
Pagi ini Kiran bangun seperti biasa. Mereka pergi bersama menuju TJ. Radit yang kemudian pergi lagi ke tempat lain meninggalkan Kiran di ruangannya, ruangan direktur utama.
Ia meminta Kiran untuk melihat beberapa laporan di perusahaan itu. Mengecek laporan tersebut kemudian melihat celah yang terdapat di dalamnya. Semua ini dilakukan pria itu sebagai langkah mempersiapkan Kiran sebagai penggantinya.
Ada yang aneh. Pagi ini ia mendapati Lusi melihatnya dengan tatapan tidak bersahabat. Bahkan Kiran merasakan ada hawa permusuhan dari pandangan mata wanita itu. Entah dimana salahnya, Kiran pun tak tahu.
Meski begitu, semua berjalan dengan baik. Hingga Radit dan Bara muncul pada sore harinya. Pria itu langsung memanggilnya dan Lusi. Dari aura wajahnya, Kiran menebak sesuatu yang ia dengar setelah ini pasti sesuatu yang tidak baik.
Radit memberi kode pada Bara untuk menjelaskan. Wajah pria itu sangat kelam. Ia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Seakan sedang menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya.
"Satu harian ini, tidak ada satupun jadwal meeting yang benar. Klien lebih dulu datang daripada kami. Alhasil banyak kerjasama yang jadi dibatalkan. Pertemuan dengan direksi yang dijadwalkan hari ini pun ternyata malah maju lebih cepat."
"Coba jelaskan sekarang, siapakah yang bertanggungjawab atas hal ini?" tanya Bara dengan mata setajam elang. Dia cukup marah juga rupanya.
Kiran terkejut. Dia yang menyusun jadwal Radit dalam sepekan ini. Dia menggabungkan jadwal pria itu di TJ dan Makarim Group. Jika ada yang salah, tentunya dia ikut andil dalam kesalahan itu. Tapi bukankah dia mendapat jadwal itu dari para sekretaris di tiap perusahaan?
"Saya sudah menyerahkan agenda meeting sesuai dengan yang disepakati oleh klien. Saya juga sudah memastikan pertemuan itu sehari sebelumnya, agar tidak terjadi benturan pertemuan ataupun ketidakpuasan dari para klien." Lusi menjawab lebih dulu dari Kiran.
Kini mata Bara menuju pada Kiran. Dia menuduhku?
"Saya membuat jadwal berdasarkan agenda yang diberikan oleh para sekretaris. Sebelum agenda itu saya susun, masing-masing sekeretaris sudah saya tanya terlebih dahulu mengenai kepastian tiap agenda. Jika informasi yang diberikan oleh para sekretaris benar. Maka saya kira tidak akan ada masalah seperti ini."
Kiran mencoba menjawab dengan tenang. Tidak memberi penekanan pada kata-katanya. Pada dasarnya aku memang tidak bersalah. Jadi buat apa takut?
"Jadi Ibu Kiran menuduh saya tidak akurat dalam memberikan agenda. Begitu?!" suara Lusi tenang namun terdengar sinis. Matanya menatap tajam Kiran.
"Seharusnya memang begitu. Apalagi agenda Bapak Radit hari ini lebih didominasi oleh urusan TJ. Jika memang jadwal itu benar. Lalu mengapa bisa ada kesalahan?" Kiran menjawab, masih dengan ketenangan yang luar biasa.
"Baik. Akan saya perlihatkan agenda yang telah saya berikan pada Ibu Kiran. Mohon maaf, saya permisi sebentar." Lusi mohon diri kemudian melangkah keluar ruangan.
Selama Lusi keluar dari ruangan itu, Radit menatap Kiran dengan sorot mata tak terbaca. Namun Bara masih menatap Kiran sama seperti biasa. Malah menyuruh Kiran untuk duduk. Namun ia menolaknya.
Lusi masuk ke dalam ruangan kemudian memberikan file berisi agenda dalam sepekan ini ke meja Radit. Radit meliriknya sekilas, tanpa berniat mengambilnya. Bara langsung mengeceknya kemudian memanggil Kiran mendekat dan memberikan file itu.
Hati Kiran mencelos. Kenapa bisa begini?
"Apakah jadwal saya berbeda dengan yang terjadi hari ini?" tanya Lusi tersenyum penuh arti.
Bara membisikkan sesuatu ke telinga Radit hingga aura wajah pria itu semakin mencekam. Memang benar, saat ini pria itu dalam mode marah. Kesalahan hari ini baginya sangat fatal.
Kiran berpikir dengan cepat. Apa ini jebakan? Apa Lusi sengaja? Dia tidak bodoh hingga membuat semua ini jadi berantakan?
"Saya pikir jika memang jadwal ini yang diberikan padaku, aku tidak akan mungkin sampai salah hingga menyebabkan semua kesalahan pada hari ini."
"Saya sudah membuat tanda tangan di bawah agenda itu, sebagai tanda bahwa memang agenda ini lah yang saya berikan pada Ibu Kiran." Lusi membantah dengan cepat.
Kiran meneliti. Memang benar ada tanda tangannya di bawah agenda itu. Sekarang ia menyadari kecerdikan wanita di hadapannya ini. Mendapati kebenaran itu membuat Kiran membisu.
"Ehm, mohon maaf sebelumnya, Pak. Mungkin bukan salah Ibu Kiran sepenuhnya. Saya memang ada menyerahkan jadwal berbeda sebelumnya. Namun jadwal itu sudah saya revisi karena ada klien yang meminta perubahan jadwal. Mungkin Ibu Kiran lupa merevisi jadwal itu setelah saya serahkan draft jadwal yang terbaru."
Perempuan ini bukan ingin membela Kiran. Pernyataannya malah semakin menguatkan bahwa kesalahan memang ada pada Kiran.
"Ada yang ingin Anda sampaikan, Kiran?" tanya Bara.
Kiran berkata dengan tegas. "Tidak ada."
Bara terlihat menghela nafas dengan berat. Radit bahkan memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat Kiran.
"Anda boleh keluar, Nona Lusi." Bara menatap Lusi dengan tajam.
"Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu." Lusi pun keluar, menyisakan aura dingin yang melingkupi Kiran di ruangan itu.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Radit dingin. Kiran tak berani menatap mata pria itu.
"Tidak ada." Suara Kiran terdengar tegas tanpa ada sedikitpun rasa takut.
"Setelah semua ini, tidak ada lagi yang ingin kau katakan?!" Kini suara itu lebih menuntut daripada sebelumnya. Kiran melirik Radit yang kini menatapnya tajam.
"Tidak ada."
"Apa kau begitu sombong untuk sekedar membela diri di hadapanku meskipun telah jelas semua kesalahan ini mengarah padamu? Apa karena kau istriku jadi kau kira bisa seenaknya begitu?!"
Kiran sedikit terkejut dengan ucapan Radit barusan. Bara malah terperangah, menatap sahabatnya tak percaya.
Radit menatapnya tidak percaya. Bara melongo. Masing-masing mereka memang keras kepala. Duo kepala batu!
"Baik. Jika tidak ada yang ingin Bapak sampaikan lagi, saya mohon diri." Sebelum mendapat persetujuan dari Radit dan Bara, Kiran segera keluar dari ruangan itu. Menyisakan kekecewaan di hati Radit.
"Kau lihat itu? Jika bukan aku bosnya, akan seperti apa nasibnya?" Radit mendengkus kesal.
"Justru karena dirimu bosnya makanya dia begitu. Semua masalah ini pun nggak akan terjadi jika kau mendengarkan kata-kataku."
"Justru karena kata-katamu makanya aku mengambil keputusan itu."
"Kau yang salah menangkap maksudku."
Radit mendengkus lagi. Kini dia menghela nafas. Menyandarkan tubuhnya pada kursi. Memijit pelipisnya perlahan.
"Jadi bagaimana para klien itu, Dit?"
"Kau atur aja jadwal pertemuan ulang. Sampaikan permintaan maaf dariku. Antar parcel ke kantor mereka sebagai tanda permintaan maaf dariku."
Bara menaikkan satu alisnya. Ini bukan kebiasaan Radit.
"Mau bagaimana lagi? Kesalahan kan memang dari pihak kita. Anggap itu bukan sogokan namun permintaan maaf. Katakan pada mereka, bagiku, waktu mereka itu berharga."
"Baiklah kalau begitu."
"Tolong panggil Lusi sekarang."
Bara terkesiap. "Untuk apa?"
"Kau panggil saja!"
Bara menghela nafas. "Baiklah."
Tidak berapa lama kemudian Lusi masuk menggantikan Bara yang keluar dari ruangan itu. Radit langsung mempersilakan Lusi duduk di sebrang mejanya.
"Ada apa?" tanya Lusi dengan senyum menggoda. Jika hanya berdua, ia jadi lebih berani.
"Kau senang bekerja di sini?"
"Tentu saja. Aku jadi bisa melihatmu setiap hari."
Radit terkekeh. "Kau lupa perjanjian awal saat kau masuk?"
Lusi terdiam. Senyumnya hilang. "Bukankah aku tidak bersalah. Sudah jelas bahwa dia yang salah. Apa karena dia istrimu jadi kau terus membelanya? Kau ingat saat pertama kali aku datang ke sini. Dia kan juga melupakan sesuatu. Dia bilang meninggalkan sesuatu di ruangan ini. Ternyata tidak kan? Lalu apakah saat ini dia tidak bisa melakukan kelupaan yang sama seperti waktu itu?"
Radit menatap Lusi dingin. Dia berkata sangat pelan namun dalam dan tajam. "Sebelum kau datang, dia tak pernah sekalipun melakukan kesalahan. Berhentilah Lusi. Jangan membuat kemarahanku ini semakin bertambah. Kau tau kan seperti apa aku ketika bekerja?!"
Lusi menelan ludahnya dengan kasar tanpa sengaja. Kata-kata Radit sangat pahit dan menakutkan di telinganya. Siapa yang tidak kenal cara kerja Radit? Bahkan untuk seorang office boy di Makarim Group saja tahu seperti apa pria di depannya ini.
Lusi mencoba tersenyum, namun senyum yang dipaksakan. "Bagaimana jika memang dia yang salah?"
Radit mengibaskan tangannya. "Kesabaranku ada batasnya, Lusi!"
"Apa menariknya dia hingga kau begitu membelanya meski dia bersalah?! Aku tahu dia itu Karinamu. Tapi apa pantas kau memperlakukan aku dengan tidak adil begini?!"
Mata Lusi mulai berkaca-kaca. Radit memalingkan wajahnya. Tak suka melihat air mata Lusi. "Aku mengenalmu, Lusi. Gunakan cara itu pada pria lain."
Lusi terperangah. Mengusap sudut matanya yang basah sambil menggerutu pelan. "Aku tau kau tidak suka padaku. Lalu kenapa kau memanggil aku kembali jika memang hanya untuk kau salahkan seperti ini?!"
Radit tertawa sinis. "Ternyata kau mengasah aktingmu dengan sangat baik ya, saat beberapa waktu kita nggak ketemu. Harus kuakui, itu sangat meyakinkan sekali jika kita belum pernah berjumpa sebelumnya. Apapun itu, jangan sampai kejadian hari ini terulang kembali. Kau harus camkan itu!" Radit memberikan penekanan pada intonasi suaranya.
Lusi tersenyum getir. Tak lama kemudian, dia pun permisi pada Radit untuk meninggalkan ruangan.
Radit meraih file yang terletak di atas mejanya. Draft file berisi agendanya tertera di situ. Dihempaskannya lagi tubuhnya pada kursi lalu memijit pelipisnya agar sakit kepala akibat kekacauan hari ini menghilang. Tak disangkanya jika akan sampai begini.
Tak lama kemudian Bara masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Wajahnya seperti kebingungan akan sesuatu.
"Apa tadi Kiran masuk ke sini, Dit? Aku mencarinya dari tadi. Tapi tak kutemukan ia dimana pun."
❤❤❤💖