
Ya Allah Kiraaan.... Hidup Papa Lu kok tragis amat siihh?! Sampe misek-misek ane yang nulis. huhhuhu...
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Part ini segini dulu ya sayong-sayong aku. Mohon mahap lahir dan batin, author semalam libur.
Menikmati weekend dengan jelong-jelong.
Jangan marah apalagi kecewa ya. Ntar wajahnya tambah tuaaa. (hihihiiii...😁)
Apalagi sampai kasi emoticon nangis. Please... jangan membuatku bersedih...
Semoga kita semua sehat-sehat ya. Dihindarkan dan dilindungi dari semua bencana dan marabahaya... Aamiin.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰