Behind The Boss

Behind The Boss
Kita Berjuang Bersama



"Kau mau aku menceritakan mulai dari mana?" suara itu terdengar juga meski telah lama hening menjeda di antara mereka.


"Ceritakan kenapa kau bisa masuk ke kamarku dan sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu?"


Hening lagi.


"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu karena telah melakukan itu." Ari mendesah. "Sejujurnya tidak ada yang terjadi pada malam itu."


Meski hatinya telah bisa menebak sebab Radit mengatakan bahwa Ari telah melakukan kebohongan padanya namun mendengar hal itu secara lugas dari mulut Ari, Kiran merasa hatinya senang luar biasa.


"Sungguh?" ucapnya sembari menatap Ari kembali. Menekankan bahwa apa yang dikatakan pria itu benar adanya.


"Kau pasti senang kan?"


"Tunggu sebentar, maksudnya aku memang tidak pernah melakukan itu padamu kan? Artinya aku masih perawan?" ulang Kiran lagi.


Ari tersenyum lucu. Begitulah Kiran, masih orang yang sama. Begitu cakap dalam mengelola pekerjaannya namun sangat lugu dalam hal beginian.


"Ya, kau masih perawan, Kiran. Aku tidak jadi menyentuhmu saat itu."


"Tidak jadi?"


"Ya, tadinya aku ingin melakukannya namun ternyata aku masih punya iman. Mendadak aku jadi takut." Ari tergelak.


"Malam itu aku meminta master key pada resepsionis agar bisa membuka pintu kamarmu. Aku berkilah bahwa kau sedang depresi berat. Selaku atasanmu, aku mengatakan jika aku khawatir kau akan bertindak gegabah. Aku juga meminta pihak hotel agar mengecek dari CCTV bagaimana kau masuk dalam keadaan menangis mulai dari kamar Rangga hingga di lift. Mereka percaya dan memberikan kunci itu padaku."


Kiran ternganga. "Jadi kenapa pakaianku bisa terbuka dan aku bermimpi tentang pernikahan serta melakukan malam pertama?"


Ari terdiam sejenak. "Yang membuka pakaianmu itu salah satu karyawan hotel sebab aku yang memintanya. Aku katakan jika pakaianmu basah. Hmm, aku basahi sedikit waktu itu.


Sementara mimpi itu terjadi karena aku meminta seseorang untuk menghipnotismu. Makanya kau tidak sadar. Aku hanya memintanya untuk membuatmu seakan melakukan malam pertama dengan orang yang ada di hatimu."


"Hipnotis?"


"Ya. Maaf, Kiran."


"Kau merencanakan semua ini sejak rencana kepergian kita ke kota itu?"


"Untuk menangkap basah Rangga, itu sudah pasti. Tapi untukmu, itu terjadi secara kondisional. Aku bertemu secara tidak sengaja dengan salah seorang yang aku kenal memiliki kemampuan itu di hotel dan tiba-tiba saja ide itu muncul."


Kiran menatap lurus Ari. "Lalu kau menimbun kebohongan lain saat aku tanya perihal malam itu? Dan aku dengan mudahnya tertipu!"


"Aku pikir itu lebih baik dibandingkan aku beneran menidurimu."


Kiran mendengkus. "Meski aku kecewa namun aku tetap berterima kasih sebab kau tidak jadi melakukannya dan telah berkata jujur padaku."


"Sama-sama," sahut Ari datar.


Kiran melengos. "Aku tebak kau tidak menyesal melakukannya?"


"Tentu saja," aku Ari lagi.


"Dan aku tebak kau juga tidak malu melakukannya?"


"Sudah pasti."


"Astaga, Ari!" Kiran tergelak.


"Kenapa? Aku hanya menjawabmu apa adanya."


"Ya ya. Aku yang salah karena sudah menanyakannya padamu," cibir Kiran.


Ari tergelak.


Beberapa saat mereka saling mematung dan mengunci tatapannya pada satu sama lain.


"Kau berubah, Ari ...."


"Banyak hal yang telah terjadi padaku, Kiran. Mungkin itu yang membuatku berubah." Ari melirik Kiran sekilas. "Kau juga berubah, Kiran. Lebih ceria," imbuhnya lagi.


"Aku merindukanmu, Ari."


"Aku juga merindukanmu."


"Kau kemana saja selama ini? Kenapa baru pulang sekarang?"


Ari mendengkus. "Aku juga tidak ingin begitu, Kiran. Tapi semua berjalan di luar kendaliku. Awalnya, aku hanya ingin menjemput orang tuamu sebab menurut Bowo, teman yang kutemui di malam aku mengambil fotomu itu, dia melihat jika kedua orang yang berada di foto itu masih hidup. Bowo pernah makan beberapa kali di rumah makan mereka.


Kiran mematung.


"Entah bagaimana ban mobilku kempes tiba-tiba. Aku pikir mereka pasti menembak ban mobilku. Setelah itu aku terjatuh ke dalam sungai. Syukurnya aku bisa keluar dari dalam mobil dan berenang ke hulu, sebab aku yakin, orang-orang itu pasti akan menungguku di hilir. Mereka tidak akan menyangka jika saat itu aku menyelam ke hulu. Syukurnya malam itu sangat gelap. Lampu penduduk pun belum menjangkau ke sungai sehingga aku bisa mengelabui mereka."


"Jadi kenapa tidak langsung menghubungi kami? Kau kan tau nomor ponselku!" Kiran jadi antusias. Dadanya serasa sesak mendengar cerita Ari. Rasa bersalah hinggap di hatinya. Ia paham jika apa yang menimpa Ari itu disebabkan konflik keluarganya. Orang itu tidak ingin Ari menemui Papanya.


"Setelah berenang dengan susah payah, aku pun akhirnya pingsan, Kiran. Beberapa kali aku memang menabrak bebatuan besar di sana. Mungkin karena itulah aku kehilangan ingatan."


"Ya Allah. Jadi kau ...?"


"Ya, selama ini aku tidak mengingat sama sekali siapa aku. Tidak mengingat asal usulku bahkan kejadian malam itu. Ingatanku kembali setelah menolong salah seorang anak yang hanyut di sungai. Dari situlah akhirnya ingatanku menjadi jelas dan aku memutuskan kembali secepatnya."


"Dan semua orang di sini senang sekali bisa melihatmu seperti ini, Ari. Kami semua kehilanganmu."


"O, ya. Lalu kau? Apa juga kehilanganku?" Menatap Kiran dalam.


"Pertanyaan apa itu?! Tentu saja aku kehilanganmu."


Ari mendesah. "Kau tahu Kiran. Dari semua ingatan yang hilang itu. Hanya wajahmu yang bisa kuingat dengan jelas ...," tutur Ari lirih, kembali menatap Kiran dalam.


Kiran sedikit terkejut kemudian membalas menatap kedua manik mata Ari. Entah kenapa hatinya berdesir. Namun lebih dipenuhi oleh rasa iba yang berlebih.


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar terbuka.


"Maaf, Ari. Sepertinya Kakak sudah kembali ke kamar. Aku masuk dulu, ya. Lain kali kita ngobrol lagi. Okay?!" pamit Kiran, segera melangkah pergi meskipun belum terdengar jawaban dari Ari.


"Padahal ingin sekali aku menghalangimu masuk ke kamar itu, Kiran. Tapi tentu saja, aku tidak berhak untuk itu. Ya, aku belum berhak," gumamnya sembari mengarahkan pandangan ke depan. Ia merasa sangat kecewa.


Setelah masuk ke dalam kamar, Kiran lekas mengunci pintu ke arah balkon dari dalam. Menutup tirai. Kemudian mengunci dan menutup celah yang ada di pintu penghubung.


Ari sedang berada di balkon sekarang. Kiran tidak ingin Ari melihat maupun mendengar apa yang akan ia dan Radit lakukan ataupun katakan di kamar ini.


"Ada apa, kak?" Kiran mendekati Radit yang sedang duduk dengan wajah lesu di atas ranjang. Mata pria itu memerah saat ia menatap Kiran.


Begitu Kiran mendekat dan duduk di sampingnya, Radit lekas meraih Kiran dalam pelukannya. Ia memeluk Kiran dengan erat.


"Kak?"


Radit menjauhkan tubuhnya dari Kiran, menatap wanita itu lekat-lekat. "Sayang ..., jawablah dengan jujur pertanyaan ini ...."


"Ya?"


"Aku hanya ingin memastikan. Jika sekarang ini kau disuruh memilih. Kau pilih aku atau Ari?"


"Ya Allah, Kakak .... Pertanyaan apa itu?" pekik Kiran seketika.


"Jawab saja."


Kiran menatap Radit datar. "Tentu saja Kakak. Jangan pernah ragukan itu."


Radit memeluk Kiran lagi. "Terima kasih, Sayang." Pria itu mulai terisak.


Sejak tadi dia sudah berusaha menahannya. Saat permintaan itu diajukan oleh Mama Ariana, hatinya sudah tersakiti. Bukan hanya disebabkan anehnya permintaan itu. Namun lebih disebabkan karena akhirnya ia tersadarkan bahwa kasih sayang ibunya itu benar-benar tidak adil untuknya. Sejak kecil memang ia sudah merasa jika mamanya lebih menyayangi Ari. Acap kali ia harus mengikhlaskan hatinya jika mamanya memintanya memberikan apapun miliknya yang diinginkan Ari. Semuanya ia berikan. Namun ..., istri? Tak disangka mamanya juga memintanya untuk menyerahkan istrinya pada Ari. Sesak yang telah menghimpit dadanya itu kini tak sanggup lagi ditampungnya. Menjadikan bulir-bulir bening itu luruh begitu saja setelah mendengar jawaban Kiran.


Kiran membalas pelukan Radit. Mengusap kepala pria itu yang meski tak bersuara, namun dari isakan pelan yang terlihat dari tubuhnya, Kiran bisa memahami keadaannya.


"Kakak meragukan Kiran karena permintaan Mama?" desak Kiran.


"Maaf."


Kiran memeluk tubuh Radit lebih erat. "Jangan pernah ragukan Kiran, Kak. Kiran juga nggak ingin bercerai dari Kakak."


Kiran menjauhkan tubuhnya dari Radit. Menatap pria yang menundukkan kepalanya itu dengan senyuman. "Mari kita berjuang bersama, Kak."


Radit mengusap wajahnya yang basah. Menatap Kiran dalam. "Kakak memang sudah punya rencana. Jika Kiran bersedia, mari kita lakukan itu bersama-sama."


Kiran mengangguk dengan yakin.


❤❤❤💖


Tinggalkan jejak dengan vote, like n komen😘