Behind The Boss

Behind The Boss
Kebenaran (3)



Dengan mata berkabut sedih, Sandi bertanya lirih. "Kalau memang Bibi sudah tau, kenapa Bibi terus memprovokasi Sandi untuk membenci Kakak?"


Sonya membisu. Beberapa saat setelahnya akhirnya ia bisa menguasai rasa terkejutnya. "Siapa yang memprovokasimu?"


"Saat Kakak sudah keluar dari rumah, Sandi berusaha untuk memaafkannya dan mengikhlaskan jika Kakak bersama Rina. Tapi Bibi kan yang selalu bilang pada Sandi jika Kakak itu sudah merebut semuanya, jadi Sandi harus merebut kembali semua darinya. Itu kan yang Bibi bilang?!"


"Jika memang sedari awal Bibi sudah tahu, kenapa Bibi berkata seperti itu? Kenapa Bibi selalu membuat Sandi membenci Kakak ...?!!"


Sonya memalingkan muka. Tidak mau melihat mata Sandi yang menatapnya kecewa.


"Apa kita masih bisa dibilang punya hati nurani? Mereka sudah merawat Sandi, membesarkan Sandi. Hingga menjadikan Sandi pengelola Mega Mas. Padahal Sandi sendiri bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Tapi kita malah membuat Kakak yang semestinya mendapat semuanya harus kehilangan apa yang dimilikinya karena mengalah pada Sandi."


"Menurut Bibi, tidakkah itu keterlaluan? Tidakkah kita seperti orang yang tidak tahu terima kasih sama sekali?!!"


Sonya menentang mata Sandi yang masih tersaput kesedihan dan penyesalan. "Tidak! Kita tidak keterlaluan. Memang kau pantas mendapatkan semua itu. Mereka yang tidak pantas! Baik Kamil, apalagi Tutik!"


Sandi terperangah. "Bibi?"


Matanya masih mengawasi kilauan kemarahan dari Tante Sonya. Bahkan kini bibir wanita yang sangat disayanginya itu setelah Mama, berucap dengan berapi-api.


"Sedari awal memang Tutik dan anaknya tidak pantas. Kau tahu, seharusnya Didi menikah denganku. Karena aku sepupunya. Orang tua kami sudah menjodohkan kami. Tapi kemudian aku membawa Tutik ke rumah. Tak disangka Didi menyukainya. Di belakangku mereka menjalin hubungan hingga ke pernikahan."


"Jika aku menikah dengan Didi maka anakku lah yang menjadi penerusnya. Pewaris keluarga Widjadja. Tapi Tutik merebutnya dariku."


"Setelah aku menikah dengan Atmaja, dia juga merebut suamiku. Atmaja meninggal demi melindungi Didi. Lagi-lagi aku kehilangan cintaku. Tidak hanya aku, bahkan anaknya pun kemudian merebut kekasihmu!"


"Lalu kau bilang apakah ini keterlaluan? Tentu saja tidak!"


"Sudah kubiarkan kau menyayangi Tutik seperti ibumu sendiri saja sudah kebaikan untuknya. Jika aku ingin keterlaluan, tidak hanya anaknya. Tutik pun akan kukeluarkan dari rumah itu!!"


Sandi terdiam. Tercenung. Mencoba mendeskripsikan jalinan benang kusut yang terjadi di dalam hidupnya.


Sesaat kemudian dia tertawa sinis. "Jadi Bibi anggap aku sebagai pion untuk membalaskan dendammu, begitu kan?"


"Apa tidak pernah terpikir olehmu sebagai seorang ibu bahwa selama ini aku hidup dalam dendam?! Tidak terpikir olehmu bahwa selama ini aku sama sekali tidak bahagia?? Bahkan aku merana .... Di dalam hatiku aku merindukannya. Tapi mengingat semua kata-katamu aku jadi diliputi kebencian. Bukan hanya untuk Kamil bahkan untuk Rina. Hingga anak mereka pun sangat kubenci!"


"Ternyata semua itu untukmu. Apa yang kulakukan ternyata hanya demi membalaskan dendammu. Ternyata aku yang bodoh."


"Sedari awal aku memang nggak punya apa-apa. Bahkan hingga sekarang, aku tetap nggak punya apa-apa. Bahkan seorang ibu kandung yang harusnya mengajarkan kasih sayang pada anaknya pun memang nggak pernah ada buatku," bisik Sandi lirih seperti bergumam.


Sonya menatapnya terkejut. "Mama menyayangimu Sandi. Mama bukan menjadikanmu sebagai pion Mama. Bukan maksud Mama seperti itu!"


"Mama hanya tidak ingin kau hidup dengan kehilangan cinta sepertiku. Jika Kamil tidak merebut kekasihmu tentu tidak akan seperti ini jadinya."


Sonya ingin menangkup wajah Sandi. Namun pria mendekati paruh baya itu melengos, memalingkan wajahnya kemudian melangkah keluar dari rumah Sonya.


Sonya menghela nafas berat. Menatap punggung Sandi yang berjalan menjauh dengan tatapan hampa.


-


❇❇❇


Sehabis maghrib, dengan di antar Dewi. Kiran pergi ke butik Intan, sesuai pesan Radit. Pria itu mengatakan akan menjumpainya di sana. Mereka berniat membeli salah satu gaun untuk dipakai untuk menghadiri pesta pernikahan Rangga.


Lalu lintas sangat padat. Mungkin karena waktunya bagi para pekerja untuk pulang ke rumah masing-masing. Meski begitu, saat azan isya berkumandang, Kiran sampai juga ke sana.


Kiran masuk ke dalam butik diikuti Dewi. Salah seorang karyawan Intan mengenalinya. Saat Intan meminta izin ke tempat wudhu dan salat, karyawan butik itu langsung mengabari Intan perihal kedatangannya.


Di saat itu, sebuah sedan dengan merek Mazda CX 9 memasuki pekarangan butik itu. Pria gagah dalam balutan jas dengan mata setajam elang turun dari mobil itu dengan elegan.


Beberapa karyawan yang berada di front line, berbisik sambil mengerling pada temannya yang juga karyawan di sana. Mengamati gerak maskulin dari si pria gagah yang masih berdiri membelakangi tatapan mereka.


Saat pria itu berbalik, mereka langsung menutup mulutnya dengan satu tangan sambil tertunduk takut. Memahami bagaimana tempramen si pria gagah tadi. Meskipun keren dan banyak sebutan luar biasa untuk penampilannya namun pria itu tak pernah sedikitpun mau menoleh pada wanita, dalam hal ini mereka. Apalagi bersikap lembut pada mereka, mustahil!


Siapa lagi kalau bukan Radit Makarim yang kini berjalan masuk ke dalam butik, melewati karyawan tadi yang menatapnya dengan tertunduk. Radit langsung berjalan masuk tanpa bertanya.


Dua karyawan front line tadi yang seharusnya menanyakan keperluan kedatangan setiap tamu dan menuntun para tamu ke dalam, hanya membiarkan si pria gagah tadi lewat begitu saja. Mereka sudah bisa menebak, apa jawabannya jika mereka bertanya.


Aku sudah tahu! Aku sudah sering ke sini! Kau kira aku bodoh tidak bisa masuk sendiri?!!


Namun pemandangan pria keren berikutnya membuat mereka berani mengangkat kepala. "Apa sudah datang dua orang wanita ke sini sebelum kami, Mbak? Yang kemarin foto prewed?" tanyanya, menyapa dua karyawan tadi.


"Sudah datang, Mas. Tapi langsung salat di belakang," jawab salah seorang karyawan.


"Oh, kalo Mbak Intannya ada?" tanya pria itu lagi.


"Oh, ada Mas. Masuk aja. Mas berdua sudah ditunggu Mbak Intan," sahut mereka lagi.


"Baraaaa!!!" teriak Radit memanggil Bara. Bara berjalan cepat menyusul Radit yang sudah berjalan di depannya.


"Aku cuma mau memastikan lho, Dit."


"Kita salat saja dulu ...."


Tanpa perlu menjawab untuk mengiyakan, Radit sudah langsung melangkah menuju ruang salat.


-


❇❇❇


"Bagaimana menurutmu? Cantik kan?" tanya Intan, berbisik pada Radit. Pria itu masih asyik mengamati Kiran dalam balutan gaun silvernya.


"Memang dia sudah cantik. Pake apapun ya tetap cantik," gumam Radit dengan mata masih fokus pada Kiran. Kiran jadi salah tingkah dengan tatapan matanya yang mengunci.


"Hmmm .... Namanya udah cinta ya. Mau pake sarung aja pun ya tetap cantik. Ibarat kata orang. Taik aja dirasa coklat."


Bara yang mendengar obrolan itu berlalu. Nggak mau ikut campur gue!


"Tubuh Kiran memang proporsional. Jadi baju yang udah ada gak usah dibenerin lagi udah nge pas di badannya," ujar Intan lagi. Tersenyum puas melihat gaun itu semakin memesona dan memancarkan kilaunya di tubuh Kiran.


Radit melirik Intan tajam. Wanita yang seharusnya dipanggil Tante itu sedang memberi isyarat pada salah satu karyawannya untuk membantu Kiran membuka gaunnya.


"Saking proporsionalnya, kau pun membelikan dia gaun kurang bahan itu kan?" tanya Radit sinis. Ia ingat betul bagaimana kesalnya ia hanya memakai celana pendek dan Kiran mengenakan gaun kurang bahan karena Nenek Sihir yang ada di sebelahnya ini.


"Itu lingerie namanya, Bodoh ...!"


"Apapun namanya itu. Apa kau nggak kasian lihat dia tidur pake itu?"


"Namanya malam pertama. Masa' kusediain dia piyama gambar hello kitty. Kan gak berasa MP nya ...."


"Lagian lingerie itu udah sopan banget, menurutku. Masih tertutup. Sesuai lah dengan pribadi Kiran yang masih murni dan malu-malu. Kalau kubelikan lingerie yang cuma tali doang. Ngiket dari atas ke bawah. Mungkin matamu sekarang udah melotot padaku."


"Hah? tali doang? Bisa dipake?" Radit tak bisa membayangkannya. Baju apa yang seperti itu?


"Wah, ternyata au masih sangat polos, Anak Muda ...! Baju seperti itu saja kau tidak tahu. Makanya pas sekolah dulu bandel dikit biar jangan kuper kali. Kebanyakan belajar sih, jadinya begini."


"Atau kau mau aku belikan baju seperti itu untuk Kiran? Biar enak kalo mau gercep. Tinggal tarik dari atas, semua langsung kebuka," bisik Intan antusias. Membuat semburat merah di wajah Radit. Badannya jadi panas dingin, membayangkan jika Kiran pakai yang seperti itu.


"Wah, wajahmu kenapa jadi seperti tomat begitu??! Hahaha.... Kau malu ya?!" pekik Intan cukup kuat sambil menepuk bahu Radit. Membuat Kiran yang sudah selesai berganti pakaian melirik mereka. Begitu pun Bara yang tadinya masa bodo. Jadi kepo dekat-dekat ingin tahu, si Bos sedang digodain apa sama si Nenek Sihir.


"Kau ini apa-apaan sih! Yang malu itu siapa? Lagian kalo lagi sekolah ya harusnya sekolah! Ngapain mikirin lingerie begituan. Nggak ada manfaatnya sama sekali seorang pelajar tahu begituan. Dasar Nenek Sihir!!!" Radit menepiskan tangan Intan. Namun Intan seakan tak peduli masih menertawakan wajah malu Radit.


Apa lucunya jika wajahku merah. Dasar Nenek Sihir!!


"Kalau kau sudah selesai, ayo kita pulang!" Radit menarik tangan Kiran sambil menggerutu.


"Hei, baju untukmu bagaimana? Kau nggak beli juga? Beli yang silver biar kompak-an." Intan menawarkan sambil menahan tawa. Ia tersenyum geli. Lucu melihat wajah jutek itu jika bersemu merah. Seperti pria yang dewasa secara cover tapi isinya anak SMA yang belum pernah pacaran.


Radit tak mengacuhkan tawaran Intan. Dia melangkah pergi, masih menarik Kiran untuk mengikutinya.


Bara yang masih sibuk melihat harga jas pada manekin, terkesiap saat melihat Radit melintas pergi.


"Eh, Bro. Kalo mau pulang ngomong-ngomong dong. Kalo nggak ada aku, ntar siapa yang nyetir. Main tinggal aja ah!"


Sungut Bara. Begitu pun ia mengikuti langkah Radit dari belakang. Nasib nemeni Bos pacaran, ya begini. Macem nyamuk. Nggak dihargai sama sekali. Bara menggerutu dalam hati.


❤❤❤💖


Iss... Radiitt... !!!!


Aku juga malu kalo membayangkan lingerie macam begitu....😆😆


Yang masih single, jgn pikirin macem2. Apalagi yang masih sekolah..


Please, gak ada faedahnya sama sekali untuk bandel dikit seperti yg dibilang si nenek sihir.


Tante Intan ngomong begitu cuma untuk ngejek Radit aja.


So, always be yourself, okay!


〰〰〰〰〰〰


Yang udah baca jangan lupa like, komen n votenya...


terima kasih.... luv u full