
Nala baru saja pulang bekerja dengan berjalan kaki karena jarak Mess dan perusahaan sangatlah dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Namun, kali ini dia memilih jalan pintas melewati gang sempit yang berisikan beberapa bangunan tak berpenghuni. Bisa dibilang, jalan yang dilaluinya sangat sepi.
Dia sama sekali tidak mempermasalahkannya karena tujuannya melewati gang ini agar dia tidak bertemu dengan Erlangga.
Namun, saat sedang berjalan, tiba-tiba saja dia disergap oleh beberapa orang berbadan besar dan berwajah sangar. Ada tato di tubuh mereka dan juga pisau yang digenggam salah satu dari mereka.
Ketiganya terlihat menyeringai tajam pada Nala yang terlihat seperti ikan segar bagi mereka.
"Mau apa kalian!" Nala memundurkan langkahnya dengan perasaan tegang bercampur takut. Sebelumnya dia pernah berhadapan dengan orang-orang seperti ini, namun mereka tidak melukainya karena dia adalah incaran Bos mereka.
Berbeda dengan beberapa preman ini yang sepertinya menginginkan dia. Karena dari tatapannya, sepertinya mereka tertarik dengan tubuhnya yang indah.
"Hai, gadis cantik, temanilah kami sebentar saja. Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu. Mungkin sakitnya hanya sebentar saja. Lalu setelah itu kau akan menikmatinya." Seringai tajam tercipta dari si pembuat kalimat.
"Tidak, pergi!" Nala kembali mengundurkan langkahnya hingga dia pun mentok ke dinding bangunan di belakangnya. Tubuhnya berkeringat dingin karena dia tidak bisa membayangkan jika hari ini kehormatannya direnggut oleh para preman itu.
Dengan cepat, tiba-tiba saja salah satu dari preman itu berhasil memegangi tangannya. Dia pun langsung dibawa ke salah satu bangunan kosong yang sepertinya akan mereka jadikan tempat untuk mengeksekusinya.
"Lepaskan! Toloooong!" Teriakan Nala terdengar sangat nyaring dan menggema dari dalam bangunan itu. Namun, percuma saja dia berteriak karena tidak akan ada yang mendengarnya.
Para preman itu langsung menidurkannya di atas lantai. Mereka sudah bersiap untuk melucuti pakaian Nala.
Namun, ketika salah satu dari mereka akan menyentuh bagian tubuh Nala, tiba-tiba saja sebuah kursi kayu melayang ke preman itu hingga membuatnya jatuh dengan tangan yang kesakitan.
"Aarhhh, sial*n!" Preman itu pun langsung menoleh dan melihat siapa yang telah berani menghantamnya dengan kursi.
"Erlangga!" Nala tersenyum melihat keberadaan Erlangga di sana. Wajah Erlangga terlihat sangat marah karena wanita pujaan hatinya akan dieksekusi oleh para preman jahat itu.
"Mau cari mati?" Salah satu preman yang lainnya mendekatinya dan hendak menyerangnya. Namun, baru saja dia akan meninju wajah Erlangga, tiba-tiba saja Erlangga menamparnya dengan sangat kuat hingga dia berputar lalu ambruk ke lantai.
Preman yang tersisa pun lantas melakukan hal yang sama pada Erlangga dan mendapatkan pukulan yang sama seperti preman sebelumnya.
Erlangga berjalan mendekati Nala dan meraihnya untuk berdiri. Nala langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Tubuhnya bergetar hebat pertanda bahwa dia sangat ketakutan. Ini adalah pengalaman yang membuatnya trauma.
Nala kembali memeluk Erlangga dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Erlangga mengusap kepalanya dan mencoba untuk menenangkannya.
"Sudahlah, ada aku. Mereka tidak akan mengganggumu lagi."
"Terima kasih. Mengapa kau tahu aku ada di sini?"
"Apakah kau masih menyimpan gelang pemberianku?"
"Bagaimana kau tahu? Aku kan tidak memakainya.
"Kau memang tidak memakainya di kantor, tapi kau selalu membawanya bersamamu. Gelang yang aku berikan ada pelacaknya sehingga aku tahu dimana kau berada.
Karena tadi aku melihat kau berada di tempat yang tidak biasa, bahkan berhenti di waktu yang lumayan lama, aku langsung datang kemari. Karena setiap hari, aku selalu mengawasimu sampai kau pulang ke Mess dengan selamat.
"Terima kasih." Nala tersenyum sambil menatap wajah tampan Erlangga. Namun, sedetik dua detik, mereka mulai terhanyut hingga akhirnya mereka berci*man.
Ci*man itu lama-kelamaan semakin panas hingga membuat mereka hampir lupa diri kalau saja tidak ada orang yang mendobrak pintu bangunan itu.
Mereka terkejut ketika beberapa orang warga yang tinggal di daerah itu memergoki mereka sedang berduaan di tempat yang agak gelap. Meski kelakuan mereka barusan tidak terlihat jelas oleh mereka, namun posisi mereka yang berduaan di dalam bangunan itu membuat para warga terlihat marah.
Erlangga tahu, pasti para preman itu yang melaporkan mereka pada warga untuk ditangkap.
"Kalian telah berbuat mes*m di tempat ini!"
"Maaf, Pak, tadi kekasih saya hampir di perkosa oleh beberapa preman yang ada di sini. Dan saya datang untuk menyelamatkannya." Erlangga mencoba menjelaskan pada mereka.
"Alasan! Pasti mereka memang mau berbuat m*sum di tempat ini!"
Salah seorang warga yang ternyata adalah salah satu preman itu pun mulai memprovokasi warga lainnya. Erlangga melihatnya sudah tidak memakai pakaian seperti tadi. Dia memakai pakaian seperti yang lainnya. Mungkin ini rencana mereka untuk balas dendam karena tadi sempat dipukuli olehnya. Merekalah yang telah melapor pada warga hingga membuat warga marah dan datang ke sini.
Erlangga paham, dia tidak mungkin langsung menuduh bahwa pria itu yang melakukannya karena dia tidak memiliki bukti. Namun, dia memiliki cara lain yang lebih mudah dilakukannya.
"Baik, Pak, sebaiknya kita berbicara di luar saja," ucap Erlangga dengan santainya.