
Keesokan harinya, Hery pun bergegas datang ke kantor Rayden setelah membuat janji sebelumnya. Ternyata dia benar-benar menepati janjinya untuk menghancurkan karir Erlangga di sana.
Dia sengaja melewati tempat di mana Erlangga dan Nala.
"Angga, bukankah itu Hery? Benar, kan, dia pasti akan membuatmu dipecat hari ini," ucap Nala dengan wajah cemas.
"Sudahlah, aku sudah bilang dia tidak akan bisa melakukannya. Perusahaan ini adalah perusahaan yang sangat profesional. Mereka tidak akan sembarangan memecat pegawai."
"Tapi bagaimana kalau dia menyuap pimpinan perusahaan ini agar memecat kita?"
"Jangan khawatir, Nala. Sudahlah, kembali bekerja."
Nala hanya bisa menghela nafas pasrah. Dirinya benar-benar tidak bisa berpikir jernih kali ini. Baru saja mereka menikmati kebersamaan di kota besar, sudah datang lagi musibah yang berasal dari masa lalunya.
Hery tersenyum puas melihat kegelisahan Nala. Dia bisa melihat betapa khawatirnya Nala saat ini.
Sesampainya di ruangan Radyen, dia pun langsung dipersilahkan masuk. Memang, perihal janji bertemu hari ini adalah untuk membicarakan kerja sama karena sebelumnya mereka telah menjalin kerja sama.
"Selamat datang, Tuan Hery, silakan duduk," ujar Rayden ketika melihat kedatangan tamunya.
"Terima kasih, Tuan Rayden. Saya kesini ingin menyampaikan jika saya berniat untuk melanjutkan kontrak kerja sama kita."
"Baik, Tuan, tentu saja kami akan menerimanya dengan senang hati."
"Tapi, saya menginginkan satu permintaan sebelum saya menandatangani kontrak kerjasama kedua kita."
"Apa itu, Tuan?"
"Apa anda memiliki karyawan yang bernama Anna Laura dan Angga?"
"Karyawan saya jumlahnya ratusan, akan sangat sulit jika saya mengenalinya satu persatu."
"Begini, Tuan, kedua karyawan anda telah melakukan pencemaran nama baik terhadap saya. Jika anda tidak keberatan, bisakah anda mengeluarkan mereka dari perusahaan ini? Dengan begitu saya bisa melanjutkan kerjasama ini dengan perusahaan anda." Hery tersenyum dengan percaya diri karena mengira bahwa dia berada di ambang kemenangan. Radyen pasti akan memihak dirinya daripada kedua karyawannya itu.
"Maaf, Tuan, saya rasa itu adalah masalah personal. Tidak ada kaitannya dengan kinerja mereka di perusahaan ini. Saya tidak bisa memecat karyawan begitu saja tanpa alasan yang jelas."
Rayden menerangkan dengan tatapan serius. Sebenarnya ingin sekali dia mengusir Hery, namun dia tahu bahwa hal itu bisa membuat penyamaran Erlangga terbongkar. Dia hanya tidak ingin membuat adiknya kecewa padanya. Apalagi, sangat sulit menyuruh Erlangga mencari pendamping. Karenanya, wanita yang sekarang sudah menjadi pilihan Erlangga sudah ditetapkan oleh keluarga mereka untuk menjadi istri Erlangga ketika dia sudah mau kembali ke identitas aslinya.
"Wah, kalau begitu, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan kerjasama ini lagi. Saya kira anda adalah orang yang peduli dengan kenyamanan klien, ternyata anda adalah orang yang egois."
"Ya, kalau begitu perusahaan kita memang tidak berjodoh."
"Anda sangat rugi karena telah membiarkan saya membatalkan kerja sama ini. Saya akan menuntut karyawan anda. Dengan adanya dia di perusahaan ini, saya yakin perusahaan anda akan terkena dampaknya juga."
"Hmm, saya ada sedikit pertanyaan. Apa yang membuat seorang pengusaha hebat, kaya raya dan terkenal seperti anda rela membuang waktu untuk mengurus dua karyawan saya? Apakah ucapan mereka benar-benar menyakiti perasaan anda? Pencemaran nama seperti apa yang bisa orang kecil lakukan pada pengusaha hebat seperti anda?"
Ucapan Radyen membuat Hery sedikit gugup. Jika dia mengatakan semua ucapan Erlangga, pasti Rayden juga akan tahu karena itu benar. Bisa-bisanya Rayden akan melaporkannya pada KPK.
"Anda tidak perlu tahu karena kita bukan lagi rekan bisnis! Cukup saya ketahui jika anda adalah pengusaha yang tidak peduli dengan klien! Selamat tinggal!"
Hery pun langsung pergi meninggalkan Rayden. Namun, baru saja dia menyentuh handle pintu, tiba-tiba saja Rayden memanggilnya. Tadinya dia mengira bahwa Rayden ingin menarik kembali ucapannya dan mengabulkan permintaan Hery. Namun rupanya, Rayden hanya mengatakan..
"Jangan lupa tutup lagi pintunya."
Hery pun bergegas keluar dengan perasaan kesal. Dia berjalan menuju keluar sambil mengepal erat tangannya. Nala yang melihat Hery keluar dengan wajah masam pun merasa heran.
Namun, Erlangga menjelaskan jika Hery pasti gagal membuat mereka dipecat. Nala pun bisa bernafas lega karena dia akan tetap berada satu kantor dengan Rayden. Dan lebih untung lagi karena di perusahaan ini memperbolehkan suami istri bekerja jika mereka sudah menikah nanti.