
Radit berjalan dengan hati riang. Sebuah lagu merdu mengalun dalam hatinya. Ia serasa ingin menari saja. Hei, apa?!! Menari?!
"Karina sedang di kamar mandi. Sebaiknya Radit mandi juga, Nak. Sudah Mama siapkan baju Papa yang bisa kamu pakai." Mama berdiri di depan pintu saat Radit ingin masuk ke dalamnya. Kamar, tempat mereka tidur malam ini.
"Iya Ma. Setelah Karina, Radit akan mandi juga. Makasi ya Ma," jawab Radit, tersenyum senang.
"Radit masuk dulu ya Ma." Ia menambahkan. Mama Rina mengangguk pelan dan memberi ruang agar Radit masuk ke dalam kamar. Ia baru saja keluar dari sana.
Begitu pintu tertutup, Radit menutup wajahnya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain bersidekap di depan dada.
Dia mencintaiku! Dia mencintaiku! Hahaa.... Kau dengar tadi Bara ...?! Kalau ada kau tadi, maka aku akan bilang, nggak ada cinta bodoh seperti katamu. Cintaku berbalas .... Cintaku berbalas!!!!! Inilah yang namanya bahagiaaaa ....
Radit bersorak dalam hati. Tangannya menumbuk angkasa. Jika saja dia mengeluarkan suaranya, maka Papa Kamil dan Mama Rina pasti akan kaget mendengarnya.
Wajah Radit kini berubah serius. Lalu bagaimana caraku memberitahunya bahwa aku ini raksasa?
Kini wajahnya berubah serius. Tangan yang tadi digunakan menutup wajah, berganti menyentuh dagu dan bibirnya. Dia sedang bingung sekarang. Maklumlah. Pria minus pengalaman pacaran. Plus hanya mencintai satu orang, itu pun tak pernah berhubungan kecuali sejak kecil. Maka wajar jika bingung cara mengungkap identitasnya.
"Kan nggak mungkin aku harus kembali gendut dulu baru dia mengenaliku?" gumam Radit pada dirinya sendiri. Dia mulai mondar-mandir di dalam kamar.
"Karina .... Ada yang ingin aku katakan. Sebenarnya aku ini teman masa kecilmu. Aku dulu yang kau panggil raksasa."
Radit belajar berdialog. Berbicara sambil menatap cermin.
"Lalu kalau dia meragukanku, aku harus bagaimana ya?" Kembali mondar-mandir. Resah dan gelisah.
Krieettt
Suara pintu berderit. Kiran masuk dengan memakai baju daster lengan panjang. Rambutnya basah terurai. Handuk bekas mandinya ia letakkan begitu saja di atas kepala.
Radit terpana. Rambut basah itu lagi ....
"Kalau mau mandi, mandi saja. Kamar mandi sudah kosong." Suara Kiran menyadarkannya.
"Ah, i-iya. Aku akan mandi." Ia bergerak cepat. Mengambil handuk yang ada di kepala Karina dan keluar dari kamar. Menyembunyikan wajahnya yang merona.
-
❇❇❇
"Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Radit. Mereka sudah mengambil posisi tidur dengan Kiran membelakanginya. Radit memeluknya dari belakang.
"Mungkin senang."
"Mungkin?"
"Semua serasa mimpi. Kau tahu. Aku paling susah mengungkapkan perasaan."
"Ya aku tahu. Dirimu yang sekarang memang berbeda dengan dirimu yang dulu suka ceplas-ceplos."
Kiran tersentak. Diriku yang dulu?
"Apapun itu, terima kasih Radit. Kau membuat semua rahasia dalam keluargaku terbuka."
"Belum semua. Ada satu lagi."
Kiran berbalik. Menantang mata Radit. "Apa lagi?"
"Tentang teman masa kecilmu ...." Radit mencoba menjaga ekspresinya.
Kenapa sih dia berbalik?
"Aku akan memberitahukannya pekan depan." Radit menambahkan.
Kiran mencoba melihat kejujuran dari balik mata Radit. Ia menatap Radit intens. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Radit. Wajahnya merona. Ia menyembunyikannya dengan membuat dirinya menatap langit-langit kamar. Menghindari tatapan Kiran.
"Aku hanya ingin melihat kejujuranmu."
Radit terkekeh. Melirik Kiran sekilas. "Siapkan hatimu untuk itu."
"Sekarang, aku ingin menagih ucapan terima kasih plus hutang ciumanmu itu," katanya lagi.
Radit bergerak. Kini ia menghadap Kiran. "Cium aku sekarang!"
Hah?!
Begitu pun dengan perlahan, Kiran mendekatkan wajahnya ke wajah Radit. Wajah Radit menghangat. Begitu pun Kiran. Nyaris saja bibir mereka bersentuhan hingga kemudian Kiran menghentikannya.
"Kenapa?" tanya Radit lirih.
"Memang aku murahan ya. Meskipun kau sudah tak menganggapku begitu. Tapi tetap saja kau menyuruhku melakukan ...."
Belum sempat Kiran menyelesaikan ucapannya, Radit sudah membungkamnya dengan bibirnya.
"Jangan pernah katakan seperti itu lagi.Ya?" ucap Radit lembut. Mengalirkan sensasi aneh di hati dan tubuh Kiran. Ia hanya mampu mengangguk pelan.
Wajah mereka teramat dekat. Perlahan, Radit kembali mendekatkan wajahnya. Mengabaikan debaran jantungnya yang kembali tidak normal. Begitu juga dengan Kiran. Perlahan ia menyapukan bibirnya pada seluruh wajah Kiran. Menatap wanita itu sebentar lalu menyatukan bibir mereka, lama ....
-
❇❇❇
Setelah sarapan, Kiran dan Radit berangkat. Mereka langsung menuju TJ Company. Pakaian mereka telah disiapkan oleh Bara dan supir pribadi Kiran.
"Apa Ari tenggelam di sana?" tanya Kiran setelah mereka melewati sungai itu. Ia ingin bertanya sedari tadi. Melihat wajah sedih Radit, ia pun mengurungkannya. Menunggu ekspresi pria itu berubah.
"Iya," jawab Radit singkat.
"Maafkan aku. Ternyata kau memang benar. Ari meninggal karena aku. Kalau saja Ari nggak membawa fotoku, mungkin dia masih baik-baik saja." Suara Kiran terdengar sedih.
"Itu bukan salahmu. Semua sudah takdir. Hidup dan mati kita di tangan Allah. Jika sudah Allah gariskan Ari meninggal di usia muda, tentu akan terjadi seperti itu. Mau sebab karena fotomu atau tidak, itu pasti akan terjadi."
Radit menggapai. Meraih jemari Kiran dan menggenggamnya.
"Kau benar ..., tapi tetap saja ingatan penyebab kematian itu akan dikaitkan dengan fotoku," bantah Kiran lirih.
"Tapi kau harus tahu. Kau tak kan pernah disalahkan karena itu."
Kiran mengalihkan pandangannya. Memandang keluar jendela. "Jadi malam itu, dia melewati jalan ini untuk menemui kedua orang tuaku?"
"Ya."
Kiran menghela nafas pelan. Mengusap sudut matanya yang basah. Entah kapan bulir itu mengambang di sana. Seketika ia teringat senyum khas Ari. Ketika ia menggodanya dan menatapnya.
"Dia sangat mencintaimu...." Meski tercekat, suara itu keluar dari bibir Radit. Kiran menoleh, melirik Radit sekilas. Kemudian kembali melihat keluar jendela.
-
❇❇❇
Radit masuk ke dalam ruangan Tuan Mahesa di Makarim Group. Setelah sampai di TJ, ia langsung mengganti pakaian dan meluncur ke sini. Bara mengatakan bahwa sang Papa meminta agar segera menemuinya.
"Kau kemana? Bahkan ponsel pun tidak kau aktifkan!" tegur sang Papa saat mereka sudah duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"Radit menemui Papa Kamil, Pa," jawab Radit tenang.
"Kamil? Masih hidup?" Papa Mahesa sedikit terkejut, seakan tak percaya. Namun kemudian ia tersenyum simpul.
"Papa sudah bisa menduganya sih. Tapi ceritakan hasil pertemuanmu dengannya!" Tuan Mahesa menambahkan.
Radit menceritakan awal mula kecurigaannya dari kematian Ari. Peluru di dalam ban. Hingga foto dan cerita Bowo. Berakhir pertemuan dan pembicaraannya dengan Papa Kamil, semua ia ceritakan pada sang Papa.
"Jadi seperti itu .... Memang keluarga mereka rumit. Jadi apa rencana Kamil kedepannya? Dia tidak ingin kembali?" cecar Tuan Mahesa.
"Sepertinya dia tidak ingin kembali lagi Pa. Dia merasa lebih tenang di sana."
"Ya, benar juga sih. Kalau Papa jadi dia mungkin juga akan bersikap sama."
"Jadi ..., ada maksud apa Papa memanggil Radit ?" tanya Radit mengembalikan pembicaraan ke topik awal.
"Ah, iya. Papa hampir lupa. Mengenai hotel yang ada di daerah wisata X. Papa ingin kau observasi ke sana. Papa ingin penilaianmu."
"Apa nama hotelnya Pa?" tanya Radit. Ia sudah bisa menebak akan kemana arah pembicaraan ini.
Observasi tempat yang akan dibeli. Kemudian memastikan peluang untuk bisa lebih maju. Lalu menentukan apakah eksekusi yang paling tepat. Merger atau akuisisi. Itu sudah makanannya.
Tuan Mahesa memberikan satu buah kartu nama. Manajer hotel itu dengan nama lengkap hotel dan alamatnya.
"Kapan Pa?"
"Jika waktumu ada, lihat lah dalam pekan ini."
"Nanti akan Radit urus agenda Radit."
"Ehmmm..., bawa Karina sekalian, Dit." Radit menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, hitung-hitung bulan madu. Kalian kan belum pernah pergi bulan madu berdua." Tuan Mahesa menggoda Radit.
Bulan madu? Seketika Radit teringat akan gaun kurang bahan itu, apa namanya? Lingerie? Ah.... Wajah Radit langsung merona.
"Hahaha .... Papa sudah yakin kau pasti akan suka. Tadinya Papa yang ingin pergi. Karena mengingatmu, Papa jadi menyuruhmu ke sana."
"Baik Pa. Akan Radit atur jadwal ke sana." Radit bangkit, melangkah pergi.
"Buat cucu yang lucu untuk Papa sama Mama ya...!" seru Tuan Mahesa saat Radit ingin melangkah melewati pintu. Radit tak berbalik. Tidak berani melihat sang Papa. Apalagi menjawabnya.
Bulan madu....
Lingerie ....
Cucu yang lucu ....
Seketika Radit membayangkan apa yang akan ia lakukan dengan Kiran di sana. Membayangkannya saja sudah membuatnya sesak karena malu. Dan ia tidak ingin sang Papa tahu akan hal itu.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa wajahmu merah begitu, Dit?" tanya Bara tak mengerti.
"Di dalam panas," jawab Radit asal.
"Gila aja panas. Memang ac di dalam ruangan Papamu mati semua?!"
Radit melotot. "Diam. Mau kemana kita sekarang?"
❤❤❤💖