
Dengan malas Radit membuka pintu. Bersyukurnya pria itu belum membuka bajunya. Jika tidak, tentu hatinya akan lebih sebal lagi.
Pintu terbuka. Wajah Bara adalah wajah pertama yang Radit lihat. Baru saja Radit ingin melampiaskan amarahnya pada Bara hingga ia tercekat mendapati sesosok wajah yang juga hadir ketika pintu itu semakin terbuka.
"Ari???!!" serunya tak percaya.
Pria yang biasanya selalu menyunggingkan senyum di depannya kini terlihat tanpa ekspresi bahkan cenderung dingin. Radit mengabaikannya, lekas ia memeluk adiknya itu dengan erat.
"Kau kembali Ari? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah ...," ucap Radit senang, matanya sedikit berair.
Radit mengendurkan pelukannya, merasa janggal dengan sosok dingin yang ada di hadapannya. Ia melirik Bara, mengonfirmasi pada sahabatnya itu. Bara menundukkan pandangannya seperti menyimpan sesuatu. Pria itu masih merasa aneh hingga akhirnya keluar sebuah kalimat yang menyadarkan Radit atas semua keanehan itu.
"Kembalikan Kiran padaku, Kak!" pinta Ari tegas, tanpa ekspresi.
Deg.
Radit seketika menjauh, memahami situasi yang terjadi. Ia melirik Bara lagi, mendapati sahabatnya itu tersenyum kecut dan seakan memohon maaf darinya.
"Kau kemari, datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menemui Kiran?"
Pertanyaan yang sebenarnya enggan sekali Radit mengeluarkannya itu terucap juga.
Benar sekali, Ari mengangguk.
"Kakak tahu sendiri kan arti Kiran bagi Ari? Ari sudah kembali, Kak! Ari yakin Kakak paham maksud Ari!" pernyataan itu menohok Radit.
Lelaki itu kini paham atas apa yang harus ia lakukan. Di hati adiknya itu hanya ada cintanya pada Kiran. Wanita yang pada awalnya ingin ia nikahi sebelum kecelakaan itu terjadi. Setelah ia kembali, tentu saja keinginan yang masih tertunda itu akan menjadi hajat awalnya. Radit menyabarkan hatinya, mencoba memaklumi jika keberadaannya kini tak dianggap oleh adik yang sangat dirindukannya itu.
"Bara, pesan kamar di hotel ini untuk Ari. Besok kita pulang ke Jakarta," perintahnya pada Bara.
Bara mengangguk cepat. "Ayo, Ari!" ajaknya pada pria yang terlihat ingin mencermati isi kamar melalui celah pintu.
"Kita pulang sekarang, Kak!" matanya beralih menatap Radit datar, menolak ajakan Bara.
"Tidak ada pesawat untuk malam ini!" bantah Radit cepat.
"Naik helikopter aja, Kak."
"Kita berempat, Ari!"
Pria itu terdiam.
"Kau ingin menemuinya?" selidik Radit menyadari keresahan adiknya itu.
Ari mengangguk.
"Bersabarlah. Malam ini aku melarangmu menemuinya. Besok kau akan bertemu dengannya sekaligus kita pulang ke Jakarta. Jangan berpikir macam-macam. Kau baru saja kembali."
Ari diam.
"Kau sudah menemui mama dan papa?"
"Sudah, Kak."
"Sekarang ikuti Bara. Istirahatlah dulu."
Ari masih diam.
Perubahan ini masih terasa asing bagi Radit. Adiknya yang senantiasa tersenyum padanya itu kini bagaikan telah kehilangan keceriannya.
"Kenapa?" menyadari Ari sama sekali tak beranjak saat Bara mengajaknya.
"Boleh Ari menemui Kiran sekarang, Kak?"
Mata pria itu penuh pengharapan. Radit paham, Ari pasti merindukan Kiran, namun mengingat pakaian apa yang digunakan istrinya sekarang tentu saja hal itu mustahil bagi mereka. Terlebih lagi yang paling mendominasinya tentu perasaan Kiran.
"Mohon maaf Ari. Kiran sedang beristirahat. Kembalilah besok."
Ari terlihat kecewa namun menyunggingkan senyuman. Sebelum meninggalkan Radit ia mengucapkan sebuah kata yang sebenarnya ditunggu Radit sejak tadi.
"Ari merindukan Kakak ...."
"Aku juga merindukanmu, Ari. Sangat ...."
Sebuah ucapan balasan yang tak didengar adiknya lagi karena telah pergi bersama Bara.
Radit menghela nafas pelan kemudian berbalik masuk ke dalam kamar.
"Siapa tadi, Kak? Kenapa Kakak lama?" tanya Kiran ingin tahu setelah suaminya kembali naik ke atas ranjang.
Radit terdiam.
"Ada apa sih, Kak? Kakak kok jadi begini? Sebenarnya tadi siapa, Kak?" desak Kiran.
"Ari...," jawab Radit pelan.
"Kakak bercanda ya? Mau nakutin Kiran?"
Radit menggeleng.
"Ari kembali, Sayang. Dia masih hidup." Radit menatap Kiran dengan penuh kesungguhan, memberi ketegasan atas pernyataannya barusan bahwa ia bukan sedang dalam candaan.
"Beneran, Kak? Alhamdulillah, Ya Allah ...!" Kiran menutup mulutnya, "bagaimana bisa, Kak? Kemana dia selama ini?" cecar Kiran.
"Jadi kenapa dia ke sini? Apa yang Kakak bicarakan tadi dengannya?"
Radit terdiam beberapa saat. "Dia menanyakanmu, Sayang ...." matanya menatap Kiran sendu.
Kiran tersentak. Dia berpikir sesaat namun menepis prasangka yang ditemukannya. "Kak ...."
"Tidurlah, Sayang. Besok kita pulang ke Jakarta."
"Jadi malam ini ...." Kiran tak meneruskannya, melihat senyum sendu mengulas di bibir suaminya.
"Sepertinya kita harus menundanya, Sayang."
Kiran lekas memeluk Radit. "Maafkan Kiran, Kak ...," bisik Kiran lirih. "Semua karena Kiran. Jika masalah keluarga Kiran nggak rumit seperti itu, cerita kita akan berbeda."
"Ssttt, nggak boleh bilang begitu. Justru karena konflik keluarga maka kita bisa bertemu."
Radit menjauhkan tubuh Kiran pelan. "Tidurlah, Kiran."
"Kakak nggak tidur?" menyadari suaminya hendak bangkit dari tempat tidur.
"Kakak akan menyusul nanti. Kakak ingin memastikan sesuatu pada Bara," terang Radit pada Kiran sembari memosisikan tubuh Kiran agar tidur kembali.
Setelah menutupkan selimut ke tubuh Kiran, Radit pun bangkit dari ranjang. Tak lupa ia meninggalkan ciuman singkat di dahi dan bibir istrinya.
Radit mengambil ponselnya dari atas nakas kemudian berjalan menuju balkon. Ia sandarkan tubuhnya pada kursi yang ada di sana. Jarinya menekan pinggir ponsel agak lama. Setelah ponsel itu aktif kembali, Radit segera menekan tombol panggil pada salah satu nomor. Beberapa saat ia menunggu hingga kemudian panggilang terhubung.
"Assalamu'alaikum, Dit!" terdengar suara dari sebrang.
"Ari sedang bersamamu?" tanyanya memastikan.
"Tidak. Aku tau, kau pasti butuh penjelasan dariku makanya aku tidur di kamar terpisah."
"Jadi apa yang terjadi? Ceritakan semua yang kau tahu!"
"Aku tadinya pun terkejut saat Mamamu menghubungiku dan memintaku untuk mengantar Ari menemui kalian. Selama dalam perjalanan, Ari pun hanya diam, Dit. Jadi aku juga belum tau apa yang terjadi padanya selama ini dan bagaimana dia bisa kembali."
"Apa mama memastikan padamu jika memang kami sedang bulan madu?"
"Iya, Dit. Bahkan Ari juga bertanya itu."
Praduganya benar sudah.
"Terima kasih, Bara. Sekarang kau tidurlah."
Radit ingin mematikan ponselnya namun Bara mencegahnya, "Dit!" panggilnya.
"Apa?"
"Udah cetak gol?"
Radit menghela nafas kasar. Rasa kesalnya datang lagi. "Cetak gol kepalamu! Kalau kau pintar seharusnya kau ajak dia berkeliling dulu tadi!"
"Maksudnya, Dit? Jangan bilang tadi kalian lagi ...."
"Kubilang sekarang kau tidur!" ulang Radit lagi.
"Maaf ya, Dit. Aku juga terpaksa, Dit. Tahu sendiri lah kalau sudah mamamu yang meminta mana berani aku ...."
Tak ada sahutan.
"Dit, ...!"
"Apa?"
"Lanjut aja lagi, Dit ...."
"Nggak bisa, Bara."
"Aku mengkhawatirkan sesuatu, Dit. Maka sebelum itu terjadi, milikilah Kiran seutuhnya."
"Itu akan menjadi urusanku, kau tidurlah!"
Tut. Radit memutuskan sambungan panggilannya. Ia meletakkan ponsel pada meja kecil di sampingnya. Menyandarkan tubuhnya kembali yang tadinya sempat bangkit, kemudian memanjangkan kakinya menyentuh dinding pembatas. Matanya menerawang, menembus malam. Ia sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.
❤❤❤💖
Vote, vote, vooote!!
Pada pelit ya sekarang ....
Mentang-mentang jarang up jadi udh pada males yang ngevote.
(Salah aku juga sih ya ... hehehe)
Tapi tu poin jangan dianggurin donk, biar akunya makin rajin, ketika up tetap di vote, Hehehe
Tapi tetap lope lope deh sama kalian yang masih setia dengan like dan komentarnya. Terutama masih setia dengan kelanjutan Kiran dan Radit.
O iya, sebagai informasi. Sekarang author lagi bener pikirannya, udah g meyeh2 sok sibuk g jelas. Jadi besar kemungkinan akan up lagi dalam waktu dekat. So, doakan saja ya cayang2 akuh agar semua ini bertahan ... tapi yang jelas, nggak tiap hari juga up nya. Macem dikejar setoran hidupku kalau harus up tiap hari.
Love u all, kukasi kiss dari jauh 😘😘😘